
Mita sangat terkejut saat mendapati dirinya di tempat asing ini. Ia menelisik setiap sudut ruangan tersebut dengan perasaan cemas.
"Apa aku tertangkap lagi?" gumam Mita yang berpikir jika ia lagi lagi gagal untuk kabur dari Arka. "Ish ... kenapa harus tertangkap lagi sih? Padahal aku sudah bersusah payah untuk tidak tertangkap, tapi ujung ujungnya diringkus juga dan sekarang aku tidak tau ada di mana," gerutu Mita.
"Kamu tenang saja kali ini kamu berhasil," ucap Juna yang baru saja masuk dan mendengar apa yang dikatakan Mita.
"Astaga! Arjuna kok kamu ada di sini?" tanya Mita menatap Juna meminta penjelasan sebenarnya apa yang terjadi kenapa ia bisa berada di tempat ini bersamanya.
"Makan dulu nanti baru aku ceritakan," ucap Juna menaruh nampan yang berisi makanan dan segelas susu untuk Mita.
*
*
"Sekarang kamu ada di mansion ku, semalam kamu pingsan saat di kejar kejar anak buah Arka, makanya aku membawamu ke sini, jadi kamu tidak perlu khawatir dia tidak akan menemukan keberadaan mu karna tempat ini sudah di jaga ketat jadi aku jamin di sini aman Arka tidak akan bisa melacak keberadaan mu," jelas Juna menjawab kebingungan Mita.
"Jadi ini rumah kamu?" tanya Mita yang di jawab anggukan oleh Juna. "Wah ternyata pria pelit yang selama ini aku kenal jauh lebih kaya dari apa yang aku bayangkan," ujar Mita yang sudah berdiri di balkon menatap sekeliling tempat itu dengan tatapan takjub.
"Bukannya pelit tapi hemat," larat Juna yang tidak rela Mita mengatai dirinya pelit.
"Baiklah tuan hemat ..." ucap Mita.
"Bagaimana apa sekarang kamu sedang terpesona pada ku, aku tidak hanya tampan bukan, tapi juga kaya raya walaupun masih lebih kaya Arka, tapi kalau urusan tampang tentu saja aku tetap pemenangnya," ucap Juna dengan bangganya memuji dirinya sendiri, jangan lupakan wajah tengilnya yang membuat Mita semakin kesal.
Mita memegang kening Juna untuk memastikan apakah sepupunya itu baik baik saja. "Normal, tidak panas tapi kenapa sikapnya aneh," gumam Mita yang langsung mendapatkan toyoran di kepalanya.
"Sembarangan aja, aku ini sehat walafiat," ucap Juna yang tau jika Mita sedang menyindirnya.
"Kamu harus berterimakasih sama aku, karna berkat pria tampan ini kamu berhasil kabur dari kejaran anak buah suami brengsek mu itu," ucap Juna dengan ekspresi kesal.
"Iya terimakasih," ucap Mita. Wajahnya kembali sendu saat mengingat kejadian semalam, bagaimana kabar Arka, apa sekarang ia sedang menikmati momen indahnya menjadi pengantin baru.
Juna yang menyadari perubahan raut wajah Mita segera mengalihkan perhatiannya. "Mit sekarang gue kan udah kembali jadi tuan muda kaya raya, Lo gak ada minat gitu buat jadi istri gue, Lo pasti gak akan rugi kalau menikahi gue udah kaya ganteng lagi, lagian kita hanya sepupu jauh bisalah dinikahi," ucap Juna dengan bahasa yang santai sambil menaik turunkan alisnya menggoda Mita. Ia sengaja melakukan hal itu untuk membuat sepupunya marah dan kesal dengan begitu Mita akan melupakan kesedihannya.
Mita geleng gelang kepala mendengar ucapan sepupunya dan memberikan tendangan pada pantat Juna hingga tersungkur, hampir saja hidungnya mencium lantai karna ulah Mita.
__ADS_1
"Dasar pria gila, gue lebih baik jadi janda dari pada harus nikah sama sepupu aneh kayak Lo," ucap Mita lalu berlalu meninggalkan Juna yang mengaduh memegangi pantatnya bekas tendangan Mita.
"Dasar tenaga kuda, kasian banget si Arka punya istri bar bar kayak dia," ucap Juna bergidik ngeri melihat tingkah Mita. Tapi itu lebih baik dari pada harus melihatnya bersedih.
"Gadis itu hanya terlihat kuat di luar, padahal sebenarnya sangat rapuh," gumam Juna lalu keluar dari kamar Mita.
*
*
Mita yang baru saja selesai membersihkan diri di kamar mandi di buat terkejut saat melihat sosok yang selama ini ia rindukan tengah menatapnya dengan tatapan tajam.
"Dira," ucap Mita mendekat dan langsung saja memeluk tubuh sahabatnya itu.
Dira membalas pelukan Mita tidak kalah erat, niat hati ingin memarahi sahabat nya, namun saat melihat wajah sayu itu ia tidak sanggup untuk mengeluarkan kata kata yang sudah ia simpan di otaknya sejak semalam apalagi sampai memarahinya karna sudah pergi tanpa kabar. Ia hanya bisa mengusap punggung Mita untuk memberikan semangat jika semuanya akan baik baik saja.
"Mit kamu meluknya terlalu kenceng kasian ponakan kamu kejepit," ucap Dira membuat Mita langsung melepaskan pelukannya.
"Keponakan?" ujar Mita menatap Dira kebingungan, bukankah mereka hanya berpelukan berdua saja, tidak ada Aigar diantara mereka.
