
"Dasar anak nakal," ucap mama Mita yang langsung menjewer telinganya.
"Aw! Ma sakit," pekik Mita yang merasakan telinganya panas akibat jeweran yang diberikan mamanya, bukannya mendapatkan pelukan karna sudah lama tidak bertemu ia malah mendapatkan serangan dadakan dari sang mama.
"Sakit kamu bilang? Bukannya kamu adalah gadis kuat, bahkan kamu mampu menyembunyikan masalah yang begitu besar, tapi masih bisa mengatakan sakit hanya karna jeweran mama mu," sindir Sarah tidak menghiraukan teriakan putrinya yang mengaduh kesakitan.
"Jelaskan semuanya pada mama?" tanpa melepaskan tangannya dari telinga Mita.
"Iya ma, tapi ini di lepas dulu ... jangan sampai telinga putri mu yang berharga terlepas dari tempatnya," ucap Mita sambil memegang tangan mamanya yang masih bertengger di telinga kanannya.
Sarah pun melepaskan telinga Mita yang sudah memerah. Sementara korbannya hanya bisa mengusap telinganya yang hampir saja copot karna jeweran mamanya yang memang tidak diragukan lagi.
"Ternyata kekuatannya belum menghilang, rasanya masih sama," gumam Mita yang masih merasakan panas di telinganya.
*****
Setelah drama telinga Mita yang di jewer mamanya, kini ibu dan anak itu duduk berhadapan, Mita duduk di ranjang sementara mamanya duduk di sofa sambil menatapnya dengan tatapan yang tak terbaca, suasana di kamar tersebut seketika berubah menjadi begitu canggung.
"Sampai kapan kamu akan diam saja? Apa kamu tidak ingin menjelaskan sesuatu pada mama mu ini?" tanya mama Mita yang melihat putrinya hanya diam saja sambil menundukkan kepalanya.
Mita mendongakkan wajahnya menatap mamanya, ia bingung harus memulai dari mana, ia tidak ingin mamanya ikut terbebani jika mengetahui soal masalahnya dan ia juga tidak ingin mamanya sampai membenci Arka jika mengetahui apa yang telah menimpanya Selama ini ada hubungannya dengan suaminya itu.
"Maafkan Mita Ma," ucap Mita dengan suara lirih, hanya kata itu yang mampu terucap dari bibirnya dan ia pun kembali menundukkan kepalanya.
Mama Mita hanya bisa mengehela napas melihat respon sang putri lalu ia pun mendekat ke samping Mita dan memeluknya. "Tidak apa apa jika itu terlalu sulit untuk diceritakan, kamu bisa menceritakan semuanya setelah kamu sudah benar benar siap, dan Mama lah yang seharusnya minta maaf, karna telah gagal menjadi ibu yang baik untuk mu, seharusnya mama adalah orang yang harus melindungi mu, tapi yang terjadi malah sebaliknya kamu mengorbankan kebahagian dan kebebasan mu demi keluarga kita, maaf karna mama mu ini tidak tau apa apa dan tidak ada di sisi mu saat kamu sedang mengalami masalah yang sangat besar," ucap mama Mita sambil mengusap lembut kepala Mita dengan penuh kasih sayang, ia merasa bersalah pada putrinya itu, hanya dengan memikirkannya saja membuat dadanya terasa sesak, rasa kecewa dan marah bercampur.
Sebenarnya ia tidak benar benar marah pada Mita, ia hanya ingin mengalihkan kesedihan putrinya, karna ia sudah mengetahui semuanya dari Juna, ia hanya ingin memastikannya saja dan berharap apa yang dikatakan Juna tentang Mita tidak benar, tapi melihat respon sang putri membuatnya percaya dengan apa yang diceritakan Juna.
__ADS_1
Mita masih tetap diam ia semakin mengeratkan pelukannya pada Sarah, karna inilah yang ia butuhkan saat ini, pelukan hangat dari sang mama.
"Sekali lagi maafkan mama, pasti selama ini terasa sangat berat untuk mu," ucap mama Mita sambil mengusap lembut kepala putrinya.
Mita melepaskan pelukannya dari sang mama. "Mama tidak perlu minta maaf, karna semua ini bukan salah mama, seharusnya dari awal aku menceritakannya pada mama, tapi mama tenang saja sekarang aku sudah baik baik saja," ungkap Mita sambil tersenyum lebar ke arah mamanya.
"Kalau begitu jika kamu sudah siap mama ingin mendengar semuanya secara langsung dari kamu," pinta Sarah pada putrinya.
"Baiklah Mita akan ceritakan semuanya pada mama, tapi mama janji mama harus tetap tenang jangan emosi," ucap Mita sebelum menjelaskan pada mamanya.
"Iya, emang kamu pikir mama ini tukang marah marah, jika kamu sudah tidak apa apa lebih baik kamu jelaskan apa yang sebenarnya terjadi tanpa terlewatkan," tukas mama Mita mulai tidak sabaran.
Mita pun mulai menceritakan tentang awal permasalahannya berawal dari hubungannya dengan Arka, karna sebelumnya ia belum sempat memberitahu mamanya jika ia berkencan dengan Arka, Mita benar benar menceritakan semuanya tanpa terlewatkan sedikit pun hingga akhirnya ia berakhir menikah diam diam dengan Arka.
Sarah yang mendengar secara langsung tentang masalah yang membuat putrinya memutuskan pergi dari negara ini hatinya merasa teriris, rasa marah dan sakitnya berkali kali lipat lebih terasa saat mendengar semuanya terlontar dari mulut putrinya yang terlihat begitu tenang saat menceritakannya, tapi ia yakin di dalam hatinya menyimpan luka yang begitu dalam, ia tau Mita hanya berusaha terlihat baik baik saja di hadapannya, karna memang seperti itulah Mita, ia tidak akan pernah menunjukkan kesedihannya pada orang lain, sifat jutek dan cerianya hanyalah sebuah topeng untuk menutupi lukanya.
