Belenggu Cinta Sang Mantan

Belenggu Cinta Sang Mantan
BAB 42 : Ngidam lagi


__ADS_3

Arka menghembuskan napas panjang sebelum menjawab pertanyaan dari wanita di hadapannya saat ini yang terlihat sangat mengerikan, belum lagi pria yang ada di samping wanita itu terus menatapnya tajam agar segera menjelaskan semuanya pada sang istri. Ya, jadi kedua orang itu adalah Arga dan Dira, awalnya sahabatnya itu menghubunginya untuk menanyakan soal pertunangannya dengan Clarisa, karna Arga sudah mengetahui soal pernikahannya dengan Mita, dan tanpa mereka sadari Dira mendengar pembicaraan mereka dan ia sangat marah saat mengetahui fakta tentang Mita. Bahkan ia sampai mendapatkan dua tamparan keras dari Dira saat ia menceritakan tentang kejadian yang menimpa Mita selama ini. Jika Arga tidak mencegahnya mungkin wanita itu juga akan melakukan lebih dari sekedar tamparan.


"Mita sekarang berada di villa pribadiku, di kota B," jawab Arka tanpa berani menatap wajah Dira.


"Jadi selama ini kamu mengurung sahabatku di tempat terpencil itu, kamu juga tau soal itu kan mas? Dan malah menyembunyikannya dariku," ucap Dira menatap Arga kesal, karna suaminya itu telah membohonginya dengan mengatakan kalau dia tidak mengetahui keberadaan Mita, seandainya ia tidak memergoki mereka yang bertemu di cafe dan tanpa sengaja mendengar pembicaraan kedua orang itu yang sedang membahas soal Mita, mungkin sampai saat ini ia tidak akan pernah tau dimana Mita sekarang.


"Aku tidak pernah membohongi kamu sayang, Mas hanya belum memastikannya makanya mas mengajak Arka bertemu untuk meminta penjelasan nya, barulah mas akan memberitahumu setelah mendengarnya langsung dari Arka," ucap Arka berusaha menjelaskan pada istrinya sebelum perang dunia terjadi, bisa bisa malam ini ia akan tidur diluar.


"Ck, padahal dia sudah mengetahui semuanya," batin Arka.


"Kalau begitu aku ingin bertemu Mita," ucap Dira menatap Arka.


"sekarang?"


"Tentu saja sekarang kamu pikir taun depan," ketus Dira.


"Kalau sekarang tidak bisa," tolak Arka yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari sepasang suami istri di hadapannya itu.


"Kenapa tidak bisa? Apa kamu akan terus terusan mengurung Mita di tempat asing itu? Apa kamu tidak pernah memikirkan perasaannya?"


"Aku tidak mengurungnya, aku hanya ingin memastikan dia aman, dan aku juga tidak ingin dia kembali meninggalkan ku," jawab Arka.


"Kamu benar benar egois, kamu bilang tidak mengurungnya, tapi kamu mengasingkannya ke tempat yang sangat jauh dan kamu sama sekali tidak membiarkannya bertemu dengan orang orang terdekatnya, apa kamu pernah memikirkan bagaimana perasaan Mita?! Dia juga pasti merindukan keluarganya Ka, dan bukannya besok kamu akan bertunangan dengan wanita pilihan keluarga mu lalu untuk apa kamu menahan Mita untuk tetap berada di sisimu!" ucap Dira yang kembali dibuat emosi oleh Arka.


"Sayang," Arga mengusap punggung Dira agar bisa menahan emosinya.


"Huf ... tinggalkan Mita biarkan dia pergi dari tempat itu, bukankah kamu bilang dia dalam bahaya karena mama mu, jadi lebih baik kamu melepaskannya," pinta Dira dengan suara yang lembut.


"Tidak akan, sampai kapan pun aku tidak akan membiarkan Mita pergi, selamanya ia akan selalu bersamaku, karna dia adalah istriku dan seorang istri akan ikut kemana suaminya pergi." ucap Arka yang kembali membuat Dira terkejut.


"What! Istri?" ia kembali di buat terkejut dengan ucapan Arka.


"Iya, aku dan Mita sudah sah menjadi pasangan suami istri baik di mata agama maupun hukum, jadi kamu tidak akan bisa memisahkan ku darinya."

__ADS_1


Brak!


Dira menggebrak meja dengan keras, membuat Arga terlonjak kaget, sementara Arka tetap terlihat santai.


"Sayang sabar," ucap Arga menyentuh tangan Dira yang hendak berdiri dari duduknya.


Dira tidak menghiraukan ucapan suaminya dan menepis tangan Arga tanpa mengalihkan tatapannya dari Arka. Ia mendekat ke hadapan Arka lalu meraih kerah kemejanya seperti seorang preman yang siap menghajar lawannya.


