
Sepanjang perjalanan kembali ke apartemen, Tiara lebih banyak terdiam. Mood nya kacau bukan karena Rendra tapi karena Bayu yang tiba-tiba saja muncul dalam mobil dalam wujud aslinya. Tiara sadar kekasih gaibnya itu ada dalam mode merajuk. Bayu cemburu.
"Kok diem, marah sama aku?" tanya Miko yang sesekali mencuri pandang ke arah Tiara.
Tiara tersenyum masam, melirik sejenak ke bagian belakang kursi Miko. Bayu masih ada di sana menatapnya dengan mata merah yang mengerikan. Tiara merasa tak nyaman. Sejak mengetahui jati diri Bayu, Tiara tidak lagi merasa takut jika Bayu muncul dalam wujud astralnya.
"Ah, nggak kok. Siapa yang marah sama kamu?"
"Oh, kirain. Kamu tinggal disini?" tanya Miko sesat setelah mobil memasuki pelataran gedung, matanya berkeliling menatap lingkungan sekitar.
"Hhm,"
Keduanya masuk ke dalam gedung, dan seperti biasa satpam genit kembali menyapa Tiara. "Eh, mbak Tiara baru pulang ya? Siapa ini mbak?"
"Iya mas Slamet, oh ya ini …,"
"Kenalin, Miko!" tangan Miko langsung menyerobot mas Slamet satpam genit yang selalu menatap Tiara dengan penuh hasrat.
Mas Slamet tentu saja terkejut dan tak senang dengan tingkah Miko, tapi ia berusaha menahan diri agar tidak terjadi keributan kecil. "Oh, saya Slamet. Keamanan disini!" balasnya dengan penuh penekanan.
Tiara menarik tangan Miko agar mengikutinya segera. Ia mencium aroma persaingan diantara keduanya. Slamet tidak boleh menggagalkan rencana Tiara.
"Mas Slamet, kita naik dulu ya?"
Slamet tak menjawab ia hanya memandang Miko dengan tatapan tak suka, begitu juga sebaliknya.
"Mas Miko, udah ah! Yuk naik!"
Mereka pun segera naik dan Tiara sengaja mengundang Miko masuk ke apartemen miliknya. Dengan dalih hendak berganti baju Tiara meminta Miko menunggu. Bayu telah menunggunya di dalam kamar, ia berdiri dengan tatapan tajam mengerikan.
"Kamu maunya gimana sih? Katanya suruh aku cari mangsa, deketin dia, tapi kamu malah begini!" Tiara merendahkan suaranya, ia mendekati Bayu yang masih diam tak bergeming.
"Aku sudah berhasil memancing anak itu, terus sekarang gimana? Jangan buat aku bingung sama aturan kamu?!" sekali lagi Tiara kesal dan meminta penjelasan Bayu tapi sosok lelembut berbulu yang kini menyerupai manusia itu masih diam.
__ADS_1
Bayu terus menatap dan memperhatikan gerak gerik Tiara, dan itu membuat Tiara semakin kesal padanya.
"Mau diem sampai kapan? Oke kalo gitu, mending kamu pergi aja sekarang! Aku mau berduaan sama mangsa kita yang baru. Ingat nggak usah gangguin lagi!"
Usai meluapkan kekesalannya Tiara berbalik dan meninggalkan Bayu tapi lelembut tampan itu menghalanginya.
"Lakukan seperti apa yang aku perintahkan! Jangan terhanyut dalam perasaan, ingat kau milikku!"
Tangan Bayu melingkar di pinggang kecil Tiara, mendekatkan tubuhnya hingga mengikis jarak diantara mereka.
"Setiap lelaki yang menyentuhmu adalah milikku, kau hanya akan menjadi kekasihku selamanya!"
Ancaman Bayu tidak main-main nyatanya Bram, preman kampung bayaran Miko tewas dengan mudah di tangannya dalam sekejap. Perjanjian Tiara dan Bayu adalah perjanjian mutlak yang mengikat selamanya hingga akhir zaman.
