
Sebuah sosok melihat ke arah Fendi dan Iva. Sosok tersebut adalah Hadi.
Hadi baru saja turun dari busnya. Ia memutar cukup jauh dari lintasan yang biasa ia lewati. Hadi bermaksud hendak istirahat. Tapi Hadi seakan melihat Iva, namun ia dengan seseorang. Seorang pria. Hadi melihat Iva masuk ke cafe dengan pria tersebut. Hadi pun merasa yakin kalau itu adalah Iva istrinya, maka ia ikuti.
Iva dan Fendi sedang duduk di tempat yang lesehan. Mereka pun memesan makanan. Hadi datang mendekat namun nampak bersembunyi, ia ingin memastikan saja sekali lagi, apakah benar itu istrinya. Setelah ia melihat dari tempat bersembunyi, ternyata itu beneran Iva. Hadi tentu kaget. Iva bersama pria lain, dan kini perutnya sudah besar membuncit. Hati Hadi seakan bergetar melihat perut Iva yang membuncit besar.
“Anakku....” gumam Hadi melihat ke arah Iva dan perut besarnya. “Pasti sekarang sudah 7 bulan.” Gumam Hadi kembali.
Iva dan Fendi berbincang serta sesekali tertawa, Hadi melihat senyum Iva yang sudah lama tak di lihatnya. Sudah lama ia tak melihat Iva tertawa dan tersenyum seperti itu. Apalagi berbulan-bulan sudah mereka tak saling ketemu. Hadi memang salah karena selama Iva menghilang, ia sama sekali tak mencarinya. Karena ia sibuk mencari nafkah untuk Lita dan calon bayi mereka juga.
Walaupun Lita seorang dokter di rumah sakit terkenal, namun Hadi adalah seorang kepala rumah tangga jadi harus mencari nafkah juga. Padahal gaji Lita tentu saja jauh lebih besar dari pada Hadi yang hanya seorang supir.
Kini Hadi melihat Iva bersama pria lain. Hatinya tak terima. Bagaimana pun Iva masih istrinya. Di lihatnya kini Iva dan Fendi sedang makan bersama. Hadi kembali ke busnya setelah melihat Iva dan Fendi selesai makan. Selanjutnya Hadi berniat mengikuti Iva.
Fendi membawa Iva jalan-jalan ke arah sebuah tempat taman bunga. Tak jauh, sekitar 20 menit dari tempat mereka makan bersama tadi. Iva dan Fendi menikmati beraneka ragam bunga-bunga yang ada di taman tersebut. Bahkan ada spot untuk berfotonya. Juga tempat duduknya. Iva terlihat senang. Memang bukan tempat yang mahal, namun tempat yang indah dan tenang juga membuatnya nyaman.
“Iva, berdirilah di tengah, aku akan memfoto mu.” Pinta Fendi.
“Tak usah lah. Iva malu.”
“Ayolah. Tempat ini bagus dan cantik. Pasti cocok untuk kita berfoto. Ayo Iva.” Fendi menarik tangannya Iva dan mengajaknya berfoto. Dari kejauhan Hadi memperhatikannya.
Keduanya berfoto dan mengambil beberapa pemandangan bagus. Kadang foto Iva, kadang foto Fendi dan terkadang Fendi mengajak Iva berfoto berdua. Usai berjalan-jalan di taman bunga, Fendi kembali membawa Iva ke tempat lain sebuah danau yang tak jauh di tempat taman bunga tersebut berada. Keduanya berjalan bersisian sebentar hingga akhirnya sampai di danau tersebut.
Iva dan Fendi duduk di dekat sebatang kayu yang besar yang sudah seperti tempat duduk saja. Banyak burung berterbangan, aroma bunga yang harum, langit yang cerah dan danau yang nampak indah serta jernih airnya. Pemandangan yang sangatlah indah dan damai.
Iva dan Fendi duduk bersisian. Iva menoleh ke Fendi.
