
Mobil yang di kendarai Rey telah sampai di depan sebuah rumah mewah dengan gerbang yang menjulang tinggi. Arka menatap jam di tangannya dan sekarang sudah menunjukkan pukul 12 malam. Ya Jadi setelah keluar dari kediaman Dinata Arka meminta Rey untuk mencari tau alamat mansion Juna, setelah beberapa jam menunggu akhirnya ia mendapatkan informasi tempat di mana istrinya berada saat ini. Dengan penuh semangat Arka langsung meminta Rey untuk mengantarnya.
"Apa tuan yakin akan masuk ke sana?" tanya Rey sebelum Arka turun dari mobil.
"Hem, aku harus segera menemui istriku aku tidak ingin mengulur waktu, jangan sampai pria itu kembali membawa kabur istriku," jawab Arka tanpa mengalihkan pandangannya dari rumah tersebut.
"Tapi ini sudah larut malam tuan dan pastinya orang orang di rumah itu sudah pada tidur," ucap sekretaris Rey kembali.
"Ini memang waktu yang tepat untuk menyelinap Rey," ucap Arka dengan senyum penuh arti.
Rey yang mulai paham dengan tujuan Arka hanya bisa geleng geleng kepala, orang yang sedang di mabuk cinta benar benar mengerikan, mereka tidak peduli dengan apa pun asalkan bisa bertemu dengan orang yang dicintai bahkan sampai melakukan hal yang sangat konyol. Itulah yang ada dipikiran Rey saat ini yang melihat tingkah tuannya yang setiap harinya selalu memasang wajah dingin.
"Tapi tuan bagaimana jika anda ketahuan? Bisa bisa tuan akan di sangka maling karna menerobos masuk ke rumah orang malam malam begini," ucap Arka mengingatkan tuannya yang mulai nekad.
"Kamu tenang aja Rey, itu tidak akan terjadi, terimakasih sudah mengantarku," ucap Arka sebelum turun dari mobil. Ia sudah tidak peduli dengan apa pun, ia akan menerima apa pun konsekuensinya nanti, karna tujuannya saat ini hanya satu yaitu bertemu dengan Mita dan menjelaskan kesalahpahaman yang terjadi, ia sudah tidak bisa menunggu terlalu lama lagi untuk bertemu dengan istrinya, berpisah selama beberapa hari ini sudah sangat menyiksanya, ternyata rindu itu benar benar berat.
"Itu sudah menjadi tugas saya tuan, anda tidak perlu berterimakasih." ucap Rey.
"Malam ini adalah tugas terakhirmu karna mulai besok kamu sudah tidak lagi bekerja denganku Rey, karna sekarang aku bukan lagi CEO di perusahaan Dinata grup dan berhenti memanggilku tuan karna aku bukan bos mu lagi," ucap Arka.
Terdengar helaan napas dari Rey saat mendengar ucapan yang di lontarkan Arka. "Saya tidak peduli akan hal itu tuan, karna sampai kapan pun anda tetap akan menjadi tuan saya, karna berkat kebaikan anda saya bisa menjadi seperti saat ini, jadi jika tuan membutuhkan bantuan jangan sungkan untuk menghubungi saya," ucap sekretaris Rey.
"Hm, baiklah jika itu yang kamu inginkan, padahal aku sudah berbaik hati untuk membebaskan mu, kalau begitu kamu harus bersiap untuk mengikuti perintah tak terduga dariku dan jangan sampai aku mendengar keluhan mu," ucap Arka sambil tersenyum samar lalu turun dari mobil.
__ADS_1
Setelah kepergian sekretaris Rey Arka pun mulai memanjat tembok tinggi di hadapannya dan mulai menyelinap dengan penuh waspada jangan sampai ketahuan, dengan teliti Arka mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat itu untuk mencari letak kamar Mita sesuai dengan informasi yang diberikan Rey.
Arka tersenyum lebar saat melihat salah satu kamar yang lampunya masih menyala dan ia yakin itu pasti kamar Mita, karna yang ia tau istrinya itu tidak bisa tidur dengan lampu mati sejak mengalami trauma akibat dari ulah mamanya, mengingat hal itu membuat senyum Arka menghilang, ia benar benar merasa bersalah karna telah gagal menjaga wanita yang ia cintai.
