Berbagi Cinta : Hati Diduakan Yang Tersakiti

Berbagi Cinta : Hati Diduakan Yang Tersakiti
Bab 25.


__ADS_3

“Mas Hadi....!!!” Iva sama terkejutnya dengan Nina dan Fendi yang melihat ke arah Hadi dan Lita. Bahkan Fendi melihat ke arah Hadi dengan tajam yang di peluk lengannya oleh wanita di sampingnya yang sedang mulai membuncit perutnya sepertinya hamil. Dalam pikiran Fendi, siapa wanita itu nampaknya sedang hamil?


Lita dan Hadi mendekat ke arah Iva. Iva berada di samping Nina dan Fendi. Nina malah membentengi adeknya. Ia tak mau Hadi dekat-dekat dengan Iva.


“Ngapain Iva di sini? Kok udah lama gak pulang sayang?” ucap Hadi yang membuat semua beralih pandang ke Hadi, bahkan Lita pun jadi menatap Hadi.


Nina dan Fendi melihat ke arah Iva kemudian.


“Apa kabar Mas dan Mbak Lita?” Iva malah menanyakan kabar kedua orang tersebut.


“Ngapain di tanya sih Iva? Jelas kabar mereka baik. Buktinya suami mu sibuk dengan istri lainnya. Kalau peduli dia bakal cari kamu sampai dapat.” Sindir Nina terang-terangan. Nina sangat kesal dengan Hadi.


Hadi tertohok hatinya merasakan sindiran Nina. Ia tahu pasti Iva sudah menceritakan semuanya pada keluarganya. Namun tatapan Hadi beralih ke Fendi yang dari tadi diam memperhatikan semuanya.


“Kak, jangan gitu ah.” Iva berusaha membuat kakaknya agar bisa menahan emosi.


“kalian sedang apa Iva? Bisa kita bicara berdua sekarang?” Hadi ingin berbicara berdua dengan Iva. Lita menoleh ke Hadi kembali. Apa Hadi tak memikirkan perasaannya? Lita berujar dalam hatinya.


“Maaf Mas, Iva terlalu capek. Lagian kami mau pulang.” Iva menolak segala ajakan Hadi. Ia sebenarnya hanya tak tahan melihat Hadi sedang bersama madunya. Bahkan sedang gandengan tangan lagi. Iva kembali merasakan sakit hati.


“Jangan ganggu Iva, urus saja istri baru kamu itu.” Nina terlihat galak.


“Ayo Iva.” Seret Nina pada Iva. Namun Hadi menghalangi jalan mereka.


“Tunggu. Iva, please. Ayo kita bicara baik-baik.” Hadi berusaha membujuk.


Namun kali ini Fendi mulai buka suara.


“Maaf. Aku rasa, Iva gak mau. Tolong jangan memaksanya.” Fendi berusaha tetap sopan.


Hadi panas hati melihat pria tersebut, karena pria ini yang pernah di lihat Hadi saat bersama Iva. Dia adalah orang yang sama. Hadi merasa kesal melihat pria tersebut. Bahkan ia menatap tajam ke arah Fendi.


“Bukan urusanmu. Kau orang luar. Iva adalah istriku, kau tak perlu ikut campur.” Suara Hadi satu tingkat lebih tinggi dari biasanya. Fendi mengepal tangannya, ia nampak kesal karena sindiran Hadi. Iya, Fendi sadar kalau Ia adalah orang luar tak patut ikut campur rumah tangga orang lain, namun ini Iva, wanita yang ia cintai. Fendi tak mungkin membiarkannya begitu saja.


“Mas!!!” Iva tak suka ucapan Hadi pada Fendi.


“Jadi kau sendiri apa lebih baik?” Nina menatap tajam ke Hadi.


Lita berusaha bersikap netral saja. Ia malah mencoba mencairkan suasana yang terlihat sudah tegang.


“Aku Lita. Maaf baru sekarang kita berkenalan.” Lita mengulurkan tangannya.


Iva rada enggan menerima, namun akhirnya ia terima jabat tangan tersebut.


“Iva.”


“Lita.” Lita kemudian berkenalan dengan Fendi dan Nina. Namun Nina tak mau menyambutnya, hanya Fendi yang menyambut.


“Fendi.” Ucap Fendi.

__ADS_1


“Lita. Istrinya Mas Hadi.” Ucap Lita ke Fendi yang memperjelas status dirinya kalau ia juga istrinya Hadi. Ada rasa denyut di hatinya Iva saat mendengarnya. Nina malah geram. Sedangkan Hadi tak melihat situasinya.


“Aku Hadi, suaminya Iva.” Ucapnya saat berhadapan dengan Fendi.


“Fendi, teman Iva semasa SMA.” Balas Fendi ke Hadi.


“Jadi, Iva dan Mbak di sampingmu adalah istrimu?” tatap Fendi ke arah Hadi.


