Bedak Sang Nyai

Bedak Sang Nyai
Peringatan dari Raka


__ADS_3

Tiara membisu selama perjalanan, ia terus menatap keluar menghindari tatapan Rendra yang menyelidik. 


"Kenapa?"


"Nggak,"


Rendra menghela nafas, adiknya kembali terdiam. Ia tahu Tiara bukan tipe yang mudah membicarakan masalah meski itu pada kakaknya sekalipun.


"Aku baru dari rumah papah," ia mencoba memancing Tiara.


"Oh, terus."


"Dia minta maaf, dan titip salam buat kamu."


"Huh, ngarep aku terima salamnya nih!" Tiara mendengus kesal.


"Ra, jangan gitu dia papah kita lho. Ibu juga dulu pesan sama aku untuk mengakui papah meskipun dia udah jahat sama kita."


Tiara berdecak kesal. "Ya kamu aja sana!"


Rendra pun menggelengkan kepala. Sebelum kembali ke apartemen, Rendra membelokkan mobil ke tempat angkringan favorit mereka. Semakin malam tempat itu dipadati pelanggan setia yang mayoritas berasal dari kalangan mahasiswa. Beruntung masih ada tempat kosong untuk Tiara dan Rendra duduk.


"Pesen apa Ra?"


"Biasa aja," Tiara menjawab dengan malas.


Ia duduk termenung, wajahnya muram dan masih teringat sosok Arka. Tiara tak menyadari jika seorang lelaki muda sedari tadi sudah memperhatikan dirinya. Lelaki bertato dan bertindik telinga itu, berjalan mendekati Tiara.


"Hai, lama nggak ketemu mbak." sapanya ramah. Tiara menoleh dan membalas senyumannya.


"Eh mas, sorry aku udah pindah jadi jarang mampir."


"Ah nggak apa-apa mbak." Raka melirik ke arah Tiara memperhatikan wanita yang mengeluarkan aura tak biasa. "Temennya nggak ikut mbak?"


"Hhm, yang mana?"


"Yang mana lagi mbak, yang tempo hari kesini. Si siapa itu … lupa saya?" Raka kembali melirik wanita cantik di sebelahnya, setengah menyindir dan berpura pura lupa dengan lelembut berbulu yang menyaru sebagai pria tampan.


"Oh Bayu, lagi sibuk dia." 

__ADS_1


Raka kembali menganggukkan kepalanya, ia mengubah posisi dan kini menghadap ke arah Tiara. "Mbak, saya nunggu mbak telpon lho." Raka terdiam sesaat lalu, "Sebaiknya mbak berhenti sebelum semuanya terlambat."


Ucapan Raka menarik perhatian Tiara, "Maksud mas gimana, saya nggak paham."


"Saya tahu siapa Bayu sebenarnya, dan saya juga tahu apa yang mbak lakukan sama wajah cantik mbak itu." Raka menunjuk ke arah wajah Tiara membuatnya spontan menyentuh pipinya.


"Maaf kalau saya ikut campur mbak, tapi lebih baik mbak kembali lagi seperti dulu sebelum semuanya tidak bisa dihentikan! Bayu hanya akan menarik mbak ke lembah penyesalan tak berdasar!" Raka menarik nafas dalam sebelum kembali bicara.


"Terlalu banyak korban kan mbak? Mau sampai kapan begini?"


Tiara diam menatap tak percaya ke arah lelaki pemilik angkringan favorit nya. "Masnya kayaknya salah deh. Saya nggak ngapa-ngapain kok," ia mencoba mengelak.


Raka tersenyum masam lalu menggelengkan kepala. Ia meraih pulpen di kantong baju dan kembali menuliskan nomor ponselnya pada selembar tissue lalu menyerahkannya pada Tiara.


 "Kali ini tolong hubungi saya,"


Raka berdiri dan hendak membantu adiknya Tegar ketika sang kekasih datang menyapanya. 


"Malam sayang," seorang wanita manis memeluk dan mencium kedua pipi Raka.


"Hai, bantuin ya rame nih!"


"Lho Ra, kamu disini?"


Tiara yang merasa namanya dipanggil segera menoleh, senyum mengembang di bibirnya. "Santi! Hei, apa kabar?! Kangen deh sama kamu!"


Tiara sontak berdiri dan memeluk Santi, mantan rekan kerja di bagian cleaning service. Cukup lama mereka tidak bertemu dan tanpa diduga malam itu mereka dipertemukan takdir di angkringan milik Raka. Santi adalah kekasih Raka.


"Kamu ngapain disini? Sendirian?"


"Ya mau makanlah masa mau ngamen! Sama kakakku kok tuh dia lagi jalan kesini!" Tiara menunjuk ke arah Rendra yang berjalan ke arahnya membawa dua gelas besar susu jahe.


