
Mengikuti saran dokter maka Devita pun istirahat di rumahnya. Dia pun di berikan ijin oleh atasannya agar tidak masuk dahulu. Di rumah Devita istirahat total agar bercak darah tak keluar lagi. Bimo pun menemani sang istri di rumah setelah tahu keadaannya.
Devita bercerita ke suaminya kalau dia telah hamil setelah di periksa dokter. Bimo pun langsung pulang dan menemani Devita di kamar mereka. berhari-hari Devita masih saja terus mengeluarkan bercak darah. Dia sangat cemas. Dia pun merasakan rasa sakit pula.
Setelah seminggu kemudian semakin sakit saja dan akhirnya malah Devita kembali keguguran. Ternyata janinnya sudah terlanjur lemah hingga keguguran. Untuk kedua kalinya Bimo dan Devita gagal lagi punya anak. Devita dan Bimo hanya bisa sabar. Padahal janin Devita belum ada berumur sebulan penuh. Palingan juga baru berumur 3 minggu tapi sudah keguguran kembali.
“Yang sabar ya Yank.” Ucap Bimo memberikan semangat ke Devita.
“Iya Yank.” Devita menjawab dengan segera.
Devita dan Bimo hanya bisa pasrah dan ikhlas. Mereka berharap suatu hari nanti Devita dan Bimo bisa punya anak. Aaaammmiiinnn.
Devita dan Bimo kembali melakukan aktifitas hariannya lagi. Bimo kembali berjualan buah di kiosnya. Devita setelah memberikan makan para kucingnya yang semakin banyak saja beranak pinak, setelah itu dia pergi kerja kembali. Devita masuk kerja ke tempat dokter Rina.
Hari-hari terus dilewati dan sudah dua tahun pernikahan mereka berlalu tapi sampai menginjak tahun ketiga pernikahannya belum juga di karunia serang bayi pun. Bimo tak banyak menutut ke Devita. Baginya asal Devita bahagia dan bisa tersenyum cerah maka dia pun ikut serta bahagia.
Namun yang bikin kesal kalau sudah acara kumpul keluarga atau reuni dengan teman lama. Pasti selalu di tanya kapan punya anak lagi. Dulu saat jomblo di tanya mana pacarnya. Sudah punya pacar di tanya kapan nikahnya. Sudah nikah di tanya kapan punya anaknya. Sudah tahu keguguran dua kali pun malah di tanya lagi kapan punya anak lagi. Gak ada habisnya.
Tapi Devita berusaha tetap senyum karena dia tak mau ada keributan. Sekarang Mertuanya Devita pun tak banyak ributnya. Dia sadar kalau buat Devita sedih hanya akan buat Devita hendak pergi, kalau pergi maka Bimo akan ikut pergi. Jadi Mamanya Bimo sekarang bersikap lebih baik ke Devita agar Devita betah di rumahnya dan Bimo tak akan pergi.
Setiap tahun kalau mertuanya ulang tahun atau anniversary mertuanya maka Bimo dan Devita akan memberikan pesta kecil-kecilan di rumah. Mereka beli kue dan makan bersama dengan Mama Bimo. Mama Bimo terharu dan semakin sayang pada Devita. Bimo senang melihat istri dan mamanya saling menyayangi.
Kadang ulang tahun Mamanya, Papanya atau Bimo atau ulang tahun Devita maka mereka rayakan bersama. dan kadang anniversary pernikahan mertuanya atau anniversary pernikahan Devita dan Bimo di rayakan. Begitulah setiap tahunnya. Ada kalanya mereka makan di luar di restoran gitulah.
Intinya kehidupan rumah tangga Bimo dan Devita sangatlah bahagia serta rezeki mereka lancar terus.
Hanya satu kurangnya, hingga kini setelah beberapa tahun sudah tapi Devita belum hamil lagi. Ada rasa sedih di hati Devita tapi Bimo selalu menghiburnya.
“Kenapa Yank? Capek ya ? mau di pijit kan kakinya atau bahunya? Atau lapar ya? mau ku ambilkan makan Yank?” tawar Bimo ke Devita yang baru saja pulang dari tempat kerjanya.
Devita duduk di tempat Kiosnya mereka. Dia hendak menemani Bimo berjualan. Dia baru saja pulang kerja pun.
“Yank?” Bimo kembali melihat Devita yang belum juga menjawabnya.
“Gak apa Yank. Cuma pegel dikit tapi gak apa. Duduk bentar juga baikan. Aku Cuma sedih Yank.” Wajah Devita kelihatan murung.
“Sedih apa?”
“Sampai sekarang kita belum juga punya anak. Semua usaha udah di buat tapi belum juga.”
__ADS_1
“Udah. Gak usah dipikirkan ya Yank. Kalau di kasi alhamdulliah Yank. Kalau enggak semoga nanti di kasi ya yank.” Bimo menenangkan istrinya. Dia memeluk Devita. Devita merasa hangat dipeluk oleh Bimo.
“Iya Yank. Moga nanti kita di berikan amanah ya Yank biar bisa punya anak lagi.”
“Aaaammmiiinnn.”
