
Sepeninggal Rendra, Tiara dan Miko asyik menghabiskan malam berdua dengan mengobrol, tidak dengan berbagi lendir karena mood Miko berubah. Pesan yang dikirimkan ke ponselnya membuat Miko malas untuk melanjutkan keliaran yang sempat membakar naluri lelakinya.
"Ra, aku pulang dulu ya udah malem."
"Oke, kirain mau nginep." kerling Tiara pada Miko yang disambut belaian tangan pemuda itu pada rambut hitam Tiara.
"Besok lagi kan bisa, Ra."
"Besok? Jadi besok kamu mau datang kesini lagi?"
Miko tersenyum, ia merapatkan tubuhnya ke Tiara, memeluk dan memberikan ciuman singkat pada Tiara. "Kalau diizinkan sama kamu, aku bakal ada terus buat kamu Ra." Miko berbisik dan kembali mendaratkan satu kecupan basah di leher.
Mereka saling menatap, Tiara pun mengangguk. "Kamu boleh kesini kapan aja,"
Keduanya pun kembali terlibat dalam ciuman hangat yang menuntut. Miko melepaskan Tiara sebelum mereka kembali terpancing hasrat.
"Aku pulang ya Ra, besok aku telpon kamu." pamit Miko lagi disambut dengan anggukan Tiara.
Miko segera memasuki lift dan menuju lantai dasar. Ada urusan lain yang harus dipastikan kebenarannya.
"Di, lo yakin sama berita tadi?" Miko dengan wajah serius menghubungi temannya. Ia berjalan melintasi lobby lantai dasar dengan tergesa.
"Gue yakin Mik, lo dah liat kan foto yang gue kirim?" tanya balik seseorang disana.
"Hmm, udah. Oke, gue kesana!"
Miko segera menuju mobilnya yang diparkir tak jauh dari pintu masuk. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Malam sudah sangat larut dan jalanan utama pun sepi, mobil Miko menembus jalanan tanpa hambatan. Tak butuh waktu lama, ia pun tiba di salah satu diskotik ternama di kota Semarang.
Geliat kehidupan malam anak muda menyapanya begitu memasuki ruangan. Dentum musik keras, dan kerumunan muda mudi yang asik menggerakkan tubuhnya tak Miko hiraukan, ia mencari seseorang bukan kesenangan.
Lelaki muda berambut pirang melambaikan tangan dari lantai dua, Miko pun mendekat.
"Minum Mik?" lelaki muda berambut pirang itu menawarkan minuman beralkohol yang ada di tangannya.
"Nggak, gue lagi nggak mood apalagi abis lo kirim gambar si Bram."
"Jiiah gitu aja bikin mood lo ambyar. Nggak laki banget sih lo!"
Miko berdecak kesal dengan sikap temannya yang bernama Adi itu. "Nah lo kirim gambar Bram berdarah darah gitu?! Gimana nggak mual gue?!"
Adi tergelak, ia kembali menenggak minumannya. "Lo hutang sama dia bro, hati-hati aja lo diikutin hantunya minta bayaran!"
__ADS_1
"Orang udah mati ya mati aja kali mana mungkin jadi hantu-hantu gitu!" Miko kembali mendengus kesal.
"Nah, lo kagak tau apa cerita cerita hantu? Bram mati nggak wajar, dia bisa jadi hantu kalo ada tanggungan di dunia Mik!"
"Ah, cuma cerita kosong doang!"
Miko menoleh ke lantai dasar, memperhatikan segerombolan anak muda yang tengah asik bergoyang mengikuti suara musik keras.
"Mana si Ivan kok belum nongol juga?!" Miko mencari sosok temannya yang lain.
"Ivan?" Adi tertawa lalu menunjuk ke arah ruangan di sudut lantai dua. "Noh, lagi sama cewek baru, paling juga lagi mantap-mantap disana!"
"Brengsek, gue nungguin malah dia asik sendiri!" Miko pun berlalu dan menuju ke sudut ruangan yang dimaksud Adi.
Suara dentuman musik sedikit berkurang saat ia memasuki ruangan itu, tapi yang terdengar di telinga Miko kini suara rintihan nikmat dari dua anak manusia yang memadu kasih.
"Hhhm, brengsek ni anak!"
Miko membuka pintu tanpa permisi, dan benar saja sepasang muda mudi nyaris telanjang tengah terbakar hasrat yang memanas. Miko hanya berdecak kesal, ia menarik si lelaki dengan kasar.
"Sialan lo! Malah asik-asik disini? Mana informasi yang gue minta!" tanya Miko setengah menghardik, matanya melirik ke arah wanita muda yang sibuk menutupi perabotan depannya dengan kedua tangan.
"Nah lo juga, gue tungguin nggak nongol-nongol! Buruan gue mau balik!"
"Tumben balik cepet!" Ivan merogoh kantongnya dan memberikan Miko selembar kertas yang terlipat.
"Ni informasi yang gue dapet, sama … bentar," Ivan mengambil ponselnya lalu mengirimkan pesan ke ponsel Miko.
"Itu foto-foto cowok yang lo minta gue cari plus alamatnya juga!"
