Berbagi Cinta : Hati Diduakan Yang Tersakiti

Berbagi Cinta : Hati Diduakan Yang Tersakiti
Bab 13.


__ADS_3

“Iva!!!” Bentak Jihan. Iva pun terkejut dan melihat ke arah mertuanya.


Iva melihat Jihan mama mertuanya tersebut. Jihan melotot dengan mata yang hampir keluar. Terlihat jelas kalau Jihan sedang marah. Iva mendekat dengan takut-takut. Iva bahkan tak berani melihat ke arah mertuanya tersebut.


“Iya Ma.” Iva masih menunduk.


“Kemana saja kau ini hah?”


“Keluar sebentar Ma.”


“Sebentar apanya, kau dari tadi lama tak ada.”


“Mama cari Iva.” Iva melihat mertuanya dengan agak takut.


“Iyalah. Sana cepat masak untuk menu makan nanti malam.”


“Iya Ma. Oh iya Ma, mulai esok Iva ijin setiap kali udah selesai kerjaan rumah, Iva pamit keluar rumah ya Ma?”


“Ngapain? Jangan kelayapan deh. Kau ini sudah punya suami. Bagus di rumah saja. Urus rumah dan segera punya anak. Masak sampai sekarang belum juga hamil, semenjak anak pertama kalian yang pertama meninggal hingga saat ini belum juga kau hamil lagi Iva. Fokus rumah dan punya anak saja.”


Iva merasakan sakit hati. Sudah dirinya dibuat seperti pembantu. Dianggap pembantu di rumah mertuanya. Semua kerjaan babu sudah Iva kerjakan, sekarang malah bahas anak. Anak pertama meninggal juga sudah beberapa bulan lalu. Namun Mamanya sudah nuntut cucu lagi. Waktu anak pertamanya lahir saja mertuanya belum ada yang melihat. Bahkan saat si kecil lahir hingga meninggal cuma sekali mereka datang yaitu saat pemakamannya. Rasanya kok ada yang berdenyut serta teriris dengan sangat menyakitkan di hati Iva.


“Iva mohon ya Ma.” Iva pun memelas belas kasian mertuanya.


“Ya sudah sana. Asal semua kerjaan rumah selesai  dan beres.” Kecam Jihan pada Iva.


“Iva janji Ma.”


Iva pun segera melangkah masuk ke dalam. Ia langsung ke dapur hendak memulai masak.


Begitulah setiap harinya di rumah mertuanya. Tiap hari Iva sudah seperti babu saja di rumah mertuanya. Mau makan sendiri saja pun sulit. Padahal Iva yang memasak namun Iva juga yang tak bisa makan. Selesai memasak maka mertuanya tersebut akan mengunci makanan yang sudah di masak di lemari makan yang kemudian di kunci dan hanya Jihan yang memegang kuncinya.


Begitulah seterusnya. Saat di rumah mertuanya semua dikerjakannya. Selesai semuanya, maka setiap hari Iva akan membantu Buk Betty jualan makanan di kedai warungnya Buk Betty. Kebanyakan menu sarapan yang ada.  Bahkan Buk Betty memberikan sepiring makanan untuk Iva. Dan gaji 50 ribu setiap harinya. Lumayanlah kata Iva. Dari pada tidak sama sekali. Ia akan simpan dan gunakan seperlunya.


Saat ini Iva sedang mengiris bawang dan menyiapkan cabai juga. ia hendak membuat sambal dan tumis. Saat sedang memasak kebetulan Niken pulang dari kampus. Ia langsung ke dapur.


“Kak Iva, lagi masak ya. Duh ... rajin bener seh kak.” Niken menyapa kakak iparnya tersebut.


Iva menoleh ke Niken.


“Udah pulang ya Niken?”


“Udah kak. Masak apa kak? Sendirian aja masaknya? Bik Inem mana?”


“Bik Inem di suruh Mama ke pasar.”

__ADS_1


“Oh.”


“Mau makan Niken?”


