Bedak Sang Nyai

Bedak Sang Nyai
Menyesal?


__ADS_3

Tiara gemetar dan terduduk lemas di salah satu lorong gelap rumah sakit. Ia menatap kedua tangannya dengan hati pilu. Bercak darah Arka masih menempel di kedua tangan mengotori kain kasa yang melilit tangan kanannya. Begitu juga dengan kaos pink lembut yang dikenakan Tiara.


Tubuhnya berguncang, airmata mengalir begitu saja tanpa henti seiring kesedihan mendalam yang Tiara rasakan. Kematian Arka bukan bagian dari rencana Tiara. Arka adalah teman untuknya, seumur hidup Tiara baru kali ini merasakan nyaman pada lelaki.


Jika Bayu adalah semu maka Arka adalah nyata. Perasaan Tiara pada Arka murni kasih sayang dan mungkin akan menjadi cinta jika saja Arka tidak tewas secara mengenaskan.


Tiara menekuk lututnya, merengkuh dirinya sendiri dalam duka. Suara tangisan lirih mengisi lorong temaram rumah sakit. Ia tak peduli pada sosok gaib yang sedari tadi memperhatikan dirinya, ia juga tak peduli dengan sapaan bau anyir dan busuk yang menggelitik indra penciuman. Tiara hanya ingin menangis dan meluapkan seluruh kesedihannya.


"Ra," Rendra menyentuh lembut bahu adiknya.


"Kita pulang yuk, jenazah Arka juga sudah diambil keluarganya."


Tiara mendongakkan kepala dengan mata sembab dan basah, ia memeluk Rendra erat.


"Ini salahku, Arka mati karena aku!"


"Jangan menyalahkan diri sendiri Ra, ini takdir." Rendra mengelus punggung Tiara dengan lembut. Ia membiarkan sang adik kembali menangis sepuasnya.


"Miko, Ren! Miko yang bunuh Arka!"


Rendra dibuat terkejut dengan ucapan Tiara, "Miko?"


"Iya, Miko yang tabrak Arka dan aku lihat sama mata kepalaku sendiri, dia ketawa. Aku sempat kejar Miko tapi dia langsung tancap gas!"


Rendra mengurai pelukannya, memegang kuat bahu Tiara dan menatap kedua mata sembab itu. "Kamu yakin?"


Tiara mengangguk, dan Rendra menghela nafas panjang. Ia merogoh sakunya lalu menunjukkan foto mengerikan, sebuah mobil yang tertimpa alat berat dan truk pengangkutnya terguling melintang di tengah jalan tanjakan menuju Semarang atas.


"Apa ini?" Tiara menajamkan mata ke arah layar ponsel.


"Papah kirim ini ke aku sekitar satu jam yang lalu. Dia mau kita datang untuk menghormati Miko yang terakhir kalinya."


"Aku nggak sudi, dan jangan paksa aku buat nginjakin kaki di sana!" mata sedih Tiara seketika berubah menjadi amarah, Rendra hanya bisa menghela nafas berat. Situasi mereka memang tidak menguntungkan saat ini.


Rendra memeluk adiknya, membantu untuk berdiri dan mengajaknya pulang. "Kamu harus istirahat,"


Kedua kakak beradik itu pun akhirnya pulang meninggalkan rumah sakit. Tiara diam seribu bahasa hingga tiba di apartemen miliknya.


"Pemakaman Arka jam tiga sore, kalo kamu mau datang aku anterin." Rendra berkata pada Tiara sebelum ia meninggalkan.


Tiara tak menjawab, ia memilih diam dan membenamkan wajahnya ke guling empuk yang dipeluknya. Suara tangis kembali terdengar, dan Rendra hanya bisa menatap adiknya dan membiarkan Tiara beristirahat.


Sebuah tangan kekar memeluk Tiara dengan posesif, mencium tengkuk dan bahu Tiara. Membuat Tiara membuka matanya, "Bayu,"


"Hmm, ini aku sayang. Kenapa kamu nangisin kematian Miko?" sahut Bayu sembari terus menghujani Tiara dengan kecupan.

