
Jika Arka menjadi korban ngidam Dira, lain halnya dengan Mita yang sekarang sedang menikmati udara segar dan pemandangan indah di taman yang berada di pusat kota. Untuk kedua kalinya Lisa membawanya keluar dari villa, tidak lupa ia juga banyak mengambil gambar dengan ponselnya mengabadikan momen langka ini.
"Wah ... ini benar benar menenangkan hati dan pikiran," ucap Mita mendongakkan kepalanya sambil menghembuskan napas dan mengeluarkannya perlahan.
"Gimana apa kamu menyukainya?" tanya Lisa sambil menyodorkan eskrim yang baru saja ia beli pada Mita.
"Hem, aku sangat menyukainya makasih Lis, berkat kamu aku bisa merasakan jalan jalan seperti ini," ucap Mita tersenyum sambil meraih eskrim yang di sodorkan Lisa.
"Kamu tidak perlu berterima kasih, karna itu sudah tugasku," ucap Lisa lalu ikut duduk di samping Mita.
"Aku rasa ini bukanlah tugasmu, karena seharusnya kamu mengawasi ku agar tidak keluar dari tempat itu, tapi kamu malah dengan santainya mengajakku berkeliaran. Lis apa kamu tidak takut pada Arka?"
"Tentu saja aku takut, tapi aku melakukannya karna tidak ingin melihat kamu terus terusan kepikiran tentang masalah tadi, lagi pula kan ada kamu yang akan membantuku jika aku mendapatkan hukuman dari tuan," jawab Lisa.
"Kok aku?"
"Ya karna tuan pasti tidak akan menghukum ku jika kamu sedikit merayunya, karna dia hanya bisa dijinakkan oleh kamu," ucap Lisa sambil terkekeh memberikan ide untuk membujuk Arka jika ia mendapatkan kemarahan dari Arka karna sudah membawa kabur istrinya.
"Berarti aku benar benar hebat karna sudah berhasil menjinakkan singa itu," sambung Mita yang ikut tertawa.
Saat mereka sedang asing tertawa ponsel milik Lisa berdering, membuat tawanya terhenti. "Mit aku angkat telpon dulu ya, kamu tunggu aku di sini, ingat jangan kemana mana." peringat Lisa sudah seperti ibu ibu yang menyuruh anaknya untuk menunggu.
"Iya, kamu tenang aja aku akan diam di sini sampai kamu kembali," ucap Mita.
-
-
-
"Halo," Lisa menjawab panggilan yang ternyata dari Arka.
__ADS_1
"Beraninya kamu membawa istriku keluar tanpa seizin ku! Apa kamu sudah bosan hidup?!" bentak Arka. Ia segera menghubungi Lisa setelah mendapatkan laporan dari anak buahnya jika Mita tidak ada di villa.
Lisa pun segera menjauhkan ponsel tersebut dari telinganya karna suara Arka bisa merusak gendang telinganya.
"Akhirnya kamu menghubungiku juga," jawab Lisa tetap terlihat santai, ia sama sekali tidak terlihat takut, sebaliknya ia malah tersenyum mendengar suara Arka yang terdengar sangat marah.
"Bukankah aku sudah bilang untuk menemani Mita di villa selama aku pergi, bukan malah membawanya keluar apa kamu pikir itu tidak bahaya?!"
"Apa kamu pikir aku tidak memiliki persiapan sebelum membawanya keluar, sebaiknya selesaikan saja urusanmu, aku tidak tau apa yang sedang kamu rencanakan, tapi aku harap semuanya berjalan lancar dan soal Mita kamu tenang saja aku tidak asal membawanya keluar, aku memiliki perhitungan yang matang soal itu, jadi fokus saja dengan rencanamu," ucap Lisa panjang lebar.
"Baiklah aku percayakan Mita padamu, tapi ingat jika terjadi sesuatu pada istriku kamu akan mendapatkan akibatnya," ancam Arka yang jika orang lain yang mendengarnya akan langsung bergidik ngeri.
"Siap tuan muda," jawab Lisa memutar bola matanya malas mendengar ancaman Arka yang sudah seperti angin lalu baginya.
"Ka, sampai kapan kamu akan mengurungnya di villa itu, karna itu tidak baik untuk psikologis Mita, ia juga harus mencoba berinteraksi dengan orang lain untuk mengatasi traumanya sebelum semakin parah," ucap Lisa.
