
Mita yang mendapatkan pujian dari orang orang itu hanya membalas dengan tersenyum tipis. Gaun tersebut memang terlihat sangat pas di tubuhnya, tapi ia merasa semuanya percuma jika harus digunakan untuk menyaksikan pertunangan suaminya dengan wanita lain.
"Tuan Arka pasti akan terpana melihat penampilan anda malam ini Nona," puji salah satu wanita yang telah mengubah penampilannya malam ini.
Lagi lagi Mita hanya membalas dengan senyuman.
"Apa sudah selesai?" tanya bik Tuty pada penata rias.
"Sudah, oh iya ada yang kelupaan," ucap salah satu wanita yang membantu Mita, lalu mengambil paper bag yang tadi ia bawa dan mengeluarkan sepasang sepatu hak tinggi yang warnanya senada dengan gaun yang ia kenakan.
"Aku akan menggunakan itu?" tanya Mita bergidik ngeri melihat sepatu tersebut yang menurutnya terlalu tinggi. Sebenarnya tidak begitu tinggi tapi bagi Mita yang tidak biasa menggunakan high heels, itu cukup tinggi dan akan membuatnya kesusahan saat berjalan.
"Iya Nona dan ini tuan Arka juga yang memilihnya, ia sengaja memilih yang paling pendek, apa Nona tidak menyukainya?"
"Apa aku tidak bisa menggunakan sepatu Kets saja? Aku tidak terbiasa menggunakan high heels," ucap Mita.
"Tapi ini sudah satu paket dengan gaun yang anda kenakan, jika menggunakan sepatu kets itu tidak akan cocok Nona," jawabnya.
"Baiklah kalau begitu aku akan menggunakannya," ucap Mita pasrah lalu mengambil sepatu yang di sodorkan wanita tersebut.
Setelah berlatih beberapa saat akhirnya Mita mulai sedikit terbiasa menggunakan sepatu hak tinggi.
"Kalau begitu sebaiknya nona segera berangkat, tuan sudah mengirimkan sopir untuk menjemput nona," ucap bik Tuti.
Mita pun keluar dari kamarnya dengan di dampingi oleh bik Tuty yang berjalan di sampingnya, dan benar saja di halaman depan seorang sopir telah menunggunya dan langsung membukakannya pintu mobil.
Sepanjang perjalanan Mita berkali kali menarik napas untuk menormalkan degup jantungnya, ia meremas tangannya yang sejak tadi sudah berkeringat.
__ADS_1
"Yang akan bertunangan kan Arka, kenapa aku yang jadi gugup kayak gini?" gumam Mita bicara pada dirinya sendiri.
-
-
Di hotel.
Clarisa tidak bisa berhenti tersenyum menatap pantulan dirinya di cermin dengan balutan gaun putihnya. Akhirnya hari yang di tunggu tunggu oleh Clarisa telah tiba, karna malam ini yang seharusnya menjadi malam pertunangannya dengan Arka akan berubah menjadi hari pernikahan mereka. Ya, karna tanpa sepengetahuan Arka nyonya Laras diam diam mengubah rencananya dan mempercepat pernikahan Arka dan Clarisa, ia takut jika terlalu lama menunggu keputusan Arka keburu Arka akan menemukan Mita dan putranya itu akan kembali bersama mantannya itu, Nyonya Laras sangat tidak rela akan hal itu.
Sementara di dalam kamar hotel tempat Arka menginap, suasana tiba tiba terasa tegang saat ibu dan anak itu saling adu argumen.
Brak!
Arka memukul meja di hadapannya saking emosinya mendengar ucapan mamanya yang mengatakan jika malam ini ia akan menikah dengan Clarisa.
"Karna jika mama mengatakannya padamu terlebih dahulu, kamu pasti akan menolaknya bahkan untuk sekedar bertunangan saja kamu selalu menolaknya dengan beribu alasan, apalagi kalau sampai kamu tau tentang rencana pernikahan ini dan hanya dengan cara ini mama dapat melindungi mu dari rencana busuk mantan kekasih mu itu!" jawab nyonya Laras.
