Berbagi Cinta : Hati Diduakan Yang Tersakiti

Berbagi Cinta : Hati Diduakan Yang Tersakiti
Bab 29.


__ADS_3

“Saya Joni suruhan Pak Arman, katanya rumah ini hendak di jualnya jadi saya di minta untuk mengurusnya segera. Rumah ini di beli Pak Arman atas nama anaknya Iva. Karena anaknya Pak Arman tidak tinggal disini lagi jadi Pak Arman hendak menjualnya saja. Saya mau rumah ini segera di kosongkan, Pak.” Ucap Joni yang suruhan Arman.


Lita dan Hadi saling pandang.


“Di kosongkan segera Pak?” Tanya Hadi kembali.


“Iya Pak. Saya kasi sampai esok ya Pak. Esok Bapak sudah harus mengosongkan rumah ini. Kalau begitu saya pamitan dahulu. Permisi.” Joni pun memberikan mereka waktu satu hari untuk berbenah dan beberes, agar esok hari rumah tersebut bisa kosong dan segera di jual.


Setelah Joni pergi, Hadi dan Lita kembali masuk ke dalam rumah. Hadi dan Lita saling menatap. Kemudian keduanya duduk di kursi bersama. Lita segera melihat ke arah Hadi.


“Mas ... kita pindah saja ya malam ini juga. Kita ke apartemen ku saja. Aku kan punya rumah sendiri.” Ajak Lita.


“Baiklah. Malam ini kita mulai beberes dan tidur, esok kita langsung angkat kaki dari rumah ini.” Hadi pun setuju saja. Lagian Lita memang sudah punya rumah sendiri. Lita memang wanita mandiri dan sukses karirnya.


Malam pun tiba, keduanya makan malam bersama dan setelahnya itu keduanya mulai berkemas agar esok tinggal pergi saja dari rumah yang mereka tempati ini. Setelah banyak berkemas, Lita tidur duluan di ranjang. Hadi pun menyusul berbaring di samping Lita. Hadi kembali mengingat semua kenangan antara dirinya dan Iva di rumah yang akan ia tinggalkan ini. Ada rasa sedih yang dirasakannya. Masih terpatri di pikirannya kalau dulu ada kebahagian di rumah yang pernah di tinggali oleh Hadi dan Iva ini. Dan Kini ia harus pergi dari rumah tersebut.


Apakah ini tandanya, dirinya dan Iva telah berakhir. Jika begitu maka Hadi hanya akan fokus pada Lita dan bayinya. Lama kelamaan Hadi pun tertidur di samping Lita.


Esok paginya, Lita dan Hadi sudah selesai membawa semua barang-barangnya. Rumah dan isinya bukan miliknya, maka Hadi tak membawa apapun selain semua pakaiannya dan barangnya saja. Bahkan sepeda motor bebek pun di tinggalkan Hadi. Saat itu Mamanya Hadi menyuruh Hadi meminta kepada Iva untuk membelikan sepeda motor. Maka Arman orang tuanya Iva membelikannya demi Iva anaknya. Yang memakai pun seringan Hadi saat membawa Iva keluar bersama. Namun kini tak lagi.


Sepeda motor tersebut pun di tinggalkannya. Dua koper, milik Lita dan Hadi di masukan ke dalam mobilnya Lita. Kemudian beberapa barang mereka juga di bawa masuk ke dalam mobilnya Lita. Joni yang sudah datang, langsung di berikan kunci rumah oleh Hadi ke Joni. Kini  kunci rumah sudah di tangannya Joni. Hadi memandang sekali lagi ke rumahnya saat bersama Iva. Kemudian Lita memanggil. Dan pergilah Hadi dan Lita bersama meninggalkan rumah tersebut.


Selanjutnya Lita dan Hadi tinggal dan hidup di rumahnya Lita. Yaitu sebuah apartemen yang mewah tentunya.


***


Di kampung.


Waktu terus berlalu dan berganti bulan demi bulan.


Kehamilan Iva sudah memasuki usia sembilan bulan penuh. Bahkan ia tinggal menunggu kelahiran anaknya saja. Iva bahagia dan mengelus perutnya. Ia kini semakin susah bergerak. Sekarang semua kerjaan di rumah tak boleh lagi dikerjakannya. Ayah dan Ibu yang melarangnya.


