
"Cari tau kembali siapa orang yang telah memerintahkan orang orang itu untuk melecehkan istriku, aku tidak akan mengampuni mereka, bahkan kalau pun itu ibu kandung ku sendiri," perintah Arka pada sekretaris Rey, karna dari informasi yang diberikan Rey, tidak di temukan bukti yang menunjukkan jika mamanya melakukan perbuatan keji itu pada Mita, hanya ada bukti kalau mamanya pernah datang untuk menemui Mita.
"Baik tuan," jawab Rey sambil tetap fokus dengan kemudinya.
Arka mengepalkan tangannya menahan amarah, ia tidak bisa bayangkan bagaimana jika hal itu terjadi pada Mita, sepertinya ia tidak akan pernah bisa memaafkan dirinya sendiri, apalagi semua itu terjadi karna dirinya.
Beberapa menit kemudian.
Mobil yang membawa Arka telah sampai di kediaman Dinata. Ia melangkah memasuki rumah besar itu dengan tetap memasang ekspresi dinginnya. Di sana juga sudah ada Clarisa dan kedua orang tuanya, mereka berkumpul untuk membahas soal pertunangan mereka.
Arka terus melangkah mendekat ke arah ruang tamu, suara tawa orang orang yang berkumpul di sana, seketika terhenti saat melihat kedatangan sang tuan muda. Sebisa mungkin Arka menahan emosi yang hampir saja meledak, apalagi saat melihat wajah nyonya Laras. Ia tidak ingin gegabah sebelum mendapatkan bukti bukti yang kuat.
"Akhirnya kamu datang juga ..." ucap nyonya Laras menghampiri Arka dan menggandeng sang putra untuk bergabung bersama mereka.
"Bagaimana kabar tuan muda?" ucap papa Clarisa basa basi.
Sementara Arka duduk di sofa dengan menyilang kan kedua kakinya, bahkan ia hanya menjawab sapaan kedua orang tua Clarisa hanya dengan tersenyum tipis, tanpa mengatakan apa pun, ia tidak peduli jika di anggap tidak sopan.
"Oh iya kak, sebelum ke sini aku tadi membuat kukis kesukaan kakak," ucap Clarisa menyodorkan kukis buatannya ke Arka.
"Sayangnya sekarang aku tidak menyukainya lagi," ucap Arka, tanpa perasaan menepis kue yang disodorkan Clarisa.
"Arka jangan keterlaluan! Walaupun kamu tidak suka setidaknya hargai pemberian Clarisa, dia sudah bersusah payah membuatnya untukmu," ucap nyonya Laras.
"Apa mama yakin dia membuatnya sendiri?" tanya Arka, ucapannya terdengar meremehkan.
__ADS_1
"Maaf ... tapi Clarisa membuat kue itu khusus untuk tuan muda dengan tangannya sendiri, bukan buatan orang lain," ucap ibu Clarisa. Ia sebenarnya tidak suka melihat sikap Arka pada putrinya, tapi ia tidak memiliki cukup keberanian untuk protes.
"Arka!" bentak nyonya Laras.
"Langsung saja ke intinya jangan bertele-tela, waktu ku terlalu berharga untuk sekedar basa basi," ucap Arka tanpa memperdulikan kemarahan nyonya Laras.
Nyonya Laras hanya bisa mengelas napas melihat sikap Arka yang terlihat semakin dingin.
"Baiklah Mama tidak akan bertele tele, mama ingin acara pertunangan mu dengan Clarisa secepatnya di laksanakan, seminggu lagi acara ulang tahun perusahaan jadi mama ingin pertunangan kalian di lakukan di hari itu," ucap nyonya Laras menatap Arka.
"Kalau begitu lakukan saja sesuai keinginan mama, aku ingin ke kamar dulu," ucap Arka lalu beranjak menuju kamarnya yang ada di lantai tiga mansion tersebut.
"Arka tunggu dulu, mama belum selesai bicara!"
Arka tetap tidak menghiraukan panggilan sang mama dan tetap melangkah memasuki lift yang membawanya menuju kamarnya.
Setelah kepergian Arka mereka kembali melanjutkan percakapan yang tadi sempat tertunda.
"Aku minta maaf atas sikap putraku," ucap nyonya Laras merasa tidak enak pada kedua orang tua Clarisa.
"Sepertinya Kak Arka tidak setuju dengan rencana pertunangan ini," ucap Clarisa dengan memasang wajah yang terlihat murung.
"Benar yang dikatakan Clarisa, sepertinya putramu tidak menyukai putriku," ucap mama Clarisa.
"Tidak usah terlalu dipikirkan, Arka seperti itu karna masih belum bisa melupakan wanita di masa lalunya, dan itu tugas kamu untuk meluluhkan hatinya dan yang paling penting Arka menyetujuinya." ucap nyonya Laras menyakinkan Clarisa sambil mengusap kedua tangannya lembut.
__ADS_1
"Tapi–"
"Kamu tidak perlu khawatir, Tante pasti akan melakukan segala cara untuk membantumu agar bisa mendapatakan hati Arka, karna hanya kamu satu satunya wanita yang pantas menjadi nyonya muda keluarga Dinata, dan untuk persiapan acara pertunangan kalian, Tante akan membantumu untuk menyiapkannya." ucap nyonya Laras kembali berucap.
Wajah Clarisa semakin cerah di penuhi harapan mendengar ucapan nyonya Laras. Begitu pun dengan kedua orang tua Clarisa yang tersenyum penuh arti.
-
-
Malam harinya.
Arka sengaja menginap di mansion keluarganya untuk menghindari Mita, ia merasa malu untuk bertemu dengan sang istri. Masih tersimpan jelas dalam ingatannya saat pertama kali ia membawa Mita ke villa, saat itu ia terus memaki Mita dengan kata kata yang merendahkannya bahkan ia hampir saja melenyapkan Mita.
"Aku benar benar pria jahat, aku menyakiti wanita yang aku cintai dengan tangan ini," gumam Arka yang terduduk di lantai dengan menyadarkan kepalanya di sofa sambil menatap kedua tangannya.
Saat ia sedang menyesali semua perbuatan kasarnya pada Mita, Arka tiba tiba mendapatkan panggilan masuk dari salah satu pengawalnya yang ia tugaskan untuk memantau Mita.
"Apa istriku baik baik saja?" tanya Arka langsung begitu ia menjawab panggilan telpon tersebut.
"Tuan Nona–"
Arka langsung mematikan panggilan telpon tersebut ketika mendengar laporan pengawalnya dan berlari keluar kamar dengan ekspresi yang terlihat sangat panik.
"Kamu mau kemana?" tanya nyonya Laras yang melihat Arka terburu buru.
__ADS_1
Arka berlari keluar mansion tanpa memperdulikan pertanyaan mamanya, dan segera melajukan mobilnya meninggalakan kediaman mewah itu.
Bersambung . . . . . .