Bedak Sang Nyai

Bedak Sang Nyai
Kematian yang Mengenaskan


__ADS_3

Tiara termangu dalam kamarnya. Ia masih tak percaya dengan kenyataan yang baru diketahui beberapa jam yang lalu.


"Semuanya serba kebetulan," ia menatap dirinya di cermin lalu berdecak, "Bahkan sudah kaya begini pun hidup ku tak juga bahagia, apa aku harus percaya takdir dan entitas yang Esa?"


Berbagai pertanyaan muncul di benak Tiara, ia tak mampu menjawabnya dengan waras. Satu hal yang bisa ia temukan dari kewarasannya hanyalah dendam.


"Miko telah menyentuhku, waktunya Bayu mengambil sukmanya! Kematian Miko akan menyiksa lelaki brengsek itu! Lihat saja Hendrawan, aku akan menuntut balas kematian ibu!"


Sesak di dada terasa begitu menyiksa Tiara. Rasa sedih kehilangan ibu dan penderitaannya selama ini membuat Tiara gelap mata. Rasanya ingin menangis saja tapi air mata terasa kering. Ia mengepalkan tangan dan memukulkannya di dinding hingga berkali-kali, ia tak peduli jika hal itu melukainya.


Tiara meluapkan emosinya dengan menyakiti dirinya sendiri. Hingga akhirnya ia pun lelah, Tiara bersandar di dinding dengan luka menghiasi tangan kanannya. Perih dan menyakitkan tapi lebih nyata jika dibandingkan dengan luka hatinya yang tak pernah sembuh.


"Dunia tak adil padaku, jadi aku tidak salah kan jika menghukum sendiri orang-orang itu!" gumamnya lirih dengan keringat membanjiri di tubuh dan wajahnya.


Ponsel Tiara berbunyi, Arka menghubunginya selarut ini. "Ya,"


"Ra, kamu dimana?"


"Rumah,"


"Aku datang ya ke rumah kamu yang baru?" pintanya memelas.


"Sekarang?"


"Ya iyalah Ra masa tahun depan!"


Tiara berpikir sejenak, hati kecilnya tak mengharap Arka untuk datang. Tiara takut jika Arka terjebak pada pesona dan khilaf menyentuh tubuh moleknya.


'Dia nggak boleh datang, tidak sekarang. Aku harus selesaikan urusan Miko dan lelaki bejat itu dulu!'


"Ehm, kita ketemu aja diluar ya? Gimana?"


"Oh, boleh mau dimana nih?" Arka bertanya dengan antusias.


Tiara menyebutkan salah satu tempat yang masih buka hingga larut malam. Letaknya ada di depan mall tempatnya bekerja, restoran cepat saji. Arka menyetujuinya.


Tak butuh waktu lama bagi Tiara untuk tiba disana, Arka rupanya sudah memesan tempat dan juga makanan untuknya.


"Hai, maaf malam-malam ganggu kamu!"


Senyum manis Arka menyapanya, Tiara menyukainya. Untuk Tiara, Arka lebih dari sekedar teman. Sikapnya yang humoris dan obrolan yang selalu klik membuat Tiara mulai merasakan jatuh hati.


"Nggak kok, aku juga belum tidur." jawab Tiara membuka bungkusan kertas makanan di depannya.

__ADS_1


Mata Arka terbelalak, ia melihat luka di tangan Tiara yang memang belum sempat diobati apalagi ditutup. Ia hanya membersihkan sedikit darah yang merembes keluar dari luka robek itu.


"Ya ampun Ra, ini kenapa?"


"Hmmm, jatuh." Tiara menjawab santai dan memakan burger dengan double cheese di tangannya.


"Jatuh? Kamu pikir aku bakal percaya?" mata Arka menatapnya tajam, Tiara tersenyum masam.


"Coba liat!" Arka menarik paksa tangan Tiara, tentu saja Tiara meringis kesakitan.


"Aaaw, pelan Arka!" protesnya pada Arka yang menekan luka robek di punggung tangan.


"Cepet habisin makannya, kita ke klinik! Ini lukanya lumayan, bisa infeksi kalo gak diobatin."


"Cck, apan sih luka ringan gini ke klinik dikasih obat sama band-aid juga sembuh." Tiara menarik tangannya dan kembali melanjutkan makan.


Arka kembali berdecak tapi dengan sabar ia menunggu Tiara kembali bicara. "Kamu kenapa belum tidur jam segini?" tanya Tiara yang penasaran karena jam hampir menunjukkan pukul satu dini hari.


"Kangen aja sama kamu, lagian nggak ada kerjaan juga." jawab Arka santai, "Udah belum yuk ikut aku!"


Dengan setengah memaksa Arka akhirnya berhasil membujuk Tiara ke klinik. Dengan telaten ia menghibur Tiara yang sedang mendapatkan perawatan untuk luka ditangannya. Beberapa kali Tiara tergelak dibuatnya, Arka sungguh pintar menghibur Tiara yang kesepian. Setengah jam kemudian mereka keluar klinik dan berjalan dengan bergandengan tangan.


"Ra, keknya besok kita nggak ketemu deh."


"Iya diluar kita beberapa hari." wajah Arka terlihat muram ia lantas menarik Tiara dalam pelukannya. "Aku bakal rinduin kamu Ra, to bad Miko pasti seneng aku nggak ada."


