Berbagi Cinta : Hati Diduakan Yang Tersakiti

Berbagi Cinta : Hati Diduakan Yang Tersakiti
Bab 10.


__ADS_3

Waktu pun terus berlalu. Sudah lima bulan berlalu dan masa KKN Hadi dan teman-temannya berakhir. Seharusnya cuma tiga bulan dan paling lama empat bulan. Eh ini lima bulan baru mereka selesai. Hadi dan teman-temannya pun pamitan dengan pak lurah serta pamitan dengan masyarakat di desa tersebut.


Saat akan pulang kembali ke kota. Hadi sempatkan pamitan pada Iva. Ia berjanji akan melamar Iva nanti saat selesai kuliah. Iva pun percaya saja. Hadi pun meninggalkan nomer hapenya. Namun maklum zaman dahulu hape itu langka. Yang ada hanya telepon umum. Tapi itu pun jarang di gunakan. Akhirnya Hadi memberikan alamat tempat kampusnya dan alamat rumahnya.


Pergilah Hadi pulang ke kota dan Iva menangis melihat kekasih hati pergi pulang ke kota asalnya. Hadi dan kawan kawannya pun say good bye pada desa melati kampung kelahiran Iva. Semenjak itu Hadi dan Iva suka berkirim surat. Hampir setiap minggu surat tersebut saling bertukar kabar. Ibarat kata, Hadi dan Iva masih terus berhubungan.


Hingga akhirnya Hadi lulus dari perguruan tingginya. Dan Iva tentu saja lulus dari SMA-nya. Saat orang tuanya menanyakan Iva hendak kuliah dimana, Iva menolak kuliah. Katanya cukup Bang Lukas saja yang kuliah. Atau kak Nina saja. Sedangkan Iva hanya mau lulus SMA saja. Kedua orang tua sudah membujuk namun Iva bersikeras tak mau lanjut kuliah. Dia tak mau pergi dari kampung. Iva hendak menunggu Hadi.


Sedangkan Hadi yang baru lulus kuliah sangatlah gembira bukan main. Ia pun melayangkan surat lamaran ke beberapa perusahaan. Niatnya kerja lalu melamar Iva. Tapi nyatanya nasib berkata lain. Semua surat lamaran Hadi tak ada yang di balas. Akhirnya Hadi hanya berharap dari usaha Papanya. Ia percaya karena Hadi satu-satunya anak lelaki di keluarganya. Sudah pasti Papanya menunjukkannya sebagai penerus usaha.


Dan keinginan Hadi pun untuk menikahi Iva pun di sampaikan Hadi ke orang tuanya. Andika, Papanya Hadi tak setuju kalau Hadi menikah padahal baru selesai kuliah. Baru saja sarjana. Papanya mau Hadi mencari pengalaman kerja dahulu. Namun Hadi bersikeras untuk menikahi Iva. Ia takut kalau Iva berubah pikiran atau ada yang deketin. Karena seingat Hadi, di kampungnya ada yang suka sama Iva. Jadi jangan sampai Hadi kalah duluan.


Hadi pun ngotot untuk menikah. Karena keras kepala Hadi akhirnya Papanya pun setuju. Papanya dan mamanya pergilah ke rumah Iva bersama Hadi. Iva yang sudah lama menunggu kedatangan Hadi, begitu senang sekali. Karena dilihatnya Hadi benar-benar datang bersama kedua orang tuanya. Berarti Hadi emang serius dengan Iva.


Awalnya Jihan menolak. Apalagi harus ke kampung yang jauh dari kota. Tapi saat melihat dan mengetahui aset kekayaan keluarga Arman Hakim, Jihan pun gelap mata dan segera setuju saja dengan Hadi yang mau menikahi Iva.


Saat ini Andika, Jihan dan Hadi berada di ruangan tamu. Arman Hakin dan Hadijah Putri yang menyambut tamu yang datang serta menemani ikut duduk di ruangan tamunya.


“Begini Pak Arman, saya Andika, papanya Hadi. Mau melamar anak Pak Arman untuk putra kami si Hadi. Yang bernama....” Andika menatap Hadi.


