
Keesokan harinya.
Mita perlahan membuka matanya, dan ia sangat terkejut saat mendapati Arka yang tertidur sangat pulas di sampingnya sambil memeluknya, tangan kekar itu membelit pinggangnya dengan sangat posesif. Dengan cepat Mita memeriksa tubuhnya dan ia langsung bernapas lega karna ia masih menggunakan pakaian utuh.
"Astaga apa yang baru saja aku pikirkan?" gumam Mita menggelengkan kepalanya, karna bisa bisanya ia memikirkan hal kotor jika Arka akan melakukan sesuatu padanya.
"Tapi bagaimana dia bisa tidur di sini?" gumam Mita sambil mencoba untuk menyingkirkan tangan Arka dari tubuhnya dengan sekuat tenaga, tapi bukannya lepas Arka malah semakin memeluknya erat bahkan tidak hanya tangan, tapi juga kakinya membelit tubuh kecilnya.
"Diamlah, biarkan aku tidur beberapa menit lagi, biarkan aku memelukmu seperti ini," gumam Arka tanpa membuka matanya.
Mita pun hanya bisa pasrah dan membiarkan Arka tertidur sambil memeluknya. Ia menatap wajah lelap itu dengan perasaan yang sulit diartikan.
"Sejak kapan pria aneh ini berubah menjadi begitu tampan?" batin Mita. Tangannya secara perlahan menyentuh wajah Arka. Ia terlihat begitu menikmati wajah tampan di hadapannya itu sambil tersenyum sendiri, bahkan ia tanpa sadar mencubit gemas pipi Arka.
"Aw!" jerit Arka yang langsung terbangun saat merasakan sakit di pipinya.
"Astaga apa yang aku lakukan, aku pasti sudah gila," batin Mita merutuki kelakuannya itu.
"Ada apa? Kenapa mencubit ku? Apa kamu kesal karna aku memelukmu? tanya Arka duduk di hadapan Mita sambil mengusap pipinya.
"Maaf aku tidak bermaksud kurang ajar, aku hanya gemas," ucap Mita tanpa sadar mengakui alasannya mencubit pipi Arka.
"Oh ... jadi kamu terpesona dengan wajah tampanku ini ... sampai membuatmu gemas dan mencubitnya?" ucap Arka sambil tersenyum.
"Aku hanya gemas karna pipi gembul mu bukan terpesona, lagi pula wajahmu tidak setampan itu sampai harus membuatku terpesona," ucap Mita. Padahal sebenarnya dia memang terpesona dengan ketampanan suaminya itu, tapi ia terlalu gengsi untuk mengakuinya, bisa bisa Arka akan besar kepala jika mengetahuinya.
"Sudah akui saja ... gak usah malu malu kamu bisa mencubitnya sepuasnya, aku akan dengan senang hati memberikan pipiku yang berharga ini untuk kamu cubit, kalau kamu mau mencubit bagian yang lain juga boleh, karna semua yang ada padaku adalah milikmu," goda Arka sambil mendekatkan wajahnya ke hadapan Mita.
"Dasar mesum," ucap Mita memundurkan wajahnya.
"Tidak usah di tahan, ayo lakukan," Arka kembali mendekatkan wajahnya dan menempelkan kedua tangan Mita pada pipinya.
Bug!
Mita memukul kepala Arka dengan bantal di sampingnya dan langsung berlari meninggalkan Arka ke kamar mandi.
__ADS_1
Arka tertawa karna berhasil membuat Mita kesal. "Ternyata kamu belum banyak berubah, masih tetap menggemaskan seperti dulu," gumam Arka lalu ia pun ikut beranjak dari kamar Mita.
-
-
Mita sudah terlihat segar, ia turun ke lantai satu dan seperti biasa ia akan mengunjungi dapur untuk melihat para pelayan memasak dan biasanya Mita akan ikut membantu. Tapi kali ini ia tidak bisa ikut membantu karna larangan Arka.