Iva kini tengah menikmati buah-buahan. Ada anggur, apel, pir dan jeruk. Semalam Kak Nina yang belikan, katanya bagus untuk ibu hamil. Iva pun lahap memakannya. Dan sudah lama Iva tak melihat Fendi, sepertinya Fendi sudah kembali ke kota dan bekerja. Yah, mungkin saja Iva telah menyakitinya makanya Fendi hilang kabarnya. Iva tak bermaksud namun Iva rasa itu lebih baik.


Sedangkan Hadi, Iva juga sudah lama tak melihat ataupun tahu kabarnya. Entah bagaimana kabar suaminya dan madunya di kota, Iva tak mau tahu. Kalau tahu maka ia hanya akan sakit hati kembali. jadi ya lebih baik begini. Lebih aman, tenang dan damai.


Nina datang mendekati Iva yang sedang duduk sambil makan buah.


“Asyik nampaknya nih.” Tegur Nina.


“Hehe ... kakak. Makasih ya Kak Nina udah belikan Iva buah. Enak dan segar.”


“Masih enak ya?”


“Iya dong.”


Keduanya asyik berbincang dan tertawa sesekali. Kemudian sebuah notif sms masuk ke hapenya Iva. Iva melihat layar hapenya. Ia heran kok ada yang sms. Setelah di bacanya, ternyata pesan tersebut dari Fendi. Iva tersenyum ke arah layar hapenya. Nina malah jadi kepo kenapa sang adik malah tersenyum.


“Dari siapa?”


“Dari Fendi kak."


“Oh, kirain dia udah balik ke kota.”


“Emang sudah balik kak.”


“Lah ... lalu kok sms itu maksudnya apa? Oh dia masih berharap kayaknya ya. cie....” Nina menggoda sang adik.


“Mana ada. Wanita hamil besar gini, masak iya sama perjaka sih kak.”


“Ya gak apa lah. Perjaka tampan dan sukses lagi, apa salahnya. Tapi apa isinya seh.”


“Isinya, dia ngundang kita ke kota kak.”

__ADS_1


“Dalam hal apa? Terus yang bikin senyum apaan?”


Iva bukannya menjawab malah memberikan hapenya ke Nina. Nina pun membacanya. Lalu ia kaget bukan main.


“Ini beneran Iva?” Nina masih gak percaya.


“Iyalah kak. Kan udah di undang juga loh.”


“Wah ... gak sangka. Pantasan si bos sayang bener dan percaya sama Fendi. Ternyata mau dijodohkan putrinya sama Fendi. Wah ... hilang dong calon adik ipar ku yang tampan dan sukses.” Nina bersedih.


Iva malah tertawa terpingkal-pingkal.


“Kan bagus loh kak, jadi dia gak berharap sama aku terus. Kasian Fendi sama wanita kayak aku.”


“Kamu sih Iva, coba langsung terima cintanya Fendi, kan gak gini jadinya.” Nina menyayangkan, Nina berharapnya kalau Iva dan Fendi bersatu dalam ikatan pernikahan. Kenapa nasib berkata lain? Nina mengeluh dalam hatinya.


“Fendi berhak dapat yang lebih baik kak. Aku berdoa demi kebahagiaanya.”


“Kirain senyum kenapa eh rupanya si Fendi ngundang kita ke tanggal pernikahannya dengan putri bosnya. Wah bakal jadi bos besar dong nanti secara gantikan mertuanya kan. Hem, eh by the way kita kesana kah? Itu tiga hari lagi kan.”


“Iya kak. Tiga hari lagi. Tapi Iva hamil besar gini susah seh kak. Udah lah doa selamat saja. Hehe.”


Nina menggeleng pada Iva. Ia tak habis pikir dengan Iva. Kenapa malah membuang emas sesungguhnya demi berlian palsu seperti Hadi. Padahal Fendi jauh lebih baik. Apakah hati adiknya sudah tertutup dan tak mau terbuka lagi demi cinta yang lain. Nina menghembuskan nafas panjangnya.


Iva melihat kakaknya yang gusar.


