
Bruk!
Karna hatinya sedang kacau Mita tidak memperhatikan orang orang yang melintas di sekitarnya dan membuatnya tanpa sengaja menabrak seseorang.
"Akhirnya kita bertemu lagi Nona." ucap pria tampan dengan tersenyum menatap wajah wanita yang begitu dekat dengannya karna posisinya yang sedang menahan tubuh Mita yang hampir terjatuh.
Mita pun yang tersadar dengan posisi mereka saat ini dengan cepat mendorong tubuh pria tersebut, sambil mengusap sisa air matanya.
"Maaf," ucap Mita menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan wajahnya. Ia tidak ingin orang lain tau jika ia menangis.
"Apa anda baik baik saja Nona?" tanya pria tersebut yang menyadari jika mata Mita terlihat sedikit sembab.
"Hem ... iya," jawab Mita singkat.
"Apa aku membuatmu sakit?"
"Tidak tuan, sekali lagi saya minta maaf," ucap Mita lalu melanjutkan langkahnya hendak pergi, tapi pria tersebut menahannya.
"Tunggu," pria itu memegang lengan Mita.
Mita menatap tajam pria di hadapannya yang begitu lancang menyentuhnya, padahal mereka baru pertama kali bertemu.
"Jangan kurang ajar tuan." Mita menepis tangan pria tersebut dari lengannya.
"Maaf jika aku lancang dan membuat mu tidak nyaman, aku hanya ingin tau nama mu saja. Kamu masih ingat denganku bukan? Kita pernah bertemu sebelumnya."
Mita mengerutkan alisnya bingung, ia mencoba mengingat apakah benar mereka pernah bertemu. "Maaf tuan aku tidak ingat," jawab Mita yang memang lupa.
"Kalau begitu kenalkan, aku Deren," ucapnya memperkenalkan dirinya terlebih dahulu sambil menyodorkan tangannya pada Mita. Ya ternyata pria tersebut adalah Deren.
Belum sempat Mita membalas jabatan tangan Deren, pandanganya tanpa sengaja tertuju pada anak buah Arka yang berada tidak jauh dari tempatnya saat ini, hal itu membuat wajah Mita terlihat panik, ia yakin pasti orang orang itu sedang mencarinya.
"Maaf tuan aku buru buru," ucap Mita. Dengan langkah cepat ia membalikkan tubuhnya hendak beranjak meninggalkan Deren.
__ADS_1
"Nona tunggu!" cegah Deren yang kembali memegang lengan Mita. Ia tidak peduli jika gadis itu marah, karna ia masih penasaran dengan gadis cantik di hadapannya saat ini. "Siapa nama mu?" tanya Deren kembali.
Mita mendengus kesal karna lagi lagi pria itu berani menyentuhnya. "Mita," jawabnya cepat yang tidak ingin Deren terus menghentikannya, lalu ia pun segera pergi dari sana sebelum orang orang itu menyadari keberadaannya.
Deren tersenyum melihat kepergian Mita, ia sangat senang akhirnya ia mengetahui nama wanita yang sejak kemarin memenuhi pikirannya. "Jadi nama gadis cantik itu Mita, harusnya aku juga meminta nomor ponselnya, ah sial," gumam Deren. Sepertinya ia benar benar tengah merasakan yang namanya jatuh cinta pada pandangan pertama. "Dia benar benar gadis yang menarik, tapi kenapa dia begitu terburu buru? Dia seperti orang yang sedang di kejar kejar saja," gumamnya lalu melangkah meninggalkan tempatnya, ia ingin segera menyaksikan pernikahan Arka dengan partner ranjangnya itu, entah kenapa ia merasa jika acara ini tidak akan berjalan lancar, karna ia tau Arka tidak sebodoh itu kecuali Clarisa memang berhasil merayunya.
Sementara Mita terus menengok kebelakang memeriksa apakah anak buah Arka masih mengikuti dirinya. Setelah memastikan orang orang itu sudah tidak ada dibelakangnya, Mita pun perlahan memperlambat langkahnya, lalu mengatur napasnya yang terengah-engah karna terlalu lelah berlari.
