
Miko duduk di tepi ranjang dengan tangan memegang beberapa lembar foto kebersamaan Hendrawan dengan ibunda Tiara. Ia sama sekali tak menyangka jika gadis yang rencananya akan dipacarinya itu justru masih memiliki hubungan darah dengannya.
"Kenapa takdir mempermainkan diriku!" suara Miko bergetar, matanya mulai membayang.
Disaat ia mulai jatuh hati pada Tiara, kenyataan pahit harus ditelan. Apalagi ketika mengingat kejadian kemarin, mereka bahkan sudah berhubungan badan. Mana Miko tahu jika Tiara adakah adiknya begitu juga sebaliknya.
Satu lembar foto yang mengabadikan kebersamaan Hendrawan, Rendra, dan Ibunda Miko yang terlihat masih mengandung Tiara membuatnya sakit. Miko sama sekali tak menyangka Hendrawan yang dianggapnya sebagai ayah terbaik justru mengkhianati mami dan keluarga kecil mereka.
Hendrawan begitu mahir menyembunyikan para gundik simpanannya. Hingga tak ada yang tercium oleh istri sah dan keluarganya.
"Aaargh, brengsek! Pengkhianat!" Miko frustasi dan merobek foto-foto di tangannya hingga menjadi serpihan kecil.
Ia melempar apapun yang ada di dekatnya menyebabkan bunyi berisik dari dalam kamar yang beradu dengan suara teriakan sang mami dari kamar lain. Hari ini adalah hari terburuk bagi keluarga Hendrawan.
Malam mulai menunjukkan sisi keangkuhannya. Kehidupan malam mulai menggeliat. Miko yang berbaring di atas karpet baru saja tertidur pulas setelah meluapkan seluruh emosinya. Begitu lelapnya hingga tak menyadari jika lampu di kamarnya padam.
Sosok tinggi besar muncul di dalam kamar, menyeringai kejam dengan mata merah bak jilatan api. Nafasnya yang kasar terdengar tak beraturan. Sosok hitam itu mendekati Miko yang terlelap.
Lelembut itu tertawa, lalu duduk diatas tubuh Miko dengan tangan mencekik leher pemuda malang itu. Miko yang dalam posisi tertidur seketika terkesiap, kesadarannya berada di dua batas dimensi yang berbeda. Alam mimpi dan alam nyata.
Miko merasakan tubuhnya begitu berat dan tak bisa bergerak, nafasnya pun terasa sesak. Ingin berteriak tapi tak bisa, ada sosok hitam besar yang menindih tubuhnya kuat.
Lelembut berbulu itu terus mencekik Miko, seringai bengis terlihat di bibir tebal yang dihiasi taring. Ia puas karena berhasil membuat satu anak manusia terjebak dalam ilusi yang menyebabkan sistem aliran darah Miko tak karuan.
Miko ingin berteriak tapi suara yang terdengar hanya lenguhan keras tak jelas. Ia berusaha berontak dan melepaskan diri dari cengkeraman tangan besar lelembut berbulu itu. Hingga akhirnya ia pun bisa mengambil alih tubuhnya lagi.
"Aaargh,"
Keringat bercucuran di tubuh Miko, nafasnya tersengal-sengal. Ia bingung karena kamar pribadinya dalam kondisi gelap gulita.
"Sial! Mati lampu ternyata!"
Miko duduk dan meraba raba sekitar hendak mencari ponselnya. Ia merasakan sesuatu yang tajam, kasar dan besar ada didekatnya. Miko yang kesulitan melihat dalam gelap hanya menebak saja.
"Apa ini?"
Rasa penasaran membuatnya meraih benda itu dan menggenggamnya. "Kok kayak tangan?"
Suara geraman mengerikan terdengar di telinga Miko, bulu kuduknya berdiri. Nafas berat dan panas menyapu wajahnya. Miko otomatis memundurkan tubuh dan melemparkan benda serupa tangan yang ia pegang.
"Si-siapa?"
Suara nafas itu semakin mendekat dan rasanya tak berjarak lagi dengan Miko. "Si-siapa kamu!" teriak Miko lantang dengan rasa takut yang begitu menyelimuti dirinya.
