Bedak Sang Nyai

Bedak Sang Nyai
Tiara Sang Penggoda


__ADS_3

Bu Ratih dan pak Sofyan datang berkunjung ke rumah Tiara. Keduanya ingin memastikan kondisi Tiara setelah kejadian yang menggegerkan satu mall itu. Jika Bu Ratih berniat tulus untuk melihat keadaan Tiara lain halnya dengan pak Sofyan. 


Ia ingin melihat lagi wajah cantik Tiara dan juga tubuh molek yang sudah menggodanya kemarin. Bayangan Tiara membekas dalam ingatannya membuat pak Sofyan merindu saat malam menjelang. Lekuk indah tubuh Tiara yang terbalut seragam membuat pak Sofyan penasaran seperti apa rupa aslinya.


Ketukan pintu di sore itu membuat Tiara terkejut. Bu Ratih datang tanpa memberitahu, apalagi ia bersama pak Sofyan dan dua orang perwakilan serikat pekerja. Ia baru bangun dari tidur nyenyaknya dan masih memakai daster batik tipis kesayangannya.


"Eh, Bu Ratih, pak Sofyan? Mari masuk!"


Dengan gugup Tiara merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, ia mempersilahkan tamunya untuk masuk. Pak Sofyan berbinar saat melihat wajah Tiara menyembul dari balik pintu. Wajah yang ia rindukan semalam, wajah yang membuatnya melakukan pelepasan semu di kamar mandi. Wajah yang akhirnya menjadi fantasi dirinya yang masih betah melajang.


Tiara bergegas pergi ke dapur hanya untuk sekedar menyuguhkan minuman ala kadarnya. Teh manis hangat.


"Ada apa Bu datang kesini? Nggak kasih tau saya lagi?" ia bertanya seraya meletakkan cangkir-cangkir yang mengepulkan asap tipis dari teh yang diseduh.


"Saya cuma mau memastikan keadaanmu, Tiara. Apa kondisinya sekarang lebih baik?" Bu Ratih bertanya sembari memperhatikan rumah kecil yang ditinggali Tiara. 


Sungguh kontras dengan rumah gedung ayah kandungnya. Hati Bu Ratih miris, anak sahabatnya itu benar-benar hidup menderita. 


"Saya udah nggak mau mikirin hal itu Bu, dan saya baik-baik saja kok." jawabnya dengan senyum, ekor mata Tiara menangkap wajah pak Sofyan yang memperhatikan dirinya tanpa berkedip.


Tiara hanya mengenakan daster tipis tanpa dalaman disana. Meski motif batik menutupinya tapi jelas sekali pucuk dada yang tegak menggoda mengintip dari balik kain tipis yang dikenakannya. Pak Sofyan bisa melihat jelas ukuran dada Tiara yang menggantung indah disana.


Tiara tersenyum dalam hati. Ia bangga pak Sofyan menatap tubuhnya dengan sorot mata memuja meski dirinya tak bermake-up dan hanya memoleskan bedak ajaib Bayu semalam. Setiap gerakan Tiara membuat pak Sofyan meneguk salivanya sendiri. Hasrat nakal untuk menyentuh tubuh Tiara mulai menggoda.


"Pak Amrin sudah dijebloskan ke penjara, kamu jangan khawatir. Dia juga kami tuntut untuk tindakannya." Bu Ratih menjelaskan tentang kasus pak Amrin, tapi Tiara tak peduli.


Pak Amrin harus dihukum dengan caranya sendiri. Ia menarik garis lengkung di bibirnya. Bayangan pak Amrin menderita adalah keinginan Tiara.


"Saya berterimakasih untuk itu Bu. Maaf tapi saya benar-benar ingin melupakan kejadian itu. Saya serahkan semua sama mas - mas serikat kerja aja ya?" pinta nya setengah memohon pada dua lelaki lain yang juga menatapnya takjub.

__ADS_1


Dua orang lelaki serikat pekerja itu, terpesona dengan kecantikan Tiara. Apalagi saat Tiara berjalan, daster tipisnya jelas sekali menunjukkan siluet tubuh polos Tiara. Bagian depan yang indah menggantung, terlalu menggoda untuk dilewatkan. Tiara meletakkan cangkir teh untuk keduanya. Pemandangan indah tersaji gratis untuk kedua lelaki muda itu.


Tiara yang menunduk, jelas sekali menampakkan gundukan putih yang mengundang belum lagi cara duduk Tiara yang tak sengaja mengekspos paha mulus nan indah miliknya. Setiap gerakan Tiara membuat jantung mereka melonjak tak karuan. Belum lagi pangkal paha Tiara yang juga tak tertutup kain tipis segitiga, sedikit terlihat oleh mata keduanya.


Tiga pria yang tergoda pesona mistis Tiara itu mulai berkabut hasrat.


"Kamu dirumah sendirian? Mana Rendra?" tanya Bu Ratih yang celingukan mencari sosok kakak lelakinya.


