Bedak Sang Nyai

Bedak Sang Nyai
Siasat Bayu


__ADS_3

Miko menggandeng Tiara dengan erat. Mereka saling memandang dengan penuh cinta seperti layaknya dua anak manusia yang saling jatuh hati. Tiara memainkan dramanya dengan baik, ia mengelabui Miko seolah olah dirinya juga jatuh hati pada lelaki eksotis bertato itu.


"Ra, kamu laper nggak?" 


"Hhm, nggak tadi kamu kan udah kirim makanan banyak mas Miko, perutku dah kenyang."


"Padahal aku laper lho Ra, seharian nggak bisa makan nungguin kamu pulang."


"Ohya, diih kasian banget sih mas …,"


"Miko?!" perkataan Tiara terhenti ketika mendengar suara jeritan wanita yang memekakkan telinga. 


Situasi basement yang lengang dan sepi membuat suara wanita tadi menggema hingga ke lantai bawah. Beberapa juru parkir dibuat penasaran dengan suara nyaring dan lantang yang diteriakkan wanita cantik berkulit putih dengan rambut kecoklatan.


"Ooh jadi ini cewek yang kemarin bikin kamu sampai ninggalin aku di bioskop sendirian?!" Lusi, kekasih Miko yang mirip boneka barbie itu menatap Tiara dari atas sampai bawah.


"Selera kamu turun level, Mik? Kehabisan stock cewek cakep, sampai kamu rela buang aku demi cewek murahan yang kerja di mall begini?" Lusi, ganti menatap Miko dengan amarah yang berkilat di matanya.


Miko terdiam dan menatap tak suka pada tingkah Lusi begitu juga dengan Tiara.


"Heh, kamu juga kegatelan deketin cowok gue! Ngerasa paling cantik, paling bohay, jadi bisa gantiin kedudukan gue jadi pacar Miko? Iya?!" Lusi mendorong tubuh Tiara dengan menggunakan ujung jarinya.


"Mbak, bukan begitu. Saya sama mas Miko nggak pacaran. Jangan salah paham dulu mbak!" Tiara mengelak dari tuduhan Lusi.


"Ohya terus kenapa tangan kalian pake gandengan mesra gitu, hah?! Truk gandeng emang?" Lusi kembali menghardik Tiara.


"Lusi, nggak usah bikin perkara disini deh. Kamu nggak malu apa diliatin banyak orang gitu?" Miko mencoba menenangkan Lucy.


"Mana, siapa yang liat? Cuma mereka kan, nggak banyak! Nggak usah lebay, yang ada kamu kan yang malu?!" 


Miko tak menjawab ia merogoh ponsel di kantong bajunya. Menghubungi seseorang untuk menangani Lusi. Wanita yang sudah dipacarinya sejak setahun terakhir itu tak terima di duakan Miko. Penjelasan Tiara terasa sia-sia, Lusi sudah memberikan label perebut pacar orang pada Tiara. 


Lusi terus memaki Tiara dan juga Miko. Emosinya meluap dan pada akhirnya sebuah tamparan melayang ke pipi Tiara.

__ADS_1


"Lusi! Kamu keterlaluan!" Miko mendorong tubuh Lusi dengan kasar, hingga wanita itu jatuh terjerembab.


Lusy yang tak terima dengan perlakuan Miko justru balik menyerang kekasihnya dengan brutal. Ia tak peduli jika kelakuannya itu diperhatikan oleh beberapa pengunjung mall.


"Lus, berhenti nggak!" Miko tak ingin membalas, ia cukup dibuat kewalahan dengan tingkah Lusy. 


Hingga akhirnya dua petugas keamanan datang melerai, begitu juga dengan dua teman Miko lainnya yang datang bersamaan.


"Lepasin nggak, gue garuk sekalian tuh cewek gatel!" teriak Lusi dengan wajah merah padam. Kulit putihnya kini terlihat kontras dengan garis kemerahan akibat tergores kuku Miko secara tak sengaja.


"Lusi! Tenang bisa nggak! Udah jangan bikin malu disini!" teman wanita Miko yang sengaja dihubungi berusaha menenangkan wanita yang terus memberontak dalam cengkraman tangan petugas keamanan.


"Temen Lo itu brengsek tau nggak! Dia ninggalin gue demi cewek nggak jelas itu!" Lusi kembali berteriak dan memaki Tiara dengan kata kata kasar.


"Mas Miko mending mas Miko pergi aja deh, biar mbak ini kami yang tangani." salah satu petugas keamanan memberikan saran pada Miko yang diikuti anggukan kepala darinya.


Miko menatap kekasihnya itu dengan sinis lalu menarik tangan Tiara agar segera meninggalkan area parkir. Lusi masih tak terima, ia berhasil lepas dari cengkeraman tangan petugas keamanan. Ia pun segera berlari ke arah Tiara, menarik rambutnya dengan kuat hingga Tiara terjengkang ke belakang. Lusi menyerang wanita yang dianggap perebut miliknya itu tanpa ampun, memukul, mencakar dan menjambak rambut Tiara.