"Brengsek! Kamu telah menikahi Mita tapi besok pagi kamu akan bertunangan dengan wanita lain?! Kurang ajar!" Dira sudah tidak dapat menahan amarahnya. Ia mengepalkan tangannya hendak memukul wajah Arka, tapi Arga dengan sigap meraih tangan sang istri dan memeluknya.


"Sayang tahan emosi kamu, ingat kamu sedang hamil," ucap Arga mengingatkan Dira. Ya Dira saat ini tengah hamil anak kedua dan entah kenapa kehamilannya kali ini istrinya itu sangat bar bar dan mudah sekali marah, membuat Arga harus ekstra bersabar dan hati hati dalam menghadapi mood sang istri.


Mita menarik napas lalu mengembuskannya kembali untuk mengurangi rasa panas di hatinya.


"Gimana aku gak marah Mas, dia sudah menculik sahabatku lalu dia menikahinya tanpa sepengetahuan keluarganya, sebenarnya dia menganggap Mita apa?" ucap Dira yang sudah kembali duduk di kursinya.


"Maaf, tapi aku terpaksa melakukan itu karna tidak ingin kehilangan Mita kembali, karna hanya itu satu satunya cara agar Mita tetap di sisiku," jawab Arka.


"Lalu bagaimana dengan pertunangannya? Kamu jangan serakah ingin memiliki keduanya, atau aku akan benar benar memukul kepala mu kalau kau sampai berani menduakan Mita," ucap Dira ketus.


"Katakan apa rencanamu baru aku akan percaya," ucap Mita.


Mau tidak mau Arka pun akhirnya menceritakan apa rencananya pada Arga dan Dira. Setelah perdebatan panjang itu akhirnya Arga dan Dira memutuskan untuk kembali pulang, karna mereka sudah terlalu lama meninggalkan putranya.


Saat tiba diparkiran Dira tiba tiba berhenti. "Ada apa lagi sayang? ... ada yang ketinggalan?" tanya Arga.


"Mas apa aku benar benar tidak boleh memukulnya sekali saja, aku sangat ingin melakukannya sekarang pada teman laknat mu itu," ucap Dira sambil menatap Arga.


"Hah?" Arga terlihat kebingungan.


"Aku tidak bisa tenang jika belum memukul Arka," ucapnya kembali.


"Sayang itu perilaku yang tidak baik, gimana kalau nanti baby kita malah jadi suka mukulin orang," ucap Arga.

__ADS_1


"Sayang, sepertinya aku ngidam," Rajuk Dira mulai mengeluarkan jurus andalannya. Ia menundukkan kepalanya seperti hendak menangis. Tentu saja Arka yang melihat hal itu langsung saja mengiyakan keinginan Dira dan kembali masuk ke cafe.


"Loh kok kalian balik lagi?" tanya Arka yang melihat sepasang suami istri itu kembali menghampirinya.


"Dira ingin memukulmu," ucap Arga dengan santainya.


"What! Lo gila ya, enak aja Lo pikir gue samsak mau Lo pukul pukul, gue gak mau," tolak Arka.


"Mas ..." lirih Dira menatap penuh iba.


"Ayolah Ka, istri gue lagi ngidam, Lo tega liat anak gue ngeces karna keinginannya gak kesampaian," ucap Arga.


"Ngidam? Emang Dira hamil?" tanya Arka yang tidak tau soal kehamilan Dira.


"Iya," jawab Arga singkat.


"Hahaha!" Arka malah tertawa mendengar jawaban Arga. "Jangan bohong gue tau pasti itu cuma alasan Lo kan Dir biar bisa pukul gue," ucap Arka tidak percaya.


"Istri gue beneran hamil," jawab Arga.


Arka yang melihat wajah datar Arga pun menghentikan tawanya. "Lo serius? Kok bisa? Bukannya Aigar belum genap dua tahun?"


"Ya bisalah, gue kan orangnya rajin," ucap Arga ambigu.


"Udah kamu kebanyakan nanya Ka, udah mending sini biarkan aku memukul mu," ucap Dira meminta Arka untuk mendekat.


"Gue aja satu bulan menikah Mita masih belum gue apa apain, lah mereka udah mau on going anak kedua aja," gumam Arka yang masih bisa di dengan oleh Arga dengan jelas.


"Sabar bro, Lo baru satu bulan lah gue sampai berbulan bulan," bisik Arga sambil mendorong punggung Arka agar mendekat ke Dira bersiap untuk di pukuli.


Setelah mendapatkan apa yang ia inginkan Dira pun segera mengajak Arga untuk pulang. Sementara Arka hanya bisa mengehela napas menatap kepergian kedua orang itu, untuk kedua kalinya ia menjadi korban ngidamnya Dira.


"Awas saja besok kalau Mita hamil bakalan gue balas kalian berdua," gumam Arka lalu ia pun beranjak dari cafe tersebut.

__ADS_1


Bersambung . . . . . .


__ADS_2