
Di dalam kamar mandi, Jihan malah menaburkan sesuatu ke dalam bak air mandinya. Entah apa itu namun setelah itu Jihan seakan membaca sebuah bacaan sambil menaburkan sesuatu ke dalam wadah bak air mandi.
Kemudian Jihan keluar kamar mandi. Iva sudah selesai membuatkan segelas teh panas untuk mertuanya.
“Ma, tehnya sudah siap.” Ucap Iva melihat Jihan yang baru saja keluar kamar mandi.
Jihan menoleh dan melirik ke arah Iva. Ia melihat teh panas yang sudah dipegang di tangan Iva yang hendak di berikan ke Jihan.
“Gak jadi. Gak usah. Mama mau pulang. Mama lupa ada janji.” Usai berkata tersebut, Jihan pun pergi keluar dari rumah Iva. Iva malah terbengong bingung.
Akhirnya tehnya Iva minum sendiri saja.
Sorenya Iva pergi mandi, selesai mandi Iva bersiap berpakaian. Dan Hadi pun pulang di sore hari, Iva menyambut suaminya dengan senyum gembira.
Malamnya mereka makan malam bersama. Dan malam harinya tidur di ranjang. Kebetulan malam jumat yang sangat sunah bagi pasangan suami istri. Iva dan Hadi pun hendak melakukannya malam itu juga di ranjangnya. Namun bari saja Iva berbaring dan Hadi hendak mengecup istrinya, tiba-tiba Iva merasakan gatal-gatal di sekujur tubuhnya.
“Aduh Mas. Kok gatal ya.” Iva menggaruk seluruh tubuhnya yang dapat di jangkauannya.
“Loh ... kenapa sayang? Udah mandikan?” Hadi menatap heran istrinya.
“Sudahlah Mas. Tapi kok ini gatal banget ya Mas.” Iva semakin merasa gatal dan panas juga.
“Jangan digaruk terus sayang, nanti luka-luka.” Hadi melarang, ia tak mau kulit mulus Iva malah ada luka-lukanya. Namun Iva masih terus menggaruk.
Rasa gatalnya sungguh luar biasa. Seketika sudah banyak luka di tubuh Iva. Di sekujur tubuhnya penuh luka-luka kudis. Baik kedua tangan, kedua kakinya, badan dan leher. Di wajahnya juga ada beberapa.
“Iva kenapa sayang? Kok jadi gini?” Hadi semakin heran.
“Gak tahu Mas.” Iva tersiksa. Dan malam itu malah gagal malam sunah mereka.
Sepanjang malam Iva meringis menahan rasa sakit, panas dan gatal. Hadi jadi tak tega. Malam itu juga mereka pergi berobat ke rumah sakit.
Namun anehnya, doker berkata tak tahu sakit apa yang di derita oleh Iva. Dokter menduga mungkin hanya penyakit gatal biasa saja, sehingga dokter hanya memberikan resep gatal dan menyuruh Iva meminumnya. Iva pun menuruti apa kata dokter. Tapi anehnya Iva tak kunjung sembuh, terus merasa gatal dan sakit.
Esoknya pun masih sama keadaan Iva. Sampai Hadi tak tega meninggalkan Iva. Namun Iva bilang berangkatlah kerja. Akhirnya Hadi pergi kerja dan Iva sendirian di rumahnya.
Di rumah Iva masih saja tersiksa dengan apa yang di deritanya. Sampai berminggu-minggu Iva masih saja menderita sakit yang aneh. Sudah di obati dokter pun tapi tak kunjung sembuh. Akhirnya Iva pasrah saja. Hadi pun bingung dengan sakit Iva.
Hingga suatu sore, saat Iva sendirian di rumah, Nina datang mengunjungi adiknya si Iva. Iva pun menyambut kakaknya.
“Kenapa kau Iva?”
“Sakit kak.”
“Sudah di obati?”
“Sudah tapi gak sembuh juga kak”
Keduanya duduk di kursi tamu milik Iva. Nina menatap heran ke adiknya.
“Semua cara udah di lakukan dan tak sembuh kah? Semua obat tak bisa?”
“Sudah kak, namun tak sembuh.”
“Aneh sekali.”
“Iva juga gak tahu kenapa.”
__ADS_1
Nina berpikiran ada yang salah dan aneh disini.
“Hadi mana?”
“Sedang kerja kak, belum pulang. Kakak mau minum biar Iva ambilkan atau mau teh biar Iva buatkan juga.”
“Apa aja boleh kok Iva, adik ku sayang.”
Iva pun ke arah dapur, Nina pun ikut ke dapur. Saat di dapur, Iva memasakkan air untuk membuat air teh panas segelas saja. Ia mau membuat teh. Nina memperhatikan adiknya. Ia lalu melihat ke dalam lemari makan Iva. Hanya ada seekor ikan goreng saja. Nina mengerutkan keningnya.
“Iva lauk mu tinggal satu saja kah?”
“Eh iya kak. Belum beli lauk lagi. Kakak mau makan kah? Biar Iva beli telur dan mie ke warung depan.”
“Gak usah. Kakak hanya tanya saja.”
