Bedak Sang Nyai

Bedak Sang Nyai
Alan dalam Bahaya (revisi)


__ADS_3

Hujan kembali mengguyur kota Semarang setelah sekian lama tidak turun. Petir dan kerasnya tiupan angin mengiringi lebatnya hujan yang turun. Tapi dinginnya suhu kota Semarang ditambah sejuknya pendingin ruangan tak membuat tubuh Tiara terbebas dari peluh.


Pakaian tidur Tiara basah oleh keringat, matanya terpejam tapi terlihat tak tenang. Sesuatu mengganggu pikirannya hingga berimbas ke alam bawah sadar. Tiara bahkan mengigau dalam tidurnya.


"Alan … jangan kesana!"


Tiara gelisah dalam tidurnya, dahinya berkerut, ia bergerak ke kanan dan ke kiri lalu berteriak.


"Alan!" Tiara terjaga dari tidurnya dalam posisi duduk.


Kepala Tiara berdenyut, jantungnya terasa akan meledak karena terbangun tiba-tiba. Nafasnya pendek dan tersengal. Ia menundukkan kepala dan terisak. Sudah seminggu ia memimpikan Alan, mimpi yang sama dan menyiksanya. Tiara teringat sesuatu, ia segera turun dari ranjang empuknya.


"Raka, mana nomor Raka!"


Tiara bergegas turun mencari coretan tangan diatas selembar tissue, ia membongkar tas yang biasa digunakan tapi Tiara tak menemukannya.


"Mana, dimana kertas itu!" ia berteriak frustasi.


Dengan tangan yang gemetar, ia mencari ponselnya. Tiara menggeser layar ponsel dan mencari nama Santi. Ia mengirim pesan untuk Santi, tapi tak juga ada jawaban. Tiara yang tidak sabar menunggu memutuskan untuk menghubungi Santi tak peduli meski jam sudah menunjukkan pukul dua malam.


"Ya Ra?" suara Santi terdengar serak dan parau karena terjaga dari tidurnya.


"San, aku minta nomer Raka! Aku butuh bantuan dia sekarang!"


Santi mengerjapkan mata dan mengerutkan kening, ia masih kesulitan mencerna kata-kata Tiara yang terdengar gemetar diselingi isak tangis.


"Ra, pelan-pelan deh. Kamu mau aku hubungi Raka?"


"Iya, tolong aku San!"


Santi mengusap wajah, ia melirik ke arah jam, menghela nafas lalu menjawab lagi.


"Oke, tenangin diri kamu dulu ya. Besok aku sama Arka datang ke rumah kamu."


"Nggak, aku mau! Aku kehabisan waktu San, sekarang … aku mau sekarang!" Tiara histeris, ia menangis sejadinya.

__ADS_1


Tiara takut mimpinya menjadi nyata. Pikirannya tertuju pada Alan yang akhir-akhir ini tak pernah absen mengisi hari Tiara. Kedekatan yang terjalin selama dua Minggu tanpa jeda membuatnya berubah pikiran. Ia tak ingin mengorbankan Alan sebagai tumbal, Tiara tidak rela jika Alan harus tewas seperti halnya Arka.


Tiara lelah dan ingin terlepas dari kungkungan Bayu serta perjanjian gaib itu. Ia tak ingin ada nyawa lagi yang hilang.


"Semuanya harus berakhir disini. Harus!" Tiara duduk lemas di lantai, dengan kedua tangan menopang tubuhnya, ia tertunduk dan menangis. Setiap detik yang berjalan adalah siksaan bagi Tiara. Ia menunggu kedatangan Santi dan Raka.


"Kamu yakin Tiara tinggal disini San?" Raka bertanya sesaat setelah mereka tiba di gedung apartemen yang ditinggali Tiara.


"Entah, aku juga bingung mas. Dia kasih alamatnya ini."


"Hhm, yo wes kita tanya aja dulu sama satpamnya."


Raka dan Santi mendekati satpam dan menunjukkan alamat yang diberikan Tiara. Sang satpam mengangguk lalu mengecek kebenaran informasi dari Santi dan Raka dengan menghubungi unit apartemen yang ditempati Tiara. Tak menunggu lama Raka dan Santi pun segera menuju lantai lima.


Bel berbunyi, Tiara segera membuka pintu dan langsung memeluk Santi saat melihat wajah wanita manis itu muncul dari balik pintu.


"Ra, udah tenangin diri kamu! Sekarang ceritain gimana masalahnya." Santi mengurai pelukannya saat Tiara mulai tenang.


Raka yang terlebih dulu masuk dan berkeliling hanya menggelengkan kepala. Ruangan apartemen Tiara dipenuhi aura negatif yang cukup pekat. Ia membuka salah satu ruangan kamar yang dijadikan kamar khusus oleh Tiara. Raka kembali menggelengkan kepala.