“Iya. Mereka berdua adalah istriku. Jadi kau jaga jarak dengan Iva.” Hadi mengancam. Dan bersikap pongah di hadapan Fendi.


Baik Lita dan Iva saling beradu pandang dan merasakan denyut di hati yang terasa sakit. Hadi dengan gampang berucap tanpa mempedulikan perasaan wanita. Seakan suatu kebanggaan saja padanya. Padahal hati para istri sakit. Wanita manapun pasti tak ada yang mau dimadu.


Nina nampak geram dan hendak berucap. Namun Iva telah mendahului.


“Sudah. Ayo kita pulang saja. Maaf Mas Hadi dan Mbak Lita, kami duluan.” Iva menarik tangannya Nina dan Fendi yang akhirnya mengikuti Iva.


Namun Hadi masih belum puas, ia kembali mengejar Iva dan malah meninggalkan Lita.


“Iva ... tunggu. Kita perlu bicara.” Hadi menarik tangannya Iva. Nina dan Fendi hendak melarang, namun suara pegawai toko pun datang.


“Maaf Bapak dan Ibu sekalian, ada yang bisa saya bantu. Hendak memilih pakaian yang seperti apa modelnya? Biar saya rekomendasikan.” Seorang pegawai masih muda dan cantik menyapa para pelanggan dengan ramah.


Semua perhatian kini teralih ke pegawai toko.


“Mau cari pakaian untuk kedua wanita ini.” Jawab Fendi tiba-tiba. Iva sudah menggeleng tak mau. Ia sudah mau pulang saja.


“Tunggu ... aku mau bicara dahulu.” Hadi masih bersikeras.


Seorang manager datang. Ia melihat ada keributan sehingga datang. Dan tak sangka Manager malah melihat seseorang yang berkuasa juga di mall.


“Pak Fendi sedang kemari? Maaf pegawai yang tak mengenali Anda. Kamu salam hormat dengan Pak Fendi.” Tegur sang manager ke bawahannya. Si wanita pegawai toko pun langsung memberi hormat pada Fendi.


Nina, Iva, Hadi dan Lita menatap heran ke Fendi. Kok manager pun hormat padanya.


“Sudah. Tak apa. Kembali lah berkerja.” Ucap Fendi. Si pegawai wanita pun pamitan undur diri.


Tinggal manager yang masih ada.


“Ada yang bisa saya bantu Pak?” tanyanya pada Fendi.


Hadi yang merasa kesal dan penasaran pun bertanya.


“Pak, emang siapa orang ini?” Hadi menatap manager sambil menunjuk ke arah Fendi.


“Maaf bapak siapa? Saya tak tahu Anda siapa. Namun Pak Fendi ini adalah CEO di sini. Mall ini di bawah komandonya. Ujar si manager yang membuat Iva, Nina, Hadi dan Lita kaget mendengarnya.


Fendi memberikan sinyal agar tak berbicara, namun sepertinya manager tak mengerti. Akhirnya Fendi pasrah dengan ucapan sang manager.


“Ehem ... sebaiknya kau kembali saja. Biarkan kami disini. Kalau ada perlu nanti saya panggil.” Fendi meminta manager pergi. Manager pun menurutinya.

__ADS_1


“Baik Pak. Panggil saja jika Anda memerlukan saya. Saya pamit undur diri.” Manager pun pergi.


Fendi kemudian melihat ke arah Iva dan Nina yang tidak berkedip menatap Fendi. Bahkan Lita dan Hadi serasa tak percaya dengan yang di dengarnya.


Lita lalu menarik tangannya Hadi. Agar menjauh dari mereka semua.


“Mas, ayo kita pergi. Maaf. Kami duluan.” Lita menarik Hadi dan sekalian pamitan dengan Iva, Nina dan Fendi.


Nina tak terlalu peduli. Iva dan Fendi hanya diam. Pergilah Lita dan Hadi dan semakin menjauh dari pandangan mereka. Bahkan Hadi seakan terperangah setelah mendengar kata CEO tadi.


Setelah Hadi dan Lita pergi, kini hanya tinggal Iva, Nina dan Fendi.


Iva dan Nina menatap Fendi dengan tatapan sangat menuntut penjelasan. Namun Fendi bersikap seolah tak ada apa pun.


“Kalian mau beli apa? Pilih saja hehehe.” Fendi tersenyum.


“Fen, bener yang dibilang tadi?” Nina menatap Fendi.


“Fen, kau CEO kah?” Iva juga bertanya penasaran.


Bersambung....


Wow ... Fendi ternyata di kota kerja sebagai CEO loh. Bahkan datang ke Mall-nya Fendi yang sebagai Ceo-nya. Kok bisa? Kok bisa? Hehehe. Merasa kalah dong ya si Hadi hihihi :D


Klik Like, Vote, Favorit dan Komennya ya Kak reader semua.


Sertakan juga kasi dukungan dan hadiahnya ya. Kasi juga bintang/rate 5 ya kak.


Thanks. Love you all. :) :D No plagiat ya :D


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2