
Saat Tiara dan Miko asik menikmati sentuhan, bergelut dalam hasrat yang membuat tiap sel tubuh memanas, Rendra datang dengan wajah memerah. Ia diberitahu satpam jika Tiara sudah kembali bersama seorang lelaki.
"Ra, Tiara!" Suara ketukan Rendra terdengar nyaring memenuhi lorong di unit yang mereka tempati.
"Ra, buka Ra!" Rendra yang kesal tak sabar menunggu Tiara membuka pintu.
Sementara di dalam apartemen Tiara tepatnya di ruang dapur, dua anak manusia yang tengah sibuk membelitkan lidah dan menginvasi liar bagian tubuh sensitif masing masing terpaksa menghentikan kegiatannya.
Miko mendengus kesal kejantanannya yang terlanjur tegak menantang harus kembali menahan pelepasan yang sangat diinginkan. Ia menghentikan ciumannya dengan gigitan kecil di leher Tiara. Ketukan pintu yang cukup keras itu membuat jantung Miko seperti rollercoaster, ada rasa takut yang tiba-tiba menyelimutinya.
"Siapa itu Ra?" Miko bertanya pada Tiara, ia menatap ke arah pintu tapi tangannya tetap memeluk wanita yang hampir melepaskan seluruh pakaiannya.
"Sialan! Itu kakakku!" Tiara melepas tangan Miko dan mengenakan kembali kaosnya. Merapikan rambut yang berantakan dengan jarinya.
Dengan malas Tiara membuka pintu, tanpa basa basi Rendra menerobos masuk ke dalam. Ia menatap Tiara dengan kesal.
"Kamu kemana sih aku dah nungguin dari tadi di depan mall, kamu malah udah pulang duluan!" sungutnya tanpa melihat kehadiran Miko di belakangnya.
"Kamu nunggunya dimana? Aku cari kamu tadi nggak ada dimana-mana?!" Tiara bertanya dengan malas, ia melipat kedua tangan di depan dada.
"Ya didepan itu, yang pas pintu keluar khusus karyawan." jawabnya sedikit ragu karena Tiara menyangsikan ucapannya.
"Hhm, itu namanya disamping dodol! Aku kan udah bilang tunggu aku di parkiran depan aku selalu pulang lewat depan bukan samping! Udah pindah bagian kali Ren, bukan cleaning service lagi!"
"Ooh, salah dong tadi. Aku pikir tadi …," Rendra tidak menyelesaikan perkataannya, ia terkejut dengan kehadiran Miko yang berdiri menatapnya tak suka.
"Siapa dia?" Rendra bertanya pada Tiara tanpa mengalihkan pandangan dari Rendra.
"Kenalin Ren, dia Miko."
"Miko?" Rendra balik bertanya.
"Iya mas, saya Miko tadi Tiara hampir saja celaka jadi saya anterin dia pulang. Dia tadi nunggu mas Rendra lho. Lama malah!" Miko menekankan kata terakhir menegaskan jika Tiara memang benar sudah menunggunya.
"Heh, apa? Celaka kenapa?" Rendra terkejut.
"Dia hampir dibegal preman." jawab Miko singkat.
"Astaga, Ra kamu terus gimana? Nggak apa-apa kan?" Rendra yang khawatir mendekati Tiara, matanya melihat plester penutup luka yang terlihat sedikit basah. Darah masih merembes sedikit dari lukanya.
"Ini kenapa?"
"Udah, lupain! Aku nggak apa-apa kok, ini cuma luka kecil!" Tiara berdecak kesal karena lagi lagi Rendra gagal menjaganya.
__ADS_1
"Lain kali kalo di telpon angkat teleponnya! Suruh jagain adik satu aja nggak becus kamu!" Tiara melirik kesal, ia mendudukkan diri di sofa.
"Sorry Ra, aku nggak denger! Hp-ku mode silent."
Miko mendekati Tiara dan duduk tak jauh dari wanita yang hampir saja bercinta dengannya. Lekuk tubuh Tiara terlihat begitu jelas saat duduk, apalagi gundukan kembar tanpa penutup itu tercetak jelas dari balik kain tipis. Jika saja Rendra tidak muncul mungkin ia dan Tiara akan bercinta di sofa yang nyaman.
"Kamu sudah makan? Ini sudah malam?" Tiara bertanya pada Rendra yang masih berdiri termangu memperhatikan Miko.
"Hhm belum, pesen go food deh! Laper Ra!"
"Untung kamu kakakku Ren, kalo nggak udah aku lempar ke bawah sana! Udah marah-marah nggak ada ujungnya, eh sekarang minta makan!" gerutunya seraya memesan layanan pesan antar makanan dari salah satu aplikasi.
