Bedak Sang Nyai

Bedak Sang Nyai
Bayaran Laknat


__ADS_3

"Malam mas Toni," Tiara menyapa Toni yang masih membelakangi dirinya.


Tangannya berkacak pinggang dengan raut wajah kesal. Suara lembut Tiara bagai air es yang menurunkan kadar amarahnya dengan cepat. Ia berbalik dan menatap Tiara dari ujung kaki hingga ke ujung kepala. Wajah garangnya seketika berubah lembut. Senyum mengembang di bibir tebal Toni.


"Tiara," Toni mendekati Tiara, matanya lekat menatap bagian atas tubuh Tiara yang sengaja dibiarkan mengintip.


"Mas Toni cari Rendra?" Tiara bertanya lagi, ia masih bersikap biasa karena dua centeng Toni juga menatap ke arahnya dengan penuh hasrat.


Pesona Tiara membius ketiga lelaki bertato yang konon sangat ditakuti warga sekitar.


"Kemana Rendra, dia berhutang banyak sama saya?!" Toni bertanya lagi, matanya tak lepas menelisik setiap inci dari tubuh Tiara. 


Rambut yang dibiarkan terurai sebahu, kancing atas yang terbuka dan daster tipis yang terlihat begitu seksi dimata Toni membuat jakunnya naik turun menahan nafsu. Hormon lelakinya seketika melonjak saat mencium aroma tubuh Tiara yang memabukkan.


Bayu membuat Tiara begitu menarik di mata Toni dan juga dua centengnya.


"Mari masuk dulu, kita ngobrol di dalam. Mau kopi mas Toni, saya buatkan dulu ya!"

__ADS_1


Bagai di cucuk hidungnya Toni menurut dan mengikuti Tiara masuk. Ia melarang kedua centengnya ikut masuk ke dalam.


"Jaga disini, awas jangan masuk ke dalam kalo belum aku suruh!"


"Siap bos!"


Pintu pun ditutup Toni, ia berbalik dan menikmati pemandangan indah yang diberikan Tiara. Lekuk tubuh molek yang bergoyang ke kanan dan ke kiri saat berjalan semakin menimbulkan hasrat lelaki Toni. Ia memang menginginkan Tiara, Rendra telah menjanjikan Tiara untuknya sebagai pelunasan hutang judi. Dan kini waktunya Toni mendapatkan bayaran.


Tiara sedang menyiapkan gelas kopi saat sepasang tangan kasar menggerayangi tubuhnya. Meremas bokong padat miliknya dan membalikkan paksa tubuh seksi nan molek itu ke hadapan seseorang. Tiara tersenyum, memancing Toni melakukan hal lebih padanya.


"Mas Toni," ia menyeringai dengan suara serak menggoda.


Tiara kembali tersenyum, "Aku tahu, mas Toni menyukaiku?" 


Toni yang tertutup kabut gairah tak menjawab, dengan rakus ia menyambar bibir Tiara menciumnya dengan liar. Sesuatu dibawah sana sudah mengeras sedari Tiara menyambutnya di pintu.


Tangan Toni menyusup ke dalam daster tipis Tiara dan betapa senangnya Toni saat mendapati tubuh Tiara tanpa memakai kain penutup lain selain daster tipis. Ia menghimpit Tiara ke dinding, meloloskan daster Tiara dengan cepat. Meraup puncak dada Tiara dengan rakus, memberikan Tiara sensasi gelenyar kenikmatan duniawi.

__ADS_1


"Sibukkan dia dengan dirimu," perintah Bayu dalam otak Tiara yang terdengar jelas. Seringai aneh terbit di bibir tipis Tiara. Ia semakin keras mel**guh dan mengeluarkan suara-suara laknat yang membuat b*rahi Toni semakin memuncak.


Toni yang tak sabar membopong tubuh Tiara dan membawanya ke sofa. Dilepaskannya seluruh pakaian, dan bergegas kembali menghimpit Tiara menyusuri leher dengan gigitan dan his*pan di beberapa tempat sensitif. Tiara kembali mendesah tubuhnya mengg*l*njang nikmat saat pusaka Toni memasuki kedalaman basahnya.


Toni tak peduli teriakan laknat mereka terdengar para centeng diluar, ia hanya ingin pelepasan nikmat bersama Tiara. Wanita yang diam-diam disukai Toni. Tubuh Tiara bergoyang dengan indahnya didepan mata Toni membuatnya mempercepat gerakan pinggul untuk mencapai kenikmatan sempurna. Keduanya pun terkulai lemas saat pelepasan maksimal tercapai.


"Apa mas Toni puas dengan bayarannya?" Tiara bertanya, ia membingkai wajah lelaki yang masih terlihat tampan di usia hampir setengah abad.


Toni menarik tubuh polos Tiara ke pangkuannya. Kejantanan miliknya yang terkulai kembali terusik saat menyentuh bagian bawah tubuh Tiara. 


"Belum, aku menginginkan lebih! Hutang Rendra terlalu banyak untuk dibayar dengan satu kali bercinta denganmu!"


Tiara menyeringai, wajahnya menggoda Toni. Ia mengigit bibir Toni sebelum akhirnya keduanya kembali terlibat dalam pergumulan panas lagi. Suara laknat kembali terdengar membuat kedua centeng Toni ikut merasakan gerah. Hasrat mereka muncul karena teriakan menggoda Tiara menerobos keluar dari celah pintu.


"Rob, lu denger kagak!" centeng Toni bernama Alex bertanya pada yang lain, Robby.


Mereka saling memandang dan mengangguk, Alex pun memberi kode pada Robby untuk mengintip dari balik celah jendela yang terbuka. Mata keduanya terbelalak saat mendapati Tiara dan Toni tengah asik bergumul, bergoyang dan saling menyentuh dengan suara-suara yang memancing hasrat primitif keduanya.

__ADS_1


Robby dan Alex hanya bisa meneguk ludah kasar seraya merasakan sesuatu yang mulai bergejolak dibalik celana.


__ADS_2