
Esok harinya di perusahaan Dinata grup.
Suasana di dalam ruang rapat begitu suram, tidak ada satu pun dari orang orang yang ada di dalam sana berani menatap wajah Arka yang terlihat sangat menyeramkan, bahkan karyawan yang akan melakukan persentasi pun sudah terlebih dahulu gemetar sebelum mereka menyampaikan isi persentasinya. Karna sedikit saja kesalahan yang mereka lakukan akan membuat Arka murka, sekretaris Rey yang melihat tuannya semakin tidak terkontrol segera menyudahi rapat pagi ini.
"Tuan sebaiknya minum dulu," ucap sekretaris Rey memberikan air putih untuk Arka.
Tanpa mengatakan apa pun Arka mengambil air mineral yang diberikan sekretaris Rey dan menegaknya hingga tandas, dan keluar dari ruang rapat, ia benar benar belum bisa tenang sebelum mengetahui keberadaan sang istri. Bahkan sampai detik ini orang orangnya belum memberikan kabar baik soal keberadaan Mita, dan hal itu semakin membuatnya khawatir, ia takut jika orang yang membawa Mita adalah salah orang dari saingan bisnisnya, mengingat begitu banyak orang orang serakah di luar sana yang ingin menyingkirkan dirinya sebagai pewaris perusahaan besar.
"Tuan apakah sebaiknya anda istirahat, anda pasti kurang tidur karna semalaman mencari keberadaan Nona," ucap sekretaris Rey yang merasa khawatir dengan tuannya, karna sejak kejadian hilangnya Mita Arka sudah seperti orang kesetanan.
"Bagaimana apa kamu sudah menemukan siapa orang yang telah membawa istriku pergi?" tanya Arka yang tidak menghiraukan ucapan Rey yang menyuruhnya untuk istirahat.
Sekretaris Rey hanya bisa menghela napas dengan sikap tuannya jika itu sudah menyangkut sang istri. "Belum tuan sepertinya orang itu sudah merencanakan semuanya dengan matang hingga tidak ada jejak yang di temukan, tapi saya mencurigai seseorang Tuan," jawab sekretaris Rey.
Arka melirik Rey. "Siapa?" tanyanya kembali.
"Sepupu Nona muda," jawab Rey.
Arka mengepalkan tangannya, tanpa Rey menyebutkan namanya ia sudah bisa menebak siapa orang yang di maksud oleh sekretarisnya itu. "Apa kamu yakin hilangnya Mita adalah ulah pria bernama Juna itu?" tanya Arka memastikan.
"Itu masih kecurigaan saya tuan, orang orang kita sedang mencari tau lebih dalam lagi soal pria itu," jawab sekretaris Rey.
Arka menghela napas kasar mendengar penjelasan sekretaris Rey sambil meremas rambutnya prustasi. "Argh ...!" Arka melempar tumpukan kertas yang ada di meja.
"Apa kalian membutuhkan bantuan?" suara seseorang yang sejak tadi sudah berada di ruangan itu.
"Astaga! sejak kapan Lo berada di sana Ga?" tanya Arka yang terkejut melihat Arga di ruangannya tengah duduk santai di sofa, entah sejak kapan sahabatnya itu masuk ke ruangannya.
"Gue udah berada di sini dari sebelum kalian masuk," jawab Arga dengan wajah datarnya.
__ADS_1
"Sorry Ga, pikiran gue lagi kacau sampai tidak menyadari keberadaan Lo," ucap Arka dengan wajah yang terlihat lesu.
"Gue tau di mana Mita," ujar Arga tetap dengan wajah datar tanpa ekspresi.
"Ha? Lo serius kan, gak bercanda?" tanya Arka yang langsung mendekat ke sofa.
"Apa gue terlihat sedang bercanda?"
"Jadi Lo tau dimana keberadaan istri gue sekarang?" tanya Arka dengan wajah berbinar.
"Hem," jawab Arga singkat.
Rasa lelah dan emosi yang ia rasakan seperti menguap saat mendengar kabar tentang keberadaan Mita. Ia tau Arga tidak mungkin asal ngomong, karna sahabatnya itu tidak suka basa basi apalagi sampai membuat hal hal seperti itu sebagai candaan.
"Lalu di mana dia sekarang," tanya Arka kembali.
