
Nyonya Laras mengepalkan tangannya saat melihat barang barang yang ada di kamar itu, ingatan masa lalu itu kembali berputar di otaknya, dengan wajah yang memerah ia segera keluar dari kamar itu, ia sudah tidak mampu berada di sana terlalu lama.
"Ayo kita pulang," ucap nyonya Laras pada Clarisa yang sedang duduk santai di ruang tengah sambil menikmati cemilan yang disiapkan pelayan.
"Apa Tante baik baik saja? Kenapa wajah Tante terlihat sangat pucat? Apa wanita itu ada di sini?" Clarisa terus melontarkan pertanyaan pada nyonya Laras.
"Tidak ada, sepertinya kita salah wanita itu tidak ada di sini," jawabnya lalu melangkah keluar meninggalkan Clarisa yang merasa aneh melihat perubahan sikap calon mertuanya itu. Apalagi melihat ekspresi nyonya Laras yang terlihat seperti sedang menahan amarah, sedih dan terluka semuanya tergambar menjadi satu dari raut wajahnya.
Tidak ingin terlalu banyak bertanya Clarisa pun mengikuti langkah nyonya Laras. Begitupun dengan para pengawalnya.
Bik Tuti menatap kepergian orang orang nyonya Laras dengan perasaan yang sulit diartikan. Semua orang dapat bernapas lega setelah memastikan kepergian orang orang itu dari villa. Tidak lama setelah itu bik Tuti mendapatkan panggilan telpon dari Arka.
"Halo tuan, Nyonya besar baru saja meninggalkan villa, sepertinya nyonya sudah tidak curiga lagi tentang keberadaan nona muda." jelas bik Tuti lewat sambungan telpon.
"Bagus, pastikan istriku tidak mengetahui tentang kejadian hari ini, aku tidak ingin ia khawatir dan traumanya kembali." pesan Arka.
"Baik tuan," jawab bik Tuti.
"Terimakasih karna kalian sudah bekerja keras, dan jangan lupa pindahkan kembali barang barang itu ke tempatnya dan atur kembali kamar istriku seperti semula." perintah Arka sebelum mengakhiri panggilan telponnya.
Setelah panggilan di matikan bik Tuti dan para pekerja di villa segera melakukan perintah sang tuan muda untuk memindahkan barang barang yang ada di kamar Mita seperti sebelumnya.
__ADS_1
*****
"Maaf tuan apa cara ini tidak apa apa untuk mengelabui nyonya besar? Apa nyonya akan baik baik saja?" tanya sekretaris Rey yang cukup mengetahui tentang keluarga Dinata.
Arka mengehela napas kasar sebelum menjawab ucapan Rey. "Hmm ... Mama tidak akan baik baik saja, tapi jika aku tidak menggunakan cara ini mama akan terus menggeledah tempatku dan ia akan semakin curiga jika sampai menemukan barang barang istriku di sana, dan itu dapat membahayakan istriku." jawab Arka yang masih takut jika mamanya kembali melakukan hal nekad untuk menyingkirkan Mita, karna status Mita yang tidak sepadan dengan keluarga Dinata dan ia sangat tau apa yang membuat mamanya sampai begitu membenci orang orang dari kalangan bawah.
"Maaf jika aku mengingatkan mama dengan luka itu. Aku akan buktikan walaupun Mita dari keluarga yang biasa biasa ia tidak sama dengan orang orang yang telah mengkhianati mama," batin Arka sambil menatap kosong kearah luar hotel. Tidak hanya mamanya yang terluka karna kejadian di masa lalu, tapi ia juga merasakan hal yang sama, terluka karna orang yang sangat ia sayang dan sosok yang paling ia banggakan.
*****
Mobil yang membawa nyonya Laras telah sampai di kediamannya. Tanpa menunggu sopir membukakannya pintu ia langsung saja keluar dari mobil.
Dengan langkah cepat ia masuk ke dalam kamarnya, bahkan ia tidak memperdulikan keberadaan Clarisa yang masih setia mengekorinya.
Suara pintu yang di tutup dengan keras membuat Clarisa yang masih mengikutinya sangat terkejut sambil memegangi dadanya.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Tante Laras terlihat sangat marah? Apa karna dia tidak menemukan keberadaan wanita itu?" gumam Clarisa bertanya tanya sebenarnya apa yang membuat Laras sampai bersikap seperti itu.
Di dalam kamar.
"Akh!!! Kenapa Arka masih menyimpan barang barang penghianat itu?!" teriaknya sambil melempar barang barang yang ada di atas meja riasnya, melampiaskan amarah yang sudah ia tahan sejak melihat barang barang milik sang suami.