"Miko ya," sahutan Tiara terasa mengambang.


"Kenapa Ra?"


"Nggak, yuk mau kemana kita?" Tiara balas memeluk erat tangan Arka.


"Ngabisin malam yang tersisa,"


"Iiish gitu amat ngomongnya, kayak mau pergi nggak kembali aja!" protes Tiara dan cubitannya pun melayang ke perut Arka.


Arka tertawa dan menautkan tangannya pada Tiara. Ia mendekatkan wajah dan berbisik. "For the last moment, I just wanna say I love you, Tiara."


Kecupan mendarat di kening Tiara membuat gadis ayu itu berbunga bunga. Sayangnya kemesraan dan kebahagiaan mereka tak akan bertahan lama.


Di sudut parkir lain Miko yang ketakutan bersembunyi di dalam mobil miliknya. Ia gemetar dan sesekali menengok ke bagian belakang mobil memastikan tak ada lelembut berbulu yang mengejarnya.


"Pergi … pergi, jangan ganggu aku! Jangan ganggu aku!"

__ADS_1


Wajah Miko pucat pasi, keringat membanjiri meski AC didalam mobil sudah menyala maksimal. Bayu muncul di samping Miko, ia geram menatap kemesraan Arka dan Tiara.


"Dia milikku selamanya!"


Bayu lantas merasuki tubuh lemah Miko. Miko tersentak saat lelembut itu mengambil alih tubuhnya, matanya sampai mendelik ke atas tapi sejurus kemudian normal kembali dengan penguasaan Bayu. Seringai iblis muncul di bibir Miko, dengan perlahan ia memutar stop kontak dan menyalakan mobil.


"Mati kau!"


Miko menginjak pedal gas dalam dalam dan mengarahkan pada sepasang anak muda yang sedang berpelukan. Arka yang melihat sorot lampu mobil yang melaju cepat mendorong tubuh Tiara dengan kuat ke pinggir, Tiara membentur salah satu mobil yang terparkir dengan cukup keras hingga alarm otomatis berbunyi.


Namun malang bagi Arka tubuhnya terpental beberapa meter setelah mobil Miko menabrak tubuhnya. Kepala Arka membentur tiang listrik dengan keras. Darah pun mengalir membasahi wajah dan tubuh Arka.


"Arka!"


Tiara menjerit histeris, ia berlari ke arah tubuh Arka yang tak sadarkan diri bersimbah darah. "Arka, bangun! Arka … lihat aku Ka, kamu harus bertahan!"


Tiara merengkuh tubuh Arka dalam pelukannya, ia tak henti berteriak meminta tolong pada satpam dan beberapa orang yang hendak berobat ke klinik. Ia menangis sejadinya.


"Ka, bangun! Bangun Arka!"


Arka membuka matanya meski sangat sulit untuknya, ia tersenyum dan meraih pipi Tiara. "Ra … ja-ngan nangis I'm ok,"


Suaranya terdengar lemah dan terbata bata. Tiara menggelengkan kepalanya, tangannya meraih dan menggenggam erat jemari Arka yang berusaha menyentuhnya. Sekali lagi Arka tersenyum sebelum ia menutup mata untuk selamanya.


Tiara terkesiap, matanya menatap nanar wajah penuh darah Arka yang susah menutup mata. "Arka, Arka!"


Mobil yang menabrak Arka sempat berhenti tak jauh dari tempat kejadian. Bayu yang masih berada dalam tubuh Miko tertawa puas. "Tak ada yang boleh memiliki hati kekasihku!"


Tiara menatap mobil yang menabrak Arka, dan matanya menatap sosok Miko yang sedang tertawa ke arahnya. "Kurang ajar!"


Tiara meletakkan kepala Arka perlahan dan bergegas mengejar Miko.


"Bangsat kau, Miko!" teriaknya lantang membuat sebagian warga yang ada disana ikut mengejar mobil Miko.


"Pembunuh! Lelaki brengsek! Kau layak untuk mati!" Tiara mengumpat dengan kasar, ia tak menyadari jika Bayu berperan dalam kematian Arka. Bayu membuat situasi rumit dan menjebak Tiara dalam lingkaran setan.


Bayu belum keluar dari tubuh Miko. Ia membuat Miko melarikan diri dari kejaran warga. Mengendarai mobil dengan zig-zag dan berkecepatan tinggi. Bayu kembali tertawa terbahak bahak, ia sengaja menabrakkan mobil yang dikemudikan Miko ke dinding pembatas jalan membuat mobil itu rusak parah dan kepalanya membentur kemudi dengan keras.


Tidak sampai disitu, Bayu melihat kesempatan emas. Sebuah mobil pengangkut alat berat sedang berjalan perlahan di tanjakan. Bayu pun kembali tertawa sebelum akhirnya menabrakkan mobil Miko ke arah truk pengangkut alat berat dalam kecepatan tinggi. Miko tewas seketika tertimpa alat berat yang oleng dan jatuh tepat di atas mobilnya.


Bayu tertawa dengan puas melihat Miko tewas. Satu sukma berhasil kembali ia dapatkan, kekuatannya semakin bertambah.


"Aku mulai menyukai permainan ini! Setelah ratusan tahun aku kembali merasakan nikmatnya berburu sukma manusia manusia bodoh!"

__ADS_1


__ADS_2