Bedak Sang Nyai

Bedak Sang Nyai
Kencan Pertama


__ADS_3

Alan menunggu kedatangan Tiara dengan gelisah. Berkali kali ia mengintip layar ponsel untuk melihat jam, sesekali celingukan ke kanan dan ke kiri mencari sosok gadis pujaannya. Mereka janji bertemu disalah satu sudut food court yang berjajar di depan mall.


"Kemana sih dia, jangan-jangan dia lupa ya?" gumamnya cemas.


Tiara berjalan mengendap-endap, ia tersenyum karena tahu Alan tengah resah menunggu kedatangannya.


"Lagi nungguin siapa?" bisik Tiara dari arah belakang Alan, ia terkekeh karena Alan tak juga menyadari kedatangannya.


"Temen, dari tadi nggak nongol juga." jawab Alan seperti orang bodoh tanpa melihat siapa yang bertanya.


"Ooh, temen ya. Kalau aku temani gimana?"


"Nggak usah …,"


Alan yang kesal menoleh ke arah Tiara yang tengah mencondongkan badan ke arahnya. Matanya beradu dengan Tiara, jarak yang begitu dekat membuat jantungnya berdegup kencang.


"Tiara, eeh kamu bikin kaget aja sih! Kirain siapa tadi!" ia mengerucutkan bibir membuat Tiara gemas dan tertawa.


"Lagian serius bener tengok kanan tengok kiri, udah nggak sabar ya ketemu aku?" Tiara menggoda Alan yang tersipu karena tertangkap basah.


"Aku pikir kamu lupa, Ra!"


"Nggak lah, lagian nggak ada kerjaan juga jadi bebas mau ngapain dan kemana aja." Tiara menjawab enteng, ia meraih kotak bedak dari dalam tasnya dan kembali mengaplikasikan secara merata ke wajahnya. Tanpa Alan sadari, mantra pemikat dirapalkan Tiara untuk memikat Alan.


"Ohya kata Rio kamu udah resign?"


"Hhm, kenapa?"


"Yang harusnya tanya kenapa itu aku Ra, malah kebalik gimana sih kamu?"


Tiara tersenyum masam lalu menjawab, "Aku pengen hidup bebas aja, jauh dari keramaian. Menyendiri."


"Trus sekarang kamu ngapain dong?"


"Pengangguran lah, menikmati hidup! Kamu sendiri, kenapa nggak kerja?"


"Off day,"


Tiara hanya manggut-manggut tanda mengerti, tak lama pesanan Alan datang. Mata Tiara berbinar, di depannya sudah ada makanan favoritnya. Soto Semarang plus aneka sate mulai dari sate kerang, usus, jeroan, dan telur komplit ditambah gorengan tempe dan juga perkedel kentang.


"Kesukaan kamu kan?" Alan bertanya pada Tiara yang masih asik memotret mangkuk soto di depannya, Tiara pun mengangguk, ia tak menyadari senyum Alan yang mengembang sempurna.

__ADS_1


Hari ini untuk pertama kalinya Alan merasa sangat bahagia. Penantiannya selama beberapa waktu tak sia-sia. Tiara kini ada dihadapannya, bersamanya dan Alan bisa menatap wajah Tiara sepuasnya. Jika boleh jujur Alan lebih menyukai Tiara yang dulu, wajahnya lebih terlihat alami dan natural.


Tiara melambaikan tangannya didepan wajah Alan yang sedang termenung mengingat rupa Tiara dulu, "Hei, kok kamu bengong? Makanan untuk dimakan bukan buat dianggurin kali!" 


"Eh, iya. Udah kelar foto-fotonya ya, makan yuk laper!"


Mereka menikmati pertemuan itu, lebih tepatnya Alan yang menikmati, sedangkan Tiara hatinya gelisah tak karuan. Ia masih ragu untuk memutuskan apakah Alan akan dijadikan tumbal atau tidak. 


Sesekali Tiara memperhatikan Alan, wajahnya cukup tampan. Satu hal yang menarik perhatian Tiara adalah cekungan manis di kedua pipi Alan mirip dengan milik Arka. Saat Alan tersenyum, Tiara melihat senyum Arka disana. 


Ah, Tiara merindukan sosok Arka dengan segala kekonyolannya. 


Mata Tiara membayang, ia segera mengalihkan pandangan ke arah lain. Mengusap bulir bening yang bergelantungan di sudut matanya.


"Kamu kenapa Ra?" Alan yang melihat Tiara mengusap mata dibuat penasaran karena Tiara belum menyentuh makanannya.


"Nggak, lagi agak anu aja!"


"Makan, biar gemukan dikit!" Alan menyodorkan mangkuk soto milik Tiara yang mulai dingin.


