Bedak Sang Nyai

Bedak Sang Nyai
Ritual Khusus


__ADS_3

Sore menjelang, tepat pukul tiga sore Tiara menghampiri Rendra di unit apartemennya. Wajah Rendra terlihat lebih segar dibandingkan pagi tadi.


"Yuk, temenin aku cari barang!"


Tiara tanpa basa basi masuk ke dalam  dan memindai sekeliling ruangan. Rendra hanya bisa menghela nafas melihat tingkah adik perempuan yang masih belum dipahaminya. Tiara sang adik telah banyak berubah padahal belum genap seminggu Rendra pergi dari rumah.


"Mau cari apaan sih, Ra?"


Tiara tak langsung menjawab, ia berjalan menuju jendela kaca besar dengan view kota Semarang. Tersenyum sinis dengan tatapan ganjil yang aneh. Rendra bergidik melihatnya, Tiara terasa asing dan sangat berbeda.


"Beli keperluan ritual. Kamu nggak perlu cari kerjaan lagi. Tugas kamu sekarang jagain adik satu satunya kamu yang cantik ini!"


Tiara berbalik menghadap Rendra, sorot matanya tajam menusuk dada Rendra. Aura tipis kehitaman merembes keluar dari tubuh Tiara. Rendra merasa sesak dan tertekan mendapat tatapan aneh sang adik. 


"Ritual?"


"Ya, dan jangan banyak tanya!" Tiara masih menatap tajam kakaknya, ia berjalan mendekati Rendra memperhatikan penampilannya dari ujung kaki hingga rambut.


"Kamu kayaknya perlu ganti penampilan, biar gagah dikit, nggak kayak orang kampung gini."


Sekali lagi Rendra terperangah, adiknya tidak pernah berani berkata lantang padanya. Sesuatu telah mengubah dirinya. Tiara memang terlihat lebih cantik dan menarik tapi juga menakutkan. 


'Hanya perasaanku saja atau memang Tiara berubah? Apa mungkin aku terpengaruh sama kejadian semalam, tapi rasanya ada yang berbeda dari dia?'


"Bukannya aku udah gagah bin ganteng gini Ra?! Kata ibu muka aku ini mirip sama ayah!" Rendra keceplosan, ia menutup mulutnya saat mata Tiara menatap tak suka.


"Jangan sebut nama dia lagi, kalau kamu masih pengen hidup enak sama aku!"


Rendra menciut, intimidasi mata adiknya membuat dirinya tak punya nyali untuk menjawab. Hanya anggukan lemah yang bisa ia lakukan.


"Ayo pergi, banyak yang harus kita lakukan sebelum tengah malam."

__ADS_1


Rendra mengekori Tiara dengan pasrah, ia tak lagi banyak bertanya. Rendra kehilangan kuasa sebagai seorang kakak. Sesampainya di depan gedung, sebuah mobil sudah menunggu. Mobil itu dipesan Tiara khusus untuk mengantar mereka menuju pasar di sekitaran jalan Mgr Sugiyopranoto.


Tiara pergi menemui seorang nenek tua yang ada di lapak penjual bunga di pinggiran pasar. Nenek itu tersenyum aneh saat Tiara mendekat, ia kemudian berbisik pada Tiara dan memberikan bungkusan bunga serta beberapa pelengkap sesaji. Nenek tua itu sama sekali tanpa ekspresi saat Tiara berpamitan dan menyerahkan sejumlah uang.


Rendra hanya memperhatikan keduanya, jelas sekali Tiara dan sang nenek berinteraksi dengan kode yang hanya mereka berdua ketahui. Setelah menemui sang nenek Tiara berpindah ke tempat lain. Lagi-lagi Rendra hanya bisa mengikuti, diam dan membawakan barang yang dibeli Tiara.


Selang beberapa jam kemudian, acara berbelanja Tiara selesai. Mereka kembali ke apartemen. Rendra hendak masuk ke dalam apartemen milik Tiara untuk meletakkan hasil belanjaan tadi tapi, dicegah sang adik.


"Kamu cukup sampai disini Ren! Kalau ada masalah atau perlu sesuatu tinggal telpon aja!" Tiara merogoh tasnya dan mengeluarkan sejumlah uang dalam jumlah besar.


"Pergi, beli pakaian, ke salon, atau kemana aja terserah kamu. Aku mau kamu berubah lebih ganteng, lebih ngisi nggak kurus begitu!" ujar Tiara sembari terkekeh melihat sang kakak.


Rendra menerima uang itu tanpa banyak bicara, ia hanya menatap sang adik dengan heran. Uang yang dimiliki Tiara seolah tak pernah habis. 


"Ra, ini …,"


"Ingat pesanku kan? Jangan banyak tanya dan terima aja!" Tiara kembali mengancam dengan penekanan kalimat terakhir.


"Satu lagi, aku nggak mau diganggu malam ini! Jadi jangan macam-macam, jangan cari keributan! Ingat, diluar sana centeng-centeng Toni pasti sedang cariin kita sekarang!" Tiara bicara setengah berbisik.