"Aku tidak peduli dengan alasan mama, pokoknya aku tidak akan pernah menikah dengan Clarisa." tegas Arka. "Dan satu lagi Mita tidak pernah memiliki rencana buruk apa pun terhadapku, jadi mama tidak perlu melindungi ku," ucapnya kembali.
"Tidak bisa! Kamu harus tetap menikah dengan Clarisa. Dia adalah yang terbaik untuk menjadi nyonya muda Dinata." Nyonya laras tetap kekeh dengan keinginannya.
"Aku tidak akan menikah dengan wanita yang tidak aku cintai." ucap Arka juga tidak mau kalah dari mamanya. Mungkin jika orang yang ada dihadapannya bukanlah ibu kandungnya mungkin sudah sejak tadi ia sudah menghajarnya habis habisan.
"Cinta akan datang seiring berjalannya waktu, lagi pula menikah karna cinta belum tentu akan berakhir bahagia," ucap nyonya Laras.
"Aku tidak peduli, karena aku tetap pada prinsip ku aku hanya akan menikah dengan wanita yang aku cintai," ucap Arka kembali.
__ADS_1
"Dengan wanita miskin itu!" bentak nyonya Laras yang sudah mulai emosi.
"Iya, apa pun yang terjadi aku hanya akan menikah dengan Mita, aku akan buktikan jika dia tidak sama seperti papa, jadi berhentilah memaksaku untuk menikahi wanita pilihan mama itu, karna dia belum tentu sebaik yang mama pikirkan selama ini," ucap Arka.
Nyonya Laras mengepalkan tangannya mendengar ucapan putranya. "Dan mama tidak akan membiarkan hal itu terjadi, jika mama tidak bisa memintamu dengan cara baik baik, maka mama akan melakukannya dengan cara mama," ucapnya tersenyum misterius.
"Apa yang akan mama lakukan?" tanya Arka mulai terlihat panik, ia tau bagaimana sepak terjang mamanya yang tidak bisa ia anggap remeh. Entah kenapa perasaannya tiba tiba merasa tidak enak.
"Kamu pikir mama belum mengetahui kalau selama ini kamu menaruh orang orang mu di sekitar keluarga Mita untuk menjaganya? Apa anak buah mu sudah memberitahu mu jika tugas itu sudah di ambil alih oleh orang orang mama," ucap nyonya Laras.
"Apa maksud mama?" tanya Arka.
Sebelum nyonya Laras menjawab pertanyaannya, Arka tiba tiba mendapatkan telpon dari seseorang. Ia terlihat mengepalkan tangannya saat mendengar apa yang di katakan oleh orang yang menelponnya. Sementara nyonya Laras tersenyum melihat hal itu, ia sudah tau apa yang dibicarakan orang yang menelpon putranya.
"Sebenarnya apa yang mama inginkan? Mereka tidak ada sangkut pautnya dengan semua ini, kenapa mama harus melakukan hal ini, cepat lepaskan mereka!" bentak Arka setelah panggilan telpon berakhir. Ia sudah tidak bisa menahan emosinya.
"Menikahlah dengan Clarisa." ucap nyonya Laras.
"Apa ini rencana mama?" tanya Arka menatap sinis mamanya.
"Sekarang pilihan ada ditangan mu, jika kamu ingin keluarga mantan kekasih mu itu baik baik saja maka menikahlah dengan Clarisa." ucap nyonya Laras yang memberikan pilihan untuk Arka. Ia tidak peduli dengan perasaan putranya, luka di masa lalu benar benar telah merubahnya.
Arka meremas rambutnya prustasi sebelum mengambil keputusan. Ia benar benar tidak menduga jika mamanya akan melakukan cara licik seperti ini. Mamanya benar benar telah berubah, sudah tidak ada lagi rasa simpati yang dimilikinya, sosok yang dulu penuh kasih sayang sudah tidak ada lagi di mata Arka.
Arka menarik napas kasar. "Baiklah aku akan menikah dengannya," ucap Arka pada akhirnya.
Bersambung . . . . . .
__ADS_1