Miko yang geram akhirnya melayangkan pukulan ke pipi Lusi, ia menarik dan mendorongnya dengan kuat. 


Lusi hanya bisa menangis dan memegang pipinya yang terkena bogem mentah Miko. Sudut bibirnya pecah dan tubuhnya terasa remuk karena terjerembab dengan bokong terlebih dahulu.


"Ayo kita pergi, kamu nggak apa-apa kan?" Miko membantu Tiara berdiri.


Tiara menangis, baru kali ini ia dihajar habis-habisan oleh wanita cantik yang menyebutnya sebagai pelakor. Tiara malu dan juga kesal. Ia melirik ke arah Lusi yang masih menatapnya dengan penuh kebencian.


Dasar mak lampir! Tunggu pembalasanku, kau membuatku malu Lusi! Aku tidak akan membiarkan dirimu tenang!


Miko mengantarkan Tiara pulang ke apartemen miliknya. Ia mengompres pipi Tiara yang sedikit bengkak akibat pukulan Lusi.


"Sakit ya," Miko bertanya sembari meletakkan kompres ke pipi gadis pujaannya. "Maaf, gara-gara aku kamu jadi begini."


"Udah nggak apa-apa, kita semua salah kok." balas Tiara masam.

__ADS_1


Ia meraih kompres yang dipegang Miko lalu menekan nekan sendiri di bagian yang sakit. Miko memeriksa kepala dan menyibak lembut rambutnya.


"Apa disini juga sakit?" tanyanya dengan menekan ujung jarinya di bagian tengkuk.


"Nggak, tapi disini yang sakit." Tiara mengambil tangan Miko dan meletakkannya di dada.


"Sakit di badan nggak ada artinya ketimbang sakit disini." lanjut Tiara lagi, matanya menatap lekat Miko.


Sikap Tiara itu membuat Miko pun langsung memeluk Tiara dengan erat. "Maaf ya, aku janji nggak akan terulang lagi."


Tiara memejamkan mata sejenak merasakan hangatnya pelukan Miko. Tapi beberapa detik kemudian ia membuka mata dan menatap ke arah Bayu yang menampakkan diri padanya.


"Urus perempuan itu untukku sayang, agar dia tidak menganggu rencana kita!"


Tiara secara khusus meminta pada Bayu untuk menangani Lusi. Bayu pun mengangguk tanpa ekspresi. "Akan aku singkirkan dia segera, lakukan apa yang perlu kau lakukan."


Tiara menyeringai bak iblis betina dalam pelukan Miko. Sakit hatinya akan terbalaskan, baik kepada Lusi dan juga Miko.


Miko melepaskan pelukannya dan Tiara kembali berpura pura sedih. Andai ada penghargaan piala Citra untuk pemain sandiwara kehidupan, maka Tiara pasti akan mendapatkannya.


"Apa ini masih sakit?" Miko mengusap bibir tipis Tiara dengan lembut.


Tiara menggeleng, tangan Miko menarik dagu Tiara agar mendekat, memberi satu kecupan singkat di bibir Tiara.


"Habis ini pasti sembuh." ucap Miko yang kembali mendaratkan ciumannya.


Tiara mengalungkan kedua tangan ke leher Miko, menekan kepala pemuda itu agar semakin mendekat padanya. Ciuman yang hangat dan menuntut lama kelamaan berubah menjadi liar dan memanas. Tiara tak peduli dengan bengkak di pipinya, hasratnya naik tanpa permisi dan mereguk manisnya kecupan Miko di tubuhnya.


Miko menghimpit tubuh Tiara diatas sofa empuk, tangannya begitu cekatan membuka pakaian Tiara satu persatu. Tiara yang tak kuasa menolak, mengikuti permainan Miko yang mulai menggila. Menyentuh area sensitif nya dengan agresif hingga rintihan nikmat lepas dari bibir mungilnya.


Sentuhan, usapan, dan belaian lembut yang diberikan keduanya secara bergantian membuat mereka terbelit hasrat tabu yang tak seharusnya terjadi.


Tiara dan Miko, dua anak manusia yang terikat jalinan darah melakukan hal terlarang akibat nafsu dan angkara.

__ADS_1


Tiara dan Miko tertidur lelap setelah lelah dengan pelepasan hebat yang dibalut dengan asmara semu yang terlarang. Bayu berdiri tak jauh dari kedua anak manusia itu. Senyum kemenangan tersungging di bibirnya.


"Maafkan aku sayang, tapi perjanjian adalah perjanjian tak peduli meski itu saudaramu sendiri. Sekarang tinggal melihat keseruan permainan ini."


__ADS_2