
Arka telah tiba di mansion Dinata, para pelayan yang melihat kedatangan sang tuan muda menundukkan kepalanya, tidak ada yang berani beradu pandang, apalagi saat melihat ekspresi Arka yang terlihat seperti menahan amarah.
"Di mana nyonya?" tanya Arka pada pelayan pribadi ibunya.
"Nyonya ada di taman belakang bersama nona Clarisa tuan," jawab pelayan tersebut sambil menundukkan kepalanya, suara dingin Arka membuatnya merinding.
Sementara Clarisa dan nyonya Laras yang sedang asik menyirami tanaman tidak menyadari kedatangan Arka.
"Kamu tidak hanya cantik, tapi juga pintar dalam segala hal, bahkan kamu sangat mengerti soal tanaman dan tidak takut kotor saat membantu membersihkan bunga bunga kesayangan Tante," puji nyonya Laras sambil menyirami bunga bunga kesayangannya.
"Jika bukan karna aku menginginkan posisi nyonya muda Dinata, aku juga ogah melakukan hal seperti ini," batin Clarisa.
"Tante bisa saja, aku tidak sehebat yang Tante katakan, di luar sana masih banyak wanita yang jauh lebih hebat dariku, sepertinya aku harus banyak belajar dari Tante agar bisa menjadi wanita hebat," ucap Clarisa sok merendah, tidak lupa senyum yang ia buat semanis mungkin.
"Kamu terlalu merendah padahal kamu jauh lebih hebat dari Tante, kamu memang benar benar menantu idaman Clarisa ..." ucap nyonya Laras.
"Tapi semuanya percuma karna kak Arka sama sekali tidak melihatku," ucap Clarisa dengan ekspresi yang terlihat sedih.
"Kamu tidak perlu khawatir, seiring berjalannya waktu Arka pasti akan membuka hatinya untukmu, dia pasti akan sangat beruntung memiliki seseorang sepertimu di sampingnya," ucap nyonya Laras mengusap bahu Clarisa, ia merasa bersalah padanya karna sikap dingin dan acuh Arka pada Clarisa.
"Tapi bagaimana jika suatu hari nanti wanita itu kembali menggoda kakak, apalagi sampai detik ini kak Arka masih mencintai wanita di masa lalunya itu."
"Kamu tenang saja Tante tidak akan membiarkan ja la ng itu kembali memanfaatkan Arka, Tante akan melakukan apa pun untuk menjauhkan Arka dari wanita penggoda itu."
"Berhenti menyebutnya dengan sebutan yang tidak pantas itu!" ucap Arka dengan suara baritonnya, ia melangkah mendekat ke arah Clarisa dan nyonya Laras yang terlihat ketakutan melihat ekspresi Arka.
"Arka, sejak kapan kamu di sini?" tanya nyonya Laras berusaha menyembunyikan kegugupannya, karna dapat dipastikan putranya itu pasti akan marah jika mendengarnya menyebut mantan kekasihnya.
"Sejak kalian membicarakan wanitaku," jawab Arka dingin.
"Apa ada hal penting? Tidak biasanya kamu datang di saat jam kerja, apa ada masalah dengan perusahaan?" tanya nyonya Laras mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Jika tidak ada hal penting sebaiknya kamu pergi, aku ingin bicara berdua dengan mama," usir Arka sambil menatap dingin Clarisa.
"Arka!" bentak nyonya Laras tidak suka melihat sikap Arka pada Clarisa.
__ADS_1
"Pergilah!" ucap Arka. Ia tidak peduli dengan bentakan mamanya.
"Tapi kak kita baru saja bertemu, alangkah baiknya kalau kita juga mengobrol bersama, lagi pula aku ini tunangan kakak jadi tidak masalah kalau aku tetap di sini," ucap Clarisa.
"Jangan membuatku terus mengulang ucapan ku, dan perlu aku ingatkan kamu baru calon tunangan bukan nyonya muda Dinata, jadi pergilah sebelum kesabaran ku habis," ucap Arka dingin.
"Aku akan tetap di sini," Clarisa yang tidak terima dengan sikap Arka tetap kekeh tidak ingin pergi dari kediaman Dinata.
"Arka kamu jangan keterlaluan pada Clarisa, sikap kamu selalu seperti ini jika berkaitan dengan mantan mu itu, memangnya apa bagusnya wanita itu? Hingga membuatmu menjadi pria tidak berperasaan seperti ini?!"
Brak!
Arka memukul salah satu pot bunga di dekatnya hingga pecah dan menyebabkan tangan kanannya berdarah.
"Pergilah, sebelum salah satu pot ini mengenai kepalamu," ucap Arka menatap tajam Clarisa.
Clarisa yang takut melihat kemarahan Arka langsung saja beranjak meninggalkan ibu dan anak itu, ia benar benar dibuat merinding apalagi saat Arka hendak mengangkat pot di dekatnya.
"Kenapa dia bisa berubah menjadi sangat mengerikan?" gumam Clarisa yang dengan langkah cepat keluar dari kediaman Dinata.
Sedangkan di taman Arka menatap tajam nyonya Laras. Ia berusaha sekuat tenaga untuk menahan amarahnya jangan sampai ia melakukan sesuatu pada wanita yang pernah melahirkannya itu, andai saja ia tidak memikirkan statusnya sebagai anak, mungkin saat ini ia sudah memberikan pelajaran pada ibunya itu.
Nyonya Laras mengerutkan alisnya mendengar pertanyaan putranya itu yang tiba tiba menanyakan soal wanita masa lalunya. "Apa maksud mu?" tanya nyonya Laras.
