Belenggu Cinta Sang Mantan

Belenggu Cinta Sang Mantan
BAB 29 : pengganggu


__ADS_3

"Benarkah?!" ucap Mita terlihat sumringah. "Kalau begitu biarkan aku mencicipinya, aku sangat penasaran dengan rasanya." Mita hendak meraih mangkuk sup itu, tapi tangannya langsung ditepis oleh Arka.


"Tidak bisa!" ucap Arka.


"Kenapa pelit sekali, aku hanya akan mencicipinya sedikit saja," ucap Mita kembali.


"Pokoknya tetap tidak bisa, bukankah kamu membuatnya khusus untukku?" ucap Arka lalu segera melahap habis sup itu dengan cepat sampai habis hanya menyisakan sedikit kuahnya.


"Wah kau benar benar tuan kaya yang pelit," gumam Mita menatap Arka yang terlihat sangat lahap memakan sup buatannya.


"Sebaiknya kamu istirahat aku akan membereskan ini," ucap Mita sambil meraih mangkuk sup yang sudah kosong.


"Biarkan pelayan yang melakukannya, kamu temani aku istirahat," pinta Arka lalu menarik lengan Mita hingga terduduk di pangkuannya.


Arka memeluk erat pinggang Mita, ia menatap Mita dengan sangat dalam, perlahan wajahnya mendekat ke wajah Mita hingga hidung mereka menempel satu sama lain, dengan gerakan cepat Arka menarik pinggang Mita agar lebih mendekat padanya dan detik berikutnya bibirnya sudah menempel pada bibir merah Mita.


Mata Mita terbuka lebar, ia meremas bahu Arka karna terkejut, ia tidak menyangka Arka akan menciumnya. Arka tidak tinggal diam, ia terus menggoda Mita yang hanya diam saja tanpa membalas ciumannya. Mita yang sudah mulai nyaman tanpa sadar memejamkan matanya dan membalas ciuman itu. Sampai akhirnya Mita merasa ada yang aneh dengan bibir Arka.


"Kenapa rasanya sangat asin? Apa memang begini rasanya? Tapi sebelumnya tidak seperti ini?" batin Mita karna semakin dalam ci u man itu semakin ia merasakan rasa asin itu di lidahnya.


Tok! Tok! Tok! ...


Terdengar suara ketukan pintu dari luar sana, Mita menggunakan kesempatan itu untuk mendorong tubuh Arka.


"Ada yang mengetuk pintu," ucap Mita sambil menundukkan kepalanya malu.


"Siapa lagi yang kini menggangu kesenanganku," gumam Arka terlihat kesal karna lagi lagi aktivitasnya terganggu.


Tok! Tok! Tok! ...

__ADS_1


Suara pintu di ketuk kembali terdengar. "Biar aku yang membukanya, kamu sebaiknya istirahat saja." ucap Mita lalu beranjak untuk membukakan pintu kamar.


"Nyonya muda," ucap sekretaris Rey menundukkan kepalanya.


"Nyonya muda ...?" gumam Mita terlihat kebingungan.


"Maaf nyonya muda, apa tuan ada di dalam?" tanya sekretaris Rey.


"Kamu bicara denganku?" Mita malah balik bertanya.


"Iya nyonya, memangnya dengan siapa lagi disini hanya ada nyonya," jawab sekretaris Rey.


"Sejak kapan aku menjadi nyonya muda?" gumam Mita yang merasa aneh dengan sebutan itu, dipanggil dengan sebutan Nona saja ia sudah merasa risih.


"Nyonya apa tuan ada di dalam?" tanya Rey kembali.


"Oh iya, kamu masuk saja tuan ada di dalam sedang istirahat," ucap Mita mempersilahkan Rey untuk masuk.


"Dia sedang tidak enak badan, kamu masuk saja dan ingat jangan membicarakan soal pekerjaaan dulu, ia butuh waktu untuk istirahat," ucap Mita mengingatkan.


Dengan perasaan sungkan sekretaris Rey akhirnya masuk ke kamar tuan dan nyonya. Sementara Mita langsung keluar sambil membawa sisa makan Arka.


Mita yang hendak mencuci piring kotor bekas sup tadi melihat sisa kuah di mangkuk sup itu. "Apa rasanya seenak itu?" gumam Mita, karna penasaran ia pun akhirnya menyendok sisa kuah yang ada di mangkuk, ia sangat terkejut saat kuah itu masuk ke mulutnya dan langsung menyemburkan kuah sup itu.


"Astaga asin banget?" ucap Mita lalu berkumur kumur untuk menghilangkan rasa asin di mulutnya.


"Apa ini alasan Arka tidak membiarkanku mencicipinya? Apa dia takut aku kecewa jika ia mengatakan yang sebenarnya?" gumam Mita sambil tersenyum. Entah kenapa ia merasa sangat senang, ia merasa seperti Arka sangat menjaga perasaannya dan tidak ingin ia kecewa. "Kenapa dia manis sekali ..." gumam Mita sambil memegang bibirnya.


-

__ADS_1


-


"Katakan! Awas saja jika informasi yang akan kamu sampaikan tidak penting, aku akan membuatmu lembur selama satu bulan," ucap Arka menatap kesal sekretaris Rey yang yang berdiri di hadapannya.


"Tuan nyonya besar sudah mengumumkan tentang pertunangan anda dengan Nona Clarisa di media," lapor sekretaris Rey sambil menyodorkan benda dengan layar besar itu pada Arka.


Arka meremas benda tersebut hingga kuku kukunya memutih. "Sepertinya dia sangat bersikeras untuk menjodohkan ku dengan wanita licik itu," gumam Arka.


"Cari tau lebih banyak tentang wanita itu, kali ini aku tidak akan segan lagi padanya, mamaku harus tau seperti apa wanita yang selama ini selalu ia bangga banggakan itu," perintah Arka untuk mencari tau tentang Clarisa.


"Baik tuan," jawab sekretaris Rey.


"Oh iya dan soal sosok yang mengintai tempat ini, apa kamu sudah menemukannya?" tanya Arka.


"Belum tuan."


Arka membuang napas kasar, ia mengingat kembali di malam ia memecahkan kaca jendela ia melihat sosok berbaju hitam seperti sedang memperhatikan tempat ini, karna itu ia meminta anak buahnya untuk memperketat penjagaan di villa, ia tidak ingin terjadi sesuatu yang tidak di inginkan pada Mita.


"Segera temukan orangnya, dan perintahkan kepada orang orang kita untuk tetap waspada."


"Lalu bagaimana dengan keluarga istriku? Apa mamaku tidak pernah datang ke sana?" tanya Arka kembali.


"Semuanya aman seperti biasa tuan, tidak ada yang terlihat mencurigakan, dan nyonya besar tidak akan curiga dengan keberadaan orang orang yang kita kirim," jelas Arka.


"Bagus, jika sudah tidak ada lagi yang ingin kamu sampaikan kamu boleh pergi, dan satu lagi batalkan semua pertemuan hari ini, karna aku tidak akan ke kantor," ucap Arka.


"Baik tuan," sekertaris Rey akhirnya beranjak dari kamar tuannya.


"Aku berjanji kali ini tidak akan membiarkan siapa pun melukaimu," gumam Arka menatap keluar jendela dengan ekspresi yang tidak terbaca.

__ADS_1


Bersambung . . . .


__ADS_2