__ADS_1


"Miko? Bukan, untuk apa aku menangisi lelaki itu? Meski aku tahu dia keluargaku tapi aku sama sekali tidak peduli!"


Tiara membalik tubuhnya hingga berhadapan dengan Bayu. "Terus, kenapa kamu nangis?"


Tiara menatap mata Bayu yang indah, dia lelaki tampan yang selalu menjaga Tiara meski sejatinya Bayu adalah lelembut berbulu yang hidup di alam gaib.


"Arka, meninggal."


"Arka, siapa dia?" Bayu pura pura tidak mengenal Arka atau bahkan mengingatnya, ia memasang ekspresi bingung.


"Kamu yakin nggak ingat dia?"


"Iya, apa pentingnya Arka buat kamu?" Bayu balik bertanya.


Untuk sesaat Tiara diam tak menjawab, ia menatap Bayu. "Dia temanku, sahabat terbaikku …,"


"Dan kamu mencintainya?" Bayu memotong perkataan Tiara, ekspresi nya berubah membuat Tiara curiga.


"Kamu cemburu? Tunggu ... jangan bilang kalau kamu ada dibalik kematian Arka?"


Bayu hanya diam, dia memeluk tubuh ramping Tiara dengan erat. "Aku mencintai kamu sayangku, aku takut kehilangan kamu."


Bayu memberikan satu gigitan kecil di sudut bibirnya membiarkan Tiara menikmati ciuman liar penuh hasrat dengan memejamkan mata. Sesuatu yang aneh pun terjadi pada Tiara.


Penglihatan Tiara terbuka, satu slide adegan setelah Arka terbunuh berjalan di memorinya. Tiara melihat seringai kejam Miko dengan aura tipis kehitaman yang membalut tubuh pria bertato itu. Tiara juga melihat Bayu pada saat yang bersamaan ada di dalam sana, bersembunyi dibalik raga lelaki yang dibencinya. Tiara terkesiap tak percaya dengan visi bawah sadar yang dikirimkan padanya.


"Kamu kan, kamu yang bunuh Arka! Aku liat kamu disana, didalam tubuh Miko!"


Bayu masih terdiam dan turun dari ranjang, menatap Tiara sejenak sebelum akhirnya menghilang dengan meninggalkan suara. "Arka adalah peringatan untukmu, tak ada yang boleh mengambil hati dan tubuh mu selain aku! Ingatlah itu Tiara! Jangan coba-coba mencurangiku apa pun sebabnya!"


Tiara terbelalak, ia berusaha tidak mempercayai ucapan Bayu tapi kenyataan berbicara sebaliknya. "Jadi Arka tewas karena … aku?"


"Bayu, kenapa? Kenapa Arka harus mati?" gumamnya lirih diselingi isakan.


Tiara kembali larut dalam kesedihan, ia merasa dicurangi oleh lelembut berbulu hitam tadi. Ia marah, bingung, kecewa, dan juga sedih. Arka tak bersalah, ia hanya ingin diberi kesempatan untuk mencintai Tiara, tapi Bayu bertindak terlalu jauh dan berlebihan.


Prosesi pemakaman Arka berjalan dengan lancar, Tiara tak berani mendekat. Ia sengaja bersembunyi dan melihatnya dari kejauhan. Tiara tak sanggup melihat kesedihan kedua orang tua Arka yang menangisi anak satu satunya itu. Dibalik kacamata dan kerudung hitamnya, Tiara menangis. Rendra mengusap punggung Tiara memberinya kekuatan.


"Ikhlasin Ra,"


Ucapan Rendra begitu menusuk hatinya, andai Rendra tahu apa yang terjadi sebenarnya. Kecemburuan lelembut berbulu bernama Bayu membuat nyawa orang yang baru saja ia anggap sebagai teman menjadi korban. Bayu tidak mengambil nyawa Arka sebagai persembahan tapi lebih karena kesenangan.


