Belenggu Cinta Sang Mantan

Belenggu Cinta Sang Mantan
BAB 40 : Berita mengejutkan


__ADS_3

Arka bergegas keluar dari kamar hotel setelah mendapatkan panggilan dari sekretaris Rey untuk menemui orang orang yang telah berani bermain main dengan perusahaannya.


"Tuan," ucap Rey menundukkan kepalanya begitu melihat kedatangan Arka di ruangan tempat ia menyekap kedua orang yang telah menggelapkan uang perusahaan yang membuat perusahaan mengalami kerugian besar, untungnya Arka cepat bertindak dan berhasil mengatasi kekacauan tersebut.


"Apa mereka berhasil di selamatkan?" tanya Arka. Karna Rey menghubunginya dengan mengatakan jika kedua orang yang ia ringkus diam diam meminum racun. Sepertinya itu memang sudah rencana mereka sejak awal yang memang berniat untuk mengakhiri hidupnya dengan racun yang sudah mereka siapkan.


Sekretaris Rey menjawab dengan gelengan kepala. "Mereka sudah meninggal sebelum dokter datang tuan," jawab sekretaris Rey. "Maaf tuan karna saya lengah, saya tidak menduga mereka akan melakukan hal ini," ucap sekretaris Rey terlihat menyesal karna merasa telah gagal menjalankan tugasnya.


Arka melangkah mendekat ke arah kedua orang yang sudah tidak bernyawa tersebut lalu tersenyum sambil menatap kedua jasad di hadapannya. "Ini bukan salah mu kamu tidak perlu meminta maaf, tapi bukankah ini terlalu jelas?" ucap Arka sambil menatap sekretaris Rey dengan tatapan penuh arti.


"Itu artinya memang ada orang lain di belakang mereka," sekretaris Rey ikut menimpali ucapan tuannya.


"Kamu benar Rey, apa yang mereka lakukan saat ini menjelaskan jika mereka memang bukanlah pelaku sebenarnya, tapi ada orang lain yang memerintahkannya," ucap Arka.


"Apa kita harus mencari tau kembali dalang yang hampir menyebabkan kerugian besar pada perusahaan tuan?" tanya sekretaris Rey meminta persetujuan Arka sebelum melakukan tindakan lebih lanjut.


"Tidak perlu, cepat atau lambat dia pasti akan menunjukkan dirinya, yang perlu kita lakukan sekarang adalah memperketat penjagaan untuk istriku, sepertinya masalah ini tidak sesederhana yang kita bayangkan, aku merasa masalah yang terjadi saat ini hanyalah sebuah peringatan untukku agar lebih berhati hati," ucap Arka.


"Apa Tuan mencurigai seseorang?" tanya sekretaris Rey.


Arka menggelengkan kepalanya lalu memasukkan tangannya ke saku celana. "Entahlah, terlalu banyak orang yang menginginkan posisi ini jadi aku bingung harus mencurigai siapa," jawab Arka lalu melangkah hendak keluar dari ruangan itu.


"Jangan lupa urus kedua jasad ini, dan berikan tunjangan kepada keluarganya," ucap Arka lalu ia pun melanjutkan langkahnya keluar dari ruangan tersebut.


"Sungguh kalian orang orang yang bodoh, kalian lebih memilih melenyapkan nyawa kalian dari pada harus berkata jujur," gumam sekretaris Rey berbicara dengan kedua orang yang sudah terbujur kaku itu.


-


-

__ADS_1


-


Beberapa hari kemudian.


Kini Mita sudah berada di villa setelah dua hari menginap di apartemen Lisa dan selama dua hari itu juga Arka tidak pernah menghubunginya kembali, Ia juga sudah berulang kali mencoba menghubungi nomor Arka tapi selalu tidak aktif dan hal itu semakin membuat Mita khawatir, takut jika terjadi sesuatu yang buruk pada sang suami.


"Ish ... kenapa nomornya gak bisa di hubungi sih? Apa dia tidak tau kalau aku khawatir?" kesal Mita sambil menatap ponselnya.


Hari ini benar benar sangat menyebalkan baginya, apalagi hari ini Lisa mengabarinya jika ia tidak bisa menemaninya. Mita pun memutuskan untuk berkeliling vila, mungkin saja dengan begitu ia bisa mengalihkan sedikit rasa khawatirnya pada sang suami. Karna bosan ia pun akhirnya meraih remote yang ada di atas meja ruang tamu dan menyalakan televisi untuk pertama kalinya sejak ia berada di tempat ini.