Nina heran kenapa hanya ada satu ekor ikan goreng. Nina gak tahu kalau sekarang sedang masa sulit Iva dan Hadi. Sewa busnya lagi sepi jadi setoran Hadi berkurang alhasil Iva tak bisa memasak banyak lauk. Hanya bisa menghemat. Ikan seekor itu ia simpan untuk suaminya. Iva mendahulukan makanan untuk Hadi. Jadi ia makan nanti saja kalau Hadi sudah pulang, atau nanti saja kalau Hadi sudah makan. Yang penting sarapan dan makan siang serta makan malam untuk Hadi aman.
Nina kembali duduk di kursi tamu. Iva membawakan teh panas untuk kakaknya.
“Diminum kak.”
“Iya Iva.”
“Semenjak kapan kau sakit begini Iva?”
“Semenjak kapan ya, Iva lupa kak hehehe. Sudah berminggu-minggu kayaknya kak.”
“Kau ada salah makan atau salah minum gak? Ada makan dan minum sesuatu gak?” Nina mulai menyelidik.
Nina berpikir sejenak.
“Siapa saja orang yang kau temui belakangan ini?”
“Gak ada siapa pun, cuma ke pasar atau ke warung belanja dapur. Lalu di rumah cuma sama Mas Hadi. Kemudian yang main ke rumah cuma Kak Nina. Ke dokter atau ke rumah sakit berobat. Oh iya Mama Jihan ada main kemari.” Iva baru mengingatnya.
“Mertuamu yang jahat itu.”
“Kak jangan begitu.”
“Emang iya kok. Apa yang dia buat?”
“Cuma main, Iva buatkan teh dan Mama Jihan ke kamar mandi lalu pulang.”
“Apa yang dilakukannya di kamar mandi?” Tak ada habisnya Nina bertanya dan menyelidiki.
“Gak tahu kak. Buang air kecil mungkin.” Iva menggeleng tanda tak tahu.
“Ada dikasi sesuatu gak sama mertua mu itu? Makanan atau minuman atau apa gitu?”
“Gak ada kak. Cuma ke kamar mandi habis tu pulang.”
Nina lalu langsung bangkit dan pergi ke kamar mandi. Di dalam kamar mandi Nina melihat setiap sudut dan mencari hal yang aneh atau mencurigakan. Namun tak ada yang aneh. Nina lalu melihat ke air bak kamar mandi. Ia melihat airnya nampak biasa saja. Kemudian ia mengambil sebuah wadah dan tempat lalu memasukan airnya kedalam plastik ukuran setengah kilo. Nina mengambil dan membawa air tersebut.
“Untuk apa kak?” Iva nampak bingung dan heran.
“Mau Kakak periksa saja. Ya udah yuk kita balik duduk lagi.”
__ADS_1
Iva pun menganggukkan kepalanya. Iva dan Nina pun bercerita sambil bersenda gurau di kursi ruang tamu. Nina melepaskan rindunya dengan Iva. Sudah dua jam dan Nina pamitan pulang. Iva sebenarnya tak mau kakaknya pulang namun ya harus di relakan.
Nina memberikan sejumlah uang. Dibilangnya kiriman ayah dan ibu di kampung, Nina juga memberikan oleh-oleh buah tangan yang tadi dibawanya tapi baru di kasikan saat ia mau pamitan pulang. Iva terharu menerima semuanya. Nina pun pulang.
Kini Iva sendirian lagi di rumah. Malam harinya setelah Hadi pulang dan makan malam, Hadi melirik ke arah istrinya.
“Sudah makan sayang. Kan lauknya cuma seekor ikan goreng.”
“Sudah Mas.”
“Jangan bohong loh Iva.”
Iva hanya tersenyum.
“Penghematan Mas.”
“Maafkan Mas ya, masih belum bisa bahagiakan Iva. Doakan selalu Mas ya biar lancar rezekinya untuk Iva dan Mas juga.”
“Iya Mas.”
Sebuah panggilan berbunyi. Iva sekarang sudah mempunyai hape. Walau hape second tapi masih bisa digunakan, agar Iva dan Hadi mudah saling komunikasi. Serta memudahkan Iva bertelepon dengan keluarga di kampung juga.
Iva menerima panggilan telepon tersebut. Ternyata nomer dari kampung yang menelepon ke hapenya Iva.
“Iya Halo.”
“Iva. Ini Ayah.”
“Iya Ayah. Ada apa?”
“Bisa kau pulang ke kampung nak, ini masalah serius dan Ayah baru tahunya dari Nina barusan.”
“Masalah apa Ayah?”
“Iva sedang sakit aneh dan tak bisa sembuh kan? Walau sudah berobat dan ke dokter pun tak sembuh?”
“Iya Ayah.”
“Kau kena guna-guna nak.” Ucap Arman di seberang sana kepada Iva. Iva tentu saja kaget luar biasa.
Bersambung....
Siapa yang udah guna-gunai Iva yak ... kasian Iva.
Guna guna adalah perbuatan yang tidak baik dan tercela bahkan berdosa, oleh sebab itu janganlah di lakukan. Dan semoga kita terhindar dari hal tersebut. Aaammiiinn.
Klik Like, Vote, Favorit dan Komennya ya Kak reader semua.
Sertakan juga kasi dukungan dan hadiahnya ya. Kasi juga bintang/rate 5 ya kak.
Thanks. Love you all. :) :D No plagiat ya :D
Oh iya kak mari mampir ke karya teman ku yang seru banget ceritanya. Jangan lupa mampir ya kaka 😍 di favorit, di like, komen dan kasi gift juga kakak. Cek di bawah ini kak karya nya 🤗
Makasih kak 🥰😘
__ADS_1