“Gak kak. Nanti saja.”


“Oh. Baiklah.” Iva tersenyum dan Niken pun iya. Keduanya sama-sama tersenyum.


Jihan kemudian datang mendekat. Ia melihat tak suka kalau Niken dan Iva terlihat akrab. Niken pada dasarnya emang anak yang supel dan baik. Namun Jihan tak suka melihat kedekatan Iva dan Niken.


“Niken ... sana masuk kamar. Mandi.” Perintah Jihan.


Niken melihat Mamanya.


“Apaan seh Ma. Niken baru pulang loh. Entar aja lah Ma. Mau ikut masak sama kak Iva. Biar nanti Niken pandai masak juga.” Niken tersenyum jenaka pada Iva.


Iva hanya membalas dengan senyuman.


“Kau ini, Iva itu hanya lulusan SMA. Dia lebih muda dari dirimu Niken.” Jihan terlihat jutek sekali.


“Ma, gimana pun tuanya Niken atau mudanya kak Iva, Kak Iva tetap Niken panggil Kakak. Karena Kak Iva itu istri Mas Hadi. Mas Hadi kan abangnya Niken. Jadi Kak Iva kakak iparnya Niken.” Dengan tegas Niken menjawab.


“Berani kau sama Mama, Niken?” Jihan kini melotot.


Iva menahan Niken. Iva memberikan kode agar tidak berdebat. Niken pun diam. Ia tak mau kalau di bilang tak berbakti pula nanti pada orang tuanya. Akhirnya Niken memilih diam. Niken pamitan pada Iva dan kemudian masuk ke kamar dan meninggalkan Iva dengan Jihan di dapur.


“Iya Ma.” Iva menurut.


Jihan tinggalkan Iva di dapur. Iva pun melanjutkan memasaknya. Selesai masak. Iva segera mengerjakan yang diperintahkan Mama mertuanya.


Ia awalnya menyapu. Kemudian mulai mengepel. Niken baru mandi keluar dan melihat Iva mengepel lantai.


“Kok kak Iva ngepel lantai seh. Itu kan sudah kerjaan bik Inem.” Gumam Niken.


Niken mendekati Iva yang tengah mengepel lantai.


“Kak, kok ngepel rumah sih?” Niken bertanya heran.


“Gak apa-apa kok Niken.”


“Lah, kan ini kerjaan bik Inem. Udah kak, gak usah di lanjutkan. Nanti Niken panggil Bik Inem.” Niken mengambil gagang alat pel tersebut. Iva menolak. Katanya dia mau mengerjakannya. Namun Niken tetap bersikeras mengambil alat pel tersebut. Ia melarang kakak iparnya mengerjakan pekerjaan pembantu. Padahal sudah beberapa bulan ini Iva telah melakukannya. Hanya saja tak ada anggota rumah yang tahu gimana Jihan memperlakukan Iva. Hadi sering narik sewa. Kalau pulang pasti malam dan pagi buta harus kerja kembali. Bahkan ada kalanya tak pulang-pulang Hadi. Jadi Hadi tak tahu bagaimana mamanya memperlakukan istrinya tersebut.


Di saat Iva dan Niken masih berebut alat pel, Jihan melihat dan datang mendekat.


“Apa yang kau lakukan Niken?”

__ADS_1


“Ma, ini kak Iva kok malah ngepel. Kan sudah kerjaannya bik Inem.” Jawab Niken.


“Mama yang suruh.” Ucap Niken dengan santai.


Seketika tangannya Niken melepas gagang pel tersebut dan kini langsung di pegang oleh tangannya Iva. Niken melirik Mamanya, serasa tak percaya dengan apa yang di dengarnya.


“Mama bilang apa tadi?”


“Mama yang suruh. Bahkan semua pekerjaan rumah Mama suruh Iva yang lakukan.”


“Kok gitu Ma. Kak Iva kan bukan pembantu. Sudah ada bik inem.”