"Jadi pria itu rela menukar kebebasannya dan kembali ke keluarga Davis hanya untuk membawa kabur istriku, benar benar sepupu yang baik, pantas saja orang orangku sangat sulit untuk menemukan keberadaan istriku," gumam Arka tersenyum sinis, sebenarnya ia sudah mengetahui identitas Arjuna yang merupakan cucu dari keluarga Davis pemilik perusahaan makanan terkenal di kota A, karna sebelumnya ia pernah meminta sekretaris Rey untuk mencari tau tentang informasi pria yang mengaku sebagai sepupu istrinya untuk berjaga jaga.
Sementara sekretaris Rey yang sejak tadi menyaksikan interaksi Arka dan sahabatnya di buat merinding melihat ekspresi Arga yang dua kali lipat lebih dingin dari atasannya.
"Ternyata sikap dingin tuan Arka tidak ada apa apanya jika di bandingkan dengan tuan Arga, kasihan sekali wanita yang menjadi istrinya pasti akan sangat kesepian," batin Rey, yang tiba tiba membandingkan Arka dengan Arga, bahkan sampai membayangkan bagaimana nasib istri Arga yang harus menghadapi sikap dinginnya.
"Kalau begitu gue harus segera ke sana," ucap Arka bangun dari duduknya.
"Mau ke mana?" tanya Arga.
"Tentu saja menjemput istriku, memangnya kemana lagi?" ucap Arka.
"Siapa yang ngizinin Lo untuk langsung pergi ke sana?" ucap Arga ikut berdiri.
__ADS_1
"Memangnya gue harus mendapatkan izin dari orang lain dulu untuk menjemput istriku," ucap Arka mulai kesal dengan sahabatnya itu yang seperti menghalanginya untuk bertemu Mita.
"Enak saja ingin langsung pergi setelah mendapatkan informasi, ingat di dunia ini tidak ada yang gratis," ucap Arga.
"Ya ampun Ga ... sejak kapan Lo berubah jadi perhitungan, Lo tenang aja nanti gue bayar," ucap Arka sambil geleng gelang kepala, merasa heran dengan Arga yang tidak biasanya meminta imbalan setelah membantunya.
"Gue gak butuh uang Lo," jawab Arga.
"Terus kalau bukan uang apa? Jangan bilang Lo mau saham?" celetuk Arka. Entah kenapa perasaannya mulai merasakan sesuatu yang tidak beres.
"Temenin gue ke Bandung Dira lagi ngidam pengen makan mie kocok yang dibeli langsung di Bandung," ucap Arga dengan santainya.
"What!" ucap Arka. Bisa bisanya di saat seperti ini Arga malah mengajaknya ke Bandung. "Apa gak bisa nanti aja Ga, gue udah gak sabar pengen ketemu bini gue, gimana nanti kalau dia di bawa kabur lagi?" Arka mencoba bernegosiasi dengan sahabatnya itu.
"Gak bisa. Dira maunya hari ini, ayo kita berangkat sekarang," ucap Arga tidak ingin mendengar penolakan Arka.
"Tapi Mita–"
"Dia tidak akan ke mana mana, lagi pula dia gak bakalan mau ketemu Lo, jadi berikan dia waktu untuk menenangkan diri, dan sekedar informasi mamanya Mita galak, Lo harus bersiap siap menghadapi kemarahannya, jadi untuk hari ini Lo lebih baik temenin gue dulu sambil mempersiapkan mental sebelum di eksekusi." ucap Arga memperingati Arka.
"Bisa gak bahasanya diperhalus? Bahasa Lo ngeri banget Ga, sampai di eksekusi segala, emang Lo pikir gue penjahat," ucap Arka agar agar meralat kata katanya.
"Ya Lo ingat ingat aja apa yang pernah Lo lakukan pada Mita," sindir Arga yang mengetahui perbuatan Arka pada Mita di awal pernikahannya.
Arka merasa tersentil dengan ucapan Arga, ia kembali teringat dengan perbuatannya pada Mita saat pertama kali membawanya ke villa dan ia pun mendengarkan saran sahabatnya agar memberikan waktu untuk Mita dan mau tidak mau ia harus ikut Arga ke Bandung untuk memenuhi ngidamnya Dira dan lagi lagi ia menjadi tumbal ngidam aneh istri sahabatnya itu.
"Sepertinya aku harus segera membuat Mita hamil agar bisa balas dendam dengan dua pasang suami istri ini," batin Arka lalu mengikuti langkah Arga yang sudah keluar lebih dulu.
Bersambung . . . . . .
__ADS_1