"Aku sangat lelah," gumam Mita dengan suara lirih sambil terduduk, kini ia sudah berada di taman yang ada di samping hotel tersebut. Tidak hanya fisiknya saja yang lelah, tapi juga hatinya. Ia merindukan saat saat ia bisa dengan bebas berkeliaran tanpa ada perasaan was was yang terus menghantuinya.
"Tuhan ... adakah kebahagian untukku? Aku lelah ..." lirih Mita yang masih terduduk dengan kepala yang ia sembunyikan di kedua lututnya, tidak lama terdengar suara isakan, ia sudah tidak peduli jika riasan di wajahnya akan berantakan, ia terus menumpahkan tangisnya di sana mengeluarkan rasa sesak yang sudah menumpuk di dadanya, bayangan Arka yang akan bersanding dengan perempuan lain terus berseliweran di otaknya, apalagi setelah melihat sosok wanita yang berada di samping sang suami begitu cantik dan sudah pasti dari keluarga yang terpandang, sangat tidak sebanding dengan dirinya.
"Aku sudah mempersiapkan hatiku sejak lama, jika hal seperti ini pasti akan terjadi dalam hubungan kami, tapi tetap saja ini terlalu menyakitkan tuhan ..." gumam Mita di barengi dengan suara isakan tangis. Ia terus memukul dadanya untuk mengurangi rasa yang sesak yang mengganjal di hatinya, beruntungnya tempat itu saat ini sedang sepi jadi tidak akan ada orang yang melihatnya.
Setelah puas menumpahkan semuanya ia kembali menengok sekelilingnya dan ia bernapas lega karna orang orang itu benar benar tidak lagi mengikutinya, tapi baru saja ia hendak melanjutkan langkahnya tiga orang pengawal suruhan Arka tiba tiba saja muncul di hadapannya. Ya sebenarnya mereka sejak tadi sudah menemukan keberadaan Mita tapi mereka sengaja bersembunyi dan membiarkan sang nyonya muda menangis untuk menenangkan dirinya.
"Akhirnya kami menemukan anda Nona, mari Nona ikut kami, tuan sudah menunggu di dalam." ucap salah satu pengawal berbadan gempal, mereka pura pura tidak tau soal Mita yang menangis.
"Tolong ikutlah dengan kami Nona, jangan sampai kami melakukannya dengan cara paksa."
"Coba saja kalau kalian bisa," ucap Mita tersenyum sinis. Kali ini ia memutuskan untuk melawan kehendak Arka, ia tidak akan terus terusan membiarkan Arka memperlakukan dirinya semaunya, sudah cukup pria itu mempermainkan perasaannya. Ia benar benar sudah tidak takut lagi dengan ancaman Arka, ia akan mencari cara untuk melindungi keluarganya, tapi sebelum itu ia harus melepaskan diri dari belenggu yang selama ini menjeratnya.
"Nona kami tidak ingin menyakiti anda, jadi kami mohon ikutlah dengan kami," pinta mereka kembali.
Mita tetap tidak peduli dengan ucapan mereka, ia melepaskan sepatu tinggi yang digunakannya lalu melemparnya dengan kasar ke depan hingga mengenai kedua orang itu. "Mari kita buktikan, siapa yang akan menyakiti siapa," ucap Mita lalu menyobek bagian samping dress panjangnya hingga memperlihatkan betis mulusnya, hal itu ia lakukan untuk memudahkannya melawan kedua orang suruhan Arka.
Kedua pengawal tersebut sampai merinding melihat apa yang dilakukan Mita yang tidak biasanya, istri tuannya yang biasanya selalu menunjukkan wajah sendu dan guratan khawatir kini terlihat bak wanita tangguh yang tak kenal rasa takut. Mereka pun terpaksa akan membawa Mita dengan cara paksa, dan salah satu dari mereka mendekat ke hadapan Mita hendak menyeretnya, tapi belum sempat tangannya menyentuh sang nyonya muda, Mita sudah terlebih dahulu menangkap tangan itu dan memelintirnya lalu mendorongnya kuat.
Bruk!
Tubuh salah satu pengawal tersebut tersungkur menciumi tanah saking kuatnya tenaga Mita.
