Belenggu Cinta Sang Mantan

Belenggu Cinta Sang Mantan
BAB 34 : Terpaksa Pergi


__ADS_3

Pintu ruang kerja Arka terbuka, menampakkan Mita yang masuk dengan membawa teh hijau untuk sang suami yang sejak tadi begitu sibuk dengan pekerjaannya.


Arka yang melihat kedatangan Mita langsung memasukkan ponselnya dan tersenyum kearah istrinya itu.


"Maaf kalau aku menggangu mu, aku hanya ingin mengantarkan ini," ucap Mita meletakkan teh hijau buatannya di atas meja kerja Arka.


Arka pun bangun dan memeluk pinggang ramping Mita dari belakang secara tiba tiba membuat Mita sedikit terkejut.


"Kamu sama sekali tidak menggangu, malah sebaliknya adanya kamu di sini dapat menghilangkan rasa lelahku," ucap Arka sambil menyandarkan kepalanya di bahu Mita.


"Benarkah?"


Arka menganggukkan kepalanya sebagai jawaban sambil menikmati aroma tubuh sang istri yang selalu membuatnya candu dan menenangkan.


Mita mengernyitkan alisnya saat mendengar Arka terus mengehela napas.


"Apa semuanya baik baik saja?" tanya Mita yang merasa kalau Arka sedang tidak baik baik saja.


"Hm ..." jawab Arka masih dengan posisi memeluk Mita.


"Tapi sikap mu saat ini menunjukkan sebaliknya," ucap Mita sambil mengusap lembut tangan Arka.


Arka kembali menghela napas, Mita pun melepaskan tangan sang suami yang melingkar di perutnya dan membalikkan tubuhnya menghadap Arka.


"Sebenarnya apa yang terjadi? Tidak biasanya kamu seperti ini, bahkan kamu sudah mengehela napas sebanyak sepuluh kali selama aku di sini," tanya Mita menatap Arka.


"Hm, sayang ..."


"Iya ..." jawab Mita yang mengetahui jika Arka ingin mengatakan sesuatu padanya.


Aku harus pergi ke luar negeri malam ini untuk mengurus perusahaan cabang yang ada di sana," ucap Arka terlihat berat hati untuk meninggalkan Mita.


"Apakah terjadi sesuatu pada perusahaan mu?" tanya Mita khawatir.


Arka tersenyum menatap Mita. "Hanya masalah kecil kamu tidak perlu khawatir, hanya saja harus segera di selesaikan tidak bisa di tunda dan tidak dapat di wakilkan oleh siapa pun," jelas Arka yang tidak ingin Mita khawatir.


"Berapa lama kamu akan di sana?" tanya Mita.


"Aku juga kurang tau, tapi kamu tenang saja aku akan menyelesaikan semuanya dengan cepat agar aku bisa segera kembali," ucap Arka.

__ADS_1


"Baiklah, aku hanya bisa mendoakan semoga masalahnya cepat selesai," ucap Mita sambil tersenyum, sebenarnya jauh di lubuk hatinya ia tidak rela untuk berjauhan dengan sang suami, tapi ia tidak boleh egois karna Arka yang sekarang bukanlah Arka yang dulu ia kenal, pria di hadapannya saat ini berbeda dia adalah pemilik dari perusahan besar dan tentunya ia memiliki tanggung jawab yang tidak bisa dianggap remeh.


"Aku akan usahakan untuk kembali secepatnya, lagi pula aku mana tahan terlalu lama jauh dari istriku yang galak ini," ucap Arka mencubit gemas pipi sang istri yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Mita. "Aku harap kamu tetap berada di villa selama aku pergi," ucap Arka kembali.


Mita terdiam mendengar ucapan Arka, yang membuatnya bingung adalah ucapan terakhirnya yang memintanya untuk tetap diam di villa, apa suaminya itu sedang mencurigai dirinya akan kabur dari tempat ini.


"Apa kamu masih belum mempercayai ku? Dan berpikir aku akan memanfaatkan kepergian mu untuk kabur dari sini?" tanya Mita kecewa dengan ucapan Arka.


"Maaf, aku hanya takut di tinggalkan untuk kedua kalinya olehmu sayang," ucap Arka. Yang ia takutkan bukanlah soal Mita yang akan pergi meninggalkannya tapi ia takut jika sesuatu yang buruk terjadi pada Mita selama ia tidak ada di sini, apalagi anak buahnya beberapa hari yang lalu melaporkan jika mamanya kembali mencari keberadaan Mita dan hal itulah salah satu penyebab yang membuatnya mengkhawatirkan keamanan Mita.


Mita menghela napas mendengar ucapan Arka, ada rasa bersalah muncul di hatinya karna dulu pernah meninggalkan Arka.


"Aku janji akan tetap berada di sisimu apa pun yang terjadi, kecuali kamu sendiri yang memintaku untuk pergi," ucap Mita mendongakkan wajahnya menatap Arka sambil mengusap pipinya.