“Iva Pa....” Hadi memberitahukan.


“Ah iya Iva. Nak Iva untuk Hadi anak kami” Andika menambahkan.


Arman dan Hadijah saling pandang. Pasalnya Iva masih terlalu muda. Iva hanya lulusan SMA.


“Bapak gak salah orang kan, Iva itu lulusan SMA. Dan nak Hadi bukannya mahasiswa KKN yang beberapa waktu dulu pernah KKN di kampung ini.” Arman mengatakan sebenarnya.


“Iya Pak. Tapi Hadi sudah lulus kuliah. Karena itu Hadi hendak mempersunting Iva jadi istri Hadi.” Hadi menjelaskan.


Hadijah putri memanggil Iva. Iva pun lalu keluar dan di tanyakan kesediaannya. Iva yang duduk di sebelah ibu kandungnya, melirik sepintas ke Hadi yang sedang tersenyum. Iva menundukkan kepalanya. Ia menyetujuinya.


Nina dan Lukas dari samping melihat semua dan mendengar semuanya. Mereka sebenarnya belum setuju adiknya yang masih kecil bagi mereka malah menikah. Iva masih muda dan polos. Seharusnya meniti pendidikan dahulu. Terlalu muda rasanya kalau harus menikah. Apa tak membuang masa-masa muda terlalu cepat. Begitulah pikiran Nina dan Lukas.


Begitu juga Arman dan Hadijah putri. Mereka belum mau melepaskan Iva berumah tangga dahulu. Putri kecilnya masih muda belia. Anak paling kecil. Ada keraguan di hati keluarga Iva.


“Bisa kasi kami kesempatan berpikir. Nanti kami hubungi nak Hadi atau bapak untuk keputusan finalnya”


“Baiklah” Ucap Andika juga menjawab perkataan Arman.


Dan pamitan lah keluarga Hadi beserta Hadi pulang dahulu.


Setelah keluarga Hadi pulang. Arman mengajak seluruh anggota keluarga berbicara di ruangan keluarga.

__ADS_1


“Iva serius mau menikah dengan Hadi?” tanya Arman.


“Iya Ayah. Iva sangat mencintai Mas Hadi.” Iva menjawab tanpa ragu.


“Nak, Iva masih muda. Apa gak sebaiknya kuliah dahulu kejar impianmu nak.” Hadijah menasehati.


“Iya Iva. Kau ini masih terlalu muda untuk menikah. Sebaiknya dipikirkan dahulu.” Lukas juga menasehati adik paling kecilnya.


“Kak Nina juga kurang setuju Iva. Kau belum mengenal keluarga Hadi seperti apa? Kau hanya kenal Hadi di kampung kita selama 5 bulan pas dia KKN. Setelah itu dia balik ke kota, kita tak tahu bagaimana dia di sana.” Nina mengingatkan adiknya.


“Iva yakin sama Mas Hadi. Lagian waktu Mas Hadi balik ke kota, kami masih sering komunikasi dari surat. Pacaran jarak jauh sudah lumayan lama sampai akhirnya Mas Hadi lulus kuliah. Dia berjanji menikahi Iva setelah lulus kuliah.” Iva menjelaskan.


“Oh, jadi karena itu kau tak mau lanjutkan kuliah dan cita-cita mu. Karena menunggu Hadi. Pantas saja selesai sekolah SMA tidak mau lanjut. Apa harus kak Nina dan Bang Lukas saja yang punya ijazah S1. Kau tak mau kah Iva?” Nina menatap ke arah Iva.


Namun Iva tetap ngotot hendak menikah dengan Hadi.


“Ayah sebenarnya masih belum setuju Iva.” Ungkap Arman di depan semuanya.


“Ibu juga. Masih belum bisa setuju.” Hadijah pun satu kata dengan suaminya. Lukas dan Nina pun keberatan.


Namun Iva tetap ingin menikah.


“Ayah, Ibu ... boleh ya boleh. Kasih restu Iva dong Yah ... Buk....” wajah Iva memelas dan sedih.


