
"Aku akan membawa mu pergi dari sini," ucap seorang pria sambil menatap wajah Mita yang sudah tidak sadarkan diri.
Pria itu langsung saja menggendong Mita masuk ke dalam mobilnya, ia juga memerintahkan beberapa anak buahnya untuk menghalangi orang orang yang mengejar Mita, dan segera melajukan mobilnya meninggalkan hotel milik Dinata grup.
Kurang dari setengah jam mobil yang membawa mereka telah sampai di sebuah mansion mewah, seorang pria paruh baya yang di percaya menjaga tempat itu sedikit terkejut melihat kedatangan Juna yang tiba tiba setelah empat tahun lalu majikannya itu keluar dari kediamannya, dan sekarang ia kembali dengan membawa seorang wanita.
"Selamat datang Tu–tuan, apa saya tidak salah lihat? Apa ini benar benar anda?" ucap pria paruh baya tersebut masih dengan keterkejutannya.
"Iya, memangnya siapa lagi jika bukan aku? Hantu?" ucap Juna menimpali ucapan pria tersebut sambil tersenyum.
"Bukan begitu tuan, saya hanya tidak menyangka kalau tuan akan kembali ke mansion malam ini."
"Pak Sam tidak salah lihat, karna mulai malam ini aku akan kembali tinggal di sini, dan tolong bersihkan kamar yang letaknya di samping kamarku " ucap Juna memerintahkan pria paruh baya yang bernama pak Sam itu untuk menyiapkan kamar untuk Mita. "Oh iya satu lagi tolong panggilkan dokter untuk segera datang ke sini, secepatnya," perintahnya kembali dengan menekankan kata secepatnya.
"Baik tuan, tapi kalau saya boleh tau siapakah wanita yang anda bawa? Apa dia kekasih Tuan?" tanya pak Sam yang sejak tadi sudah sangat penasaran dengan wanita yang berada dalam gendongan tuannya.
"Dia sepupuku," jawab Juna singkat lalu melangkahkan kakinya meninggalkan pak Sam menuju lift yang ia gunakan untuk ke kamarnya yang ada di lantai tiga.
Beberapa menit kemudian.
Kini Mita sudah berada di kamar yang telah di siapkan, sepupunya itu terlihat sangat lelap dalam tidurnya, dokter sengaja menambahkan obat tidur untuk Mita agar ia bisa istirahat dengan tenang, tidak lupa Juna juga meminta pelayan untuk membantu menggantikan pakaian Mita agar lebih nyaman.
Ia terus menatap Mita yang saat ini terbaring di tempat tidur dengan selang infus yang menancap di tangan kanannya. Ya jadi pria yang menemukan Mita adalah Arjuna, beruntung ia datang tepat waktu, dan memanfaatkan situasi yang sedang menimpa Mita hingga ia berhasil membawanya pergi dari sisi Arka seperti rencananya.
Juna mengepalkan tangannya saat mendengar penjelasan dokter tentang kondisi Mita, untung saja tidak ada yang serius sepupunya itu hanya kelelahan, dan stres apalagi dengan kondisi perutnya yang kosong hingga membuat Mita pingsan, hal itu membuatnya semakin membenci Arka, ia berpikir Arka tidak becus menjadi seorang suami. Bagaimana bisa ia membiarkan istrinya tidak makan seharian sementara dirinya tengah asik merencanakan acara pertunangan dengan wanita lain. Apalagi saat menyadari jika sepupunya itu terlihat lebih kurus dari sebelumnya padahal baru satu bulan mereka tidak bertemu. Keputusannya membawa pergi Mita dari suaminya memang sudah tepat. Itulah yang ada di pikiran Juna saat ini.
"Sekarang kamu tidak perlu takut lagi dengan pria itu, karna sekarang aku sudah memiliki kekuatan untuk melindungi mu dan keluargamu, aku tidak akan membiarkan orang orang dari keluarga Dinata kembali menyakiti mu," gumam Juna tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah lelap Mita.
-
__ADS_1
-
Prang!
Arka melempar apa pun yang ada di dekatnya, ia benar benar murka saat mendengar laporan dari anak buahnya jika Mita di bawa kabur seseorang, apalagi saat mendengar jika Mita sempat bertarung dengan tiga orang pengawalnya.
Bug! Bug! Bug!
Arka memukul ketiga orang itu satu persatu. "Beraninya kau menyerang istriku! Aku memerintahkan kalian untuk melindunginya bukan mengajaknya berduel! Awas saja kalau sampai istriku terluka aku tidak akan segan segan menghabisi kalian!" ancam Arka mencengkram kuat kerah kemeja salah satu pria yang tadi menyerang istrinya, padahal ketiga orang itulah yang babak belur karna pukulan yang diberikan istrinya.
"Cepat cari istriku! Jangan pernah kembali sebelum kalian menemukannya!" perintah Arka pada anak buahnya.