"Maaf baby," ucap Dira sambil mengelus perutnya yang masih rata.
"Iya aku hamil lagi Mit," sambung Dira yang mengerti arti tatapan Mita.
"Wah si Arga dingin dingin tokcer juga, padahal Aigar masih kecil udah mau launching anak kedua aja kalian, tapi Lo gak ngidam yang aneh aneh kaya dulu kan Dir?" tanya Mita dengan raut wajah yang sulit diartikan.
"Nggak lah," jawab Dira lalu duduk kembali.
"Syukurlah ..." gumam Mita bernapas lega, karna ia tidak akan menjadi korban ngidam anehnya Dira.
"Kamu baik baik saja kan Mit?" tanya Dira begitu Mita duduk di sampingnya.
"Iya aku baik baik saja, seperti yang kamu lihat sekarang," jawab Mita menunjukkan senyum terbaiknya pada Dira.
"Tapi yang aku lihat saat ini sebaliknya, kamu sama sekali tidak baik baik saja, jangan membohongiku, cepat ceritakan semuanya padaku," ucap Mita. Ia sebenarnya sudah tau sedikit dari suaminya tapi ia ingin mendengarnya langsung dari orangnya, ia tidak ingin Mita terus terusan menyimpan lukanya sendiri.
__ADS_1
Mita menghela napas, ia tidak akan pernah bisa menyembunyikan apa pun dari Dira, dan mau tidak mau ia pun menceritakan awal mula permasalahan yang terjadi dengan hubungannya dan Arka hingga ia memutuskan untuk pergi, hingga membuat Arka membencinya dan berakhir dengan pernikahan paksa karna ancaman Arka.
Setelah mendengar semua cerita Mita, ia merasa apa yang pernah ia alami dalam pernikahannya dulu dengan Arga tidak ada apa apanya jika di bandingkan dengan masalah yang di hadapi Mita.
"Bahkan sampai saat ini aku masih belum siap untuk berhadapan langsung dengan mamanya Arka Dir, tatapannya, senyumannya, bahkan suaranya terlihat begitu mengerikan di mataku, bahkan aku sampai harus mengonsumsi obat penenang," ucap Mita menceritakan apa yang selama ini ia rasakan dengan tangan yang gemetar.
Dira menggengam tangan Mita. "Kamu pasti bisa melewatinya Mit, kamu pasti bisa, cobalah untuk melupakannya pelan pelan dan jangan pernah memendamnya sendiri," ucap Dira menenangkan Mita.
Mungkin orang akan menganggap Mita lebay karna ia mampu menghajar para preman yang ingin menyakitinya, sementara menghadapi mertuanya saja ia takut. Karna luka fisik lebih cepat untuk di sembuhkan, tapi tidak dengan luka batin, bagaimana bisa ia menghadapi orang yang terus menerus mengancam dan meneror keluarganya bahkan hampir membuatnya kehilangan kehormatannya.
"Lalu bagaimana dengan hubungan mu dan Arka?" tanya Dira setelah memastikan jika Mita sudah lebih baik.
"Entahlah aku juga bingung, mau dibawa ke mana hubungan ini, aku dan Arka bagikan langit dan bumi," jawab Mita menghembuskan napas kasar.
"Jadi kamu akan menyerah begitu saja? Bukankah kalian saling mencintainya?" tanya Dira kembali.
"Ralat hanya aku yang mencintainya, dia menikahiku karna ingin membalas ku dan gimana aku mau berjuang dia saja sekarang sudah nikah sama orang lain, aku mana mau di madu, ish .. pasti sekarang dia lagi bersenang senang sama istri barunya." ucap Mita. Ia merasa kesal membayangkan Arka yang sedang bersama wanita lain.
"Nih lihat," Dira menyodorkan ponselnya.
Mita pun meraih ponsel tersebut dan matanya membulat sempurna saat membaca berita yang ada di artikel tersebut jika Arka dan Clarisa batal menikah, di sana juga tertulis jika Arka diam diam telah menikah dengan wanita pilihannya sendiri.
"Dir, ini bukan hoax kan?" tanya Mita masih belum percaya dengan apa yang baru saja ia baca di internet.
"Bukan, semua itu adalah rencana Arka untuk membongkar kebusukan wanita itu," ucap Dira, ia juga menceritakan pada Mita soal rencana Arka yang ingin memberikan kejutan untuknya di malam itu, tapi Mita keburu salah paham.
"Aku harap kamu tidak salah dalam mengambil keputusan, kamu wanita kuat Mit, aku yakin kamu pasti bisa menghadapi mertua galak mu itu," ucap Dira memberikan saran untuk Mita dan menyemangatinya.
"Terimakasih Dir, kamu memang terbaik," ucap Mita, setelah mendengar saran dari sahabatnya ia tau langkah apa yang akan ia ambil sekarang.
"Mita Rastanty!" panggil seorang wanita paruh baya yang sudah berdiri di depan pintu kamar dengan tatapan setajam silet.
"Aku pergi dulu Mit, sepertinya yang ini lebih menyeramkan dari mamanya Arka," bisik Dira lalu pergi meninggalkan Mita yang menatapnya penuh iba agar ia tetap di sini.
"Mama," ucap Mita dengan tersenyum manis menyambut kedatangan wanita yang telah melahirkannya itu.
__ADS_1
"Dasar anak nakal," ucap mama Mita yang langsung menjewer telinganya.
Bersambung . . . . . .