
Tiara menegakkan punggungnya, menyunggingkan senyum penyesalan dan sedikit ekspresi tak bersalah, ia mendekati lelaki muda yang tadi menghardiknya keras.
"Oh, sungguh maafkan saya mas …,"
Lelaki muda itu terlihat menatap takjub pada Tiara yang berjalan mendekat, suara lantang dan sarkas yang tadi dikeluarkannya tiba-tiba saja menghilang. Ia ikut mengembang kan senyum saat Tiara menyentuh lengannya.
"Mas siapa namanya?"
Lelaki muda itu tertegun, wajah Tiara membius pikiran yang bergerak liar menelanjangi gadis ayu di depannya.
"Miko," dengan segera lelaki muda yang mulai dipengaruhi pesona mistis itu menyambut tangan Tiara.
"Mas Miko? Maaf saya nggak lihat-lihat tadi,"
"Oh nggak apa santai aja lagi mbak!" Miko lupa dengan kata kasar yang sempat ia lemparkan.
"Beneran saya minta maaf, ya udah kalo gitu saya permisi dulu!"
Tiara menatap Miko sejenak sebelum ia berlalu, mengirimkan mantra pemikat pada lelaki muda dengan aroma musk dengan menyebut namanya sekali. Miko terhanyut dalam pesona Tiara, ia masih menatap punggung Tiara yang sudah berlalu meninggalkannya.
"Mik, Miko! Ngapain sih liatin cewek itu terus!" protes sang kekasih, Lusi.
"Eh, apa? Nggak kok!" Miko tergagap tapi matanya masih tertuju pada Tiara yang sempat menoleh padanya sebelum masuk ke ruangan karyawan.
"Cck, ayo buruan yang lain udah pada nungguin tuh disana!" Lusi menarik tangan kekasihnya agar mengikuti langkah kakinya dengan cepat.
Tiara tersenyum dari kejauhan, "Kau akan mencariku segera."
Di ruang karyawan rupanya Bu Ratih sudah menunggu. Ia tersenyum lebar melihat Tiara kembali bersemangat.
"Ibu lega, kamu bisa cepat pulih. Semangat bekerja ya!"
Bu Ratih memberikan dukungan pada Tiara begitu juga dengan beberapa rekan kerja lain termasuk Rio dan Anita.
"Tenang Ra, kita jagain kamu deh dari lelaki nggak jelas!" kata Anita menyemangati.
"Makasih mbak,"
__ADS_1
Setelah berbasa basi dan sedikit briefing dari Bu Ratih mereka segera menuju booth informasi di bagian depan mall. Tiara hendak ke toilet saat dirinya di hadang Nita yang masih memakai seragam cleaning service.
"Ooh, ini seleb dadakan mall itu ya? Masih punya nyali juga kamu kerja disini?"
"Apa maksudmu Nit?" Tiara mengernyit, Nita rekan di bagian cleaning service yang selalu membencinya itu terlihat begitu marah.
"Gara-gara kamu aku kehilangan kesempatan naik jabatan!"
"Ehm sorry, aku nggak ngerti maksud kamu. Maaf aku sibuk!" Tiara memilih menghindari Nita, tapi tangan Nita menariknya dengan keras membuat tubuh Tiara membentur dinding.
"Denger ya, aku bakal bikin perhitungan sama kamu! Pak Amrin masuk bui gegara kamu! Hampir aja aku dipromosikan sama dia tapi kamu udah hancurin harapan aku!" Nita meluapkan emosinya.
"Oh, jadi pak Amrin masalahnya? Dipromosikan? Jadi apa, istri ketiga atau gundik nafsu dia?" Tiara yang kesal mengejek Nita, ia mengatur jarak dengan wanita yang sedang terbakar amarah itu.
"Kurang ajar! Pantes aja pak Amrin nggak suka sama kamu, mulut kamu emang kudu di kasih pelajaran!" Nita berteriak tak peduli jika suara teriakannya bisa terdengar hingga keluar.
Nita hendak melayangkan tamparan ke Tiara saat satu teriakan lantang memanggil namanya. "Nita!"
Tangan Nita berhenti, ia menoleh ke arah suara itu dan langsung beringsut mundur. Bu Ratih memergokinya, ia pun menahan diri.
"Apa apaan ini? Ada apa sama kalian berdua? Apa kalian mau saya pecat?"