Rendra memperhatikan Miko dengan seksama, ia penasaran dengan lelaki muda yang kini duduk sambil memainkan ponselnya. Wajah Miko tiba-tiba saja berubah pucat, ia mengerutkan kening. Sebuah pesan masuk di ponselnya membuat dirinya terkejut bukan kepalang.
"Ada apa mas Miko?" Rendra ikut dibuat penasaran dengan perubahan ekspresi Miko.
"Eh, ehm nggak mas. Nggak ada apa-apa kok!" elaknya cepat, ia gugup dan segera mengalihkan perhatian ke layar ponsel.
Keringat bercucuran di tubuh Miko membuat Rendra curiga. "Kamu sepertinya lagi nggak sehat mas? Masuk angin?"
"Ehm, nggak juga sih mas!" tanpa menatap Rendra, Miko menjawab.
Rendra kembali memperhatikan Miko, lekuk wajah yang hampir mirip dengan seseorang yang sangat ia kenal.
"Mas Miko tinggal dimana?"
"Saya, di perumahan Tanah Mas."
Rendra terperangah ia semakin ingin tahu lebih dalam tentang Miko. "Oh Tanah Mas, orang tua masih ada?"
"Masih mas,"
"Umur mas Miko sekarang berapa?" tanya Rendra lagi.
"Sekarang 25 mas." Miko akhirnya menatap ke arah Rendra, ia mengernyit. "Saya merasa disensus, ada apa ya mas?"
Rendra tergelak, ia sadar dirinya terlalu memperlihatkan keingintahuannya pada sosok Miko. "Ah nggak kok, mas Miko ngingetin saya sama temen. Dia juga punya anak seumuran mas Miko. Apalagi rumahnya juga sama di Tanah Mas."
"Oh gitu, siapa namanya mas mungkin saya kenal."
"Saya cuma tahu namanya Adhiwijaya!" sahut Rendra dengan tatapan menerawang jauh entah kemana.
"Ehm, kok kayak nama papah saya mas. Adhiwijaya juga, siapa nama depannya?" Miko balik penasaran karena sikap Rendra tiba-tiba saja menjadi dingin.
__ADS_1
"Entah, saya cuma kenal nama dia itu. Kalau papah mas Miko siapa?" selidik Rendra.
"Hendrawan."
DEG!!
Jantung Rendra terasa hampir lepas dari kapiler penyangganya. Aliran darahnya terasa mengalir lebih cepat dan membuat lututnya gemetar. Ia menatap lekat lelaki bernama Miko. Wajah yang ia benci membayang di matanya, memorinya memutarkan slide yang sudah lama ia simpan dan tak ingin mengingatnya lagi.
Tanpa banyak berkata Rendra berdiri dan hendak berlalu pergi. Tapi Tiara mencegahnya.
"Ren mau kemana kamu? Ini makanannya sudah datang!"
"Pulang," jawabnya singkat tanpa menoleh.
"Lho kok malah pulang, terus ini gimana?"
"Simpen aja di kulkas."
Tiara memburunya dengan sekantong plastik mie goreng yang dipesannya. "Ren, tunggu!"
Rendra berhenti karena Tiara menarik tangannya kuat.
"Bawa nih, jangan sampai kamu sakit!"
Rendra menerima bungkusan itu lalu menatap Tiara. "Ra, sebaiknya kamu jauhin Miko!" ucap nya serius.
"Kenapa emangnya, Miko baik kok!"
"Pokoknya jauhin dia, aku nggak suka kamu ada hubungan sama anak itu!" gertak Rendra yang cukup mengejutkan Tiara.
"Ren, hak aku untuk nentuin dengan siapa ku dekat dan berteman!" balas Tiara tak kalah sengit.
"Aku tahu Ra, kamu bebas berteman sama siapa aja, mau pacaran, mau nikah, aku nggak peduli asal kamu bahagia. Tapi, nggak sama anak satu itu. Titik!"
"Apa alasannya Ren, kasih aku alasan yang tepat!"
Rendra terdiam dan mendengus kesal. Ia menyugar rambutnya dengan frustasi. "No reason! Aku nggak suka dan aku nggak mau. Dia terlarang buat kamu!"
Rendra berlalu meninggalkan Tiara yang bingung dengan sikap kakak lelakinya itu. Setelah memastikan Rendra masuk ke apartemennya, Tiara pun kembali menemui Miko.
Di Kamarnya Rendra merenung, ada selembar foto yang digenggamnya kuat. Foto kenangan yang menggambarkan senyum terakhir dari wanita yang amat ia rindukan. Rendra kembali menatap wajah wanita yang telah melahirkannya dengan susah payah. Bulir bening menetes di pipi lelaki yang usianya selisih satu tahun lebih tua dari Miko.
Takdir benar-benar mempermainkan kami! Skenario apalagi yang akan kami jalani setelah ini!
__ADS_1