
Tiara membereskan meja kerjanya, Anita sudah pulang terlebih dahulu sementara Rio menghilang entah kemana. Jam kerja sudah usai dan sebagian lampu mall juga mulai dipadamkan.
Beberapa karyawan melambaikan tangan pada Tiara, mereka berpamitan pulang. Ponsel Tiara berbunyi, Arka memanggil.
"Sudah pulang?" tanyanya dari seberang.
"Sebentar lagi,"
"Boleh aku mengikutimu pulang, aku penasaran sama rumah barumu."
Tiara diam, menghela nafas sejenak lalu berpikir. Ia takut Arka akan terjebak dan terpikat pesonanya. Bayu tidak akan pernah melepaskan lelaki yang berani menyentuhnya.
"Hhm, besok aja ya. Malam ini aku sama kakakku mau pergi."
"Oh, baiklah. Tapi besok aku jemput kamu ya?" Arka mendesak membuat Tiara tak punya pilihan lain.
"Ehm ok, jemput aku jam 9 tepat!"
"Siap cantik, kirim alamat kamu ya!"
Arka menutup teleponnya dengan hati gembira. Akhirnya Tiara menerima ajakannya, ia pun merencanakan cara untuk memikat hati Tiara. Wajah cantik Tiara kembali membayang di pelupuk mata Arka.
Matanya berbinar ketika Tiara mengirimkan alamat rumah barunya melalui pesan singkat. Tiara, wanita yang tak sengaja digoda beberapa hari lalu nyatanya telah mencuri hati Arka.
Bayu muncul dalam wujud aslinya tak jauh dari Arka berdiri, ia menggeram menahan amarah. Kecemburuan menguasai dirinya, apalagi ia melihat jelas binar bahagia di mata Arka.
"Laki-laki ini bisa mengalihkan dunia Tiara dariku! Kau tidak akan pernah mendapatkan kekasihku!" Bayu kemudian menghilang lagi entah kemana.
Tiara berjalan keluar mall, setelah seorang satpam menyapanya dengan kerlingan mata. Para kaum Adam tak ada yang mampu menepis pesona mistis yang dikeluarkan Tiara. Bedak ajaib itu bekerja sempurna setelah memakan satu sukma.
Saat tiba di salah satu sudut gelap tiba-tiba saja Tiara disergap seseorang. Tubuhnya dihempaskan dengan kasar ke dinding dingin sisi barat mall. Aroma pekat alkohol tercium dari tubuh si penyergap.
"Beri aku uang, cepat!"
Tubuh kekar dan berotot, serta benda dingin tajam yang menekan lehernya membuat Tiara tercekat. "U-uang?"
"Iya bodoh! Cepat kasih aku uang!" suara berat dan kasar dari lelaki dengan luka gores memanjang di tangan kiri itu membuat Tiara gemetar apalagi benda dingin itu mulai menyakitinya.
"Ba-baik, tapi jangan sakiti aku. Ok?!"
"Cepat!" lelaki sangar itu kembali berteriak.
Tiara yang gugup segera membuka tas, sialnya semua barang di tas Tiara jatuh berantakan. Pria itu berteriak kasar lagi, "Goblok, gitu aja nggak bisa buka!"
Ia menarik baju Tiara dengan kasar hingga suara robekan pun terdengar. Kuatnya tarikan membuat lengan kemeja Tiara sobek, dua buah kancing kemeja bagian atas pun ikut terlepas dengan paksa hingga memperlihatkan gundukan putih yang menyembul dibalik penutup dada.
Melihat pemandangan indah itu, pria setengah mabuk itu pun terpancing. Hasrat lelakinya muncul dan ia menarik tubuh Tiara dalam pelukannya. Tiara terkejut dan berteriak tapi lelaki itu tak peduli ia berusaha mencium Tiara. Suasana sudut mall yang remang-remang dan sepi membuat lelaki itu leluasa berbuat tak senonoh pada Tiara.
Tapi kemudian, sebuah hantaman benda tumpul mengenai tengkuk pria itu, dan membuatnya jatuh tersungkur.
__ADS_1
"Aaargh!"
Tak cukup hanya sekali pukulan bertubi-tubi kembali dilayangkan si penolong yang wajahnya samar - samar tak terlihat. "Bangsat, mati lu!"
