
“Hentikan....” Ucap Nina melarang Jihan menampar adiknya. Nina sudah melihat dan mendengar semuanya. Jihan pun tak jadi menampar. Jihan, Iva dan Niken melihat ke arah Nina.
Nina terlihat sangatlah marah dan sedih. Ia segera melangkah ke arah Iva. Tadinya Nina kembali karena ingin mengambil tasnya yang tertinggal di sofa tamu. Saat kembali ia melihat pintu rumah terbuka, ia memberi salam dan memanggil tak terdengar jawaban. Akhirnya Nina masuk saja. Saat masuk, Nina langsung ke sofa tamu dan menemukan tasnya. Ia langsung pakai saja tasnya, namun kemudian Nina mendengar suara keributan. Nina pun segera ke arah yang sedang ada keributannya. Dan saat sampai betapa terkejutnya Nina melihat Iva di marahi Jihan bahkan di caci maki serta di pukuli. Semuanya disaksikan oleh Nina. Nina tak terima adiknya di perlakukan seperti itu. Dan saat Niken datang melerai kemudian Iva meminta maaf namun Jihan malah hendak menampar Iva, saat itulah Nina langsung segera menghentikannya. Tak sanggup lagi ia berdiam diri menyaksikan adiknya diperlakukan dengan tidak baik.
Nina sampai di depan Iva dan memeluknya. Niken pun berdiri di samping Iva. Sedangkan Jihan menarik tangannya tak jadi menampar Iva. Nina melihat ke arah Jihan dengan tatapan yang gelap. Jika bukan orang tua sudah pasti akan Nina balas. Namun Nina tak mau seperti itu.
“Nyonya Jihan yang terhormat, apa pantas Anda memperlakukan hal tersebut pada mantu Anda sendiri. Bagaimana pun Iva adalah istri Hadi, mantu Anda berarti anak Anda juga kan?” Nina memandang Jihan dengan tatapan yang tajam seperti elang.
“Ini rumah ku dan di sini kekuasaan ku. Kau orang luar tak perlu ikut campur. Bagaimana aku memperlakukan menantuku itu urusanku. Dia sudah tak bisa punya anak, sampai sekarang tak hamil lagi kan. Jadi istri dan mantu gak becus. Ngurus rumah dan kerjaan rumah aja gak beres. Bajuku rusak di cuci dan piring malah dipecahkan. Mantu macam apa itu.” Jihan dengan pongah berkata.
“Mama jangan keterlaluan. Kak Iva anggota keluarga kita juga. Selama ini Mama memperlakukan kak Iva seperti pembantu bahkan lebih parah dari babu. Semua kerjaan pembantu Mama kasi ke Kak Iva. Bahkan makanan saja Kak Iva susah. Mama kunci lemari makanannya padahal kak Iva yang masak semuanya.” Niken pun kesal dengan Mamanya. Seketika Jihan marah pada Niken.
Plak!!!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi mulus Niken. Niken di tampar oleh Mamanya sendiri. Niken serasa tak percaya. Seumur-umur Niken tak pernah di marahi apa lagi sampai di tampar. Mama dan Papanya sangat menyayanginya. Namun hari ini Mamanya telah menamparnya. Niken merasa sedih. Padahal Niken hanya ingin Mamanya bersikap baik ke Iva. Karena Iva sudah sangatlah menderita selama tinggal di rumah ini.
Nina dan Iva pun kaget melihat bagaimana Jihan dengan marah menampar Niken.
“Ma, sudah Ma. Niken gak bermaksud buat Mama marah. Iva salah Ma. Iva minta maaf. Mohon Mama berhenti ya Ma.” Iva kini mencoba meredakan amarah Jihan.
“Ini emang salahmu!” Dengan ketus Jihan memarahi Iva. Nina di samping hendak melontarkan kata-kata namun ditahan dengan tangannya di pegang oleh Iva.
Jihan kemudian melangkah pergi. Ia terlihat kesal dan malas melihat semua orang yang ada di dapur. Jihan masuk ke kamarnya. Niken menangis sambil minta maaf atas nama Mamanya pada Nina dan Iva kemudian ia lalu pamit undur diri. Niken pun masuk ke dalam kamarnya.
Kini tinggal hanya Iva dan Nina. Iva segera menghapus air matanya. Ia mencoba tetap tersenyum pada Nina. Sekarang Iva tak bisa menutupinya lagi, Nina sudah tahu semuanya. Nina sedih dan prihatin dengan nasib Iva. Bukannya bahagia malah menderita setelah menikah.
“Iva, apa Hadi tahu kau diperlakukan begini?” Nina menatap adiknya.
__ADS_1
“Hadi sibuk kerja kak. Kak jangan bilang pada ayah dan ibu di kampung ya. Iva gak mau nanti ayah dan ibu sedih.” Iva terlihat sedih. Nina bisa melihat itu.
“Pulang sama Kakak ya, Iva. Disini kau hanya menderita.” Nina mengajak Iva pulang kampung saja . kembali ke rumah mereka yang ada di kampung.
