
Semenjak itulah. Jihan suka menyuruh Iva meminta uang pada orang tuanya. Padahal uang tersebut entah dipakai apa saja oleh Jihan. Kadang malah dipakainya hanya untuk foya-foya saja. Iva yang polos hanya menuruti perkataan Mama mertuanya itu. Sampai Jihan pun meminta Iva membeli mobil atau sepeda motor untuk Hadi. Alasannya agar Hadi enak cari kerjanya. Biar tidak kecapekan kata si Jihan. Padahal di rumah orang tuanya Hadi ada tiga mobil. Namun Iva yang polos langsung mengiyakan.
Kemudian Jihan juga berkata kepada Iva untuk meminta uang kembali agar Hadi bisa membuka bisnis usaha sendiri. Padahal entah kemana lagi uang tersebut dipakai. Arman Hakim awalnya mengiyakan saja permintaan Iva meminta uang. Namun lama-lama Arman merasa aneh. Sewaktu dulu di rumahnya tak pernah Iva meminta uang yang berlebihan atau dalam jangan waktu yang terus menerus banyak. Arman mulai curiga. Apa lagi sewaktu Iva menelpon ke telepon rumah Arman. Sekarang di rumah Arman sudah dipasang telepon rumah. Agar kalau kangen Iva dan keluarga di kampung bisa saling menelepon.
Iva menelepon ke Ayahnya hendak meminta uang agar Hadi membuka usaha sendiri. Tentu saja Arman semakin curiga saja. Bukannya Hadi itu dari keluarga berada juga, kenapa Iva selalu meminta uang. Ada yang gak beres. Namun Arman tetap mengirimkan uang tersebut tapi itu yang terakhir kata Arman pada Iva. Ayah Iva berkata kalau Hadi itu seorang pria dan sudah menikah tak cocok kalau ayah terus memberikan uang. Arman memberikan alasan seperti itu. Padahal Arman curiga kalau Iva sepertinya di manfaatkan saja.
Iva yang penurut dan pada dasarnya baik pun menuruti perkataan Ayahnya. Uang terakhir yang dikirimkan ayahnya pun langsung diberikannya ke Jihan mertuanya. Jihan tentu saja seperti biasanya. Senang mendapatkan uang, apa lagi ini cuma-cuma dapatnya. Sebenarnya Jihan juga sudah diberikan uang oleh suaminya. Namun karena Jihan itu terlalu boros dan suka belanja akhirnya Andika hanya memberikan uang pas-pasan saja. Jatah bulanan dapur dan uang untuk keluar rumah sesekali diberikan Andika pada Jihan istrinya. Tentu saja hal itu kurang bagi Jihan. Oleh sebab itu, dia berharap agar Hadi yang mewarisi kekayaan suami dan usaha suaminya. Jika Hadi maka Jihan mudah memintanya. Kalau Niken terlalu banyak pertimbangan. Niken sama dengan Papanya.
Namun sayang, Andika lebih memilih Niken jadi penerusnya ketimbang Hadi. Hadi terkejut dan sedih. Begitu juga Jihan. Tak ada pemasukan tambahan kalau Niken yang di tunjuk suaminya, begitu pikir Jihan. Sedangkan Hadi sampai sekarang tak punya pekerjaan juga. Walau makan dan hidup aman karena satu rumah dengan orang tuanya. Namun untuk uang sendiri tak punya.
Iva cukup sedih juga melihat nasib suaminya itu. Hadi hendak berontak pun pada Papanya tapi tak bisa. Akhirnya Hadi pasrah saja menerimanya. Hadi pikir dia lah yang akan di tunjuk Papanya. Namun nyatanya tidak.
Jihan kembali lagi menyuruh Iva meminta uang ke ayahnya di kampung. Namun kali ini Iva menolak.
“Iva, Mama mau bicara.”
“Iya Ma. Ada apa?”
Iva dan Jihan duduk berdua di ruang tamu.
“Kasian Hadi. Ternyata usaha Papanya bukan Hadi penerusnya. Niken yang di pilih Papanya. Hadi pasti kecewa. Mama juga sedih melihatnya.” Ungkap Jihan di depan Iva dengan menampilkan wajah sedihnya. Ia berpura-pura sedih. Agar Iva luluh padanya.
Iva pun menjadi sedih. Iva yang sudah beberapa bulan di rumah tersebut pun bisa merasakan keadaan yang sudah terjadi. Ia melihat semuanya dan tahu semuanya yang sudah terjadi.
“Iya Ma. Iva juga sedih untuk Mas Hadi. Sampai sekarang Mas Hadi cari kerja juga gak keterima dimana pun.”
“Nah, karena itu bantu Hadi ya, Iva.”
“Caranya Ma?”
“Minta uang lagi ke kampung. Sama Ayahmu Iva. Untuk bantu Hadi.” Jihan berharap dapat uang lagi.
“Eemm ... itu Ma. Kalau itu gak bisa lagi Ma.”
__ADS_1
“Loh kenapa?” kening Jihan berkerut saat mendengar Iva bilang tak bisa.