"Ra, aku jujur nggak nyangka kamu ngelakuin ini semua. Tapi aku juga mencoba memahami keadaan kamu. Belum terlambat untuk kembali Ra, selalu ada jalan untuk hamba Allah yang ingin kembali." Santi mengusap lembut rambut Tiara yang kini tertidur di pangkuannya.


Sayang sekali, Raka lupa jika sang Ratu memiliki kuasa atas diri Tiara. Perjanjian itu telah mengikat Tiara hingga akhir zaman. Apa yang dilakukan Raka hanya menunda waktu sebelum waktunya tiba.


"Gimana mas, apa sudah beres? Aku merinding deh di ruangan ini! Takut mas!"


Santi mendekati Raka dan terus memegangi tangannya. Matanya berkeliling melihat sekitar. Meski matahari pagi sudah menembus ruangan melalui jendela besar tapi tetap saja hawa tak biasa masih bisa dirasakan Santi.


"Aku berusaha semampuku San, semoga masih bisa diselamatkan." harapan Raka diamini Santi, keduanya menatap iba pada Tiara yang begitu lelap dalam tidurnya.


"Kasian dia, dia mas. Seminggu ini nggak tenang, kayaknya baru sekarang bisa tidur."


Santi dan Raka menunggu Tiara bangun dari tidurnya. Mereka sepakat berjaga sampai malam menjelang. Raka mencoba menghubungi Rendra melalui ponsel Tiara, membujuknya agar mau datang dan bersama menjaga sang adik. Sebenarnya Rendra masih kesal dengan Tiara karena keputusan fatal yang dibuat sang adik, tapi sebagai kakak tetap saja ia merasa harus melindungi adiknya.


"Gimana kondisinya?" Rendra bertanya sesaat setelah ia tiba di apartemen.

__ADS_1


"Saya nggak tahu pasti mas Rendra, tapi melihat dia histeris semalam sepertinya mimpi-mimpi itu membuatnya tersiksa."


Raka kemudian menjelaskan pada Rendra tentang kondisi Tiara, dan kecurigaannya ketika Tiara membawa Bayu makan di angkringannya kala itu. Raka juga berharap semuanya belum terlambat. Rendra hanya bisa menghela nafas, tak banyak yang bisa ia lakukan selain berdoa untuk Tiara. Mereka juga membicarakan segala kemungkinan yang terjadi jika Tiara terlepas dari perjanjian gaib dengan sang Ratu.


"Kemungkinan terburuknya, rupa Tiara akan memburuk, kehilangan ingatan, dan yang paling parah jelas kematian."


"A-apa? Apa kita nggak bisa lepasin efek buruknya itu? Tolong mas Raka, saya nggak akan sanggup kehilangan Tiara apalagi melihatnya menderita!" Rendra mengiba pada Raka, wajahnya terlihat sedih sekali.


"Sayangnya kecil kemungkinan itu mas, tapi saya akan bantu coba jauhkan Bayu dari kehidupan Tiara."


Tiara menggeliat dari tidurnya, ia mengerjapkan mata dan langsung terduduk saat melihat tiga orang yang menatapnya khawatir. "Alan, dimana Alan?"


Santi dan Raka saling memandang, Rendra mendekati adiknya. "Ada apa sama Alan?"


"Dia dalam bahaya, tolong mas Raka selamatkan Alan! Jangan sampai dia juga jadi korban, aku rela gantikan posisi Alan!" Tiara dilanda panik.


Ia seperti orang kebingungan, melihat ke sekeliling ruangan. Dengan cepat Tiara mendekati kalender yang menggantung di dinding dapur, matanya terbelalak menatap barisan angka yang menunjukkan hari menurut penghitungan Masehi dan Jawa itu.


"Se-selasa Kliwon …," ia mundur beberapa langkah dan menggelengkan kepalanya. "Alan, nggak boleh … dia nggak boleh mati. Alan nggak boleh mati!" Tiara menjerit histeris bak orang kesurupan membuat Raka dan Rendra segera mendekati dan memenangkan.


"Ra, ada apa Ra? Kasih tau kita, ada apa?!" Rendra panik melihat tubuh adiknya bermandi peluh.


"Mas Raka, tolong Alan … tolong dia! Selasa Kliwon, sang Ratu pasti datang menjemput Alan!"


...🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀...


...selamat sore semuanya...Tiara kembali menyapa, Bedak Sang Nyai mendekati end story yaa...event lomba sudah selesai per hari ini, agak sedikit melebar siiih harusnya tamat udah hari ini but its ok, 🤗...


...terimakasih atas dukungan teman2 semua di event ini...lope2 sekebon buat semuanya🥰🥰...


...tetep pantengin akun saya yaa, karena sebentar lagi bakal keluar petualangan misteri bersama Nirwana Rehza....siapa dia??? (anaknya mbak Sari sama mas Doni🤭)...


...Happy weekend, MET malam mingguan ajaaah...stay healthy yaa...


...cium sayang dari dekat~ Lia❤️...

__ADS_1


__ADS_2