“Sudah kau tak usah berisik. Dan jangan membantah Mama. Dengar itu Niken.”


“Tapi Ma....” Niken hendak buka suara lagi. Tapi Iva menahannya. Sehingga Niken pun tak jadi berucap.


Iva kembali melanjutkan mengepelnya. Dan Niken menatap kesal ke arah Mamanya. Ia pergi dan menghentakkan kakinya.


Malam hari saat makan malam. Hanya ada Mamanya, Niken dan Iva. Namun di meja makan hanya Jihan dan Niken yang makan. Niken merasa heran. Kemana Iva?


 Selesai makan, Niken pamitan sama Mamanya mau masuk kamar. Saat itu, Niken mencari ke kamar Mas Hadi. Namun Iva tak ada. Lalu ia mencari ke dapur, Iva juga tak ada. Setelah di cari kemana-mana. Ternyata Iva ada di gudang dengan meringkuk memegang guling dan berbaring di ranjang yang lusuh.


Niken kaget dan menetes kan air matanya. Ini pasti ulah Mamanya. Tega dan sampai hati Mamanya melakukan hal tersebut ke mantunya sendiri.


Niken datang mendekat, di lihatnya Iva sudah terlelap. Bahkan Niken bingung apakah Iva sudah makan apa belum? Yang jelas, Iva kelelahan karena setiap hari ia harus bekerja keras. Di rumah orang tuanya Iva tak pernah kesulitan. Ia layak tuan putri di rumahnya. Bahkan karena anak paling kecil di rumah, sering kali Iva tak di ijinkan Mamanya melakukan semuanya. Ia di suruh hanya belajar dan melakukan seperlunya saja. Sekarang di rumah mertuanya, semua dikerjakan. Bahkan Iva harus bantu kerja juga di warung buk betty. Setiap hari Iva kelelahan. Jadi sekarang ia tertidur lelap. Tadi sore ia sudah makan karena sempat ke tempat buk betty dan seperti biasa buk betty yang memberikan sepiring makanan.


Karena kalau di rumah mertua, Iva di larang makan. Kalau makan ya  harus tunggu mertuanya yang kasi jatah makan. Kalau tidak ya Iva menahan lapar. Dan dapat makan dari buk betty. Sungguh malang nasibmu Iva.


Niken menatap sedih sang kakak ipar. Kemudian Niken kembali ke kamarnya sendiri. Ia berharap agar Iva bisa bahagia nantinya. Dan malam ini sepertinya Hadi tak pulang lagi. Sedangkan Andika yang pulang larut malam karena kerjaannya hanya bertemu Jihan. Saat di tanya (Andika menanyakan anak-anak yang di rumah),  Jihan hanya bilang yang lain sudah pada tidur.


Begitulah seterusnya. Hingga suatu siang, saat Iva sedang menyapu rumah, telepon rumah berdering. Iva pun segera menerima telepon tersebut.


“Halo....” Iva menjawab.


“Iva, ini Kak Nina. Apa kabarmu sayang? Kakak kangen.” Nina di seberang sana menelepon.


“Baik kak. Aku juga kangen kakak.” Iva tersenyum. Ia memang kangen dengan keluarga di kampung.


“Beneran kangen kakak. Syukurlah. Jadi esok kakak akan menjenguk mu. Jangan lupa di jamu ya kedatangan kakak.” Ucap Nina yang membuat Iva menjadi terkejut bukan main.


Bersambung....


Nina mau datang berkunjung ke rumah mertuanya Iva, untuk ngelihatin Iva. Waduh Iva jadi gimana ya? Apakah ketahuan kelakukan mertuanya Iva? Saksikan kelanjutannya nanti lagi ya kak :D


Klik Like, Vote, Favorit dan Komennya ya Kak reader semua.

__ADS_1


Sertakan juga kasi dukungan dan hadiahnya ya. Kasi juga bintang/rate 5 ya kak.


Thanks. Love you all. :) :D No plagiat ya :D


__ADS_2