"Ini hanya salah paham Bu, saya bisa jelaskan!" jawab Nita dengan menunduk.
"Iya Bu ini hanya salah paham, saya permisi pergi dulu Bu!" Tiara segera berlalu meninggalkan Bu Ratih dan Nita.
Yang selanjutnya terdengar adalah omelan Bu Ratih pada Nita. Tiara merasa diatas angin karena banyak orang yang mendukungnya. Keberuntungan yang tak biasa sedang mengikutinya terus. Sebelum keluar dari area toilet, Tiara berhenti dan menatap Nita dari kejauhan. Ia tersenyum sinis, lalu bergumam.
"Macam-macam denganku, aku tak menjamin keselamatanmu Nit!"
Tiba di booth, Rio dan Anita disibukkan dengan pekerjaan mereka. Tiara segera bergabung, hari yang sibuk bagi ketiganya.
"Tumben banyak bener panggilan telepon hari ini!" keluh Anita sambil memijat kepalanya.
"Biasanya emang nggak begini mbak?"
"Ya nggak sesibuk ini sih paling kalo ada event tertentu saja."
__ADS_1
"Ohya Ra, lu di cariin Arka tuh!" Rio menunjuk ke arah kursi santai yang terletak tak jauh dari booth informasi.
Tiara mengikuti arah telunjuk Rio dan mendapati Arka sedang duduk tersenyum sambil mengacungkan satu gelas minuman dingin padanya.
"Deketin gih, udah dari kemarin cari kamu terus. Katanya kamu nggak ada dirumah kontrakan." Rio kembali berkata, tatapannya terus terpaku pada layar ponsel.
Tiara membalas senyuman Arka dengan lambaian tangan. Ia menoleh sejenak pada Rio. "Iya aku emang pindah rumah kok."
Rio tak merespon ia asyik bermain ponsel. Tiara hanya tersenyum melihat kelakuan Rio, ternyata meski terlihat cuek Rio bisa dibilang cukup perhatian pada rekan kerjanya.
"Thanks," ucap Tiara berlalu sambil menepuk bahu Rio pelan. Rio hanya melirik Tiara sebentar lalu kembali asik dengan gamenya.
"Hai, udah lama disini?" sapa Tiara pada Arka, ia menerima segelas kopi dingin dari salah satu gerai ternama.
"Baru aja kok, oh ya kamu kemana aku cari di rumah kok nggak ada?"
Tiara tersenyum masam, "Aku dah pindah."
"Oh pantesan, dimana?" Arka, memperhatikan Tiara yang di matanya terlihat semakin cantik.
"Kenapa emangnya nyariin, kangen?"
"Boleh kan kangen?"
Tiara tersenyum lagi memperlihatkan wajah ayunya dengan barisan gigi putih dan rapi. "Boleh aja, asal jangan ada yang marah."
Arka tergelak, usahanya mendekati Tiara mulai menampakkan hasil. "Pulang jam berapa nanti, biar aku anter."
"Jam sepuluh paling telat jam sebelas. Nggak perlu aku dijemput kakakku kok."
Raut wajah kecewa Aeka terlihat jelas tapi ia berusaha menutupinya dengan senyum. Mereka kembali mengobrol ringan. Sesekali Tiara tergelak dengan candaan Arka, rupanya pemuda dengan lesung pipi itu tipikal humoris membuat Tiara merasa nyaman didekatnya.
Sepasang mata memperhatikan Tiara dan Arka dari sebuah ruang tunggu bioskop. Miko, menatap Tiara takjub. Ia ingin sekali berkenalan dengan Tiara. Sejak pertemuan tak sengaja mereka tadi wajah Tiara terus membayangi Miko. Ia sampai melupakan Lusi kekasihnya yang secantik boneka Barbie.
"Mik, udah mau mulai tuh. Masuk yuk!" Lusi kembali menariknya, dan Miko berdecak kesal karena keasikannya menatap wajah Tiara terganggu.
'Aku harus dapetin nomor dia, ternyata cewek itu kerja di bagian informasi. Ini gampang, kenalanku banyak disini!'
__ADS_1
Tak hanya Miko dari sudut lain, seseorang juga memperhatikan Tiara. Amarah menyelimutinya, ia tak terima dengan perlakuan Tiara dan menyimpan dendam.
"Kurang ajar anak itu, aku akan membalas mu! Tunggu saja waktunya, aku akan mendapatkanmu Tiara!"