Ayah dan Ibunya tak tega. Akhirnya menyetujuinya. Namun sebenarnya mereka semua melarang tapi apa dikata kalau si anak sudah jatuh cinta dan tak bisa di bujuk lagi. Akhirnya hanya doa dan restu lah yang bisa diberikan.


Hadi dan Iva senangnya bukan main.


Setelah menikah, Hadi sementara tinggal dengan Iva di rumah orang tuanya Iva. Papa, Mama dan adik Hadi pun pulang ke kota kembali. Malam pertama mereka pun mendebarkan. Yang membuat sepasang insan ini masih mabuk asmara dan merasakan manisnya menikah di awal pernikahannya.


Beberapa bulan kemudian.


Hingga akhirnya Iva pun hamil. Selama hamil, Iva sangatlah disayang Hadi. Mereka menjadi sepasang suami istri yang sangat berbahagia. Kemudian Iva melahirkan seorang bayi perempuan yang cantik. Kebahagian mereka pun bertambah. Hadi pun makin sayang pada Iva dan buah hati mereka.


Namun kebahagian itu ternyata tak bertahan lama. Si bayi mungil mereka yang baru berumur seminggu dua minggu sempat mengalami sakit panas tinggi. Akhirnya meninggal dan tak sempat di tolong. Saat di bawa ke rumah sakit sudah tak tertolong. Bayi mungil mereka pun belum sempat diberi nama. Awalnya mau diberi nama Aisyah. Namun si bayi sakit terus akhirnya pemberian nama tak jadi. Dan si bayi pun sudah meninggal dan di kuburkan di tempat pemakaman umum yang ada di kampungnya.


Semenjak di tinggal meninggal putri mereka. kesedihan melanda Iva dan Hadi. Namun Hadi mencoba menghibur Iva. Lalu mengajak Iva tinggal di kota di rumahnya. Anggap saja ganti suasana agar melupakan kesedihan.


Ayah dan Ibuk tak mau sebenarnya. Namun karena Iva sudah bersuami jadi kemana suaminya berada maka Iva harus ikut.


Dan pergilah Iva ke kota ke rumahnya Hadi.


Saat sampai di kota, Iva di sambut baik oleh Papa dan Mama Hadi. Bahkan Niken adiknya Hadi sangatlah baik pada Iva. Iva senang di sambut baik oleh keluarga suaminya. Mereka pun tidur di kamar Hadi. Dan di mulailah hidup Iva di rumah keluarga Hadi.

__ADS_1


Saat itu siang hari, Hadi bermaksud mencari pekerjaan. Sedangkan Niken pamit kuliah. Papanya sedang bekerja. Hanya Iva dan Jihan Mama mertuanya yang ada di rumah. Saat itu Iva baru saja hendak ke kamar istirahat siang. Jihan datang mendekati Iva.


“Iva....”


“Iya Ma.” Iva melihat ke arah Mama mertuanya.


“Kau tak kasian pada Hadi. Dia mencari kerja tapi belum juga keterima kerja. Kalau bisa kau bantu ya Iva.” Bujuk Jihan pada mantunya itu.


“Bagaimana Iva membantunya Ma?”


“Coba kasi uang Iva.”


“Iva gak punya uang Ma.”


“Loh, Ayah mu kan kaya di kampung. Minta lah uang pada orang tuamu di kampung. Ini demi Hadi juga.”


“Iya Ma. nanti Iva bilang ke ayah di kampung.”


“Bagus.”


Jihan tersenyum manis. Gampang juga membujuk mantu polosnya ini. Pikir Jihan. Bisa di porotin nih uangnya. Begitulah pola pikir Jihan.


Bersambung....


Iva jangan mau di bodohi dan di tipu daya oleh Mama mertuamu  yang jahat itu loh.


Klik Like, Vote, Favorit dan Komennya ya Kak reader semua.


Sertakan juga kasi dukungan dan hadiahnya ya. Kasi juga bintang/rate 5 ya kak.


Thanks. Love you all. :) :D No plagiat ya :D


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2