"Aku akan segera membawanya keluar dan memperkenalkannya pada semua orang jika dia adalah istriku, tapi aku harus menyingkirkan benalu yang selalu menempel pada mamaku terlebih dahulu," ucap Arka yang entah apa yang sedang ia rencanakan.
terdengar helaan napas dari Arka. "Makanya aku membutuhkan bantuan mu untuk itu," ucap Arka.
*****
Sementara Lisa sedang mendengarkan Arka yang marah marah, Mita yang sedang mengambil foto dengan ponselnya, tanpa sengaja menabrak seorang pria yang membuat ponselnya jatuh ke tanah.
Bugh!
"Aw!" Mita tersentak saat tubuhnya menabrak seseorang.
"Maaf," ucap Mita tanpa menatap orang di hadapannya lalu ia pun berjongkok hendak memungut ponselnya, dan pria itu pun ikut menunduk untuk membantu Mita, membuat tangan mereka tanpa sengaja bersentuhan.
Mita mendongakkan kepalanya menatap pria yang memegang tangannya, Mita segera menepis tangan pria tersebut dan mundur, ia terlihat ketakutan saat melihat orang yang ia tabrak adalah seorang pria. Traumanya masih belum sepenuhnya menghilang, ia masih merasakan ketakutan saat berinteraksi dengan lawan jenis, ia pikir ia sudah membaik karna ia sudah mulai terbiasa saat berdekatan dengan Arka.
__ADS_1
"Nona apa anda baik baik saja?" tanya pria tersebut menatap Mita.
"Sa–saya baik baik saja tuan," jawab Mita berusaha mengontrol diri dari rasa takutnya. Lalu ia pun berdiri.
"Sepertinya layar ponsel anda sedikit pecah, saya akan mengganti rugi untuk itu."
"Eh, tidak perlu tuan lagi pula itu salah saya karna keasikan memainkan hp saya sampai tidak memperhatikan ada orang lain," tolak Mita.
"Tapi tetap saja saya juga salah, karna berjalan terlalu terburu buru," ucapnya.
"Tidak usah tuan, saya pergi dulu," ucap Mita lalu berjalan melewati pria tersebut.
Tapi tangannya malah di tahan oleh pria itu membuat Mita reflek menarik tangannya dan membanting pria tersebut sampai terlentang ke tanah.
Bugh!
"Aw!" jerit pria tersebut sambil memegangi tubuh bagian belakangnya, ia tidak menyangka wanita bertubuh kecil di hadapannya ini mampu membanting tubuhnya yang jauh lebih besar darinya. "Nona kenapa membanting ku? Aku hanya ingin meminta nomor ponselmu bukan bermaksud jahat," ucapnya. Ia bersusah payah untuk bangun karna wanita itu sama sekali tidak berniat untuk membantunya.
"Maaf saya reflek melakukannya, salah anda kenapa tiba tiba menyentuh tangan orang, jika anda baik baik saja saya akan pergi," ucap Mita tanpa rasa bersalah lalu beranjak meninggalkan pria tersebut yang terbengong menatap kepergian Mita.
"Dia benar benar gadis yang menarik," gumamnya sambil tersenyum menatap punggung Mita yang semakin jauh.
"Tuan apa anda baik baik saja?" ucap seorang pria yang baru saja tiba dengan napas terengah engah karna berlari, ia yang menemani tuannya untuk berjalan jalan melihat dari kejauhan bagaimana seorang wanita menjatuhkan tuannya.
"Hem, aku baik baik saja," jawabnya sambil tersenyum.
"Apa anda mengenal gadis itu?"
Deren hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaan asistennya. "Bram cari tau identitas wanita yang baru saja bersamaku." perintah Deren pada asistennya. Untuk pertama kalinya ia bertemu dengan seorang wanita yang sama sekali tidak tertarik padanya, padahal selama ini para wanitalah yang selalu mendekatinya bahkan sampai rela menyerahkan tubuhnya hanya untuk menarik perhatiannya.
"Baik tuan," jawabnya kemudian ia pun mengikuti langkah Deren yang beranjak meninggalkan taman.
__ADS_1
Bersambung . . . . .