
Hari ini Tiara memantapkan langkah untuk mengundurkan diri dari tempatnya bekerja. Tewasnya Arka dan Miko disaat yang bersamaan jelas menimbulkan tanda tanya besar bagi rekan kerja Tiara, terutama untuk Rio dan juga Santi. Jika Anita memilih bersikap tak peduli berbeda dengan Rio yang langsung menarik Tiara ke sudut ruangan di dekat toilet karyawan.
"Ra, ada apa sebenarnya? Kenapa kamu tiba-tiba aja mundur dari kerjaan?" Rio menahan tangan Tiara agar tidak pergi.
"Kamu kan tahu apa masalahnya," jawab Tiara lemah, wajahnya masih terlihat murung.
"Kematian Arka, atau Miko?"
Tiara menghela nafas berat sebelum akhirnya menjawab, "Mereka dekat sama aku dan kamu juga tahu kan kalo keduanya suka sama aku. Apa kamu pikir itu nggak bikin orang bertanya tanya tentang aku?"
Tiara menahan kalimatnya sejenak sebelum akhirnya kembali bicara, "Aku tahu rumor yang beredar sekarang pasti udah nggak karuan. Aku sadar diri buat mundur, sebelum bikin nama baik mall ini rusak!"
"Persetan sama omongan mereka Ra, aku tahu persis kejadiannya gimana! Mereka mati bukan karena kamu!"
"Mereka mati karena aku Rio, Aku!" Tiara kembali terguncang, mengingat Arka yang begitu perhatian padanya.
"Ok fine, anggap aja itu karena kamu tapi itu karena kebodohan Miko yang cemburu liat kalian jalan. Itu takdir Ra, kamu cuma pemanis dari takdir kematian yang sudah ditetapkan!" Rio membalas ucapan Tiara dengan sengit, sedikit aneh mengingat Rio selama ini tak peduli dengannya.
"Pemanis kata kamu?" Tiara diam dan menatap dalam-dalam mata Rio. "Aku adalah racun mematikan! Kematian mereka bukti kalau aku membawa petaka!"
Tiara secara sadar mengatakan hal yang sesungguhnya tentang kematian dua lelaki muda yang notabene sedang dalam masa pendekatan. Ia tak mau mengambil resiko dengan tetap bekerja di mall. Pihak kepolisian pasti akan mencarinya untuk dimintai keterangan, ini akan mencoreng nama baik Bu Ratih yang sudah susah payah menolongnya. Belum lagi jika para polisi itu menemukan keterkaitan Tiara dengan kematian Toni.
Tiara tak ingin masuk bui untuk hal itu, masih banyak yang harus dia kerjakan untuk membalas dendam.
"Ra, tolong pikirkan lagi!"
"Kamu nih paham nggak sih Rio? Udah deh, nggak guna juga kamu menahan aku, apalagi minta aku tetap disini!"
Tiara menepis tangan Rio, tapi Rio malah menariknya dalam pelukan dan itu membuat Tiara terkejut. "Rio?!"
Rio mengeratkan pelukan dan membenamkan wajahnya di bahu Tiara. "Diamlah, aku cuma mau peluk kamu aja."
Tiara bingung tapi ia memilih untuk pasrah dan membiarkan Rio melakukan apa yang dia mau. "Ok, anggap aja ini pelukan perpisahan."
"Aku suka kamu Ra," Rio mencium rambut Tiara yang halus dan wangi, "Selama ini aku diam karena aku tahu aku bukan lawan Miko ataupun Arka. Maaf kalo aku terlalu cuek dan bersikap nggak peduli ke kamu."
Rio mengakui perasaannya pada Tiara, hal itu tentu saja membuat Tiara terkejut. "Jadi selama ini …,"
"Iya, diem-diem aku perhatiin kamu semua tingkah laku kamu nggak ada yang aku lewatkan. Aku cemburu tapi juga senang ada didekat kamu."
__ADS_1
"Maaf, Rio. Aku nggak tahu, tapi ... sebaiknya kamu nggak jatuh cinta sama aku." Tiara mendorong tubuh Rio agar menjauh darinya.
"Seperti yang aku bilang, aku adalah racun mematikan. Jangan suka apalagi cinta sama aku, itu lebih baik untuk kamu."
Tiara dan Rio saling menatap, semenit kemudian Tiara pergi.
Maaf Rio, ini demi keselamatan kamu. Jangan lagi ada Arka yang lain!
"Ra, tunggu Ra! Tiara!"
Tiara tak peduli dengan teriakan Rio, ia terus berjalan menuju ruangan Bu Ratih. Hari ini, Tiara berencana menutup semua akses tentang dirinya jika perlu Tiara segera pergi dari kota Semarang.
"Kamu yakin?" suara bu Ratih terdengar tak suka dengan keputusan Tiara.
"Iya Bu, sangat yakin!" jawab Tiara mantap.
Bu Ratih menghela nafas sejenak, lalu menatap putri sahabatnya itu. "Baiklah kalau itu keputusan kamu, kali ini saya nggak akan melarang."