"Sial, rencanaku untuk memberikan kejutan untuk Mita semuanya gagal, andai saja aku lebih cepat menyingkirkan wanita licik itu hal ini tidak akan terjadi, seharusnya setelah semuanya terbongkar malam ini akan menjadi awal yang baik untuk hubunganku dengan Mita," gumam Arka mengingat kekacauan beberapa waktu lalu.
*****
Satu jam sebelum Mita menghilang.
Arka hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban dan menjabat tangan pak penghulu, membuat senyum Clara semakin lebar, ia benar benar sudah tidak sabar untuk menjadi nyonya muda Dinata.
"Kalau begitu kita mulai ya," ucap pak penghulu yang hendak memulai ijab Kabul.
"Stop! Saya keberatan dengan pernikahan ini!"
Tiba tiba saja seorang pria dewasa atau lebih tepatnya om om tiba tiba saja berdiri di pintu masuk dan dengan santainya melangkah di karpet merah yang terbentang di ruangan tersebut.
Semua tamu undangan menatap kearah pria asing yang baru saja tiba di tempat acara dengan tatapan penasaran, sebenarnya siapa pria itu dan kenapa ia tidak setuju dengan pernikahan tersebut?
Sementara Clara yang sangat mengenal siapa pria itu wajahnya berubah menjadi pucat. Tentu saja ia sangat mengenalnya, pria itu adalah Edo Prakoso pria itu merupakan salah satu rekan bisnis papanya, ia sudah lama menjadi simpanan pria itu, ia bisa mendapatkan apa pun yang ia inginkan hanya dengan memberikan kepuasan pada pria itu.
__ADS_1
"Bagaimana dia bisa ada di sini? Bukankah dia sedang berada di luar negeri?" batin Clara yang terlihat sangat panik, ia takut rahasia gelapnya akan terbongkar di hadapan orang banyak.
"Hai Nona ternyata kamu ada di sini, padahal malam ini aku sangat ingin menghabiskan malam dengan mu, aku sangat merindukan sentuhan mu setelah tiga hari aku tidak merasakannya," ucap pria tersebut.
"Kamu siapa? dan apa maksud ucapan anda tuan?" bentak Clara menatap tajam pria di hadapannya.
"Apa kamu sudah lupa dengan malam malam panas penuh peluh yang selalu kita lewati bersama selama ini Nona? Bahkan kita terakhir kali melakukannya tiga hari yang lalu bagaimana bisa kamu secepat itu melupakannya," ujar pria tersebut dengan tersenyum miring menatap Clara.
"Jangan sembarangan aku sama sekali tidak mengenal mu dan malam panas apa yang anda maksud? Aku ini wanita baik baik tidak mungkin melakukan hal rendahan seperti itu," sangkal Clara tetap pura pura tidak mengenal pria di hadapannya.
Pria asing tersebut tertawa mendengar ucapan Clara. "Hahaha ... anda benar benar lucu nona, berhentilah berpura pura menjadi wanita polos, apa aku perlu membuktikan ucapan ku di sini?"
Sementara Arka terlihat menikmati perdebatan kedua orang itu.
"Cepat seret orang ini keluar dari sini!" perintah nyonya Laras yang sejak tadi memerhatikan dan mendengar semua ucapan pria itu tentang hubungan dengan Clara.
Para pengawal segera menjalankan perintah sang nyonya besar dan menyeret tuan Edo agar keluar dari tempat acara.
Tiba tiba saja lampu utama di ruangan tersebut mati, hanya menyisakan cahaya cahaya redup, sebuah video yang menayangkan adegan adegan panas antara Clara dan seorang pria muncul di layar besar yang akan di gunakan untuk menayangkan acara pernikahan Arka dan Clara.
Suasana menjadi riuh dan menatap jijik ke arah Clara, mereka tidak menyangka jika perempuan yang selama ini terlihat baik dan terhormat ternyata melakukan hal rendahan hanya untuk memuaskan kesenangan dunia. Setelah Vidio selesai di tayangkan lampu pun kembali normal.
Nyonya Laras yang melihat hal itu mengepalkan tangannya dan mendekat kearah Clara.
Plak!
"Pergi kamu dari hadapanku!" bentak nyonya Laras tanpa melihat ke arah Clara yang menangis sambil terus memohon padanya, ia benar benar jijik dan kecewa dengan Clara padahal selama ini ia sangat mempercayainya.
Sementara Arka tersenyum puas karna rencananya membongkar kebusukan Clara berjalan lancar. Kini tiba saatnya ia akan memperkenalkan siapa nyonya muda yang sebenarnya. Sekretaris Rey memberikan mic untuk Arka, tapi belum sempat ia mengeluarkan sepatah kata sekretaris Rey kembali mendekat dan membisikkan sesuatu yang membuatnya langsung menjatuhkan mic yang di pegangannya dan segera meninggalkan acara dengan ekspresi yang terlihat sangat menakutkan, orang orang yang melihatnya mengira jika Arka marah karna Clara.
__ADS_1
Bersambung . . . . . .