“Kenapa kak?”


“Malas ah. Kakak pengennya Iva yang bahagia.” protes Nina dengan wajah yang manyun. Iva tersenyum dan memeluk kakaknya.


“Makasih kak, kebahagiaanku hanya bersama kakak, ibu, ayah dan abang lukas juga di sini.” Iva melepaskan pelukannya dan tersenyum. Nina pun ikut tersenyum.


“Tapi gak enak juga ya kak kalau gak datang. Secara Fendi baik banget sama kita. Ya udah deh, kita datang ke sana bentar aja. Sambil nikmati makanan enak. Kalau orang kaya biasanya sewa gedung atau di hotel acara wedding kak, sekalian dah kita makan enak, ya gak?” lirik Iva dengan mengedipkan sebelah matanya.


Nina hanya bisa tersenyum.


“Iya kak.” Keduanya pun setuju untuk pergi bersama.


Beberapa hari kemudian.


Iva dan Nina sudah bersiap. Mereka ditemani Ikang, tunangannya Nina. Mereka naik mobilnya Ikang. Ikang kebetulan memakai mobil ayahnya. Jadi pergilah mereka ke kota bersama. Ayah dan Lukas sibuk kerja jadi titip salam saja ke Fendi. Sedangkan Ibu tak mau ikut, katanya kurang enak badan.


Beberapa jam kemudian sampailah mereka di sebuah hotel bintang 5 yang mewah. Mereka pun masuk bersama. di dalam hotel sudah ada sebuah aula besar tempat di langsung kan pernikahan Fendi dan putri bosnya.


Iva dan Nina bersalaman dengan Fendi dan istrinya yang sedang berdiri di pelaminan pengantin. Iva sekalian mengucapkan selamat sekaligus doa untuk Fendi. Namun terlihat dimata Fendi masih ada cinta untuk Iva. Ia seakan berat melepaskan tangannya Iva.


“Selamat Fen, semoga bahagia ya samawa loh ya.” Iva tersenyum.


“Makasih Iva. Foto bersama dahulu ya.” ajak Fendi.


Berfoto lah Fendi , Iva , Nina dan Istrinya Fendi yang sudah sah, yang bernama Mira Handoko. Mereka berfoto bersama. kemudian kembali bersalaman Nina dan Iva kepada kedua mempelai pengantin, selanjutnya mereka kembali ke tempat duduk dan makan bersama untuk menikmati hidangan yang tersedia.


Dari kejauhan Iva seakan melihat Hadi dan Lita.


Istrinya Fendi adalah orang besar. Karena Pak Handoko adalah pengusaha sukses. Jadi banyak kenalan dari kalangan atas yang di undang. Kebetulan Lita dan Papanya pemilik rumah sakit terkenal, jadi mereka pun hadir. Papanya Lita dan Mamanya hadir, Jihan dan suaminya ada juga, dan Lita beserta Hadi pun ada.


Terlihat kalau perut Lita juga sudah membesar. Dan terlihat kalau Lita dan Hadi nampak bahagia. Iva tak sangka bakal bertemu mereka di acara tersebut. Hati Iva kembali terasa sakit. Iva berdiri setelah itu pamitan pada kakaknya, ia ijin ke toilet. Padahal makanannya belum habis, masih tersisa separuh makanan di piringnya.


Nina agak heran namun karena tak curiga, ia dan ikang kembali menikmati makanannya.


Iva di kamar mandi membasuh mukanya dan kedua tangannya. Usai cukup tenang, Iva berniat mengajak Nina dan Ikang pulang saja. Namun baru saja keluar dari toilet, ternyata terlihat Jihan yang sedang menunggu Iva.


Tadi Jihan sempat melihat Iva saat menuju toilet. Untuk memastikan Jihan pun menyusul ke toilet dan menunggu di depan pintu luar. Dan ternyata benar yang di lihatnya. Jihan nampak tak senang melihat Iva kembali. Dan Iva malah kaget melihat Jihan muncul di hadapannya.

__ADS_1


“Mama? kok....” Iva terheran.