"Mama tidak perlu khawatir karna sekarang Mita sudah baik baik saja, apalagi sekarang ada mama di samping aku, jadi aku tidak akan takut lagi," ucap Mita meyakinkan mamanya.
"Syukurlah, tapi mulai sekarang jangan memendam masalah mu sendiri, katakan dengan jujur jika merasa lelah dan tersiksa, katakan sakit jika itu memang menyakitkan agar orang lain bisa tau jika kamu sedang tidak baik baik saja, mulai sekarang mama akan melindungi mu, kita hadapi semuanya sama sama," ucap Sarah menggenggam tangan Mita sambil tersenyum. Senyum yang mampu membuat Mita merasakan ketenangan yang sudah lama tidak ia rasakan, karna selama satu tahun terakhir ini hanya rasa cemas dan ketakutan yang selalu menghantuinya.
*
*
Sementara itu di tempat yang berbeda, tepatnya di mansion Dinata, suasana di sekitar ruang pribadi nyonya Laras terasa begitu dingin dan mencekam. Tampak dua orang beda usia itu tengah bersitegang saling menatap tajam tidak ada yang mau kalah.
"Apa pun alasannya mama akan tetap mencarikan mu pasangan yang tepat, mama tidak peduli jika kamu telah menikah dengan wanita itu," ucap nyonya Laras masih tetap kekeh dengan keinginannya.
__ADS_1
Arka mengepalkan tangannya mendengar ucapan mamanya ia benar benar tidak habis pikir dengan jalan pikiran wanita yang telah melahirkannya itu. Bukannya menjadikan pelajaran atas apa yang terjadi pada Clarisa atau merasa bersalah padanya, ia malah berencana untuk mencarikan wanita lain untuknya tanpa mempedulikan status dirinya yang sudah menikah.
"Sebenarnya apa yang mama inginkan?! Kenapa terus terusan memaksa ku untuk menikah dengan wanita yang mama inginkan?" tanya Arka dengan raut wajah memerah karna menahan amarah.
"Mama hanya ingin kamu menjauhi wanita itu, dia tidak pantas untuk menjadi nyonya muda Dinata, dia itu tidak sebanding dengan keluarga kita," jawab nyonya Laras.
Arka tersenyum miring mendengar jawaban mamanya. "Jika itu masalahnya maka aku akan keluar dari keluarga yang selalu mama agung agungkan selama ini, aku akan melepas nama Dinata jika itu bisa membuatku hidup bebas bersama wanita yang aku cintai," ucap Arka menatap nyonya Laras.
"Apa maksud mu? Jangan melakukan hal nekad hanya karna wanita rendahan itu, kamu belum tau saja bagaimana kelakuannya dibelakang mu salama ini, apa kamu pikir dia akan menerima kamu jika kamu sudah tidak memiliki apa pun," tukas nyonya Laras tersenyum meremehkan.
"Jangan pernah menyebut istriku dengan sebutan yang tidak pantas, istriku adalah wanita berkelas, dia bukan wanita yang gila harta jadi jangan jadikan masa lalu mama sebagai patokan untuk menilai orang lain, dan mulai sekarang mama tidak perlu repot repot untuk mencari wanita yang pantas untuk menjadi nyonya muda Dinata karna mulai sekarang aku bukanlah bagian dari keluarga Dinata," ucap Arka tegas lalu beranjak hendak keluar dari ruangan tersebut.
"Mama ingatkan sekali lagi, jika kamu meninggalkan keluarga Dinata itu artinya kamu juga harus siap untuk kehilangan semua pasilitas yang selama ini kamu nikmati, karna kamu tidak akan mendapatkan sepeser pun aset keluarga Dinata," ancam nyonya Laras yang mulai panik saat melihat tidak ada keraguan dari tindakan putranya.
Arka yang hendak keluar menghentikan langkahnya dan kembali mendekat ke hadapan nyonya Laras. "Ini mama bisa mengambilnya, karna aku tidak membutuhkan uang atau pun aset aset mama," ucap Arka mengeluarkan dompetnya dan menyerahkan semua kartu kartu ATM dan beberapa uang cash yang ada di dompetnya hanya menyisakan KTP, dan beberapa kartu penting miliknya.
"Mama pikir aku tidak akan bisa hidup dengan uang mama, apa mama lupa? Kalau sebelumnya aku sudah pernah meninggalkan keluarga ini dan hidupku baik baik saja tanpa uang dan fasilitas dari mama," ucap Arka mengingatkan nyonya Laras, lalu ia pun kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan mansion mewah itu.
"Arka! Berhenti!" nyonya Laras berlari mengejar Akra sambil berteriak, tapi sama sekali tidak di hiraukan olehnya.
"Ken kita pergi sekarang." perintah Arka pada sekretaris Rey yang sejak tadi menunggunya.
"Arka jangan tinggalkan mama!" panggil nyonya Laras melihat mobil yang membawa Arka sudah keluar meninggalkan mansion.
"Kenapa semua orang yang aku sayang pergi meninggalkan ku, bahkan putraku sendiri lebih memilih wanita itu dari pada aku ibu kandungnya sendiri," lirih nyonya Laras meratapi nasibnya. Ia tidak menyadari jika putranya pergi karna keegoisannya yang sangat ingin memisahkan Mita dan Arka hanya karna masa lalunya.
Bersambung . . . . . .
__ADS_1