__ADS_1
"Aku benar benar sangat membenci pria miskin tidak tau diri itu, setelah aku memberikan segalanya untuknya dia malah berselingkuh dengan wanita yang setara dengannya. Orang orang seperti mereka tidak akan pernah tulus mereka hanya memanfaatkan orang orang seperti kami dengan bermodalkan kata kata cinta." gumam nyonya Laras mengepalkan tangannya mengingat kenangan pahitnya di masa lalu.
Ya, nyonya Laras yang merupakan putri satu satunya dari tuan Dinata bertemu dengan Arman papa kandung Arka saat mereka masih menjadi mahasiswa, Arman yang merupakan seorang yatim piatu yang tinggal di panti asuhan hanya dapat mengandalkan kepintarannya untuk berkuliah di kampus bergengsi milik keluarga Dinata. Laras yang sejak kecil selalu diajarkan agar tidak membedakan orang lain dari status sosialnya tidak pernah pilih pilih dalam berteman, ia bahkan tidak segan segan untuk membantu temannya yang sedang kesusahan, tidak jarang kebaikannya itu membuatnya sering di manfaatkan, tapi ia tidak terlalu mempedulikan hal itu.
Seiring berjalannya waktu Arman dan Laras semakin dekat, karna kebaikan dan sifat pekerja kerasnya mampu membuat Laras jatuh cinta, begitu pun dengan Arman dan tanpa sepengetahuan tuan Dinata mereka pun akhirnya menjalin hubungan sebagai kekasih.
Dengan otak cerdas dan bakat yang dimilikinya Arman berhasil di terima bekerja di perusahaan Dinata grup, Arman menjadi salah satu orang kepercayaan tuan Dinata. Setelah berhasil mengubah kehidupannya Arman memberanikan diri untuk meminta izin menikahi Laras, dan niat baiknya itu di terima baik oleh tuan Dinata, apalagi ia sangat menyukai sifat jujur Arman, ia percaya jika pria seperti dia pasti akan mampu membahagiakan putrinya dan membantunya mengurus perusahaan apalagi ia tidak memiliki anak laki laki.
Laras yang mendengar hal itu sangat bahagia karna akhirnya ia akan bersama pria yang ia cintai. Pernikahan mereka pun di gelar besar besaran, tuan Dinata dengan bangganya memperkenalkan menantunya itu.
Pernikahan Laras dan Arman berjalan lancar, hubungan mereka semakin romantis dan harmonis apalagi setelah kehadiran putra mereka, walaupun sibuk dengan perusahaan ia tetap meluangkan waktu untuk keluarganya, mereka hidup bahagia, sampai saat usia Arka baru menginjak sepuluh tahun sikap Arman mulai sedikit berubah, ia sering kali pulang malam dan kadang tidak pulang selama beberapa hari dengan alasan pekerjaan.
Laras pun mulai curiga dengan perubahan suaminya yang tidak biasanya mulai mencari tau, dan alangkah terkejutnya saat ia mengetahui jika semua ternyata memiliki wanita lain dan wanita itu adalah orang yang selama ini ia anggap keluarga karna dia tinggal di panti asuhan yang sama dengan suaminya. Yang lebih mengejutkan lagi mereka sudah memiliki seorang putra yang umurnya tidak jauh dari putranya. Tuan Dinata yang mendengar kabar soal penghianatan yang dilakukan menantunya pada putri semata wayangnya sangat marah dan langsung memerintahkan anak buahnya untuk mencabut semua fasilitas yang telah ia berikan pada menantunya itu tanpa tersisa, tapi sayang ia yang pada saat itu kondisi kesehatannya sedang tidak stabil mengalami serangan jantung dan nyawanya tidak tertolong, tuan Dinata dinyatakan meninggal saat di perjalanan menuju rumah sakit.
Dan Arman yang ikut menyusul istrinya setelah perbuatannya ketahuan mengalami kecelakaan dan mobilnya masuk ke jurang dan dinyatakan telah meninggal.
Hidup Laras benar benar hancur, di hari yang sama ia harus kehilangan papa dan suaminya. Tapi rasa cintanya pada Arman telah lenyap berganti dengan kebencian bahkan sampai detik ini.
Sejak hari itu kebencian Laras pada orang orang dari kalangan bawah mulai tertanam, ia tidak lagi mempercayai orang orang seperti suaminya. Itulah alasan mengapa ia tidak menyukai Mita yang bukan dari kalangan orang orang sepertinya, ia takut putranya akan mengalami hal yang sama sepertinya, dikhianati oleh orang yang dicintai.
"Bagaimana pun caranya aku harus menemukan wanita itu dan menyingkirkan nya," gumam nyonya Laras sambil mengepalkan tangannya.
__ADS_1
Bersambung . . . . . .