Rendra menghela nafas panjang entah untuk keberapa kalinya. Ia masih belum bisa menyesuaikan diri dengan kemewahan yang didapat hanya semalam. Sejumlah uang yang diberikan Tiara dibiarkan tergeletak begitu saja di meja. 


"Aku penasaran apa yang sebenarnya dilakukan Tiara lakukan sampai dapat duit segini banyaknya." 


"Seneng sih, tapi aku curiga apalagi dia selalu minta aku diam dan nggak banyak tanya. Bikin penasaran aja!" ia kembali bergumam dan melirik ke arah segepok uang yang bernilai sepuluh juta.


"Hhm, udahlah sekali ini aku coba percaya sama Tiara. Lebih baik aku pergi dan melakukan semua kemauan dia."


Rendra memutuskan keluar malam itu, tentu saja dengan sangat berhati hati. Ia juga berniat mengubah penampilan agar tidak mudah dikenali centeng-centeng Toni.


Sementara itu di apartemen miliknya, Tiara menyiapkan berbagai sesaji untuk melakukan ritual khususnya. Ritual penyempurnaan perjanjiannya dengan Bayu. Bathtub mewah miliknya disulap menjadi kolam bunga tujuh rupa, dan diberi cairan wewangian khusus yang diminta Bayu melalui bisikan di pasar tadi.

__ADS_1


Beberapa lilin juga dipasang di sekeliling bathtub. Nampan berisi sesaji lain seperti bunga, sebutir telur ayam kampung, kopi pahit dan sebatang rokok juga diletakkan Tiara pada salah satu kamar. Dua buah dupa dinyalakan, aromanya menyesaki kamar khusus dengan ranjang bertaburan bunga melati dan kantil.


Jam menunjukkan pukul sebelas malam waktunya Tiara memulai ritualnya. Tubuh polos Tiara masuk ke dalam air bercampur bunga, ia memejamkan mata. Suara di telinga Tiara membisikkan mantra yang kemudian diucapkannya perlahan. Hampir satu jam Tiara berendam dengan mulut berkomat kamit mengulang bait mantra.


Lampu kamar mandi memang sengaja dipadamkan, dan penerangan hanya berasal dari beberapa lilin yang kini menari malu-malu tertiup angin. Air bunga itu rasanya sangat dingin hingga menusuk ke dalam tulang, tapi Tiara tak peduli.


Bayu hadir dalam wujud manusianya, ia tersenyum pada Tiara yang masih terpejam. Ritual dilanjutkan dengan membasuh seluruh tubuh dari ujung rambut hingga kaki. Dengan hanya berbalut kain jarik tipis Tiara membungkus tubuh.polosnya dan kemudian memasuki kamar khusus.


Ia duduk ditepi ranjang menanti kedatangan Bayu. Meski Bayu sudah mendapatkan satu sukma tapi perjanjian harus disempurnakan sebagai bentuk kesungguhan Tiara menjalani perjanjian.


Angin berhembus ringan menerpa tubuh Tiara yang putih mulus. Suara geraman terdengar diiringi nafas berat datang menyapa. Sosok hitam, tinggi besar dengan mata menyala dan bulu diseluruh tubuh perlahan mendekat.


Jantung Tiara berdetak kencang, ia gugup meski dirinya tahu jika sosok itu adalah Bayu tapi tetap saja Tiara ketakutan melihat sosok mengerikan bertaring tajam yang kini berdiri didepannya.


"Jangan takut Tiara, pejamkan matamu, aku akan menjadi Bayu yang kau lihat sebelumnya." suara Bayu terdengar berbisik di pikiran Tiara, ia pun menurut.


Benar saja sosok menyeramkan itu berubah dimata Tiara menjadi Bayu seperti yang dikenalnya meski itu hanya bayangan semu. Sosok Bayu tidaklah berubah, ia tetap lelembut berbulu yang bersiap menggauli Tiara sebagai salah satu syarat dari ritual khusus.


Bau tak sedap yang keluar dari tubuh Bayu sama sekali tidak tercium Tiara yang tertutup kabut hasrat. Ia memantapkan niatnya untuk mengubah nasib dan mengabdikan dirinya pada kegelapan. 


Malam itu tidak ada lagi Tiara yang dulu pasrah dan penuh kesabaran. Tiara mengubah dirinya menjadi salah satu pengabdi kegelapan. Hati dan pikirannya telah dipengaruhi Bayu, sosok lelembut yang berhasil mencuri hatinya. Babak baru dalam kehidupan Tiara segera dimulai.


...----------------...


...selamat sore semua, Tiara agak lambat up yaa...jangan lupa beri dukungan di karya remahan ini kakak, silakan vote jika berkenan, tap like, favorit dan jangan lupa beri rate....


...ingat yaa, nda suka jgn rate 1 cukup left aja......


...maljum pas Jumat Kliwon plus hujan badai, apakah ini malam kejayaan setan?? 😅soto tahu saya🤪😂...


...semoga terhibur semua, thanks 4 support...

__ADS_1


...love u all❤️...


...cium jauh ma cium dekat ~ Lia😘...


__ADS_2