"Sepertinya aku akan sangat merindukan mu nanti, ini benar benar sangat menyebalkan," ucap Arka memeluk Mita.


Mita hanya terkekeh mendengar ucapan Arka yang belum apa apa sudah mengeluh.


"Kalau begitu sebaiknya sekarang kamu harus istirahat terlebih dahulu, masih ada waktu beberapa jam lagi, biar nanti kamu jadi lebih segar saat pergi," ucap Mita.


Arka yang mendengar ajakan Mita tanpa aba aba mengangkat tubuh sang istri beranjak dari ruang kerjanya.


Arka tidak memperdulikan teriakan Mita dan tetap melangkahkan kakinya menuju kamar mereka.


Arka dengan hati hati menurunkan tubuh sang istri di atas tempat tidur, ia menatap Mita dengan tatapan yang sulit diartikan, perlahan ia terus mendekatkan wajahnya pada wajah sang istri.


"Apa yang ingin kamu lakukan?" tanya Mita reflek mendorong tubuh Arka saat wajahnya hampir bersentuhan.


"Tentu saja meminta hadiahku sebelum aku berangkat," ucap Arka tapi tatapannya tertuju pada tubuh Mita.


Mita yang melihat arah tatapan Arka langsung menarik selimut dan menutupi tubuhnya sampai sebatas dada.


"Jangan aneh aneh, aku masih datang bulan," ucap Mita yang langsung mendapatkan tertawaan dari Arka.


"Apa kamu baru saja berpikir aku akan meminta hak ku malam ini? Wah ternyata pikiran mu mesum juga sayang ..." ucap Arka menggoda Mita.


"Enak saja mengatai ku mesum," kesal Mita.


"Aku hanya ingin mengambil hadiah kecil ku ini," ucap Arka lalu mencium bibir Mita berkali kali.

__ADS_1


"Ish ... dasar mesum!" jerit Mita memukul Arka yang tidak berhenti menciumnya.


"Malam ini aku ingin tidur sambil memeluk mu," ucap Arka lalu menarik Mita agar berbaring di sampingnya.


"Dasar, bukankah setiap malam kamu selalu memelukku," gumam Mita yang sudah berbaring di samping Arka sambil memeluk tubuhnya dan menjadikan lengan sang suami sebagai bantal.


Pasangan suami istri itu akhirnya tertidur dengan posisi saling memeluk, menyalurkan energi karna esok mereka akan berpisah selama beberapa hari.


-


-


-


Arka terus menatap wajah lelap Mita, jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam, kurang dari dua jam lagi ia akan pergi meninggalkan Mita, jadi ia ingin menikmati dulu wajah cantik sang istri sebelum kepergiannya. Sebenarnya ia merasa gelisah, entah kenapa ia tidak tenang jika harus meninggalkan sang istri dalam waktu yang entah ia pun tidak tau, karna sepertinya masalah di sana cukup serius, tapi ia sengaja berbohong pada Mita agar istrinya itu tidak khawatir.


******


Jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari, Arka yang baru saja selesai bersiap dengan setelan rapinya kembali menghampiri ranjang dan duduk di samping Mita yang masih tertidur, ia sengaja tidak membangunkannya karna tidak tega jika harus menggangu tidur sang istri yang terlihat sangat lelap.


Arka benar benar sangat berat meninggalkan Mita, ia mengusap pipi Mita dan menciumi seluruh wajahnya dengan hati hati agar Mita tidak terbangun.


"Aku janji tidak akan lama, setelah ini semuanya akan berubah, aku akan membuat semua orang tau siapa nyonya muda Dinata yang sebenarnya," gumam Arka sambil membelai rambut Mita lalu kembali mencium keningnya.


Ia pun segera beranjak karna ponselnya terus berdering. Saat tiba di lantai satu di sana sudah ada sekretaris Rey yang menunggunya, dan beberapa orang pengawal yang telah ia siapkan untuk memantau keamanan Mita.


"Tolong jaga istriku selama aku tidak ada di sini, segera laporkan padaku jika ada yang terlihat mencurigakan sekecil apa pun itu," ucap Arka mengingatkan.


"Baik tuan," jawab para pengawal tersebut.


"Mari tuan kita berangkat," ucap Rey.


Arka menatap lantai atas dengan ekspresi yang terlihat resah, ada rasa tidak nyaman tiba tiba menggangu hatinya.


"Tuan kita harus segera berangkat," ucap Rey kembali mengingatkan Arka yang masih belum beranjak dari tempatnya.


"Jaga baik baik istriku, jangan sampai dia terluka sedikit pun," ucap Arka kembali lalu dengan berat hati ia pun melangkah keluar dari villa di ikuti oleh sekretaris Rey.


Bersambung . . . . . . .

__ADS_1


__ADS_2