Miko memeriksa semua informasi dari Ivan, senyum pun terbit di bibirnya. "Widih garcep juga lo Van!"
"Iya dong siapa dulu, Ivan!"
"Iya deh, nggak salah gue nyuruh lo cari informasi!"
Miko mengutak atik aplikasi di layar ponselnya, tak berapa lama wajah Ivan berseri. Transferan sejumlah uang sukses masuk ke dalam rekeningnya.
"Gue cabut, lanjutin dah sampe pagi!" Miko melirik sejenak ke arah wanita cantik bertubuh seksi yang kini menatapnya menggoda.
"Boleh juga tuh cewek, kalo bosen antar dia ke gue!" katanya seraya mengerlingkan mata pada wanita setengah telanjang itu.
__ADS_1
"Sialan lo, gue juga baru!" sungut Ivan dibarengi tawa Miko.
Miko segera beranjak pergi dari tempat hiburan itu. Malam ini ia sedang tak ingin bersenang-senang. Moodnya hilang dengan kabar kematian Bram dan juga tingkah aneh Rendra. Miko tak menyadari jika Rendra sedari tadi mengikutinya.
Mengambil jarak aman, Rendra membuntuti Miko. Ia penasaran dan juga ingin memastikan dugaannya tadi. Untunglah mobil yang dibeli Tiara berwarna gelap hingga tidak begitu terlihat mencolok saat Rendra mengikuti pemuda bergaya rambut Rockabilly dengan tato yang menghiasi separuh lengan kirinya.
"Miko, sekarang kita kemana? Apa benar kamu itu sesuai dugaanku!" gumamnya lirih menatap Miko yang masuk ke dalam mobilnya dengan tergesa.
Miko membaca informasi yang diberikan Ivan padanya, ia lantas membandingkan dengan foto Arka yang terpampang jelas dalam ponsel. Arka rupanya seusia dengan Miko, ia bekerja di salah satu event organizer dan tercatat sebagai mahasiswa pasca sarjana di universitas negeri terbaik nomor 8 versi QS World University Rankings.
"Lumayan juga saingan gue! Tapi gue bakal ngalahin lo dengan cara apapun!"
Seringai kejam muncul di bibir pemuda berkulit eksotik itu. Ia kembali menatap foto-foto hasil jepretan Ivan. Saat ia sedang serius memperhatikan detail informasi tiba-tiba saja hawa aneh menyapa. Bulu kuduknya berdiri diikuti aroma bau tak sedap yang menggelitik hidungnya.
"Apa nih? Kok mobil bau beginian?" ia membuka kaca jendela lebar-lebar dan memastikan jika penciumannya salah.
"Bau apaan sih ini?" ia mengibaskan tangan dan mencari kaleng penyegar udara di kantong belakang kursi.
Tangannya meraba raba tapi betapa terkejutnya ia saat kulitnya menyentuh bulu halus sehalus sutra yang mencengkramnya kuat. Matanya membelalak dan segera melihat ke arah belakang melalui kaca spion. Sepasang mata merah balik menatapnya.
Miko gemetar ingin menjerit tapi tak bisa. Ia berusaha menarik tangannya tapi usahanya sia-sia. Tangan Miko seperti tertempel pada kursi dan melekat kuat. Sosok bermata merah itu menggeram membuat Miko semakin ketakutan. Seluruh tubuhnya kaku dan tak bisa digerakkan. Miko disergap kengerian yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
"Mik, Miko!" suara Adi mengagetkan Miko dan mengembalikan Miko pada kesadarannya.
Miko terkesiap dan segera berbalik mencari sosok menyeramkan yang baru saja memberikan teror horor padanya.
"Di, lo liat ada orang dibelakang gue nggak?" yanya nya gemetar dan mata terbelalak.
Adi mengintip ke jok belakang mobil, "Orang? Dari tadi lo kan sendirian Mik?" sahut Adi keheranan.
"Sumpah lo nggak liat siapapun di belakang gue, Di?" Miko kembali menoleh kebelakang memastikan penglihatannya tadi. Tak ada siapa pun dibelakang, ia pun terkesiap.
"Ah, elu sih minumnya kemarin maboknya sekarang Mik! Ngadi-ngadi dah, balik sono! Mabok aer lu mah!"
"Brengsek lu, Di! Dah ah, minggir!" Miko dengan bersungut sungut kembali menaikkan kaca jendela mobil dan segera melajukan mobil meninggalkan Adi yang menertawakan dirinya.
"Miko, Miko … padahal gue mau bilang ke dia, kalo tadi emang ada orang dibelakang! Masa iya dia kagak liat sih! Siwer tuh mata!"
Adi berjalan perlahan ke arah mobilnya, kepalanya pusing dan sedikit mabuk karena nekat minum sebelum mengisi perutnya. Ia menatap lagi ke arah mobil Miko melesat pergi.
"Kalo tadi ada orang trus si Miko nggak liat jadi tadi yang gue liat apaan?" Adi memiringkan kepala sejenak lalu tersadar, "Setan? Hiii, serem amat! Gue kebanyakan minum ini!"
__ADS_1