Sepasang mata merah bak api yang menari tiba-tiba saja muncul entah darimana. Miko pun melonjak kaget, ia pun merangkak menjauh.
"Pergi, pergi!"
Mata merah laksana api itu terus mendekat disertai geraman dan dengusan nafas kasar, Miko kembali menjerit.
"Tolong, tolong! Mih, Pij, mbok Nah, pak Udin! Bukain pintu!"
Miko berteriak lantang sembari menggedor gedor pintu. Tapi tak ada jawaban, ia berbalik menempelkan punggungnya pada pintu. Sosok hitam besar bermata api itu terus mendekatinya dengan cepat, Miko pasrah dan memejamkan mata.
"Ampun, ampuni aku!"
Ia menangis dan menggigil ketakutan hingga akhirnya,
__ADS_1
"Mas Miko! Mas Miko kenapa, bangun mas! Mas Miko!"
Suara laki laki dan perempuan bersahutan memanggil Miko. Perlahan Miko membuka mata, dan mengerjap.
"Pak Udin … Mbok Nah?!" suaranya terdengar lemah.
"Mas Miko kenapa? Tidur kok teriak teriak begitu? Bikin kaget kita semua!" Pak Udin membantu Miko duduk, sementara Miko tampak kebingungan.
"Aku tidur? Lampunya nggak mati pak Udin?"
Yang ditanya pun kebingungan, pak Udin dan mbok Nah saling memandang lalu menggelengkan kepala.
"Mas Miko mimpi kayaknya deh!" ujar pak Udin mengulurkan segelas air pada Miko.
"Mimpi? Tapi rasanya nyata banget!"
Miko menatap sekeliling kamar, Tak ada makhluk hitam berbulu yang menakutkan tadi. "Iya mungkin cuma mimpi," ia tersenyum masam tapi senyumannya itu mendadak hilang.
Disudut kamar ekor mata Miko menangkap bayangan hitam besar setinggi langit-langit kamar, melihat ke arahnya dengan mata merah menyala. Miko terbelalak, ia kembali berteriak histeris dan menjauhi sosok hitam yang kini mendekatinya.
"Pak Udin, mbok Nah to-tolong i-itu dia! Usir dia! Tolong saya!"
Miko menoleh ke arah dua asisten rumah tangganya tapi ia kembali dikejutkan dengan perubahan bentuk mbok Nah dan pak Udin. Mereka berubah menjadi sosok lelembut berbulu hitam yang lain. Keduanya yang semula jongkok perlahan berdiri dan mendekati Miko.
Miko segera berlari keluar kamar dengan histeris, ia terjatuh beberapa kali sebelum akhirnya bisa mencapai garasi. Dengan tangan gemetar, Miko berusaha menyalakan mesin mobil. Sesekali ia menoleh ke arah rumahnya, ketiga sosok itu semakin mendekat.
Miko mengumpat dan memaki tak karuan hingga akhirnya ia berhasil menyalakan mesin mobilnya dengan cepat lalu keluar dari halaman rumah, menyelamatkan diri.
"A***ng, brengsek! Apa tadi itu!"
"Ada apa mbok Nah?" tanya ibunda Miko heran.
"Nggak tahu Bu, mas Miko kayak orang kesurupan. Dia ketakutan ngeliat kita!"
"Ketakutan?"
"Nggih Bu, kayaknya mas Miko shock sama kejadian siang tadi jadi terlalu mikir." ujar mbok Nah lagi.
Ibunda Miko kembali murung ia hanya menatap nanar mobil putranya yang melaju kencang dan menghilang di gelapnya malam.
"Ngopo to mas Miko?" Pak Udin berbisik pada mbok Nah.
"Lha mbuh, kakean ngombe yak'e!"
Mereka menggelengkan kepala dan kembali masuk ke dalam rumah.
...----------------...
Miko melihat ke arah spion memastikan makhluk hitam itu tak mengejarnya. Perasaannya lega saat ketiga makhluk itu tak terlihat. Ponselnya berdering, Miko mencari keberadaan benda pipih itu. Benda yang terus bergetar itu rupanya ada di dashboard.