"Abis ini kita kemana?" tanya Tiara canggung setelah beberapa saat mereka terdiam dan sibuk menghabiskan makan siang.


Akhirnya mereka memutuskan pergi ke salah satu mall ternama yang kabarnya memiliki akuarium raksasa di dalamnya. Tiara sendiri yang memilih tujuan mereka, terlalu sibuk dengan kerja dan pelbagai macam hal diluar dugaan akhir-akhir ini membuat Tiara tidak sempat menyenangkan dirinya sendiri.


"Wah keren banget!" Tiara terbelalak tak percaya melihat keatas mall saat seekor hiu raksasa melintas persis di atasnya.


Alan tergelak melihat tingkah konyol Tiara yang mengabadikan semua itu dengan ponselnya.


"Ra, ojo ndeso to?!" (Ra, jangan malu maluin)


"Huuush, menengo to! (diam dulu) Eman iki (sayang ini), pemandangan bagus patut diabadikan!" 


Alan kembali tergelak ia kemudian berbisik, "Tau nggak kalo itu bohongan? Itu bukan ikan beneran dan nggak ada akuarium raksasa disana."


"Eeh, lha heeh po?" Tiara terkejut, lalu menoleh ke arah Alan.


"Kamu kemana aja selama ini Ra? Semua juga udah tau kali kalau itu," Alan menunjuk ke atap yang menampilkan pemandangan nyata bawah laut, "Cuma permainan video berteknologi canggih yang namanya ceiling videotron."


"Eeh lha dalah, aku ketipu to. Kirain beneran lho! Waah, kok baru aku!" sungut Tiara yang lantas memasukkan ponselnya ke dalam tas.


Alan dibuat gemas dengan tingkahnya. Ia mencubit hidung Tiara, lalu merangkul bahunya. Keduanya pun tergelak dan kembali menikmati pemandangan buatan tentang dunia bawah laut sambil memakan es krim. Alan rupanya mampu mencairkan suasana, ia pria yang penuh kehangatan. Tiara mulai merasakan nyaman bersama Alan. Sesekali ia mencuri pandang pada Alan.

__ADS_1


Wajah Arka tiba-tiba saja muncul menggantikan Alan dimata Tiara. Ia terperanjat dan tanpa sadar menggumamkan nama lelaki yang belum genap meninggal empat puluh hari yang lalu.


"Arka,"


Alan menatap Tiara, wajah gadis di depannya itu berubah muram dan matanya terlihat berkaca-kaca. "Ra, kenapa lagi sih?"


Rasa bersalah atas kematian Arka pun muncul, momen sesaat sebelum kecelakaan kembali berputar di memori Tiara. Sedih, sakit, dan marah bercampur menjadi satu.


"Ra, Tiara?" Alan menggoyangkan bahu Tiara membuatnya kembali tersadar dari lamunannya.


"Ehm, iya. Kita pulang aja deh. Sudah malam juga." sahut Tiara lemah.


Tanpa banyak bertanya lagi Alan pun mengikuti kemauan Tiara. Karena belum mengetahui dimana Tiara tinggal ia pun bertanya. "Rumah kamu dimana biar aku anterin?"


Tiara yang kembali larut dalam kesedihan terhenyak.  


'Rumah? Nggak, Alan nggak boleh tahu dimana aku tinggal sekarang. Bahaya!'


"Ehm, itu … ada di," 


Alan menunggu jawaban Tiara yang gugup dan bingung mau menjawab apa. 


"Aku, rumahku …,"


"Woooy, Ra!" suara Rendra mengejutkan Tiara dan juga Alan. Ia berjalan mendekati sepasang anak muda itu dengan senyuman lebar.


Keduanya pun menoleh ke arah Rendra. Tiara selamat, Rendra datang tepat pada waktunya. "Hei Ren, kenalin ini Alan!"


Wajah Tiara masih terlihat canggung saat mengenalkan Rendra pada Alan. Rendra tersenyum lebar dan menggenggam tangan Alan. 


"Gue Rendra, kakaknya Tiara!"


"Alan," Alan membalas senyumannya.


"Mau balik? Yuuk, udah malem juga!" Rendra beralih bertanya pada adiknya diikuti anggukan Tiara.


"Aku pulang dulu ya Ren, sampai ketemu besok."


Alan tak bisa berkata banyak ia hanya mengangguk dan menatap kepergian Tiara bersama kakaknya. Beberapa jam bersama Tiara meninggalkan rasa tak rela untuk berpisah, tapi Alan masih belum punya nyali untuk mengutarakan perasaannya pada Tiara.


Semoga besok kamu lebih ceria Ra, aku janji bikin kamu tersenyum terus!

__ADS_1


__ADS_2