Umpatan kasar melayang dari si penolong membuat lelaki mabuk itu tak bergerak lagi. Ia pingsan dengan beberapa luka di wajah dan kepala.
"Kamu nggak apa-apa mbak?"
Tiara yang masih shock mengangguk, matanya menatap nanar ke arah pria yang tergeletak tak berdaya. Ia mendongak menatap penolongnya. "Mas Miko?"
Miko tak merespon ia justru memperhatikan Tiara dan memeriksa tubuhnya. "Kamu nggak apa-apa? Ada yang luka?"
Tiara menggeleng, tapi rasa perih dilehernya membuat Tiara mengaduh saat Miko memeriksa.
"Aaw, sakit!"
"Leher kamu luka. Kita ke klinik depan ya?"
"Nggak perlu mas, dikasih obat biasa juga bisa kok." Tiara menolak ajakan Miko, ia meraih tas yang tergeletak di lantai. Miko membantunya.
Sobekan panjang dikemeja Tiara terlihat begitu panjang dan lebar hingga menampakkan punggung bagian belakang. Terekspos dengan jelas penutup dada Tiara yang berwarna hitam. Miko menahan diri dari hasrat lelakinya yang mulai merambat naik.
Ia melepas jaket yang dikenakan dan menutupi tubuh Tiara.
"Makasih," Tiara tak enak hati pada Miko.
"Tapi,"
"Nggak pake tapi tapian lagi, bahaya! Ini udah malam, baju kamu sobek dan lagi leher kamu juga luka. Perlu segera diobati!"
"Tapi kakakku mau ...,"
"Mana kakak kamu, aku lihat nggak ada orang disini kan? Atau gini deh coba kamu telpon dia ada dimana? Sementara itu kamu nunggu di mobil aku!"
Miko membimbing Tiara untuk berjalan, meski Tiara merasa bisa berjalan sendiri tapi Miko terus memaksanya. Tiara pun mengalah dan mereka tiba di parkiran mall. Sambil menunggu Tiara menghubungi Rendra, Miko mengambil kotak obat di bagasi mobilnya.
"Lain kali hati-hati kalo pulang sendiri, kamu cewek lho, cantik, seksi lagi biarpun malam masih rame tapi kamu juga perlu jaga-jaga!" Miko berceloteh sembari mengobati luka Tiara.
Tiara hanya tersenyum masam, ia terus mencoba menghubungi Rendra tapi tak juga berhasil. Ia berdecak kesal.
"Kemana dia?! Harusnya jemput dari jam sembilan!" gerutunya sambil terus menunggu suara Rendra di ujung sana.
Miko tersenyum melihat wajah kesal Tiara yang terlihat menggemaskan. "Kamu cantik bener kalo lagi marah begitu."
Tiara yang putus asa akhirnya mengakhiri panggilan. Ia sedikit memundurkan punggungnya saat Miko mendekat.
"Ehm, maaf aku mau tutup luka kamu dulu. Boleh?"
Tiara mengangguk, wajah mereka sangat dekat. Tiara menatap wajah Miko, dengan seksama. Laki-laki yang dulu menyumpahinya saat tak sengaja hampir menabrak mobil mewahnya, laki-laki yang nyaris melukai tubuhnya dengan lemparan botol, laki-laki yang membuatnya hati Tiara terluka dengan umpatan kasarnya.
__ADS_1
Takdir mempertemukan mereka kembali dalam situasi yang berbeda. Miko yang kasar dan gemar mengumpat seketika berubah lembut saat berhadapan dengan Tiara. Ia dibuat takluk dengan mantra pemikat milik Tiara.
Miko sadar diperhatikan Tiara membalas tatapan wanita yang baru saja ditolongnya. Mata bertemu mata, Miko terhipnotis dengan kecantikan Tiara. Perlahan wajahnya mendekat, bibir mereka saling bersentuhan, merasakan satu sama lain.
Tangan Miko menyusup ke bagian belakang kepala Tiara menekannya agar semakin mendekat dan memperdalam ciuman mereka yang semakin liar. Saling mem*gut, menghi*s*p dan mel*mat merasakan sensasi panas yang membakar hasrat muda keduanya.
