
Bunyi tabuhan gamelan, kenong, bonang dan petikan sitar mengalun indah di malam hari mengiringi suara sinden yang terdengar merdu. Kerumunan warga berdesakan mengelilingi pagelaran wayang kulit yang sengaja digelar semalam suntuk oleh Ki Demang.
Ki Demang adalah sosok paling berpengaruh di desa, ia menjadi salah satu warga pribumi yang dipercaya VOC untuk mengelola sumber daya alam desa yang setiap harinya dikirim ke gudang besar bahan pangan milik pemerintah Hindia Belanda.
Pagelaran besar digelar untuk merayakan pembukaan tanah dan lahan baru yang diberikan pemerintah Belanda sebagai imbalan atas jasa Ki Demang. Wujud syukur Ki Demang atas harta yang semakin melimpah. Dikenal sebagai tuan tanah dan memiliki beberapa perkebunan, Ki Demang juga kesohor sebagai lelaki pengoleksi gundik cantik.
Meski telah menikahi dua wanita kembang desa, ia masih saja mengincar wanita cantik yang mau memuaskan hasrat gilanya di ranjang. Dalam satu malam Ki Demang bisa melakukannya berkali kali dengan beberapa wanita penghibur yang selalu disiapkan khusus untuk melayani nafsu gilanya. Pemilik ajian alugoro ini selalu tak puas hanya dengan bermain dengan satu wanita saja.
Malam ini Ki Demang sengaja mengundang Klenengan dengan waranggana Nyai Kembang yang begitu cantik dan bertubuh sintal. Ki Demang sudah lama mengincar Nyai Kembang untuk dijadikan selir. Ia melakukan segala daya upaya untuk menarik perhatian Nyai Kembang. Mulai dari harta, perhiasan, sampai uang dalam jumlah besar pernah dikirimkan Ki Demang ke rumah Nyai Kembang tapi semuanya ditolak mentah-mentah.
Hal itu tidak menyurutkan niat Ki Demang, ia tetap berniat mempersunting Nyi Kembang sebagai istri ataupun selir. Kecantikan Nyi Kembang termasyhur hingga ke beberapa desa, bahkan petinggi VOC juga mengagumi kecantikan Nyi Kembang yang wajahnya selalu bersinar bak rembulan.
Rambut digelung dengan hiasan roncean bunga melati dan kantil, kulit putih mulus, mata bulat dengan warna yang terlalu hitam, bibir tipis dan hidung mancung. Nyi Kembang lebih mirip sebagai bagian dari Vreemde Oosterlingen (orang timur asing yang meliputi Tionghoa, India, Arab, Pakistan dan lainnya) daripada Inlander (pribumi).
Kesempurnaan fisik pada perabotan depan dan belakang Nyi Kembang ditambah dengan wajah cantiknya membuat kaum Adam jatuh hati pada Nyai Kembang. Nama aslinya adalah Ruminten, putri dari Darsono dan Sutinah petani musiman yang menggarap perkebunan teh milik Ki Demang.
Sebenarnya Ruminten bukan anak kandung mereka, ia ditemukan saat Darsono dan Sutinah pergi ke hutan untuk mencari bahan makanan dan kayu bakar. Entah siapa yang meletakkan bayi mungil nan cantik itu di tengah hutan. Rasa iba pasangan pasutri itu membuat mereka sepakat untuk merawat Ruminten hingga dewasa.
Keajaiban demi keajaiban terjadi setelah mereka mengasuh Ruminten. Entah darimana asalnya setiap pagi selalu saja ada bahan makanan yang diletakkan di pintu belakang rumah yang menghadap ke arah hutan.
Awalnya Darsono dan Sutinah ketakutan tapi lama kelamaan mereka menganggap itu adalah rezeki yang diberikan untuk merawat Ruminten. Tentu saja mereka selalu menyembunyikan hal itu dari warga lain terutama para penarik pajak yang garang. Beranjak dewasa Ruminten semakin matang dan terlihat kecantikannya, hingga ia menjadi kembang desa.
Tapi ada rahasia yang tidak diketahui Darsono dan Sutinah. Tepat di usia ke 16 tahun, Ruminten pergi ke hutan tempat ia ditemukan. Bisikan halus menuntunnya menuju ke sebuah gua tersembunyi tak jauh dari aliran sungai. Ruminten melakukan semedi dengan menanggalkan seluruh pakaiannya. Itu dilakukan setelah beberapa kali mendapatkan mimpi aneh.
"Datanglah kembali padaku wahai anakku," suara itu yang selalu terngiang di telinga Ruminten.