Tiara tersenyum masam, ia lega Bu Ratih mengijinkan dirinya mundur dari pekerjaan. "Terus rencana mau kemana setelah ini?"
"Nggak tahu Bu, saya belum mikir kedepan harus gimana."
"Nggak perlu dilanjutkan Bu, saya sudah tahu semuanya."
Bu Ratih menarik nafas dalam, "Maaf seharusnya ibu ceritain semua ke kamu tentang siapa ayah kamu."
Tiara tersenyum masam, ia tak ingin mendengar apapun tentang lelaki yang seharusnya melindungi dan menjaga dirinya dari kecil. "Saya pamit Bu, maafin kalo selama ini sudah ngerepotin ibu dan juga para staff."
Tanpa banyak basa basi Tiara pun berlalu meninggalkan tempat dia bekerja beberapa tahun belakangan ini. Tapi Tiara tidak sedih dengan keputusannya, semua harus dilakukan demi Rendra dan juga dirinya sendiri. Semakin sedikit orang yang mengetahui keberadaannya semakin aman pula dirinya.
Baiklah waktunya membereskan pak Amrin!
Tiara meraih ponselnya yang bergetar dari dalam tas. ia tersenyum sinis menatap nama pak Amrin yang tertera disana.
"Pucuk dicinta ulam pun tiba, kau menjemput kematian mu sendiri!"
Sedang asik membalas, tiba-tiba saja tubuh Tiara berdebam keras ke tanah disertai suara teriakan orang disekitarnya.
"Awas!"
__ADS_1
Tiara tersentak kaget, tubuhnya nyeri dan kepalanya pusing, pandangannya pun memutar. "A-apa? Ada apa?"
Ia masih tak menyadari jika dirinya dalam pelukan lelaki asing yang melindunginya. Tiara bisa mendengar teriakan orang disekitar, mereka menutup mulut akibat terkejut dengan kejadian tak terduga yang nyaris melukai Tiara.
"Kamu nggak apa-apa kan?"
Pria berkulit eksotis dengan alis tebal dan kumis tipis yang membingkai wajah dengan indah itu terlihat khawatir dengan keadaan Tiara.
"Aku? Kenapa aku?"
"Kamu nyaris kejatuhan baliho yang jatuh itu!" lelaki itu menunjuk ke arah onggokan rangkaian besi baliho yang hampir saja membuatnya celaka.
Mulut Tiara ternganga tak percaya, rangkaian besi itu besar dan panjangnya melebihi tubuhnya, hampir saja memotong tubuhnya jika lelaki tampan itu tidak menariknya dengan cepat.
Lelaki itu membantu Tiara berdiri, ia juga mengambil ponsel Tiara yang terlempar cukup jauh.
"Ada yang luka nggak?" tanya lelaki tampan itu dengan ramah.
"Hmm kayaknya nggak deh cuma shock aja, sama pusing." Tiara menerima ponsel dari lelaki muda yang membantunya merapikan pakaian hingga membuat Tiara salah tingkah
"Alan, kamu Tiara kan?" lelaki itu mengulurkan tangan sebagai tanda perkenalan.
"Oh, hai. Kok kamu tau nama aku?"
"Siapa yang nggak kenal kamu di mall, ibarat kata kamu itu kembangnya mall!"
Tiara tersipu, "Makasih, kalau nggak ada kamu entah gimana aku tadi."
"Lagian serius amat sama hp kamu, sampe nggak denger diteriakin orang."
Alan tersenyum, ia menarik Tiara sedikit menjauh dari tempat kejadian karena para pekerja mulai panik dan memberikan kode untuk menjauh. Mata Tiara tertuju pada luka di tangan Alan, "Eh tangan kamu, berdarah!"
Alan baru memperhatikan lukanya saat Tiara menyentuh lengannya yang terluka. Sentuhan Tiara terasa menghangat sampai hati. Alan memperhatikan gadis cantik yang diberi label kembang mall oleh rekannya.
Sejak bertemu tanpa sengaja, Alan mulai tertarik dengan gadis yang dulunya ia kenal sebagai cleaning service. Tiara tak pernah memperhatikan dirinya yang selalu menyempatkan diri curi pandang ke arahnya. Bahkan saat Tiara dibully karyawan mall lain Alan ingin sekali menghibur dan melindungi gadis itu, tapi ia tak punya keberanian untuk mendekat.
Alan juga diam-diam mengambil foto Tiara dalam berbagai pose. Sesekali ia akan melihatnya saat senggang, mengagumi kecantikan natural Tiara. Tapi semua itu berubah saat Tiara mulai dibicarakan banyak orang. Wajahnya yang semakin cantik membuat Alan semakin ragu untuk mendekati Tiara. Apalagi kehadiran Miko dan Arka yang selalu ada disisi Tiara dengan berbagai macam hadiah.
Alan hanya seorang kepala toko dari salah satu toko jam merk kenamaan. Mana sanggup ia bersaing dengan dua lelaki kaya itu. Berita kematian dua lelaki saingannya bagai angin segar untuk Alan. Ia kembali bersemangat untuk mendapatkan cinta Tiara.
__ADS_1
Bisakah aku memenuhi hatimu dengan namaku, Tiara.