"Lho kok ada disini?"
Miko yang curiga memilih untuk tetap menjawab panggilan karena tertera nama Tomi di layar ponsel.
"Ya, Lo dimana Tom!"
"Mik, sebaiknya lo kesini deh. Ada kabar buruk!"
__ADS_1
"Buruk? Kabar apaan?!"
"Lusi, Mik, dia … loncat dari apartemennya,"
"Hah, apa loncat? Serius Lo!"
"Iya, Lo kesini deh."
"Oke, dimana?"
Tomi memberitahukan alamat rumah sakit tempat jenazah Lusi berada. Miko yang masih dalam kondisi shock dan juga panik, segera menuju rumah sakit yang dimaksud.
Tomi menunggu kedatangan Miko di parkiran mobil, Amanda sudah diantarkan pulang memakai jasa layanan ojek online. Mobil Tomi terpaksa ditinggal sebagai salah satu bahan penyelidikan polisi. Ia juga dijadikan saksi kasus bunuh diri Lusi.
Mobil Miko tiba dengan cepat, decit suara rem mobil terdengar memekikkan telinga.
"Lo mau mati hah, bawa mobil ngebut gitu!" cibir Tomi pada sahabatnya begitu Miko keluar mobil.
"Gue emang mau mati tadi!" sahutnya frustasi, keringat masih membanjiri tubuhnya.
Tomi memperhatikan kondisi sahabatnya yang tak karuan itu. Ia hanya menggelengkan kepala.
"Dimana Lusi?!"
"Di kamar mayat!"
"Hah, kamar mayat? Jadi Lusi udah …,"
Tomi mengangguk, "Dia bunuh diri Mik! Kan gue tadi bilang dia loncat dari apartemennya! Ya otomatis dead end lah!"
Miko tak percaya dengan kata-kata Tomi ia menjambak rambutnya frustasi. Meski tingkah Lusi menyebalkan tapi dia pernah ada di hati Miko mengisi ruang kosong di hatinya. Ia berjalan menuju ruang jenazah diikuti Tomi.
"Lo mau liat dia?"
Miko tak menjawab, ia terus saja berjalan hingga keduanya tiba di depan pemulasaraan jenazah.
"Lo yakin mau lihat dia?" Miko masih tak menjawab, "Dia bunuh diri Mik, dari lantai atas lo pasti tau kan bentukannya kek gimana? Yakin lo bisa liat!"
Miko menatap Tomi dan mengangguk lemah.
"Ya udah, gue minta ijin dulu sama petugasnya. Lo tunggu disini bentaran!"
Tomi pun masuk ke dalam ruangan meninggalkan Miko sendirian berdiri di lorong sepi. Bau menyengat menggelitik hidung Miko, bau tak sedap bercampur anyir darah. Miko kembali gemetar, ia celingukan ke kanan dan kiri lorong. Alarm bahaya alami di tubuhnya bereaksi.
Suara geraman disertai nafas berat kembali terdengar, ketakutan kembali menyelimuti pemuda bertato itu. Ia mencari dimana sumber suara yang memberikan teror padanya. Suara langkah kaki berat, panjang dan terasa sangat besar terdengar ditelinga Miko. Ia ingin berteriak memanggil Toni tapi suaranya tercekat.
Saat Miko dilanda rasa takut luar biasa, Tomi keluar dari ruangan. Ia memanggil Miko untuk masuk kedalam ruangan, tapi apa yang terjadi Miko justru berteriak histeris.
"Nggak, pergi! Pergi, jangan ganggu aku!"
"Mik, Lo kenapa?!" Tomi mendekati Miko tapi Miko justru berbuat sebaliknya ia mundur perlahan dan bersiap lari.
"Pergi, pergi!"
Miko sontak berlari secepatnya menjauh dari Tomi. Dalam mata Miko, Tomi adalah makhluk besar berbulu menyeramkan yang hendak memangsanya. Ia lari ketakutan kembali menuju mobilnya.
"Yaelah, katanya berani mau lihat! Malah lari! Miko … Miko garang badan doang nyali ciut seupil!"
__ADS_1