"Maaf karna aku kamu harus hidup dalam ketakutan, aku harus mencari cara untuk naik ke kamar itu," gumam Arka sambil menatap balkon kamar yang ia yakini adalah kamar Mita.
Seperti sebuah kebetulan tidak jauh dari kamar itu terdapat pohon besar yang menjulang tepat ke arah balkon, tanpa pikir panjang Arka pun segera memanjat pohon tersebut dengan penuh semangat.
Bruk!
"Akhirnya berhasil," gumam Arka setelah berhasil melompat ke balkon kamar tersebut, lalu ia pun dengan hati hati mencoba membuka jendela kamar tersebut dan lagi lagi semesta seakan akan sedang berpihak padanya, seperti biasa Mita selalu lupa mengunci jendela kamarnya.
"Untung yang datang aku bagiamana jika orang lain bisa bahaya istri gue," gumam Arka lalu dengan perlahan ia membuka jendela tersebut dan masuk ke dalam kamar. Ia tersenyum puas saat melihat siapa yang tengah tertidur pulas di atas ranjang.
"Aku benar benar menemukan mu, akhirnya aku dapat melihat wajah cantik mu sayang," gumam Arka sambil melangkah mendekati ranjang tempat sang istri. Arka duduk di samping Mita dan mengusap lembut kepala istrinya yang terlihat begitu tenang dalam tidurnya.
Buk!
"Dasar maling sialan beraninya kamu masuk ke kamar putriku!" ucap mama Mita kembali memukul Arka dengan gayung yang ia bawa. Ia yang baru saja keluar dari kamar mandi sangat terkejut saat melihat seorang pria tengah duduk di ranjang putrinya.
"Astagfirullah! Maaf anda siapa?" tanya Arka yang tidak kalah kaget. Ia tidak mengenali mertuanya karna seluruh wajahnya berwarna putih karna sebelum tidur ia menggunakan masker dan lupa membersihkannya.
Buk!
__ADS_1
Lagi lagi gayung di tangan mama Mita mendarat mengenai kepala Arka.
"Dasar maling kurang ajar, kamu sudah salah memilih target malam ini kamu akan aku jadikan maling geprek!" ucap mama Mita sambil terus memukuli tubuh Arka.
"Maaf sepertinya anda salah paham, saya bukan maling tapi suaminya!" Arka benar benar dibuat kewalahan menghindari serangan gayung dari mama Mita.
"Apa kamu bilang istri? Putriku tidak mungkin menikahi maling seperti mu," ucap mama Mita kembali memukul Arka.
Mita pun mulai terusik dengan keributan yang terjadi di kamarnya dan rasa kantuknya lenyap begitu saja saat melihat pemandangan di kamarnya dan ia lebih terkejut lagi saat melihat siapa orang yang tengah di pukul oleh mamanya.
Mita mengucek matanya untuk memastikan apa yang dilihatnya tidak salah.
"Sayang tolongin aku," pinta Arka dengan wajah memelas saat menyadari jika istrinya terbangun.
Mita yang mendengar Arka meminta tolong tersadar dari keterkejutannya dan segera mendekat untuk melerai mama dan suaminya.
"Ma lepasin dia bukan maling dia suami aku," beritahu Mita sambil menghentikan tangan mamanya yang hendak memukul Arka kembali.
"Apa!" ucap mama Mita, sementara Arka segera beranjak dari hadapan mama Mita dan berdiri di belakang Mita.
"Dia Arka suami Mita," ungkap Mita kembali.
"Jadi dia pria brengsek yang menyekap mu selama ini dan menikahi mu tanpa meminta izin pada mama?" ucap mama Mita menatap tajam ke arah Arka yang bersembunyi di belakang putrinya sambil memutar-mutar gayung yang masih ia pegang.
__ADS_1
Arka yang baru saja mengetahui jika wanita yang baru saja memukulnya secara brutal adalah ibu mertuanya akhirnya memberanikan diri untuk mendekat dan bersimpuh di hadapan mama Mita, ia pasrah jika harus merasakan kembali pukulan gayung love itu.
Bersambung . . . . . .