
Jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam, tapi entah kenapa Mita masih belum bisa memejamkan matanya. Ia terus membolak-balikkan tubuhnya mencari posisi yang nyaman agar ia bisa segera terlelap, tapi tetap saja tidak berhasil, matanya masih betah untuk melek. Saat ia memejamkan matanya ia malah membayangkan jika saat ini Arka memeluknya.
"Astaga apa yang baru saja aku pikirkan?" gumam Mita sambil menutup wajahnya dengan bantal. Ia tersenyum geli dengan pikiran konyolnya itu, bisa bisanya ia membayangkan tertidur dalam pelukan Arka.
Mita akui selama dua malam ini ia tidur bersama Arka membuatnya sangat nyaman, bahkan Arka mampu membuat dirinya merasakan tidur nyenyak tanpa mengalami mimpi buruk yang setiap malam selalu menghantui tidurnya.
"Kenapa dia belum kembali? Bukannya dia bilang akan tidur di sini?" ujar Mita. Tanpa di sadari olehnya kalau saat ini ia sedang menunggu kedatangan Arka ke kamarnya.
"Aku benar benar sudah gila ..." gumam Mita sambil menendang selimutnya lalu ia pun turun dari tempat tidur dan keluar dari kamarnya menuju ruang kerja Arka.
Kini Mita sudah berada di depan pintu ruang kerja Arka, dengan penuh keyakinan Mita mengetuk pintu tersebut, ia sudah tidak peduli dengan apa yang akan dipikirkan Arka tentang dirinya, karna yang ia butuhkan saat ini adalah tidur dalam dekapan Arka. Mita yang tidak mendapatkan respon dari dalam sana kembali mengetuk pintu tersebut, tapi tetap saja tidak ada tanda tanda jika pintu akan dibuka.
"Apa dia tertidur? Atau dia sudah tidak ada di sana?" gumam Mita masih berdiri di depan ruang kerja Arka. "Ah sudahlah, sebaiknya aku periksa saja," ucapnya kembali dan tanpa ragu membuka pintu ruangan itu dan benar saja ia mendapati Arka tertidur di sofa ruangan itu dengan posisi meringkuk.
Untuk pertama kalinya Mita masuk ke tempat ini, ia melangkahkan kakinya mendekat kearah sofa tempat Arka sambil melihat lihat ruang kerja suaminya yang terlihat sangat rapi dengan kesan maskulin itu.
Mita duduk di hadapan Arka, lalu menyibak rambut lurus Arka yang menutupi keningnya. Ia ingin melihat wajah Arka dengan jelas, ia terus memandangi wajah tampan Arka yang terlihat lelah. Untung saja Arka tertidur sangat lelap sehingga ia bisa dengan leluasa memandangi wajah sang suami yang baru ia sadari ternyata sangat sempurna.
Perlahan tangan Mita terangkat menyentuh rambut Arka dan saat tangannya mulai menyentuh kening sang suami, ia dibuat terkejut karna ia merasakan suhu tubuhnya sangat panas.
"Astaga kenapa tubuhnya panas sekali!" ujar Mita terlihat panik.
Ia semakin dibuat terkejut saat melihat telapak tangan Arka yang terluka. Ia langsung saja keluar untuk mengambil air dan handuk kecil untuk mengompres Arka serta kotak obat.
"Ada yang bisa saya bantu Non?" tanya pelayan yang melihat Mita di dapur.
__ADS_1
"Tolong bantu aku membawa ini ke ruang kerja tuan," pinta Mita sambil menyodorkan baskom berisi air pada pelayan tersebut.
Masih dengan ekspresi paniknya Mita bergegas masuk ke ruang kerja Arka yang diikuti oleh pelayan yang membawakannya air.
"Tolong hubungi dokter Bayu, katakan padanya untuk datang ke sini secepatnya."
"Baik Non," jawab pelayan tersebut lalu keluar untuk menghubungi dokter Bayu.
Mita memperbaiki posisi Arka agar lebih nyaman, lalu membuka kancing kemeja Arka dan mulai mengompresnya. Tidak lupa ia juga mengobati luka di tangan Arka dengan penuh hati hati.
"Kenapa dia ceroboh sekali sampai membiarkan dirinya terluka dan dia malah membiarkannya begitu saja bagaimana jika luka infeksi," gumam Mita sambil memasangkan perban pada luka Arka.