“Makasih Fen. Hari ini aku senang sekali.” Iva tersenyum.
“Syukurlah. Aku takut kau kecewa soalnya bukan tempat yang mahal hehe.” Fendi tertawa kecil.
Iva menggeleng lalu berucap.
“Tempat bagus itu tak harus yang mahal, namun seperti ini saja sudah sangat bagus.” Ujar Iva.
Fendi tersenyum menoleh ke Iva. Ia senang melihat Iva tersenyum bersamanya.
__ADS_1
“Iva, andai kau belum menikah, maukah kau menerima ku?” Fendi mulai berterus terang.
Iva tertegun mendengar ucapan Fendi. Ia menoleh ke Fendi.
“Maksudmu?” Iva menatap Fendi dengan heran.
“Mungkin terlalu cepat ya, namun sebenarnya sudah lama ku simpan di dalam hati ku.”
“Hah?”
“Aku menyukaimu Iva. Sudah lama. Sejak kita SMA aku sudah menyukaimu. Namun kau malah menikah dengan pria lain.” Fendi mengingat kejadian lama. Ia terlihat sendu. Tapi kembali melihat Iva dengan pandangan yang ceria.
Iva tak berkedip menatap ke arah Fendi, serasa tak percaya dengan yang di dengarnya. Ia pikir salah dengar namun kembali Fendi berkata di hadapannya.
“Aku berharap, seandainya aku lebih cepat melempar mu dahulu, mungkin sekarang kau bahagia bersama ku Iva. Jadi jika seandainya kau belum menikah, maukah kau menerimaku Iva?” Fendi sangat berharap pada Iva.
Mata Iva membulat sempurna menatap Fendi. Kemudian Iva beralih melihat ke arah danau. Iva menghela nafas panjang. Ternyata benar tebakan kak Nina. Ah, kak Nina selalu lebih tahu. Dan sekarang Iva takut kalau ia akan menyakiti Fendi.
“Aku tak tahu Fen. Namun nyatanya sekarang aku sudah bersuami, bahkan aku sedang hamil saat ini.” Iva merasa ini adalah jawaban yang paling tepat.
Iva bingung harus bicara apa ke Fendi. Tak mungkin kan Iva bilang kalau suaminya sedang dan tinggal bersama madunya. Ia akan sangat malu. Iva memilih diam.
Fendi bisa melihat kalau ada masalah yang terjadi, namun Iva memilih tak mau cerita.
“Apa kau sangat mencintai suamimu? Sehingga sulit untuk menjawab perkataan ku. Atau sedang ada dilema yang sangatlah sulit untuk di ungkapkan.” Sambung kata Fendi kembali.
“Maaf aku tak bisa katakan.”
“Baiklah. Tak apa. Yang penting kau sudah tahu kalau aku menyimpan perasaan padamu. Jadi jika aku punya kesempatan, ah tidak, maksudku aku berharap kau memberikan aku kesempatan, Iva. Dan jika kau butuh bantuan cari saja lah aku.” Fendi tersenyum tulus.
Iva menatap bingung ke Fendi. Hari semakin sore, sehingga keduanya memutuskan untuk pulang. Fendi pun segera mengantarkan Iva pulang. Hadi masih mengikuti Iva. Ia ingin tahu dimana Iva selama ini.
Setelah memasuki jalan di kampung, kemudian terus berjalan hingga akhirnya sepeda motor Fendi berhenti di halaman rumah Iva. Iva pun turun dan mengatakan terima kasih untuk hari ini. Fendi mengangguk dan pamitan pulang. Usai melihat Fendi pergi maka Iva masuk ke dalam rumah.