__ADS_1
Hingga hari keempat menurut penghitungan Jawa kuno, Ruminten didatangi seorang wanita cantik berkemben hijau kekuningan. Diantara kedua matanya terdapat tanda aneh yang bersinar layaknya batu safir.
"Aku tahu kau akan datang memenuhi undangan ku." wanita itu berjalan memutari Ruminten yang masih menutup mata dan khusyuk dalam semedinya.
"Kau dipersembahkan untukku demi kejayaan kedua orang tuamu, kau milikku sejak lahir."
Wanita cantik itu kemudian berhenti tepat di depan Ruminten. "Buka matamu cah ayu, kau sudah cukup membuktikan dirimu padaku. Dan kini waktunya kau mengabdi padaku!"
Ruminten membuka matanya, ia tidak terkejut mendapati sosok yang selalu hadir di mimpi anehnya.
"Hamba siap menerima tugas Nyai Ratu."
Wanita yang disebut Nyai Ratu itu tersenyum, ia mengeluarkan kotak kayu berwarna coklat kehitaman. "Aku memberikan ini untukmu. Pakailah untuk memikat para lelaki. Bawa mereka ke gua tak jauh dari sini. Persembahkan mereka untukku!"
Ruminten menerima kotak itu dari Nyai Ratu, ia membukanya perlahan. "Bedak?"
"Pakailah ini dan ucapkan mantra yang akan aku ajarkan padamu, setiap Selasa Kliwon mandilah dengan air bunga tujuh rupa." Sang Nyai ratu kembali berjalan memutari Ruminten.
"Berikan aku satu tumbal pada hari yang telah ditentukan dan selanjutnya kau akan bersama dia!"
Sosok lain muncul dari balik tubuh Nya Ratu. Lelaki rupawan dengan wajah nyaris tanpa cela. Ia bertelanjang dada dan hanya mengenakan jarit sepanjang selutut untuk menutupi tubuh bagian bawahnya.
Ruminten terkesiap, ia menutupi aset yang menggantung indah di dadanya. Nyai Ratu pun tertawa terbahak-bahak melihatnya.
"Jangan malu anakku, dia akan menjagamu dan menjadi perantara kita. Dia kutempatkan untuk menjaga kekuatan bedak ini dan juga dirimu."
__ADS_1
"Maksud nyai?" Ruminten bertanya dengan mata sesekali memperhatikan tubuh kekar lelaki tampan di depannya.
"Jadikan dia kekasihmu, dia akan menjagamu dan memastikan tumbal yang aku minta tersedia tepat waktu!"
Nyai Ratu tersenyum ganjil ke arah Bayu. Ia menyusuri dada bidang Bayu dengan gerakan erotisnya. "Nikmatilah malammu bersamanya dan berikan aku pengikut baru!"
Bayu meraih tangan sang Nyai Ratu dan menciumnya, "Baik Nyai!"
Nyai Ratu berlalu dengan suara tawa yang meremangkan bulu roma. Meninggalkan Bayu dan Ruminten yang salah tingkah dibawah tatapan Bayu.
"Jangan takut Ruminten, kita akan menyempurnakan perjanjian Nyai Ratu. Kau milikku selamanya!"
Bayu mendekati Ruminten, mengambil kotak pemberian Nyai Ratu dan meletakkannya tak jauh dari mereka.
"Bagaimana cara kita menyempurnakannya, kangmas?"
Suara Ruminten tercekat, jantungnya berdebar tak karuan. Baru kali ini ia berdekatan dengan seorang pria. Wajah mereka pun saling berhadapan.
"Ikuti saja permainanku," Bayu mendekatkan bibirnya ke benda lembut merah jambu milik Ruminten.
Tatapan mata Bayu menghipnotis Ruminten, ia menyambut p*g*tan Bayu yang lembut, menyesapnya manis seperti menikmati manisnya madu hutan. Ciuman liar mereka berubah liar seiring dengan naiknya hasrat primitif dalam tubuh Ruminten.
Bayu menggelitik area sensitifnya dengan liar. Ia mengatur tempo sentuhan kadang lembut kadang kasar, membuat ledakan gairah dalam tubuh Ruminten menari liar tak terkendali. Ia mend*s*h dan meng*rang dibawah himpitan Bayu yang dengan rakus merasakan nikmatnya tubuh perawan Ruminten.
Suara laknat Ruminten menggema, memantul mengisi setiap ruang kosong dalam gua lembab dan dingin yang semakin terasa panas seiring kuatnya hentakan pinggul Bayu yang mengguncang dua buah bukit indah di dada Ruminten.
__ADS_1
Malam itu Ruminten menguatkan dirinya melengkapi perjanjian kedua orang tuanya terdahulu pada Nyai Ratu. Ruminten menjadi pengikut kegelapan dengan hasrat tabu yang menggebu.