"Kenapa acaranya gak ada yang menarik, semuanya membosankan," gerutu Mita yang tidak benar benar menonton ia hanya mengotak atik remote di tangannya, mencari Chanel yang menurutnya menarik, sampai akhirnya tangannya berhenti saat melihat sebuah berita yang menayangkan soal keluarga Dinata. Mita terdiam seperti orang yang kehilangan kesadaran saat menonton berita yang menayangkan tentang pertunangan Arka dengan seorang wanita cantik yang ada di layar besar itu.


"Apa maksud semua ini? Apa aku sedang bermimpi?" ucap Mita sambil berkali kali mengerjapkan matanya berharap jika apa yang dilihatnya saat ini salah, dan ternyata semua yang ia lihat memang benar adanya.


"Ini tidak mungkin, apa selama ini Arka hanya bermain main denganku? Apa karna itu selama dua hari ini Arka tidak bisa dihubungi? Jadi karna dia sedang sibuk mengurus pertunangannya," gumam Mita dengan tatapan kosong.


Tapi beberapa saat kemudian tatapan Mita berubah menjadi tatapan ketakutan, keringat dingin membasahi keningnya saat di layar televisi itu menampilkan sosok wanita paruh baya dengan penampilan glamornya sama seperti waktu wanita itu menemuinya dan orang itu tidak lain adalah nyonya Laras, wanita yang dulu membuatnya terpaksa harus meninggalkan Arka.


"Hah ... hah ... hah ..." Mita benar benar sudah tidak bisa mengontrol perasaannya saat ini, dadanya terasa sesak, ia semakin kesulitan untuk bernapas, Mita terus menepuk nepuk dadanya untuk mengurangi rasa sesak yang dirasakannya, pandangnya mulai menggelap dan ia pun terjatuh tidak sadarkan diri.


"Mita!"


Lisa yang baru saja tiba di villa sangat terkejut saat melihat Mita yang terjatuh pingsan dengan wajah yang terlihat pucat.


Bik Tuti dan beberapa pelayan yang sedang sibuk dengan pekerjaannya berlari ke ruang tamu saat mendengar suara Lisa yang berteriak memanggil nama nyonya mudanya.


"Ada apa dengan nyoya muda?" tanya bik Tuti.


Lisa tidak menghiraukan pertanyaan bik Tuti, pandangannya beralih pada layar televisi yang masih menyala dan tanpa pikir panjang ia berdiri dari duduknya dan menendang tv tersebut dengan keras sampai terjatuh.

__ADS_1


Semua orang terlonjak kaget dengan aksi Lisa yang sangat berani, para pelayan bertanya tanya sebenarnya siapa Lisa karna mereka pertama kalinya melihat Lisa saat nyonya mudanya berada di villa ini.


"Kenapa kalian hanya diam saja cepat bawa nyonya muda ke kamarnya!" perintah Lisa pada para pengawal yang hanya diam saja menatapnya.


"Sebenarnya apa yang sedang di rencanakan bocah tengil itu," gumam Lisa lalu mengikuti langkah pengawal yang menggendong tubuh Mita.


-


-


-


Sementara di tempat yang berbeda. Juna mengepalkan tangannya saat melihat berita pagi ini yang di gemparkan dengan kabar pertunangan Arka. Tanpa banyak kata Juna segera mengeluarkan ponselnya dari saku celana dan menghubungi seseorang.


"Akhirnya kamu menghubungi nenek juga, bagaimana apa sekarang kamu sudah berubah pikiran?" tanya seseorang yang ada di sebrang sana.


"Baiklah aku setuju, aku akan melanjutkan bisnis nenek," jawab Juna.


"Jadi kapan kamu akan mulai mengambil alih perusahaan?"


"Setelah aku menyelesaikan urusanku," jawab Juna.


"Baiklah kalau begitu segera selesaikan urusanmu dan ingat kamu tidak bisa mundur lagi."


"Iya nenek tenang saja aku tidak akan kabur lagi, tapi kembalikan semua fasilitas yang sudah nenek cabut dariku," ucap Juna kembali.


"Baiklah."


Setelah memastikan semua fasilitas miliknya telah di kembalikan oleh sang nenek ia pun mengakhiri sambungan telponnya tanpa mengucapkan kata terima kasih.

__ADS_1


"Aku tidak akan membiarkan kamu menyakiti Mita, aku akan melakukan apa pun untuk melindunginya bahkan jika itu harus melepaskan kebebasan yang selama ini aku impikan." gumam Arka lalu ia pun segera beranjak keluar dari apartemennya, entah apa yang akan ia lakukan dengan semua itu.


Bersambung . . . . . . .


__ADS_2