Keduanya berpelukan dan tersenyum.
Waktu kembali terus berlalu. Beberapa tahun telah terlewati.
Kini Devita sedang main di rumah neneknya. Sesekali dia pulang ke kampung untuk sekedar melihat neneknya dan nginap di kampung. Bimo pun ikut serta dengannya.
Dan saat di kampung ternyata Helena putrinya Nina sudah menikah. Waktu pernikahan Helen, Devita tak sempat datang karena banyaknya tugas. Kali ini dia datang sekalian melihat Helen yang katanya sudah punya anak.
Sudah cukup lama Devita tak berjumpa Helen. Sudah bertahun-tahun lama rasanya. Tahu-tahu Helen sudah menikah dan punya anak. Helen juga sudah bekerja di sebuah instansi kantor dan suaminya pun sama dengan Helen status kerjanya hanya beda bidang saja. Jika Helen bagian Administrasi kantor maka suaminya bagian yang sering turun ke lapangan yang suka mendata data orang-orang.
Devita datang ke rumah Helen. Helen dan suaminya sudah punya rumah sendiri. Walau kecil sederhana tapi sudah cukup keluarga kecilnya. Nanti jika tabungannya cukup maka akan di besarkan rumahnya. Sementara ini dahulu cukup.
Kini Devita dan Bimo sedang duduk di ruang tamu Helen. Suami Helen belum pulang kerja. Dan helen kebetulan saja sudah pulang kerja. Dia bersama anaknya yang sudah berumur 3 tahun.
“Ini anak kakak ya?” Devita memandang si Irgi dan menciuminya kedua belah pipinya yang bikin gemas.
“Iya Dek, anak cowok. Namanya Irgi Ramadhan.” Helen mendudukkan Irgi di dekatnya.
“Waduh merepotkan jadinya. Makasih ya.” Helen menerimanya.
“Sekalian ini kak. Untuk adik kecil.” Devita memberikan uang ratusan ribu untuk Devita dan anaknya.
“Wah, gak usah Dek. Kakak punya uang sendiri loh.” Helen menolak.
“Gak apa loh kak. Kan Dedek gak sempat datang ke pesta kakak dan kelahiran kakak jadi ini barulah bisa akhirnya ketemu kakak dan anaknya.” Devita tetap memberikan dan akhirnya Helen menerimanya.
“Lama disini nanti Dek?”
“Ada lah seminggu kak. Lagi liburan. Sebenarnya gak bisa lama dan sesering ini. Tapi buk dokter lagi keluar kota katanya. Jadi kami pun di liburkan. Makanya inilah bisa balik di kampung.”
“Oh ... baguslah. Nenek kesepian, Dek. Dia kangen itu sama mu.”
“Iya kak. Aku juga kangen.”
__ADS_1
“Cuma main ke rumah kakak aja ini kah?”
“Gak juga kak. Dedek udah main ke rumah Paman Lukas dan Tante Nina juga.”
“Oh ... iya . baguslah. Bimo juga ajakin biar tahu semua keluarga kita. Hehehe.” Helen dan Devita tertawa.
“Beres kak.” Jawab Bimo langsung.
“Mamma ... Mamma.” Suara Irgi yang belum pasih kali berkata-kata.
“Belum lancar ngomongnya kak?” Devita melihat ke arah Irgi yang sebenarnya lasak sekali.
“Belum lancar kali. Tapi bisa beberapa lah. Irgi ini keduluan pandai berjalan dan lari sekarang udah. Tapi ngomongnya agak telat.” Helen menjelaskan.
“Gak apa kak. Nanti juga bisa, yang penting sehat kak.”
“Iya. Amaaammmiiinnnn.”
Semua tertawa riang dan gembira.
Helen kemudian melihat Devita yang mulai mengendut.
“Kau udah hamil lagi dek? Ku dengar sudah dua kali keguguran. Jadi sekarang sudah mulai lagi ya hamil nya?” Helen melihat Devita yang mulai menggemuk.
“Gak kak. Sampai sekarang belum juga di beri amanah punya anak.” Devita dan Bimo saling pandang dan tersenyum tipis.
Helen merasa bersalah karena sudah bertanya. Helen pun memberikan usul pada Devita.
“Kalian anggap saja Irgi ini anak kalian juga ya. Atau jadikan saja Irgi anak angkat kalian.” Helen berujar ke arah Devita dan Bimo. Hal tersebut membuat Devita dan Bimo kaget tentunya. Untuk beberapa saat mereka tertegun dan diam mematung hanya saling pandang.
Bersambung....
Belum punya anak juga si Devita dan Bimo. Tetap sabar dan tabah ya Dek.
Maaf telat up ya kak, dikarenakan Author kelelahan kebanyakan kerjaan di real life. Semoga selalu stay setia di novel ini ya kak reader semua 🤗🤗 thanks.
Klik Like, Vote, Favorit dan Komennya ya Kak reader semua.
Sertakan juga kasi dukungan dan hadiahnya ya. Kasi juga bintang/rate 5 ya kak.
__ADS_1
Thanks. Love you all. :) :D No plagiat ya :D
Kasi komen yang positif ya kak :D