"Eh lah malah pelanggannya malah self service! Sorry yo mas!" Raka sedikit tak enak hati sementara Rendra hanya tergelak.


"Kesuwen mas ngenteni, selak dadi ager wetengku!"


Raka terkekeh melihat tingkah Rendra, ia meninggalkan sebentar kedua wanita yang langsung terlibat obrolan panjang dan saling melepas rindu.


"Kalian sudah saling kenal rupanya?" Raka bertanya sambil membawakan pesanan Rendra dan Tiara yang lain.

__ADS_1


"Ini dulu satu bagian sama aku, tapi sekarang udah naik kelas dia!" canda Santi yang disambut wajah merona Tiara.


"Dia ini yang aku ceritain tempo hari mas, kembangnya mall. Sayang lagi terkenal malah resign!"


Raka tidak terlalu terkejut mendengar hal itu, dia hanya tersenyum. Tiara dibuat canggung dengan senyuman Raka. Tiara tak menyadari jika dirinya sedang diawasi sepasang mata dalam gelapnya malam. Bayu mengawasi setiap gerak gerik Tiara. Raka yang sudah mencium kedatangan Bayu sejak awal Tiara datang, telah membuat garis pembatas gaib agar Bayu tidak bisa mendekat.


Raka butuh ruang agar bisa mendekati Tiara dan mengajaknya kembali ke jalan semula. Santi kekasihnya, sedikit banyak memberitahukan informasi tentang Tiara. Sebenarnya Raka tidak ingin ikut campur karena itu adalah hak Tiara untuk memilih bersekutu dengan jin atau tidak, tapi trauma masa lalu membuatnya ingin menolong gadis malang itu.


'Dulu aku nggak bisa menyelamatkan Adinda, setidaknya aku bisa menyelamatkan satu nyawa lain untuk memperbaiki kesalahanku.'


Usai menghabiskan seluruh makanannya, Tiara dan Rendra pun berpamitan. Sebelum pergi Raka dan Tiara sempat beradu pandang, anggukan samar tertangkap mata Raka membuatnya mengulas senyum.


"San, kalau dia telepon kamu suatu hari nanti segera bawa dia ke rumah!"


"Memangnya kenapa mas?"


"Ya ngggak kenapa-kenapa, besok juga kamu tahu sendiri kok." sahut Raka enteng, membuat Santi bertanya tanya.


Tiara lelah setelah seharian menghabiskan waktu diluar bersama Alan. Ia terlelap setelah membersihkan tubuhnya dengan air hangat. Bayu muncul begitu saja di sebelah Tiara, memeluknya erat. Ia menatap wajah kekasih beda alamnya dengan intens, mengagumi kecantikan dan setiap lekuk tubuh Tiara.


"Aku mencintaimu Tiara, sangat mencintaimu." bisiknya perlahan ditelinga Tiara membuat gadis itu menggeliat.


Bayu tak bisa menahan hasratnya, ia menyentuh dan mengusap tubuh setengah telanjang Tiara yang hanya berselimut kain tipis. Ia meraba dan menyentuh area sensitif membuat Tiara meng*rang dalam tidurnya. Bayu menginginkan Tiara setiap waktu tak berbatas hari-hari ritual khusus. 


"Kau milikku selamanya!" bisiknya lagi saat tubuhnya berada diatas tubuh Tiara.


Bayu mengambil alih kesadaran gadisnya. Membuatnya tetap tertidur dan menyetubuhi Tiara di alam bawah sadar. Bayu menyukai hal itu. Membawa Tiara dalam fantasi mimpi liar yang menggoda. Tiara meng*rang dan mend**ah nikmat dan merasakan pelepasan luar biasa.


Esok harinya Tiara mendapati memar di sekujur tubuhnya. Ia lelah sekali dan sedikit nyeri di area bawah sana. Ia teringat mimpinya semalam, Bayu datang dan mengajaknya bercinta semalam suntuk. Tiara merutuki kebodohannya yang rela menjadi budak nafsu lelembut berbulu itu.


"Mas Raka benar, mau sampai kapan aku begini?" tatapnya nanar pada tubuh penuh lebam yang terpantul dari cermin.


Ia membasuh wajahnya untuk menyegarkan diri. Dan ketika ia kembali menatap cermin, ia dikejutkan oleh Nyai Kembang yang hadir dalam wajah mengerikan. Kulitnya mengelupas dan menggantung bak mayat hidup, bola mata yang melotot seperti hendak keluar dari rongganya, rambut acak-acakan, dan bibir yang semerah darah.


"Ingat sebelum bulan purnama berikutnya serahkan dia pada yang mulia Ratu?" 


Suara serak dan parau sang nyai membuat Tiara semakin ketakutan. Ia mundur perlahan hingga tubuhnya menyentuh dinding dingin kamar mandi. 


"Sebelum bulan purnama Tiara, atau kau yang akan jadi penggantinya!"

__ADS_1


__ADS_2