Berbagi Cinta : Hati Diduakan Yang Tersakiti

Berbagi Cinta : Hati Diduakan Yang Tersakiti
Bab 36.


__ADS_3

Kini Devita sudah berumah tangga dengan Bimo. Devita hidup layaknya suami istri yang bahagia. Kadang kala sibuk dengan kerjaan. Tapi keduanya saling sayang dan cinta. Awalnya Devita tinggal dengan neneknya di kampungnya. Tapi karena Bimo anak satu-satunya dan Mama Bimo gak mau pisah sama Bimo maka akhirnya Devita dan Bimo tinggal di rumah Mama Bimo.


Serumahlah Devita dengan mertuanya. Bu Kasrini dan Pak Selamat adalah nama dari orang tuanya Bimo. Bimo anak tunggal dari Papa dan Mamanya.


Hari-hari awal Devita berumah tangga masih damai-damai saja. Tak ada keributan atau apa pun. Devita di rumah mertua bantu masak dan bantu bersih-bersih rumah. Kalau waktunya kerja maka dia akan masuk rumah sakit untuk melaksanakan tugasnya.


Kini Bimo tak bekerja lagi di rumah sakit tapi dia menjalankan bisnis Papanya. Yaitu buka usaha cetak batu bata dan jualan kios buah. Aneka macam-macam buah dijual. Sedangkan Devita masih kerja di rumah sakit. Dia kerja mengikuti ship yang dibagi oleh tempat kerjanya. Oleh sebab itu jika tidak bekerja maka Devita akan di rumah saja membantu mertuanya.


Beberapa bulan menikah semua nampak bahagia saja. Hingga akhirnya Devita memiliki tanda-tanda kehamilan.


“Yank, aku hamil. Udah isi dua bulan.” Devita memberitahukan pada Bimo di kamar saat mereka berduaan di kamar.


“Bener Yank?” Bimo menatap ke istrinya.


“Iya Yank. Serius.” Devita tersenyum.


“Alhamdulillah. Makasih Yank.” Bimo memeluk istrinya dan mengecup bibirnya sekilas. Bimo bahagia akhirnya mereka punya baby. Sudah beberapa bulan menikah barulah mereka mempunyai anak. Mereka berdua tak berniat untuk menundanya, karena itu mereka memprogram agar cepat punya anak.


Keduanya tersenyum bahagia.


Bimo dan Devita mengatakan kabar gembiranya ke Mama dan Papanya Bimo. Kedua orang tuanya Bimo juga senang dan menyambut dengan suka cita.


Devita pun tetap kerja sambil dalam keadaan hamil. Namun masa hamilnya ini Devita terlihat agak malas. Dia kalau di rumah sering sekali di kamarnya. Paling keluar jika nyapu rumah, bantu cuci piring dan masak.


Mertuanya pun menegurnya.


“Dek, jangan malas-malas lah. Jadi istri itu harus rajin-rajin.” Tegur Mamanya Bimo kepada Devita. Devita sering di panggil Dedek.


“Iya Ma.” Devita hanya seorang mantu. Dia tentu tak berani melawan. Apalagi mereka hanya menumpang di rumah mertua. Sebenarnya Devita agak sakit hati mendengar perkataan sang mertua. Maksud si mertua baik sebenarnya. Tapi namanya perempuan lagi hamil ya bawaannya lebih sensitif.


Devita pun baru selesai menyapu halaman rumah. Dia pun bantu bersih-bersih. Setelah itu Devita masuk ke dalam kamarnya dan menangis sendirian di dalam kamar. Bimo pulang dari tempat kerjanya bantuin Papanya di tempat cetak batu bata.


Saat pulang dan mau mandi, Bimo melihat istrinya sedang menangis di kamarnya. Bimo mendekat dan duduk di sebelah Devita. Mereka berdua duduk di atas ranjang.


“Dek, kok nangis? Kenapa Yank?” Bimo memeluk istrinya.

__ADS_1


Devita pun menangis di dalam pelukan suaminya. Bimo mengelus punggung belakang Devita.


“Kenapa Yang? Cerita aja.” Bimo menatap Devita.


“Yank ... tadi Mama kamu bilang kalau aku malas. Kalau di kampung aku dibilang gitu gak sakit hati seh, soalnya di kampung kan sama nenek, paman dan tante. Tapi di sini kok rasanya sakit hati ya Yank. Hiks.” Devita berucap pada Bimo.


“Ya ampun Yank. Gitu aja kok di ambil hati. Mama gak maksud jahat kok Yank. Udah jangan nangis ya Yank.” Bimo mengecup puncak keningnya Devita.


“Kita pindah aja ya Yank. Di rumah sewa kek atau tinggal aja di kampung sama nenek ku. Nenek kan sendirian di kampung.”