Hadi, karena busnya besar sehingga susah masuk ke arah jalanan kampung. Jadi ia mengikuti dengan menyambung kendaraan naik ojek. Sekarang Hadi tahu kalau Iva di rumah orang tuanya di kampung. Hadi hendak mendatangi namun ponselnya berdering. Mamanya menelepon Hadi, mengatakan kalau Lita sedang tak enak badan. Jadi Hadi harus segera pulang. Akhirnya Hadi pulang dan berniat nanti akan menemui Iva.
Sampai di rumah, Hadi melihat Jihan menunggui Lita yang sedang berbaring di tempat tidur. Jihan menatap Hadi yang baru saja pulang. Hadi dan Lita sementara ini tinggal di rumahnya Hadi dan Iva. Karena sudah menikah maka Hadi membawa Lita tinggal di tempat tersebut dan berharap Iva kembali nantinya. Namun detik ini hingga sekarang Iva tak kunjung kembali lagi. Dan seperti biasa Mamanya selalu ikut campur rumah tangganya.
__ADS_1
“Kau dari mana saja Hadi, Lita istrimu sakit tapi kau lama baru pulang.” Jihan sewot pada putranya.
“Aku capek Ma. Mama pulang aja. Ini bukan rumah Mama jadi jangan sering kemari.” Hadi menatap malas Mamanya. Ia lalu duduk di kursi yang ada di dekatnya.
“Aku ini Mama mu Hadi. Jangan kurang ajar sama Mama. Sudah sana perhatikan Lita. Mama pulang dulu.” Jihan pun lalu pergi dan pulang kembali ke rumahnya.
Hadi masih teringat kejadian dimana dia melihat Iva bersama pria lain. Rasa cemburu menyelimuti hati Hadi. Lita yang terbaring menatap Hadi. Ia mendekati Hadi.
“Udah pulang Mas? Mas mau makan apa? Biar Lita siapkan.” Lita hendak ke dapur namun di larang Hadi.
“Tak perlu. Kau istirahat saja Lita. Lagian sedang hamil. Kata Mama kalau Lita sakit, sakit apa?” Hadi memandang wajah Lita yang nampak pucat memang.
“Kelelahan saja Mas. Aku kan baru dari rumah sakit tadi.”
“Lita, kau kan sedang hamil, jadi sebaiknya pekerjaan di rumah sakit jangan terlalu membebani. Sebaiknya mulai sekarang di kurangi. Ingatlah anak kita yang ada dalam perutmu sayang.” Hadi mendekati Lita dan membawanya duduk bersama di dekatnya. Mereka duduk bersisian.
Lita tersenyum.
“Makasih Mas. Oh iya, Mas tadi kayak melamun, lagi mikirin apa? Kalau masalah uang gak usah cemas. Istri Mas kan seorang dokter jadi gajinya besar.” Lita tersenyum.
“Aku sedang memikirkan Iva.” Hadi menghela nafas panjang. Lita langsung melirik ke arah Hadi saat Hadi mengatakan nama Iva. Iva adalah istri pertama suaminya sekaligus madunya. Apa yang terjadi ya? pikir Lita di dalam pikirannya.
Bersambung....
Hadi ... hadi ... apakah kau cemburu dengan Iva yang bersama pria lain? Lalu apa kabarnya hati Iva saat mengetahui dirimu Hadi menikahi wanita lain. Iva lebih terluka Hadi. Rasa cemburu mu bukan apa-apa di bandingkan rasa sakit dan penderitaan yang sudah di alami Iva selama ini.
Klik Like, Vote, Favorit dan Komennya ya Kak reader semua.
Sertakan juga kasi dukungan dan hadiahnya ya. Kasi juga bintang/rate 5 ya kak.
Thanks. Love you all. :) :D No plagiat ya :D
Halo kakak pembaca semuanya, kembali Author mau mempromosikan karya seorang teman yang ceritanya bagus banget deh. Mampir ya kak dan love favoritkan ya kak, Klik like dan komen serta kasi giftnya ya kak, jangan lupa mampir ke karya di bawah ini ya kak. :D
Makasih ya kakak 🤗🙏
__ADS_1