“Ayah bilang, kalau Ayah kasi uang terus maka gak baik. Kan Mas Hadi itu seorang pria dan sudah berkeluarga tak baik kalau Ayah memberikan uang terus. Mas Hadi harus bertanggung jawab sekarang terhadap rumah tangga kami. Jadi Ayah tak memberikan lagi uang. Biar kami mandiri Ma.” Iva menjelaskan dengan lemah lembut.
Sontak saja Jihan kesal. “Sial. Gak bisa dapat lagi dong uangnya” umpat Jihan dalam hatinya.
Iva melihat ke arah mertuanya tersebut.
“Kenapa Ma?”
“Gak apa-apa.” Suara jihan terlihat jutek.
Iva merasa Mamanya terlihat beda.
“Ma, uang yang selama ini Mama minta untuk Mas Hadi dan katanya untuk usaha Mas Hadi gimana Ma?” Iva merasa heran juga, kemana uang yang sering diminta mertuanya itu.
Jihan menatap sebel ke arah Iva.
“Sudah gak ada. Habis. Jangan di tanya lagi.” Jihan langsung pergi meninggalkan Iva. Ia malas kalau ditanya terus masalah uang tersebut.
Malam hari, saat mereka sudah selesai makan malam. Hadi dan Iva berada di kamar mereka. mereka tengah berbaring. Iva melihat suaminya yang berbaring di sampingnya.
“Mas....” Panggil Iva.
“Hem....”
“Mama sering minta uang sama aku. Katanya untuk Mas Hadi. Untuk ongkos jalan Mas Hadi cari kerja. Untuk beli mobil dan motor juga agar Mas Hadi gak capek jalan. Dan terakhir untuk buka usaha baru untuk Mas Hadi. Uangnya betul untuk semua itu Mas?” Iva menatap suaminya.
Hadi tentu saja kaget mendengarnya.
“Mama yang bilang begitu.”
“Iya Mas.”
__ADS_1
“Iva, uangnya tak pernah Mas terima. Mama pakai untuk belanja terus ke Mall kayaknya.”
“Hah? Jadi selama ini Mama bohong dong Mas.” Iva kaget dan serasa tak percaya.
“Maafkan Mama ku ya, Iva istriku sayang.” Hadi memeluk Iva. Iva pun memeluk suaminya sambil menganggukkan kepalanya. Kini ia tahu kalau mertuanya hanya memanfaatkannya saja.
“Jadi Mas gimana? Gimana dengan cari pekerjaan?”
“Seharusnya aku mendengarkan kata Papa ku. Cari kerja dahulu, bekerja dengan benar. Kumpulkan uang, nabung baru nikahi Iva. Seharusnya cari pengalaman kerja dahulu. Pantas saja Papa marah dan tak menunjuk ku sebagai pewaris. Beliau pasti kecewa padaku. Buktinya sekarang aku sudah menikah namun masih menumpang dengan orang tua. Bahkan sehari-hari masih minta dengan Papa.” Hadi menghela nafas panjang.
“Sabar Mas. Yakin lah dan terus berusaha. Iva selalu di sampingmu Mas.” Iva semakin erat memeluk suaminya. Hadi mengecup puncak kepalanya Iva. Ia sungguh beruntung mendapatkan istri yang lembut, penurut, penyayang dan sabar. Hadi semakin sayang dan cinta pada Iva.
“Aku akan meminta belas kasian Papa. Papa pasti memberikan salah satu bus yang bisa ku tarik sewa. Biarlah aku jadi supir Bus. Yang penting bisa cari nafkah untuk istriku sayang ini.” Hadi mencolek hidung Iva. Iva tersenyum.
“Apa di kasi Papa, Mas?
“Papa pernah nawarkan. Saat Niken di pilih oleh Papa, aku sempat protes pada Papa. Sebagai gantinya Papa bilang akan memberikan satu bus agar aku bisa cari uang dengan cara menjadi supir bus. Dan ku pikir sekarang aku tak bisa banyak tawar atau protes lagi. Aku akan terima saja. Jika tidak begitu bagaimana aku akan menafkahi mu sayang.”
“Semoga berkah ya Mas. Aamiin.”
“Aaammmiiinnn.”
Iva dan Hadi pun tidur dan terlelap dalam mimpinya. Mereka tidur dengan saling berpelukan. Semenjak saat itulah Hadi mulai menjadi supir bus. Begitulah Hadi mencari uang. Sehingga Iva sering di rumah sendirian. Hanya Jihan yang ada di rumah bersama Iva.
Kini Jihan tak lagi bersikap baik pada Iva. Sekarang ia sering menyuruh-nyuruh Iva. Menyapu, masak, ngepel, cuci piring, cuci baju dan lain-lain. Padahal di rumah ada pembantu. Tapi Jihan suka menyuruh-nyuruh Iva. Bahkan semena-mena.
Bersambung....
Di mulai lah penderitaan Iva karena mertuanya ... hiks. :(
Klik Like, Vote, Favorit dan Komennya ya Kak reader semua.
Sertakan juga kasi dukungan dan hadiahnya ya. Kasi juga bintang/rate 5 ya kak.
__ADS_1
Thanks. Love you all. :) :D No plagiat ya :D