Tiara menghela nafas sejenak, dengan wajah muram Tiara menjawab, "Rendra pergi Bu, cari kerja!"


Tak ada pilihan selain berbohong, bukan waktunya Tiara meminta belas kasihan pada Bu Ratih. Sudah terlalu banyak bantuan yang diberikan Bu Ratih padanya. Tiara tak ingin sahabat ibunya itu khawatir.


"Kerja? Kenapa kamu nggak bilang sama saya, ada beberapa pekerjaan yang cocok buat dia lho?"


"Nggak perlu Bu, biar dia cari sendiri aja! Lagian selera kerja dia aneh, bisa malu ibu nanti." sahut Tiara datar.


Setelah beberapa lama mengobrol dan memastikan Tiara baik-baik saja Bu Ratih dan yang lainnya pun berpamitan. Tiara meminta waktu dua hari untuk memenangkan diri yang tentu saja dikabulkan oleh Bu Ratih.


Perwakilan serikat pekerja memberikan kartu nama dan saling bertukar nomor ponsel dengan Tiara alasan untuk memastikan kondisi dan perkembangan kasus tapi yang sebenarnya adalah, mereka ingin melanjutkan pertemuan itu dengan diam-diam menghubungi Tiara. Modus terselubung.


Malam menjelang, tidak biasanya Bayu menghilang. Tiara sama sekali tidak bisa menghubungi ponsel nya. Ia pun dibuat kesal dengan sahutan berbunyi 'tulalit' yang terus menerus terdengar saat ia mencoba menghubungi Bayu.


"Cck, kebiasaan deh kalau dihubungi pasti nggak nyambung. Datang sama pergi udah kek jailangkung!"


Ia melemparkan ponselnya ke atas kasur dengan kesal. Tiara teringat sesuatu, segepok uang yang diberikan Bayu padanya kemarin. Dibukanya laci meja, kedua mata Tiara berbinar melihat tumpukan uang lembaran seratus ribuan yang belum pernah dipegang seumur hidup.


"Wah, ini beneran ya bukan mimpi?!" 


Helaian uang kertas itu mengubah hati Tiara yang kacau jadi senang. Ia membayangkan apa saja yang bisa dilakukannya dengan uang sebanyak itu. Senyumnya merekah dan ia menatap pantulan dirinya di cermin. 

__ADS_1


"Aku rasa kecantikan dan uang adalah satu hal yang tak terpisahkan! Aku akan melakukan apapun demi itu!" ujarnya bermonolog sambil mematut diri.


Sedang asik mengagumi dirinya sendiri, Tiara dikejutkan dengan ketukan keras di pintu. Suara berat dan kasar terdengar dari luar sana mencari seseorang yang membuat Tiara gemetar.


"Ren, Rendra! Buka pintunya!" suara itu begitu keras hingga mungkin tetangga kanan kiri bisa mendengarnya.


"Itu, Toni?!" mata Tiara membulat sempurna saat mengintip dari balik tirai.


Jantungnya berdebar kencang, lututnya lemas mengingat ucapan pak Amrin yang mengatakan Rendra menjual dirinya demi terbebas dari hutang.


"Mau apa dia kesini? Rendra sialan! Teganya kamu jaminin aku buat bebas!" ia mengumpat Rendra sang kakak yang kini entah ada dimana.


"Ren, Rendra! Buka pintunya cepat!" Toni didampingi dua centeng pengawalnya tak sabar untuk segera masuk dan menemukan Rendra.


Gedoran pintu kayu terdengar semakin keras dan kasar. Toni tak peduli dengan tetangga sekitar yang hanya berani mengintip sedikit dari balik tirai. Tak ada yang berani keluar dan ikut campur urusan Toni. Reputasi Toni yang keji dan berani membunuh siapapun yang menghalanginya membuat warga sekitar memilih berdiam diri dirumah. Cari aman untuk keluarga dan diri sendiri.


"Rendra! Keluar atau aku hancurkan rumah kamu ini!" Toni mengancam dan berteriak lantang. Tiara bingung dia hanya diam mematung di belakang pintu.


"Bagaimana ini?" 


Rasanya dunia benar-benar tak adil padanya. Lepas dari pak Amrin dan kini Toni datang. Bisikan halus di telinga Tiara terdengar.


"Biarkan dia masuk, aku akan membantumu. Jangan takut!" Bayu mulai menguasai Tiara.


"Rayu dia, biarkan dia menyentuhmu, aku akan membereskannya segera!" kata Bayu lagi yang kini mulai merasuki tubuh Tiara.


Mata Tiara menggelap segelap malam tanpa cahaya. Selarik senyum mengembang, ia membuka ikatan rambut dan mengurainya acak. Kancing atas bajunya dibuka nampak belahan dada yang menggoda. Dengan perlahan ia pun membuka pintu.


"Malam mas Toni," 

__ADS_1


__ADS_2