
Di perusahaan Dinata grup.
Sudah dua hari berlalu sejak pengakuan perasaan mereka, kini hubungan Arka dan Mita semakin lengket dan perlahan sikap Arka kembali seperti dulu, sudah tidak ada lagi wajah dingin ya selalu ia tunjukkan pada Mita, tidak jarang ia bertingkah konyol hanya untuk membuat Mita tertawa, tapi itu hanya berlaku untuk sang istri. Sikap dingin dan kejamnya tetap berlaku pada orang lain, apalagi jika itu menyangkut tentang keselamatan Mita, ia tidak akan segan segan menghukum orang orang yang hendak membahayakan istrinya itu.
Seperti yang terjadi hari ini anak buahnya berhasil memergoki seorang pria yang sedang mencari tau informasi tenang Mita.
Pria itu bergetar menatap Arka yang berdiri di hadapannya dengan tatapan tajamnya.
"Katakan apa tujuan mu?" tanya Arka dengan nada santai, tapi terlihat menakutkan bagi orang di hadapannya saat ini.
"Am–ampun tuan saya hanya di perintahkan untuk mencari keberadaan wanita yang ada di foto itu, tanpa ada niatan untuk mencelakainya." jawab pria itu, sambil menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya akibat pukulan yang diberikan anak buah Arka.
"Ternyata dia benar benar sangat gigih untuk membawa pergi istriku," gumam Arka."
Arka tersenyum miring mendengar jawaban pria tersebut, sambil melangkah mendekat. Ia sudah tau siapa orang yang selama beberapa hari ini mengintai pergerakannya, dalang yang sama dengan sosok yang ia lihat di villanya waktu itu, siapa lagi kalau bukan Arjuna, pria yang mengaku sebagai sepupu sang istri.
"Pergilah! Dan jangan lupa sampaikan salamku pada tuan mu itu, suruh dia berhenti memata matai ku sebelum aku benar benar menghancurkannya, karna sampai kapan pun dia tidak akan bisa membawa istriku pergi, walaupun dia adalah bagian dari keluarga istriku aku tidak segan segan untuk menyingkirkannya jika dia masih bersikeras untuk mengacaukan hubungan kami," ucap Arka lalu memerintahkan anak buahnya untuk membawa pria tersebut keluar dari perusahaannya tanpa membuat keributan.
Tidak lama setelah kepergian orang yang telah membuat moodnya kacau pagi ini, senyum Arka kembali merekah saat mendapatkan panggilan telpon dari sang istri tercinta. Dengan penuh semangat ia menjawab panggilan dari sang nyonya muda.
"Arka Kurniawan!" Arka langsung menjauhkan ponselnya dari telinganya saat mendengar suara Mita.
Arka menatap sekretaris Rey sambil memberikan kode dengan gerakan bibirnya, bertanya apa yang membuat istrinya terdengar sangat marah.
__ADS_1
Sekretaris Rey menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
Arka kembali menempelkan ponselnya ke telinganya. "Halo sayang, apa kamu sudah merindukanku?" tanya Arka dengan hati hati sambil tetap tersenyum.
"Apa maksud semua ini Ar? Bukannya semalam kamu bilang jika hari ini aku boleh keluar untuk membeli pakaian bersama Lisa, tapi kenapa kamu malah mengirim orang orang ini ke sini, dan semua barang ini? Apa kamu baru saja memindahkan mall ke tempat ini?! Dan ini apa lagi, kenapa kamu harus memesan baju kurang bahan?" gerutu Mita yang terdengar sangat kesal apalagi saat melihat berbagai model pakaian aneh kekurangan bahan yang katanya di pesan khusus oleh Arka.
Arka menarik napas dalam sebelum menjawab pertanyaan yang di lontarkan Mita. "Kamu bisa memilih semua barang yang kamu suka tanpa harus capek capek keluar rumah, bukankah aku suami yang sangat pengertian?" ucap Arka.
"Tapi bukan ini yang aku inginkan Ar, aku hanya ingin menikmati suasana di luar sana, apakah kamu tidak bisa memberikan izin padaku sebentar saja? Apa kamu masih berpikir aku akan kabur lagi?" tanya Mita mulai merajuk.