"Aku tahu, tapi bisa aku minta sesuatu darimu?"
Keduanya saling menatap, lalu Bayu menyahut, "Apa?!"
"Jangan muncul dalam bentuk asli kamu! Ngeri tau nggak!"
Bayu tersenyum masam, "Keluarlah, dia menunggu!"
"Ingat, jangan muncul tiba-tiba bikin mood aku jelek!"
Bayu mengangguk dan melepaskan pelukannya, membiarkan Tiara menemui Miko.
Miko berkeliling ruangan, ia bosan harus duduk manis di ruang tamu. Perutnya sedikit lapar dan dia juga kehausan. Miko pun pergi ke dapur, dan menemukan cemilan manis di dalam lemari pendingin.
Tiara keluar dari kamarnya dan mencari Miko Ia tersenyum mendapati Miko sedang asik memakan cemilan di dapur.
"Laper ya?" Tiara menyapa Miko yang tak menyadari kehadirannya.
Miko dibuat terkejut dengan sapaan Tiara apalagi setelah berbalik ia mendapati Tiara yang mengenakan kaos berwarna putih longgar dengan celana pendek yang hampir saja tenggelam di balik kaos.
__ADS_1
"Cantik," gumamnya lirih.
"Apa katamu?" Tiara berpura pura tak mendengar.
"Kamu, cantik banget." untuk sesaat Miko mengagumi kecantikan Tiara yang merona merah saat ia menggodanya, bibir merah jambu tanpa polesan make up itu mengundangnya untuk mencecap rasa manis yang menggoda bak gulali.
"Jam gombal baru dimulai besok!"
"Ohya, mulai jam berapa?" Miko berjalan memutari meja yang menghalangi mereka.
"Biasanya sore jam empat," Tiara terkekeh, ia mengambil segelas air lalu meminumnya.
"Ohya, kenapa harus jam empat? Kenapa nggak jam tiga, dua, atau … satu?"
Miko berjalan mendekati Tiara dengan perlahan lalu berhenti tepat dibelakang Tiara, menurunkan tubuhnya sedikit untuk berbisik dan mengecup lembut leher Tiara yang terekspos.
Bulu di tubuh Tiara meremang mendapat serangan mendadak dari Miko. Hasrat Miko yang tertahan sedari tadi tiba-tiba saja kembali hadir dan meminta untuk dilepaskan dari wadahnya. Tiara mengerang lirih, merasakan getaran yang dikirim lewat bibir lembut dan kecupan basah Miko.
Miko terbakar panasnya hormon lelaki yang semakin membuat tegang dan berdenyut benda tersembunyi di balik celananya. Ia memberanikan diri menyentuh Tiara. Mengusap lembut perut Tiara dan terus memberi kecupan basah di leher dan juga tengkuknya.
"Apa ini sakit?" Miko mengecup lembut luka yang telah diplester tadi.
"Hhm," Tiara hendak menjawab tapi kalimatnya tertahan karena permainan tangan Miko yang menari diatas puncak dada yang kini menegang sempurna.
Tiara kembali meng**ang dan m*d*sah, ia memang sengaja tak mengenakan apa pun selain kaos putih tipis yang menggoda. Ia berniat menjerat Miko dalam hasrat tabu yang tak berkesudahan.
Miko terus menelusup, memberikan sentuhan sensual di bagian sensitif Tiara. Nafasnya memburu bersaing dengan n**fsu yang semakin membakar jiwa lelakinya. Ia membalik tubuh Tiara lalu melahap dengan bibir merah jambu yang tadi mengundangnya untuk dinikmati.
"Tiara, you're mine …," ucap Miko disela ciuman liar mereka.
"Sentuh aku sayang, miliki aku …," balas Tiara dengan suara parau.
Dalam balutan gerakan erotis mereka menikmati setiap sentuhan, dan saat Miko meloloskan kaos tipis Tiara, bel pun berbunyi disertai gedoran pintu yang cukup keras.
__ADS_1
"Ra, Tiara!"
Kampreeet!!