"Aku sudah mengetahui semuanya, tapi aku ingin mendengarnya langsung dari mulut mama," ucap Arka.
"Mama tidak mengerti maksud ucapan mu itu."
"Katakan dengan jujur apa mama yang telah membuat Mita meninggalkanku? Dengan membayar orang untuk–" sebelum Arka melanjutkan ucapannya nyonya Laras terlebih dahulu memotongnya.
"Ya! Mama yang sudah membuat wanita itu pergi meninggalkan mu, karna dia tidak pantas untukmu, wanita sepertinya hanya menginginkan uangmu saja, bahkan dia memiliki banyak pria di sekitarnya! Apakah wanita seperti itu yang kamu sebut wanita baik baik?!" ucap nyonya Laras tidak kalah emosi.
Arka mengepalkan tangannya mendengar pengakuan nyonya Laras, padahal ia berharap kalau ibunya bukanlah orang dibalik kepergian Mita.
"Tapi tidak seharusnya mama melakukan hal yang dapat merusak masa depannya, karna perbuatan mama hampir saja menghancurkan hidup Mita!"
__ADS_1
"Kamu tidak usah berlebihan tentang wanita itu, karna hal seperti itu tidak akan sampai membuat hidupnya hancur," ucap nyonya Laras tersenyum sinis.
"Anda benar benar membuatku kecewa, ternyata wanita berpendidikan seperti anda memiliki pemikiran yang sangat rendah, kali ini aku masih bisa menahan diri karna aku menghormati anda sebagai orang tuaku, tapi tidak untuk lain kali," ucap Arka menatap nyonya Laras dengan tatapan penuh kekecewaan bahkan ia sampai mengeluarkan air mata. Ia tidak menyangka mamanya mampu melakukan perbuatan keji itu.
Arka segera beranjak meninggalkan mamanya, karna takut tidak dapat mengontrol emosinya dan melakukan sesuatu yang dapat menyakiti nyonya Laras.
Sementara nyonya Laras hanya bisa menatap punggung putra semata wayangnya, untuk pertama kalinya ia melihat Arka mengeluarkan air mata setelah sekian lama.
"Apa yang aku lakukan selama ini salah? Aku hanya ingin melindungi putraku," ucap nyonya Laras lirih.
"Tapi apa maksud Arka yang mengatakan kalau aku hampir menghancurkan hidup wanita itu?" gumam nyonya Laras terlihat kebingungan.
-
-
Malam harinya di villa.
"Tidurlah terlebih dahulu, aku akan kembali setelah menyelesaikan pekerjaanku," ucap Arka sambil menyelimuti Mita yang sudah berbaring di atas tempat tidur dengan tatapan kesalnya.
"Aku juga tidak berharap kamu kembali ke kamarku, apa dia sudah lupa dengan apa yang dia ucapkan sebelum pernikahan kita, kalau ia tidak akan sudi satu kamar, apalagi sampai seranjang denganku, dan sekarang ia tiba tiba saja memaksa ingin tidur seranjang dengan membawa bawa status kita. Dasar pria tidak tau malu dan tidak memiliki pendirian, awas saja kalau kamu sampai berani macam macam, aku benar benar akan mematahkan kakimu itu," batin Mita menggerutu kesal.
"Cepat tidur, jangan terus mengumpat ku," ucap Arka seolah olah mengetahui apa yang sedang dipikiran Mita saat ini.
"Sial bagaimana dia bisa tau? ..." batin Mita, ia sangat terkejut karna ucapan Arka yang memang benar adanya, sebisa mungkin ia berusaha untuk tetap terlihat biasa saja jangan sampai Arka benar benar tau suara hatinya.
"Sebenarnya apa yang sedang kamu rencanakan? Kenapa kamu harus bersikap seperti ini?" tanya Mita saat Arka hendak keluar dari kamarnya.
Arka mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan Mita. "Aku tidak merencanakan apa pun," jawab Arka tanpa membalikkan tubuhnya menatap Mita.
"Lalu kenapa sikap kamu tiba tiba berubah? Apa ini bagian dari rencana mu untuk membalas ku?" tanya Mita kembali.
"Jangan terlalu banyak berpikir, aku hanya ingin mengganti waktu kita yang hilang selama beberapa tahun ini." ucap Arka menatap Mita dengan tatapan yang sulit diartikan. "Maaf jika saat saat itu terlalu berat untukmu, kali ini aku akan melindungi mu, aku tidak akan membiarkan siapa pun menggangu mu, apalagi sampai membuatmu terluka," Arka tersenyum sambil mengusap kepala sang istri lalu beranjak meninggalkan Mita yang terdiam menatap punggung Arka yang menghilang di balik pintu, ia masih berusaha mencerna maksud ucapan terakhir Arka.
"Ada apa dengannya? Kenapa tatapannya terlihat sangat menyesal, dan apa maksud ucapannya? Lagi pula ia tidak perlu repot repot melindungi ku dari pengganggu, karna yang ada dia sendiri yang terus menggangguku dengan sikapnya itu," gumam Mita setelah kepergian Arka, lalu ia pun kembali membaringkan tubuhnya.
__ADS_1
Mita sebenarnya merasa aneh dengan sikap Arka, karna sejak pulang suaminya itu lebih banyak diam dan menghabiskan waktu di ruang kerjanya, bahkan ia yang biasanya akan marah marah kalau ada pelayan yang melakukan kesalahan hari ini ia terlihat tidak peduli saat salah satu pelayan tidak sengaja menumpahkan kopi ke bajunya.
Bersambung . . . . . .