
Arka melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh, ia tidak peduli dengan kemarahan pengendara lain yang memaki dan meneriakinya, karna ia beberapa kali menyerobot jalur mereka bagaikan seorang pembalap.
Kurang dari setengah jam Arka sudah sampai di villa. Dengan terburu buru ia langsung saja keluar dari mobilnya.
Arka berlari masuk ke dalam villa. Dengan napas yang tersengal-sengal, dan jangan lupakan wajah paniknya yang sudah seperti suami suami yang mendapatkan kabar jika istrinya akan segera melahirkan.
"Sayang," panggil Arka, seraya mendekat ke ruang tamu. Di sana ia melihat Mita duduk di samping salah satu pelayan yang sedang membantunya membalut luka pada jari telunjuknya. Ya jadi Arka mendapatkan laporan dari anak buahnya kalau Mita terluka saat ia lagi memasak makan malam yang membuat jari telunjuknya tergores dan mengeluarkan banyak darah. Hal itulah yang membuat Arka sampai sepanik itu.
"Arka ..." gumam Mita terlihat bingung melihat kedatangan Arka. "Loh kok kamu bisa di sini? Bukannya kamu bilang bakalan lembur?" tanya Mita.
"Kamu baik baik saja kan? Mana yang sakit?" bukannya menjawab pertanyaan Mita, Arka malah balik bertanya sambil berjongkok di hadapannya dan memeriksa tubuhnya.
"Ada apa dengannya? Kenapa dia tiba tiba bertingkah seperti ini?" batin Mita yang melihat sikap Arka.
"Kenapa hanya diam saja?" tanya Arka pada Mita yang menatapnya dengan ekspresi bingung. "Kenapa kalian hanya diam saja! Cepat panggilkan dokter Bayu untuk memeriksa istriku!"
"Aku tidak apa apa, kamu tidak perlu sampai memanggil dokter, lagi pula ini tidak serius hanya luka kecil," ucap Mita menghentikan Arka.
"Luka kecil kamu bilang?" Arka menatap Mita tidak suka.
Mita menganggukkan kepalanya. "Iya ini hanya tergores sedikit, bibi juga sudah mengobatinya," jawab Mita, karna memang lukanya tidak terlalu dalam.
"Jari jarimu terkena pisau sampai berdarah kamu bilang luka kecil? Apa tubuhmu harus dipenuhi darah dulu baru kamu bilang serius?!" tanya Arka dengan nada membentak.
"Kenapa kamu marah?"
Arka menghela napas. "Aku tidak marah, tapi aku mengkhawatirkan mu, kamu memang tidak berubah sejak dulu selalu tidak peka," ucap Arka sambil melirik para pelayan yang ada di sana untuk pergi.
"Kenapa dia tiba tiba membahas masa lalu," gumam Mita.
Arka duduk di samping Mita dan meraih tangan kiri sang istri yang berbalut perban. "Apa ini sakit?" tanya Arka sambil menatap jari Mita yang terluka dengan wajah sendu.
"Tentu saja sakit, tapi tidak separah yang kamu bayangkan," jawab Mita yang menyadari kekhawatiran Arka.
"Aku menggaji mereka untuk melakukan tugasnya dengan baik, tapi mereka malah membiarkanmu memasak sampai terluka seperti ini, sepertinya aku harus memecat pelayan di villa ini," ucap Arka.
"Ini tidak ada hubungannya dengan mereka, aku terluka karna kecerobohan ku sendiri, jadi jangan sampai kamu memecat mereka," ucap Mita.
__ADS_1
"Mereka harus di hukum agar tidak mengulanginya lagi," ucap Arka.
"Ini semua salah aku, mereka sudah melakukan tugasnya dengan sangat baik, mereka juga sudah melarang ku untuk masak, tapi aku yang keras kepala dan terus memaksa. Aku mohon jangan pecat mereka, aku janji tidak akan mengulanginya lagi ... akulah yang seharusnya di hukum bukan mereka," mohon Mita. Ia tidak ingin para pelayan itu di pecat hanya karna kecerobohannya sendiri.
"Baiklah kali ini aku akan memaafkan mereka," ucap Arka.
"Kamu serius? Kamu gak bohong kan?"
"Hem," jawab Arka. "Tapi ingat ini terakhir kalinya aku melihatmu terluka, sekecil apa pun itu aku tidak mengizinkannya, karna aku tidak akan segan segan melenyapkan apa pun yang membuatmu sampai terluka."