"Di luar sana terlalu bahaya, aku tidak ingin kejadian satu tahun lalu terulang kembali, aku takut mama akan kembali melakukan sesuatu padamu sayang, jika mengetahui kamu berada di kota ini," jawab Arka.
Terdengar helaan napas dari Mita di sebrang sana. "Ini hanya alasan kamu saja kan? Agar aku tidak bisa keluar dari tempat ini? Tapi sampai kapan kamu akan mengurungku di sini Ar? Bukankah kamu bilang kalau kamu akan melindungi ku dari mama kamu, lalu kenapa sekarang kamu malah takut dan terkesan tidak mampu untuk melindungi ku."
"Aku hanya keluar sebentar, lagi pula aku juga bisa melindungi diriku sendiri, apa kamu lupa kalau aku ini pernah belajar ilmu bela diri?" ucap Mita masih berusaha meyakinkan Arka untuk mendapatkan izinnya.
"Pokoknya tetap tidak bisa." ucap Arka tidak ingin dibantah.
"Terserah kamu saja Ar, percuma juga aku protes," ucap Mita lalu mematikan sambungan telponnya.
Arka kembali mengenal napas, ia yakin pasti Mita saat ini sangat kesal dan marah padanya, tapi ini demi kebaikannya, karna ia tidak yakin mamanya akan diam saja jika mengetahui keberadaan Mita. "Maaf bukannya aku ingin mengekang mu, tapi belum saatnya kamu menunjukkan keberadaan mu, ada hal penting yang harus aku selesaikan sebelum dunia tau siapa dirimu," gumam Arka dengan senyum yang tidak terbaca. Entah apa yang sedang ia rencanakan kali ini.
Di villa.
__ADS_1
"Dasar pria egois, mau menang sendiri, katanya dia akan menuruti semua keinginan ku, tapi aku hanya meminta untuk keluar jalan jalan sebentar saja dia tidak mau menurutinya, apalagi kalau aku sampai minta dibelikan pulau," gerutu Mita melempar ponselnya ke atas sofa ruang tamu.
"Kalau kamu meminta tuan untuk membelikan mu pulau, pasti detik ini juga dia akan langsung membelikannya untuk mu," celetuk Lisa yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Mita.
"Sudahlah Mit, lebih baik sekarang kamu pilih saja barang barang ini sepuasnya, kapan lagi coba kamu dapat berbelanja sepuasnya tanpa harus menghabiskan tenaga untuk berkeliling mall," ucap Lisa yang sejak tadi mendengar Mita menggerutu kesal sambil terus memaki Arka.
Mita terdiam menimbang ucapan Lisa. "Kamu benar juga Lis, kalau begitu aku tidak akan segan untuk memilih barang yang aku suka, mari kita pilih barang barang yang kita suka, aku akan membuat dompet pria kejam itu menipis bila perlu sampah bangkrut biar dia tau rasa," ucap Mita. Ia berpikir Arka akan kewalahan membayar belanjaannya, karna ia tidak hanya belanja untuk dirinya sendiri tapi ia juga membelikan untuk para karyawan yang ada di villa tersebut, apalagi harga barang barang tersebut yang terbilang mahal.
Lisa hanya bisa tersenyum melihat tingkah nyonya mudanya yang sedang merajuk. "Apa nyonya muda tidak tau ada berapa jumlah uang yang masuk ke rekening tuan setiap harinya, membeli semua barang barang ini tidak akan membuat uang tuan habis apalagi sampai bangkrut," batin Lisa sambil geleng gelang kepala melihat kepolosan nyonya mudanya itu.
"Wanitaku memang berbeda," gumam Arka tersenyum samar saat mendapatkan laporan dari anak buahnya soal Mita.
-
-
Sementara di tempat yang berbeda di sebuah apartemen di pusat kota.
Arjuna mengepalkan tangannya melihat kondisi orang suruhannya yang ia minta untuk mencari tau keberadaan Mita, apalagi saat orang itu menyampaikan pesan Arka.
"Apa kamu pikir aku akan takut dengan ancaman mu itu, bagaimana pun caranya aku pasti akan membawa Mita pergi dari sisimu, kali ini aku tidak akan tinggal diam, sudah cukup dia menderita karna ulah keluargamu," gumam Juna sambil menatap keluar jendela apartemen.
Bersambung . . . . .
__ADS_1