Tidak lama setelah itu dokter Bayu telah tiba di villa. "Ada apa lagi sih Ka ... kenapa suka sekali menggangu tidur orang?" gerutu dokter Bayu yang baru saja tiba dengan menggunakan piyama. Ia masih belum menyadari jika orang yang memintanya datang adalah sang nyonya muda.
"Astaga! Aku pikir kamu yang sakit ternyata pria dingin ini," ucap dokter Bayu saat melihat siapa yang berbaring di sofa dengan kain yang menempel di kening dan dadanya.
"Tolong periksa suamiku, tangannya juga terluka dan sepertinya lukanya cukup dalam." jelas Mita.
Dokter Bayu mulia memeriksa kondisi Arka.
"Bagaimana kondisinya?" tanya Mita khawatir
"Kamu tidak usah terlalu khawatir, suami mu tidak akan mati hanya karna luka kecil seperti ini," ucap dokter Bayu dengan santainya, yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Mita.
"Ternyata suami istri sama saja suka sekali memberikan tatapan yang mengerikan," batin dokter Bayu yang bergidik ngeri melihat tatapan Mita.
__ADS_1
"Apa kamu yakin dia baik baik saja?" tanya Mita memastikan kalau Arka benar baik baik saja.
"Iya ... aku ini seorang dokter yang berbakat, tidak mungkin aku membohongimu nyonya muda Dinata ... Dia pasti akan baik baik saja, ucap dokter Bayu. "Lagi pula obat yang paling ampuh untuknya sudah ada di dekatnya, jadi dia tidak membutuhkan obat yang lain, cukup peluk dia sepanjang malam maka besok pagi ia akan kembali sehat. Kalau begitu aku pergi dulu, aku ingin melanjutkan mimpi indah ku yang sempat tertunda," ucap dokter Bayu sebelum meninggalkan vila mewah itu.
Sudah satu jam berlalu Mita masih setia menjaga sang suami, ia berulang kali mengecek suhu tubuh Arka dan masih terasa panas walaupun tidak sepanas sebelumnya.
"Kenapa panasnya gak turun turun, apa obat yang diberikan dokter Bayu kurang ampuh? Apa aku harus melakukan seperti yang dikatakan dokter Bayu tadi?" gumam Mita mengingat saran Bayu yang menyuruhnya untuk melakukan teknik skin to skin jika panas Arka masih belum turun.
Mita yang khawatir dengan kondisi Arka akhirnya mau tidak mau melakukan yang di sarankan dokter Bayu. Ia membuka baju Arka dan juga bajunya hanya menyisakan kain yang menutupi dadanya, ia pun naik ke sofa besar itu lalu ikut berbaring di samping Arka dan memeluknya.
Deg! Deg! Deg! ...
Mita merasakan jantungnya berdebar kencang saat kulitnya bersentuhan dengan kulit Arka.
"Tidak apa apa Mita, kamu tidak perlu gugup lagi pula dia itu suami kamu, jadi kamu tidak perlu takut," batin Mita.
Beberapa saat kemudian Mita ikut terlelap sambil memeluk tubuh Arka. Bersamaan dengan itu Arka terbangun dari tidurnya dan senyumnya mengembang saat mendapati wanita yang ia cintai tertidur di sampingnya sambil memeluknya, apalagi saat melihat penampilan Mita saat ini membuat Arka menelan ludah.
Arka melihat tangannya yang sudah di perban. "Apa dia merawat ku semalaman?" gumam Arka. Ia ingat semalam ia memang merasakan kepalanya pusing dan ia pun menghentikan pekerjaannya dan beristirahat sejenak tapi ia malah tertidur di ruang kerjanya.
"Ini yang dinamakan musibah membawa berkah," gumam Arka sambil mengusap lembut pipi Mita dan perlahan ia mengangkat kepalanya mencium pipi sang istri yang terlihat sangat nyaman dalam dekapannya.
Arka semakin menempelkan tubuhnya memeluk erat tubuh Mita, ia tidak ingin melewatkan kesempatan langka ini. "Kenapa gak dari kemarin sih sakitnya, kan jadi enak kalau kayak gini bisa diperhatiin kamu," gumam Arka sambil memperbaiki selimut yang melorot menutupi tubuh mereka.
Bersambung . . . . . .
__ADS_1