"Iya," ucap Mita pasrah.
Arka bangun dari duduknya dan berpindah kesamping Mita. "Maaf ..." ucap Arka yang tiba tiba memeluknya sambil meminta maaf.
"Kenapa tiba tiba minta maaf?" tanya Mita.
Arka tidak menjawab pertanyaan Mita, ia malah semakin mengeratkan pelukannya pada sang istri dan berkali kali mencium kepala istrinya itu. Sementara Mita yang mendapatkan perlakuan yang tidak biasanya dari Arka semakin terlihat bingung apalagi dengan nada bicara Arka yang terdengar sangat lembut dan penuh penyesalan.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Kamu tidak biasanya bertingkah seperti ini?" tanya Mita sambil melepaskan pelukan Arka dari tubuhnya.
"Apa ini beneran tidak apa apa?" Arka balik bertanya sambil memegang jari Mita yang terluka.
"Panggil aku sayang."
Ternyata aku salah kalau mengira dia berubah, dia masih tetap menyebalkan seperti sebelumnya.
"Kenapa diam, cepat panggil aku sayang," ucap Arka kembali.
"Aku serius," Mita menatap tajam Arka yang terus mengalihkan pembicaraan.
"Aku hanya khawatir dan hanya ingin memelukmu saja," jawab Arka kembali menarik tubuh Mita dan menelusupkan wajahnya pada perut sang istri sambil memeluk pinggangnya.
"Jangan berbohong," ucap Mita.
"Maaf kalau selama ini aku terlalu banyak menyakitimu, jangan tinggalkan aku lagi ... aku berjanji akan melakukan apa pun untuk melindungi mu," ucap Arka semakin menelusupkan wajahnya mencium aroma tubuh Mita.
kruk ... kruk ... kruk ...
__ADS_1
Arka mendongakkan wajahnya menatap Mita. "Kamu belum makan?" tanya Arka yang mendengar suara dari perut Mita.
Mita hanya menjawab dengan anggukan kepala, sebenarnya ia sangat malu bisa bisanya cacing di perutnya merengek di saat yang tidak tepat.
"Astaga ... jadi kamu belum makan sampai jam segini, sepertinya aku harus menarik kembali ucapan ku untuk tidak memecat mereka," ucap Arka terlihat marah.
"Ini bukan salah mereka."
"Kamu selalu saja membela mereka, ayo kamu harus segera makan," ucap Arka lalu mengangkat tubuh Mita ke dalam gendongannya dan membawanya ke meja makan.
"Aku bisa jalan sendiri," protes Mita.
"Jangan banyak protes, atau aku benar benar akan memecat mereka semua," ancam Arka yang langsung membuat Mita terdiam.
Mita hanya bisa pasrah menerima perlakuan Arka yang menurutnya sangat berlebihan. Bagaimana tidak, Arka tidak membiarkannya bergerak sedikit pun, bahkan ia sampai harus di suapi segala.
"Aku bisa jalan sendiri, kenapa harus di gendong sih? Yang terluka tanganku bukan kakiku dan ini hanya luka kecil Ar ..." ucap Mita saat Arka kembali menggendongnya menuju kamar.
"Sepertinya aku harus meminta Rey untuk mengganti para pekerja di villa ini."
Mita menghela napas panjang, ia tidak lagi protes, ia tahu Arka sedang mengancamnya.
"Kenapa membawaku ke kamar mandi?" tanya Mita.
"Tentu saja kamu harus bersih bersih sebelum tidur, tunggu aku di sini aku akan mengambilkan mu baju ganti," ucap Arka sambil menurunkan Mita di depan wastafel.
"Bukankah ini terlalu berlebihan?"
"Ck, jangan banyak protes atau aku akan me–"
"Baiklah tuan muda ... aku tidak akan protes lagi, berhenti mengancamku," potong Mita yang sudah tau akhir dari ucapan suaminya itu.
"Bagus," ucap Arka mengusap kepala Mita sambil tersenyum puas.
Arka benar benar menunggunya di kamar mandi dan berdiri di belakangnya. Mita yang sedang menggosok gigi menatap Arka lewat cermin dengan tatapan penuh kekesalan, entah kenapa pria itu tiba tiba bertingkah aneh dan sangat menyebalkan.
"Aku harus bisa mengontrol diri jangan sampai aku memukul kepalanya," batin Mita yang berusaha menahan kekesalannya pada suami menyebalkannya itu.
__ADS_1
Bersambung . . . . . .