Kedua orang yang melihat apa yang terjadi pada temannya hanya bisa melongo tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka lihat, bagaimana bisa tubuh kecil itu bisa menjatuhkan temannya yang bobot tubuhnya jauh lebih besar darinya.
__ADS_1
"Nona sekali lagi kami mohon agar nona mau ikut, kami benar benar tidak bisa membuat anda terluka," mereka masih tetap membujuk Mita agar menyerah dan ikut secara sukarela.
"Kalian terlalu meremehkan ku, apa kalian masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi pada teman mu itu," ucap Mita sambil melirik pria yang baru saja ia jatuhkan.
"Kalau begitu jangan salahkan kami nona," ucap pria bertubuh tambun lalu maju untuk menangkap Mita.
Pertarungan antara Mita dan orang orang suruhan Arka terlihat sangat sengit, mereka sampai lupa jika apa yang mereka lakukan saat ini akan membuat Arka murka, karna telah berani menyerang sang istri, tapi Mita dengan mudahnya menjatuhkan mereka satu persatu.
Krek!
"Akh!"
Dengan lihainya Mita memberikan serangan pada ketiga orang tersebut, gerakannya terlihat sangat lincah saat menghindar, memukul dan menendang lawannya.
"Cepat tangkap," saat salah satu dari mereka berhasil membekapnya dari belakang, tapi belum sempat temannya mendekat Mita sudah terlebih dahulu mengangkat tubuhnya hingga posisi nya berpindah menjadi di belakang orang yang membekapnya lalu dengan mudahnya ia membanting tubuh besar itu hingga terbaring ke tanah sambil mengaduh kesakitan memegangi pinggangnya.
Mita tersenyum puas melihat ketiga orang itu yang sudah tidak berdaya. "Bagaimana apa kalian masih mau menangkap ku?" tanya Mita tersenyum sinis menatap orang orang itu. "Sampaikan salam ku pada tuan mu itu, selamat atas pernikahannya semoga ia bahagia bersama istri barunya dan katakan padanya untuk segera melepas ku," ucap Mita sebelum beranjak meninggalkan para pengawal tersebut.
"Cepat kejar! Jangan biarkan nyonya muda pergi dari sini!" perintah Rey yang baru saja tiba di taman dan menemukan para pengawalnya sudah terkapar di sana.
Mita yang belum terlalu jauh dari tempat itu langsung saja mempercepat langkahnya saat melihat segerombolan pengawal yang di bawa sekretaris Rey sedang mengejarnya. Ia tidak mungkin melawan mereka semua, sudah pasti ia akan kalah, karna jumlah mereka yang terlalu banyak.
"Sial! Aku lupa jika yang aku hadapi adalah seorang CEO kejam Dinata grup," gumam Mita merutuki dirinya sendiri yang terlalu percaya diri, mengira jika ia sudah berhasil kabur.
Mita terus saja berlari menghindari kejaran orang orang itu, ia sudah berhasil keluar dari lingkungan hotel, karna kelelahan Mita pun berhenti sejenak sambil mengatur napasnya yang terengah-engah.
"Astaga kenapa mereka cepat sekali ..." gumam Mita yang melihat orang orang itu semakin dekat ke arahnya. Tapi baru saja ia hendak melanjutkan langkahnya Mita tiba tiba saja merasakan kepalanya pusing.
"Sial ini pasti gara gara aku belum makan sejak pagi," batin Mita. Karna terlalu memikirkan soal pertunangan Arka ia sampai tidak memiliki selera untuk mengisi perutnya, ia hanya meminum segelas susu tadi pagi, apalagi tenaganya sudah terkuras untuk berlari dan bertarung. Ia merasakan kepalanya semakin pusing, semuanya terasa seperti berputar dan detik berikutnya Mita benar benar hanya bisa melihat kegelapan, ia hanya berharap semoga ada keajaiban dan ia tidak tertangkap oleh orang orang suruhan Arka.
"Aku akan membawa mu pergi dari sini," ucap seorang pria sambil menatap wajah Mita yang sudah tidak sadarkan diri.
Bersambung . . . . . .
__ADS_1