
Dia centeng Toni tak melepaskan pandangan dari kelakuan Toni dan Tiara. Nafas mereka ikut memburu, sesuatu yang menegang dibalik celana pun ikut berdemo dan tanpa disadari kedua tangan mereka kompak menyentuh dan meraba celana yang mulai terasa sesak.
"Njiiir, si bos enak bener dia didalem! Haduh Lex goyangan tuh cewek bikin ade gue tegang!" bisiknya pada Alex.
"Duuh, gue juga pengen icipin dia! Kapan nih gantian, wiih dadanya Rob gile indah bener!"
Satu tepukan keras di bahu Robby membuatnya tersadar. "Lu mau mati?! Dia jatah bos, mau dijadiin istri ketiga!"
"Cck, udah punya dua masih kurang aja tuh aki-aki! Buat gue juga mau Lex, bekasan model gitu yang penting goyangannya dah!"
Keduanya terus menatap adegan dewasa yang dilakukan Toni dan Tiara. Tiara tersenyum, ia tahu dua centeng itu melihatnya. Dia bahkan dengan sengaja berbalik dan memperlihatkan keindahan tubuh depan yang terus bergoyang seiring dengan cepatnya goyangan pinggul Toni.
Robby dan Alex tak kuasa menahan air liur mereka. Tubuh Tiara begitu indah terlihat. "Bandiiit! Goblok! Sialan, cewek s**dal! Gue jadi mupeng! Rob, gue balik mo cari Lastri! Bisa pusing kepala gue kalo nggak dikendorin!"
"Eh Lex, nanti kalo si bos cari kita gimana dong?!"
"Halah, nggak mungkin! Dia bakal cari kita besok pagi! Noh lagi asik begitu, mana inget ma kita! Gempor gempor dah tuh aki-aki!" Alex pergi begitu saja dengan bersungut sungut, Tiara membuatnya ingin melakukan hal yang sama. Alex butuh pelepasan.
"Bener juga! Paling baru besok kelar! Udah ah peduli setan! Gue juga mau cari si Mayang, biar dia isep ni kepala satu sampe habis!" Robby menyusul rekannya pergi meninggalkan Toni yang terus menerus menggarap Tiara tanpa jeda.
Bayu membuat pagar gaib di sekeliling rumah Tiara. Mengucap mantra penidur agar sekitarnya lelap dalam buaian malam. Ia berdiri di belakang tubuh Toni yang masih asik menikmati puncak dada Tiara dengan rakusnya. Tiara tersenyum melihat wajah Toni yang tak menyadari kehadiran Bayu.
Bayu yang tampan mengangguk ke arah Tiara, ia merubah dirinya menjadi asap hitam. Sontak saja perubahan Bayu membuat Tiara tercekat. Ketakutan menyergapnya, Bayu berubah? Apa dan siapa dia?
Sejuta pertanyaan, muncul begitu saja di pikiran Tiara. Ia mengangkat tubuh polos ya dari Toni hingga membuat Toni kecewa.
__ADS_1
"Kok berhenti, aku belum puas sayang?"
Toni menarik tangan Tiara tapi Tiara menolak, ia menjauh dan melihat dengan jelas asap tipis kehitaman perlahan masuk ke dalam tubuh Toni. Tiara bergetar, lututnya lemas.
"Jangan takut Tiara, inilah diriku yang sebenarnya. Diam dan lihatlah!"
Asap kehitaman itu telah masuk sempurna ke dalam tubuh Toni. Toni dengan tubuh polosnya berdiri mendekati Tiara. Kejantanannya yang tegak berdiri bersiap menghujam milik Tiara lagi.
"Ayolah sayang, selesaikan tugasmu!"
Tiara menggeleng, ia mundur selangkah demi selangkah.
"Cepat kemari, bodoh!" Toni geram dan hendak menarik tangan Tiara saat tiba-tiba lehernya seperti tercekik.
Suara parau dan serak keluar dari mulut Toni. Ia menyentuh lehernya dengan cepat. Sesuatu didalam sana menghalangi aliran oksigen dalam tubuhnya hingga wajahnya memerah. Toni jatuh bertumpu dengan kedua lutut. Tubuhnya mengejang dan cairan bening keluar dari kejantanannya yang masih tegak berdiri.
Tiara shock melihatnya, Tiara bingung dan menutup mulut dengan kedua tangan agar teriakannya tak terdengar. Ia menangis kebingungan. Toni tewas mengenaskan setelah bercinta dengannya. Ada rasa bersalah yang terbesit di pikiran, tapi juga ada rasa takut dengan apa yang terjadi didepan matanya.
Asap hitam tipis kembali keluar dari tubuh kaku Toni yang dibanjiri darah. Asap itu mewujud di belakang Tiara. Tangannya yang dingin menyentuh bahu Tiara.
"Ini bayaran setimpal bagi pria hidung belang seperti Toni! Dia pantas mati!"
"A-apa yang terjadi? Di-dia mati?"
"Ya, mati! Satu sukma satu kejayaan Tiara."
__ADS_1
"Apa maksudmu? Aku tidak mengerti!" Tiara berbalik ke arah Bayu yang menatapnya tajam.
"Tumbal, aku butuh tumbal nyawa untuk memberimu kecantikan dan kekayaan juga kekayaan yang kau impikan."
"A-apa? Bukannya aku hanya melakukan ritual mandi? Kenapa harus mencari tumbal juga?" lelehan airmata Tiara jatuh membasahi mata indahnya.
"Bedak ajaib itu butuh kekuatan, dan itu diperoleh dari nyawa yang kuambil. Mandi kembang dan mantra hanya ritual khusus sebagai pelengkap. Yang utama dari semuanya adalah tumbal nyawa."
"Kau menipu ku!" Tiara tak terima, ia memukul dada bidang Bayu.
"Perjanjian telah dibuat, dan kau telah terikat padaku! Kau tidak bisa melepaskan diri dariku Tiara!" wajah datar Bayu tanpa ekspresi membuat Tiara kesal dan semakin marah.
"Kau, menipuku!"
Tangan Tiara hendak melayangkan tamparan saat Bayu mencekalnya. Bayu berubah menjadi sosok sesungguhnya, lelembut berbulu hitam dengan wajah mengerikan.
"Jangan coba -coba Tiara! Atau aku akan memakanmu!"
Tiara gemetar dan ketakutan. Wajah seram Bayu membuatnya ciut nyali. Tangan besar dan berbulu itu merengkuh tubuh polos Tiara. Wajah keduanya berhadapan sangat dekat.
"Ikuti perintahku dan kau akan dapatkan segalanya! Kau mengerti!"
Bayu menghardik dengan geraman mengerikan. Tiara yang ketakutan tak bisa melawan, ia hanya mengangguk pasrah. Bayu tertawa terbahak bahak. Kekuatannya bertambah setelah ratusan tahun menunggu sukma baru untuk dimakan.
Toni tewas di tangannya, jiwanya tergadai perjanjian Tiara dengan Bayu. Setelah menahan diri ratusan tahun akhirnya kekuatan Bayu kembali. Ia puas dan juga bahagia bisa menguasai satu lagi anak manusia yang tergiur dengan kenikmatan duniawi.
__ADS_1
"Kau telah melakukan tugasmu dengan baik Tiara dan kini aku akan memuaskan mu!"