"Maafin aku, andai kita nggak pernah bertemu Arka …,"


Hujan gerimis menghiasi sore sendu yang memilukan. Tiara baru beranjak setelah dirinya menyempatkan diri mengusap nisan Arka saat para pelayat pergi.

__ADS_1


"Makasih untuk momen terakhir yang indah. Sekali lagi maafin aku."


Tiara kembali tak bisa menahan air mata kesedihan, tapi menangis tidak akan mengembalikan Arka kembali padanya.


"Ra, kita ke tempat Miko ya? Nggak enak sama papah." Rendra mengatakan hal itu pada Tiara saat mereka masuk ke dalam mobil.


"Kamu aja sendiri, aku nggak mau dan nggak sudi." sahut Tiara datar.


"Ya kalo kamu nggak mau kamu bisa tunggu di mobil aja. Biar aku yang nemuin papah." ia pun melajukan kendaraannya daerah Tanah Mas, diamnya Tiara dianggap setuju oleh Rendra.


Sesampainya di perumahan tempat Hendrawan Adhiwijaya, Tiara dan Rendra saling berpandangan.


"Kamu yakin mau masuk? Menurutku sih jangan!" Tiara akhirnya mengeluarkan suara.


Sebagai salah satu pengusaha dan tokoh terpandang, luapan pelayat tak bisa dihindari baik dari kalangan masyarakat biasa maupun petinggi kota Semarang datang silih berganti. Deretan karangan bunga duka cita membanjir memenuhi sepanjang jalan yang akan memasuki rumah Hendrawan.


"Hmmm aku rasa juga begitu. Aku nggak mau kedatangan kita justru bikin kekacauan, apalagi istri papah jelas tidak akan mengijinkan kita mendekat."


"Nah, itu tau kan? Lebih baik kita menjaga hati kita sendiri daripada nanti tersakiti."


Rendra mengambil ponselnya lalu mengirimkan pesan singkat pada sang ayah. "Kita balik aja apa gimana?" tanya Rendra pada adiknya yang sedang memantau situasi sekitar.


"Pemakaman jam berapa?"


"Kata sekretaris papah mungkin jam 4 sore tunggu adiknya datang dari Perth, berarti sebentar lagi."


Tiara berdecak, "Huh, mo dikubur aja repot!"


Hati Tiara sakit melihat hal yang begitu berbeda pada saat sang ibu meninggal. Tak ada pemakaman mewah, tak ada karangan bunga, bahkan sang ayah tak menampakkan batang hidungnya. Semua dilalui mereka dengan pilu sendirian.


Mereka memutuskan untuk tetap di mobil sembari menunggu iring iringan jenazah lewat. Satu jam kemudian, mobil pembawa jenazah Miko melewati mereka, tampak mobil Hendrawan mengiringi tepat di belakangnya.


"Tuh papah tersayang kamu,"


"Ra, dia juga …,"


"Stop, jalan deh!"


Rendra menggelengkan kepala, mereka pun ikut dalam iringan mobil jenazah. Jenazah Miko dikebumikan di Heaven Hill Memorial Park, Rendra segera bergabung dengan pelayat lain meski dari kejauhan sementara Tiara memilih melihat dari kejauhan.


Dua lelaki dengan dua cerita berbeda meninggal disaat yang bersamaan. Tapi hanya satu yang Tiara sesali, kematian Arka. Ia melipat kedua tangan di depan dada tak peduli dengan gerimis yang semakin lebat.


"Kematian yang indah untukmu Miko," cibirnya tak lupa dengan seringai masam.


"Rupanya putri haram dari Hendrawan juga ikut datang, saya sangat terkejut."

__ADS_1


Suara lelaki menyapanya dan membuat Tiara terkejut, "Ka-kamu …,"


"Surprise,"


__ADS_2