"Loh kok kacanya pecah, bukannya semalam masih baik baik saja?" tanya Mita pada salah satu pelayan saat arah pandangannya tertuju pada kaca yang terlihat bolong.
"Sepertinya kacanya sudah terlalu tua, makanya semalam tiba tiba pecah Non," jawab pelayan tersebut.
"Oh, aku pikir ada maling yang masuk ke tempat ini," ucap Mita.
"Apa yang kamu lakukan di sana?!" teriak Arka yang mendapati Mita di dapur.
"Aku tidak melakukan apa pun, aku hanya melihat lihat saja, sekalian ambil air putih," jawab Mita sambil mendorong tubuh Arka untuk menjauh dari dapur sebelum dia memarahi para pelayannya.
Beberapa menit kemudian.
Saat mereka tengah menikmati sarapan, ponsel Arka berdering, dan ia langsung menghentikan makannya dan bersiap untuk pergi setelah menerima panggilan tersebut.
"Iya bawel ... ."
"Oh iya ini ponsel untukmu supaya kamu tidak terlalu bosan, tapi ingat kamu hanya boleh menelpon ku, jangan coba coba menelpon pria bernama Juna itu," ucap Arka lalu mencium kening Mita sebelum pergi.
"Kenapa dia suka sekali mencium ku tanpa meminta izin, dasar pria menyebalkan," gerutu Mita.
Setelah selesai dengan sarapannya Mita pun kembali ke kamarnya dan lagi lagi ia dibuat terkejut, karna tiga orang pelayan sedang memindahkan barang barang milik Arka ke dalam kamarnya.
"Kenapa kalian memindahkan barang barang tuan ke sini? tanya Mita terlihat kebingungan.
"Tuan meminta kami untuk memindahkan semua barang barangnya ke kamar Nona," jawab pelayan tersebut.
"Tapi–"
__ADS_1
Baru saja Mita hendak protes, Arka sudah terlebih dahulu menelponnya.
"Halo," Mita menjawab panggilan telpon Arka dengan ekspresi yang terlihat kesal.
"Aku meminta mereka untuk memindahkan barang barang ku ke kamar mu, karna mulai malam ini kita akan tidur satu kamar," ucap Arka.
"Tapi bukankah itu keluar dari kesepakatan kita sebelumnya?"
"Aku tidak menerima penolakan," ucap Arka dan mengakhiri panggilan telpon secara sepihak.
"Dasar pria menyebalkan aku belum selesai bicara dia sudah mematikan telponnya."
-
-
Arka sudah sampai di sebuah tempat yang terlihat seperti tempat penyekapan dan di sana tampak seorang pria duduk di kursi dengan tangan dan kaki diikat.
"Apa kamu sudah memastikan jika dia benar benar orangnya?" tanya Arka pada sekretaris Rey.
"Sudah tuan," jawab Rey.
"Sebenarnya siapa kalian? Kenapa tiba tiba membawaku ke tempat kotor ini? Apa kalian tidak tau siapa aku?"
"Memangnya kamu siapa? Anak presiden?" tanya Arka dengan ekspresi meremehkan. "Aku tidak peduli siapa kamu, aku hanya ingin memberikan pelajaran pada orang yang sudah berani bermain main dengan wanitaku,"
"Apa maksudmu? Aku tidak mengetahui wanita yang kamu bicarakan itu," ucap pria itu.
"Pasti kamu tau wanita ini?" Arka menunjukkan foto Mita yang ada di ponselnya.
"Oh ... Wanita galak itu, dia cukup menggoda sayangnya aku belum sempat–"
Bug!
Sebelum pria itu melanjutkan ucapannya Arka tanpa aba aba langsung saja memukul pria tersebut. Ia benar benar tidak dapat menahan diri saat melihat pria yang sudah berani menyentuh istrinya.
__ADS_1
"Siapa yang menyuruhmu melakukannya?"
Bersambung . . . . .