Belenggu Cinta Sang Mantan

Belenggu Cinta Sang Mantan
BAB 38


__ADS_3

Setelah terdiam sejenak yonya Laras segera mengambil ponselnya dan menghubungi nomor Arka.


Tut ... Tut ... Tut ...


"Halo Ma," suara Arka di sebrang telpon.


"Kapan kamu akan pulang?" tanya nyonya Laras.


"Kenapa bertanya? Apa mama akan kembali menggeledah tempat tinggal ku? tanya Arka dengan nada penuh sindiran.


"Mama melakukan itu untuk memastikan apakah kamu selama ini menyembunyikan wanita itu di sana," jawab nyonya Laras.


"Lalu apa mama telah menemukan apa yang mama cari?" tanya Arka kembali membuat nyonya Laras terdiam.


"Jadi kapan kamu akan pulang?" nyonya Laras malah bertanya kembali untuk mengalihkan pertanyaan yang dilontarkan Arka.


"Sampai masalah di sini terselesaikan," jawab Arka. Ia tau jika mamanya sedang mengalihkan pertanyaan yang ia lontarkan berkaitan tentang barang barang milik sang papa yang selama ini ia simpan tanpa sepengetahuan nyonya Laras.


"Apa kamu telah menemukan siapa dalang yang telah menyebabkan kecurangan di perusahaan?" tanya nyonya Laras ingin tahu siapa orang yang telah melakukan penggelapan pada cabang perusahaan yang ada di luar negeri.


"Belum, karna yang kami temukan hanya antek anteknya." jawab Arka.

__ADS_1


"Apa maksud mu masih ada orang lain?"


"Hm," jawab Arka.


"Baiklah, mama harap masalahnya cepat selesai. Karna mama ingin setelah kepulangan mu acara pertunangan dengan Clarisa segera dilakukan, dan mama ingin acara itu di lakukan bertepatan dengan hari ulang tahun perusahaan," ucap nyonya Laras.


"Kenapa mama begitu inginnya melihatku bertunangan dengan Clarisa? Bukankah sudah aku katakan aku tidak mencintainya," ujar Arka yang merasa jengah dengan keinginan mamanya yang selalu saja memintanya bersama Clarisa wanita licik itu.


"Karna dia memang pantas untuk menjadi menantu keluarga Dinata, dan yang paling penting ia berasal dari keluarga terpandang, tidak seperti wanita Mura–"


"Jangan pernah menyebutnya dengan sebutan itu, dia adalah wanita terhormat tidak seperti yang mama pikirkan," potong Arka sebelum nyonya Laras menyelesaikan kata katanya.


Arka menarik napas dalam menghadapi sifat keras kepala mamanya. "Jangan buat masa lalu mama sebagai alasan untuk membenci orang yang tidak bersalah, karna tidak semua orang dengan status sosial ekonomi rendah sama seperti papa, lagi pula apa mama yakin jika Clarisa lebih baik dari Mita, apa mama yakin keluarganya benar benar tulus ingin menjalin hubungan keluarga dengan keluarga Dinata tanpa ada maksud tertentu?" tanya Arka.


"Pokoknya mama tidak mau tau kamu harus tetap melanjutkan pertunangan itu, mama tidak ingin mendengar penolakanmu kali ini, karna mama yakin Clarisa adalah yang paling pantas untuk menjadi nyonya muda Dinata." tekan nyonya Laras yang langsung mematikan sambungan telponnya. Ia benar benar tidak ingin dibantah.


"Apa mama masih akan tetap bersikeras untuk menjadikan Clarisa sebagai menantu, setelah mengetahui semua kebusukannya? Baiklah kali ini aku akan menjadi anak yang penurut, karna aku juga mempunyai kejutan yang besar untuk semua orang," gumam Arka tersenyum miring sambil menatap ponselnya.


-


-

__ADS_1


Sementara itu di sebuah mall dua orang wanita dengan menggunakan Hoodie kebesaran dan topi, tidak lupa masker yang menutupi wajahnya tengah menikmati waktu mereka di luar vila, siapa lagi kalau bukan Mita dan Lisa. Jadi sebelum keluar dari mobil Lisa meminta Mita menggunakan kostum yang telah ia siapkan agar tidak ada orang yang mengenalinya.


Mita terlihat sangat menikmati hari kebebasannya, akhirnya setelah sekian lama ia dapat merasakan keramaian tidak seperti saat berada di villa yang hanya di temani oleh beberapa pelayan yang selalu menundukkan kepalanya saat berhadapan dengannya. Untungnya ada Lisa yang bisa bersikap layaknya seorang teman tanpa melihat statusnya sebagai istri dari Arka.


"Bagaimana apa kamu menyukainya?" tanya Lisa setelah mereka keluar dari mall dengan banyaknya belanjaan di tangan mereka.


Mita memejamkan matanya sambil mendongakkan kepalanya. "Tentu saja aku sangat senang, karna akhirnya aku bisa keluar dari sangkar emas itu."


"Wajahmu memang sudah menunjukkan itu, apa selama ini kamu tidak bahagia berada di sisi Tuan?" tanya Lisa.


"Hm,,, tentu saja aku bahagia berada di sisi pria yang aku cintai, tapi aku juga merindukan kehidupanku sebelumnya, bertemu dengan orang orang terdekat ku," jawab Mita.


Lisa menepuk bahu Mita. "Suatu saat tuan pasti akan mengembalikan kebebasan mu, aku yakin dia pasti memiliki alasan mengapa ia melakukan hal ini padamu," ucap Lisa meyakinkan Mita.


"Oh iya karna terlalu senang aku sampai lupa ingin menanyakan ini padamu, dari mana kamu mendapatkan uang untuk barang barang ini?" tanya Mita yang baru sadar dengan uang yang mereka gunakan.


"Tuan Arka yang memberikannya," jawab Lisa yang langsung masuk ke mobil setelah memasukkan barang barang belanjaan mereka.


"Ha? maksud mu Arka tau kita keluar dari villa?" tanya Mita dengan ekspresi terlihat panik.


Bersambung . . . . .

__ADS_1


__ADS_2