“Gak Kak. Iva sudah menikah. Dan ini pilihan Iva. Bukankah waktu itu Iva sudah di tanyai. Jadi semuanya Iva tanggung sendiri, karena sudah pilihan Iva. Lagian Iva harus mengikuti suami, suami Iva ada disini. Iva harus nurut dan mengikuti suami Iva. Dan orang tua Mas Hadi adalah orang tuaku juga kak sekarang. Jadi Iva harus menurutinya.”
“Diperlakukan seperti babu dan bahkan tidak di kasi makan, seperti itukah Iva? Itu bukanlah hubungan antara mertua dan menantu.” Nina tak terima keputusan adiknya. Pantas saja mereka waktu awal itu masih belum bisa menyetujui Iva dan Hadi karena takut akan seperti ini namun sekarang malah lebih parah yang terjadi dari yang mereka takutkan.
“Iva masih makan kok kak di rumah ini. Mama Jihan masih berbaik hati memberikan Iva makan.”
“Kakak sangsi. Buktinya tadi saja Niken berkata seperti itu. Dan tadi makanan yang kau masak saja di kuncinya. Terus kita malah makan di warung kan. Kau pasti sering di warung itu kan?” Nina menyelidik.
Iva akhirnya menganggukkan kepalanya.
“Iva, ceritakan semuanya pada kakak. Jangan ada yang di tutupi lagi.” Nina menatap tajam ke Iva.
Iva akhirnya menceritakan semua yang terjadi dan apa saja yang sudah menimpa dan dilaluinya. Nina sampai meneteskan air matanya.
Iva memohon namun Nina sudah bulat keputusannya. Nina sudah bertekad hendak membawa Iva keluar dari rumah neraka ini, jadi ia segera hendak mengabari ayah dan ibu di kampung. Karena Iva tak mau di ajak pulang jadi cara terbaik adalah Nina pulang ke kampung dahulu. Nina pun pamitan dan pulang. Iva cuma bisa menghela nafas panjang.
Iva membersihkan semua kekacauan yang ada di dapur. Setelah selesai membersihkan dan mencuci piring kemudian cuci pakaian. Iva kembali ke kamarnya yang ada di gudang belakang. Ia sebenarnya masih kesakitan, karena habis kena pukul Jihan tadi. Iva melihat sekujur tubuhnya yang mulai membiru. Ia mengoleskan obat agar birunya berkurang. Ia mengobati dirinya sendiri. Kemudian Iva tidur di ranjang lusuhnya.
Malam hari.
Iva baru saja selesai mandi. Ia tak berani makan malam. Dan tak berani bertemu dengan mertuanya saat ini. Sebuah panggilan telepon rumah berbunyi. Niken yang menerima, kemudian Iva di panggil. Iva pun menerima telepon tersebut. Ternyata yang menelepon adalah ayahnya di kampung. Mereka pun berbicara panjang lebar di telepon. Hanya ayahnya yang banyak bicara. Iva hanya menjawab “Iya” dan “Baiklah Yah.” hanya begitu. Setelah cukup lama telepon pun dimatikan, Iva letakkan kembali gagang teleponnya.
Gak berapa lama kemudian Hadi pulang. Syukurlah malam ini Hadi di rumah. Iva menyambut suaminya dengan senyumannya. Mereka berdua masuk ke kamar Hadi. Iva kalau ada Hadi maka tak tidur di gudang belakang.
__ADS_1
Kini keduanya di dalam kamar. Hadi mandi terlebih dahulu. Iva dengan sabar menunggu Hadi mandi. Selesai mandi, Hadi berpakaian. Hadi melihat istrinya di atas ranjang sedang duduk menunggunya. Hadi duduk di sebelah Iva. Ia memeluk istri tersayangnya. Dan mengecup kening Iva.
“Sudah makan sayang?” Tanya Hadi.
“Belum Mas.” Iva tak berbohong karena dia memang belum makan.
“Loh, kok belum.”
“Nungguin Mas.” Iva tersenyum.
“Jadi makin sayang.” Hadi memeluk istrinya.
“Mas, ada yang mau Iva sampaikan.” Iva agak bingung sebenarnya namun ia harus katakan pada Hadi.
Hadi melepaskan pelukannya. Ia melihat Iva dengan serius. Terlihat wajahnya Iva sangat serius. Jadi Hadi pun bersikap serius.
“Mau ngomong apa sayang? Kok kayaknya serius sekali.” Hadi jadi penasaran.
“Kita pindah rumah ya Mas. Kita tinggal di tempat lain.” Iva menundukkan kepalanya.
“Loh, Kenapa rupanya? Kok pindah?” Hadi menatap Iva dengan pandangan heran.
Bersambung....
Akankah Iva mengatakan sebenarnya ke Hadi??? Lalu bagaimana tanggapan Hadi???
Klik Like, Vote, Favorit dan Komennya ya Kak reader semua.
__ADS_1
Sertakan juga kasi dukungan dan hadiahnya ya. Kasi juga bintang/rate 5 ya kak.
Thanks. Love you all. :) :D No plagiat ya :D