
Sementara itu di sebuah kamar yang di dominasi dengan warna ungu muda dan kombinasi warna putih, tampak seorang wanita berdiri di balkon kamar sambil menatap langit malam, Mita berulang kali terdengar mengehela napas panjang.
Mita baru menyadari kalau warna cat serta dekorasi kamar tersebut sesuai dengan kamar impiannya selama ini, terutama balkon kamar yang mengarah ke taman belakang rumah yang terlihat sangat indah dengan banyaknya bunga bunga dan tanaman lainnya, tempat ini jauh dari polusi serta kebisingan. Ia dapat menikmati semua keindahan itu dari kamarnya, tapi tetap saja Mita merasa kesepian.
"Apa yang harus aku lakukan? ..." gumam Mita sambil mendongakkan kepalanya.
Seharusnya sekarang ia sedang melepas rindu dengan keluarga dan juga sahabatnya, tapi ia malah terjebak dalam pernikahan dengan sang mantan dan terkurung di tempat ini. Bahkan setelah acara pernikahan mereka, Arka langsung meninggalkannya dan sampai sekarang masih belum kembali.
Mita memejamkan matanya dan kembali menghela napas panjang. Apakah jika saat itu Mita tidak meninggalkan Arka, ia tidak akan mengalami takdir yang sangat rumit ini? Apakah ia dan Arka akan hidup bahagia seandainya ia dan Arka memiliki status sosial yang sama? Atau, jika waktu itu ia berkata jujur pada Arka apakah semuanya akan baik baik saja?
Masih terekam jelas dalam ingatannya saat seorang wanita dengan penampilan glamornya tiba tiba datang menemuinya dan memintanya untuk meninggalkan Arka, wanita itu mengatakan jika ia tidak pantas untuk pria seperti Arka dan di sanalah ia mengetahui identitas sang kekasih yang sebenarnya. Tanpa ia sadari cairan bening telah membasahi pipinya.
"Ayolah Mita jangan menjadi cengeng, kamu itu gadis kuat," ucap Mita sambil menghapus air matanya. "Tidak ada gunanya menyesali apa yang sudah terjadi, lebih baik melakukan sesuatu untuk menghilangkan kebosanan ini," gumam Mita lalu keluar dari kamar.
Mita yang tidak tau harus melakukan apa akhirnya melangkahkan kakinya menuju dapur dan di sana sudah ada dua orang pelayan sedang menyiapkan makanan untuk makan malam.
"Nona," ucap pelayang tersebut yang terkejut melihat kedatangan Mita ke dapur.
__ADS_1
"Apa Nona butuh sesuatu?" tanya salah satu pelayan.
"Tidak ada, aku hanya ingin membantu kalian menyiapkan makan malam," jawab Mita.
"Tidak usah Non ini tugas kami sebaiknya nona duduk saja," tolak pelayan tersebut halus.
"Gak papa bik ... kalian tenang saja aku tidak akan mengganggu pekerjaan kalian, aku hanya ingin memasak makanan kesukaan suamiku," ucap Mita.
"Bukan begitu, hanya saja kami takut tuan marah jika membiarkan Nona mengerjakan pekerjaan yang seharusnya dikerjakan pelayan," ucap pelayan tersebut, mereka khawatir bukan karna Mita akan menggangu kegiatan memasaknya namun mereka takut dengan kemarahan Arka, apalagi kalau sampai istri tuannya itu terluka saat sedang memasak.
Mau tidak mau pelayan tersebut membiarkan saja Mita melakukan apa yang diinginkannya. Mita pun mulai menyiapkan bahan bahan untuk membuat tiga jenis menu kesukaan Arka, yaitu sayur asem, bergedel jagung dan sambal tempe kecap, ya Mita hanya akan memasak menu sederhana itu untuk Arka, selain karna dulu makanan makanan itu merupakan kesukaan sang suami, juga karna hanya itu makanan yang bisa Mita masak dan itu pun ia harus belajar sampai berbulan bulan untuk membuat makanan itu dan ia belum sempat membuatkannya untuk Arka karna hubungan mereka yang harus berakhir di tengah jalan.
Setelah beberapa menit akhirnya masakan Mita sudah siap untuk di sajikan.
"Akhirnya selesai juga," ucap Mita menatap puas hasil masakannya yang terlihat menggugah selara.
Pelayan yang melihat menu yang dibuat Mita dibuat melongo, mereka tidak yakin Arka akan menyukai makanan rumahan yang sangat sederhana itu.
__ADS_1
"Maaf Nona apa anda yakin tuan akan menyukai makanan makanan itu?" tanya salah satu pelayan dengan ekspresi yang terlihat cemas, karna yang mereka tau tuannya itu sangat pemilih dalam hal makanan, dia tidak akan segan segan melempar makanan yang mereka buat jika tidak sesuai dengan seleranya.
"Tentu saja dia akan menyukainya, memangnya kenapa?" Mita balik bertanya.
"Tuan sangat pemilih soal makanan, saya takut tuan akan marah kalau makanan buatan Nona Mita tidak sesuai dengan selera tuan," jelas pelayan tersebut.
Mita terdiam mendengar penjelasan pelayan itu. Rasa bersalah kembali ia rasakan."Kamu ternyata benar benar sudah berubah Ar, maaf."
Mita pun meminta pelayan untuk memindahkan makanan makanan itu ke meja makan.
"Kalian makanlah terlebih dahulu, aku akan menunggu suamiku," ucap Mita pada kedua pelayan yang masih berdiri di belakanganya.
Sementara Mita tetap setia menunggu kepulangan sang suami, namun sudah berjam jam menunggu tapi tidak ada tanda tanda kalau Arka akan pulang, bahkan jam makan malam sudah lewat dan Arka tak kunjung datang. Mita pun yang kelelahan karna sejak semalam ia kurang tidur akhirnya terlelap dengan posisi duduk dengan menelungkup wajahnya di meja.
"Ternyata kau benar benar menungguku," gumam seorang pria yang baru saja tiba di rumah.
Bersambung . . . . .
__ADS_1