Tiara memilih Miko sebagai mangsa barunya. Ia tersenyum dan sengaja membuat Miko semakin dalam menyentuh area pribadinya. Hanya tinggal menunggu waktu dan Bayu akan mengambil sukmanya secara bertahap. Kematian yang mengenaskan adalah akhir dari riwayat Miko
...****************...
Lelaki dengan luka memanjang di wajahnya itu perlahan tersadar. Ia menyentuh kepala bagian belakang, cairan lengket dan berbau anyir terasa menyengat di hidungnya.
"Aargh, sialan! Bos tengik, katanya cuma bohongan malah mukul beneran!"
Lelaki bernama Bram itu menegakkan punggungnya. Ia masih terduduk dilantai dan merasakan ngilu serta nyeri di beberapa bagian tubuhnya.
"Wong edan! Awakku remek kabeh! Aku harus minta bayaran lebih kalau begini ceritanya!"
Bram berdiri perlahan, kepalanya yang pusing membuatnya berjalan sempoyongan. Ia kembali memegang kepala bagian belakang, cairan lengket berwarna merah masih keluar dari luka.
"Brengsek!" ia kembali mengumpat.
Kelebatan bayangan hitam muncul mengintai dirinya. Bayangan hitam itu berdiri di dekat pilar mall, ia menatap Bram dengan mata merah bak lidah api. Bram dengan susah payah berusaha mengenali bayangan hitam itu. Ia menyangka itu adalah salah satu temannya.
"Woooy siapa disana?!"
Bram mengerutkan kening dan memicingkan mata. Bayangan hitam itu berjalan mendekat. Bram tersenyum dan mengumpat.
"Brengsek lu Andi kan! Ngapain malam-malam ngintipin gue?! Mo ngelawan juga, sini lu! Gue pengen olahraga tangan, gedeg bener nggak dapat tuh cewek!"
Bram terkekeh ia semakin mendekati bayangan hitam bermata merah. Ia tak menyadari jika nyawanya berada di ujung tanduk. Aroma tak sedap menusuk hidungnya, Bram menutup hidung dan sedikit terbatuk.
"Gila, lu belum mandi berapa abad Di? Bau bener sih!"
Sosok yang dikira Andi tak menjawab, hanya suara geraman yang menegakkan bulu roma. Bram menghentikan langkahnya, ia gemetar, kepalanya berdenyut semakin nyeri. Sosok hitam berbulu dengan taring panjang yang nyaris menembus bibir muncul dihadapannya.
Bram kehilangan suaranya, ia hanya bisa menunjuk ke arah lelembut berbulu itu dengan rasa takut yang luar biasa.
"Se-setan!"
Bram akhirnya bisa menggerakkan kakinya untuk berlari setelah sepersekian detik membeku kaku karena terkejut. Ia berlari kesana kemari tapi sosok lelembut itu terus mengejar dan membayanginya. Kemanapun Bram pergi sosok berbulu hitam itu terus menghadang.
Bram berteriak minta tolong tapi tak ada yang peduli ataupun melihatnya. Waktu seolah berhenti dan semua orang membeku. Hingga akhirnya Bram meloncat dan berlari ke jalan raya tak jauh dari mall. Saat itulah sebuah mobil box dengan kecepatan tinggi melintas. Bram yang tiba-tiba muncul membuat sang sopir terkejut dan tak sempat menghindar.
Bram terlindas mobil box dengan kondisi mengenaskan. Darah mengalir begitu banyak hingga tercium bau anyir yang membuat mual siapapun yang ada ditempat itu. Aliran darah Bram sampai di kaki lelembut berbulu hitam itu. Ia menatap nyalang ke arah tubuh Bram yang telah menyentuh Tiara.
Sosok tak kasat mata itu mendekati tubuh Bram yang masih berada di bawah kolong mobil. Mata sebelah kiri Bram menangkap kehadiran lelembut berbulu yang serta merta berubah menjadi Bayu. Bram menatap tak berdaya ke arah Bayu yang tersenyum mengerikan ke arahnya. Disela nafas terakhir Bram, Bayu berkata.
"Ini hukuman karena telah lancang menyentuh kekasihku!"
__ADS_1