“Kau kenapa disini hah Iva? Pergi dah jauh-jauh. Udah habis hilang kabar kok sekarang malah muncul lagi. Mau hancurkan kebahagian Lita dan Hadi ya.” tuduh Jihan pada Iva.


“Gak Ma. Ini pesta nikahan teman Iva.”


“Mana ada kau teman di kota, apalagi sampai orang besar kayak tempat sekarang ini. Jangan sembarangan deh Iva. Mama tahu kalau kau sengaja kemari karena tahu keluarga Lita di undangkan dan kau mau mengusik kan.”


“Enggak Ma.” Iva menggeleng.


Jihan menarik rambut Iva.


“Aduh Ma. Sakit. Lepaskan.” Ucap Iva meringis.


“Dengar ya perempuan sial, jangan kau coba-coba ganggu Hadi lagi yang sudah bahagia dengan Lita. Paham kau!!!”


“Iya Ma. Lepaskan Ma.”


Jihan melepaskan rambut Iva namun sempat mendorong Iva sekalian. Iva terhuyung kebelakang dan merasakan sakit di dekat perutnya.


Jihan pergi dan meninggalkan Iva sendirian. Ia kembali ke acara pesta. Dan Iva meringis kesakitan. Iva berjalan tertatih-tatih menuju tempat dimana kak Ninanya berada.


Di acara pesta, Iva kembali melihat Hadi dan Lita tersenyum bersama. Bahkan Hadi memeluk Lita dan mengelus perut buncit milik Lita dan menghujaninya dengan kasih dan cinta. Iva merasakan kembali rasa sakit di hatinya. Namun ia mulai merasakan sakit yang teramat pada perutnya kembali.


“Ternyata Mas Hadi benar-benar sudah melupakanku, bahkan kini dia bahagia dengan wanita lain. Ah....” gumam Iva sambil ia menangis dan memegang perutnya yang dirasa sakit. Syukurlah Nina segera menemukan Iva di sudut ruang. Nina tadi cemas jadi segera mencari Iva.


“Kenapa Iva?” Nina nampak cemas melihat keadaan adiknya.


“Kak sakit ... ayo kita pergi dari sini.” Pinta Iva.


“Baiklah.”


Nina memapah Iva dan meminta Ikang pulang. Pulang lah mereka. Namun di tengah jalan, Iva merasa sudah tak sanggup lagi. Ia kesakitan terus.


“Bang, gimana ini Iva?” Nina sudah panik.


“Kita bawa ke rumah sakit saja. Lalu kabarin bapak dan ibumu di kampung segera.”


“Baiklah.”


Ikang pun memutar arah dan membawa ke sebuah rumah sakit. Di rumah sakit Iva langsung di tanganin. Darah banyak keluar di sekitar paha dan betis Iva, bahkan bajunya sudah terkena darah banyak. Nina tentu panik luar biasa. Ia menangis.


Sebelum masuk ke ruangan UGD, Nina masih sempat memegang tangannya Iva yang di atas pembaringan pasien.


“Kak ... Iva udah gak kuat lagi. Tolong jaga anakku ya kak. Sampaikan pada Ayah dan Ibu di kampung. Maafkan Iva." Iva berkata dengan lemah.


“Enggak Iva ... kau kuat sayang. Jangan bicara seperti itu.”


“Iva udah gak sanggup kak. Hati dan pikiran Iva lelah menghadapi semuanya. Rasanya sakit kak.” Iva menangis dan suaranya makin melemah.


“Gak Iva. Jangan katakan apa pun.” Nina menangis.


Namun suster langsung membawanya masuk ke dalam ruang operasi dan dokter pun sudah masuk pula. Tangan Nina dan Iva yang saling berpegangan pun terlepas.


Nina menangis dalam pelukan Ikang.


Bersambung....


Huhuhu ... Iva hiks.🥲🥲🥲🥲


Klik Like, Vote, Favorit dan Komennya ya Kak reader semua.


Sertakan juga kasi dukungan dan hadiahnya ya. Kasi juga bintang/rate 5 ya kak.

__ADS_1


Thanks. Love you all. :) :D No plagiat ya :D


Like sebanyaknya ya kak dan Vote juga sebanyaknya. Makasih kakak :D 😍🤗🥰🙏


__ADS_2