“Wah, itu pasti gak di ijinkan Mama, Yank. Kamu kan tahu Yank kalau aku ini anak satu-satunya Mama. Mama mana ngasih aku tinggal jauh darinya. Ingat kan waktu kita baru nikah tinggal dua minggu di kampung di rumah nenekmu, disuruh cepat kembali kemari, kan.” Bimo mengingat hal tersebut.


Devita pun jadi diam. Dia jadi hanya bisa diam memendamnya. Mungkin hanya terlalu sensitif karena sedang hamil.


Waktu terus berlalu, Devita selalu tertekan karena mertuanya. Apa saja yang dibuat oleh Devita selalu saja dikomentari oleh sang mertua. Rasanya selalu salah. Devita hanya bisa menahan semuanya di dalam hati.


Usai menyapu rumah, menyapu halaman, bantu cuci, dan masak maka Devita langsung di kamar saja. Palingan keluar jika sedang bekerja di rumah sakit saja. Devita kurang betah terlalu banyak yang di komentari oleh mertuanya. Maklum lagi hamil dan kehamilan pertama lagi jadi Devita merasa sangat sensitif. Palingan dia hanya sering di kamar dan menangis sendirian di kamar.


Bimo yang sering membujuknya agar tetap tenang dan jangan di ambil hati.


Sebenarnya kedua mertuanya baik, tapi terkadang saat berkata tak tahu apakah melukai hati menantunya atau tidak. Devita tak banyak membantah karena dia tahu posisinya hanya seorang menantu.


Hingga suatu hari saat kandungan Devita sudah 7 bulan, bahkan belum genap 7 bulan. Devita merasa kalau bayinya tak ada lagi pergerakan di dalam perutnya. Devita yang masih muda belum menyadarinya. Kehamilan pertama dan pengalaman pertama maka Devita masih belum paham.


“Ma ....” Devita memanggil mertuanya.


“Kenapa Dek? Udah solat maghrib gak?” tanya mertuanya.


“Udah Ma. Ini kok kayak aneh ya Ma. Anak di dalam perut Devita dari sore kok gak gerak ya Ma.” Devita sudah mulai panik.


“Ah, masak sih Dek?”


“Iya Ma.”


“Kita cepat panggil Bimo dan Papamu.” Mama Bimo segera menelepon Bimo dan suaminya. Mereka saat ini sedang di tempat cetak batu bata.

__ADS_1


Pulanglah Bimo dan Papanya. Mereka semua di ruang tamu dan mengelilingi Devita.


“Apa yang sakit Dek?” tanya sang Papa.


“Perutnya Pa. Tadi sore gak ada bergerak bayinya. Padahal biasanya sangat aktif sekali di dalam perut.” Devita menjawab pertanyaan Papa mertuanya.


“Gimana ini Pah?” Bimo mulai panik.


“Tenang dulu Bim.” Sang Mama juga panik sebenarnya tapi mencoba menenangkan Bimo.


“Kita panggil dokter segera. Tante maya, kenalan Papa biar kemari periksa Dedek.” Begitulah usul sang  Papa mertua.


Setelah di telepon setengah jam kemudian Maya dokter kenalan keluarga Bimo pun datang ke rumah. Maya ini masih sodaraan dengan Papanya Bimo. Jadi Maya datang langsung mendengarkan perihal apa. Maya pun langsung memeriksa Dedek. Saat ini Dedek ada di kamarnya sedang berbaring di ranjangnya.


“Gawat. Tak ada tanda pergerakan. Detak jantung Devita juga tak stabil. Sebaiknya kita bawa ke rumah sakit sekarang juga.” usul Maya kepada semua yang berkumpul di ruangan kamar Devita.


“Emang kenapa dengan anak Bimo, Tante?” Bimo bertanya.


“Sepertinya anak kalian sudah meninggal dalam perut.” Perkataan Maya tersebut membuat semua yang mendengar terkejut baik itu Bimo, Papanya, Mamanya, dan juga Devita, semuanya kaget. Bahkan kini Devita menangis.


Bersambung....


Kasian Devita. Yang sabar ya Dek.


Cerita ini akan segera Author tamatkan ya kak jadi dukung terus karya ini ya kak. Vote, Like, komen, rate 5 dan kasi hadiah-hadiahnya ya kak. Makasih.


Klik Like, Vote, Favorit dan Komennya ya Kak reader semua.


Sertakan juga kasi dukungan dan hadiahnya ya. Kasi juga bintang/rate 5 ya kak.


Thanks. Love you all. :) :D No plagiat ya :D


Kasi komen yang positif ya kak :D


Like sebanyaknya ya kak dan Vote juga sebanyaknya. Mari dukung karya ini kak. Makasih kakak :D

__ADS_1


__ADS_2