
Iva menoleh dan terlihat Fendi yang datang dan berpakaian rapi. Fendi tersenyum ke arah Iva dan Iva malah kaget mendapati kedatangan Fendi ke rumah. Dia beneran datang rupanya.
Fendi semakin mendekati Iva, kini ia sudah berada di samping Iva. Sore ini Iva terlihat sangat manis. Walau perutnya sudah membuncit tapi wajah ayu nan manisnya tetap terlihat dan membuat Fendi melihatnya cantik. Fendi tersenyum ke Iva. Iva meletakkan gayung untuk menyiram bunga. Ia menggunakan gayung dan timba sedang ukurannya untuk menyiram bunga. Sekarang kegiatannya harus dihentikan.
“Kok kemari Fen?” Iva melihat ke arah Fendi.
“Loh, kan aku sudah bilang hendak main ke rumah.”
“Oh iya, aku pikir hanya candaan ternyata beneran datang ya hehe.” Iva terkekeh.
“Aku gak di suruh duduk, Iva?”
“Oh iya. Ayo duduk dulu. Kita duduk di teras rumah saja.”
Iva dan Fendi pun duduk di teras rumah. Di depan rumah, di terasnya ada kursi-kursi juga. jadi di sanalah mereka duduk bersama. Iva masuk sebentar ke dalam rumah dan membuatkan minuman. Begitu keluar sudah ada minuman teh panas dan sepiring kecil roti biskuit. Ia hidangkan di dekat meja yang ada di dekat kursi Fendi.
“Silahkan Fen diminum dan di cicip biskuitnya.” Iva kemudian duduk di kursi satunya lagi dan berhadapan dengan kursi Fendi.
“Makasih.” Fendi mulai memakan biskuitnya. Ia juga meminum teh yang sebenarnya masih panas. Di tiupnya dahulu dan baca doa dan diminumnya sedikit dulu.
Kemudian Fendi melihat kearah Iva.
“Hari minggu gak kemana-mana kan Iva?”
“Hah minggu ya, ya di rumah ajalah. Hehehe.”
“Ku ajak jalan mau gak ya?”
Iva jadi bengong dan susah mencerna perkataan Fendi.
“Maksudnya?”
“Gak ada maksud apa-apa kok. Cuma mau ajak jalan-jalan aja. Ibu hamil kan bagus di bawa jalan-jalan. Apalagi di buat senang biar gak stres dan baik bagi janinnya.” Fendi beralasan. Ia sebenarnya hendak mendekati Iva saja.
“Lihat nanti ya Fen.”
“Oh iya. Kita tukeran nomer ya. Aku belum punya nomer mu Iva.” Pinta Fendi.
Iva pun memberikan nomer hapenya dan Fendi menyimpannya. Sebuah hape canggih di pegang oleh Fendi. Iva melihat dengan seksama.
“Kenapa Iva? Oh iya udah ku chat ya. Nanti save nomerku juga ya.” Fendi tersenyum. Mungkin kalau gadis lain di kasi senyuman seperti itu akan klepek-klepek, tapi berbeda dengan Iva yang masih menyandang status istrinya Hadi, walaupun ia terabaikan. Karena Iva sadar, ia sudah bersuami.
“Iya, akan ku save. Oh itu, hapemu canggih sekali, nampaknya pekerjaanmu di kota sangat baik ya. bisa beli hape seperti itu.”
Iva menyadari hapenya Fendi adalah hape canggih dan mahal tentunya.
__ADS_1
“Oh ini pas gaji pertama ku belikan hape ini. Bagus ya.”
“Iya. Bagus banget.”
Iva dan Hadi tersenyum bersamaan. Keduanya berbincang dan sesekali bersenda gurau. Di dalam rumah Nina mengintip pemandangan tersebut. Ia sangat kepo. Lukas yang sudah pulang kerja dan baru selesai mandi melihat tingkah Nina, ia samperin Nina.
“Ngapain Nin?” celetuk Lukas.
“Lihat adek kita bang.” Jawab Nina sekedar saja.
Lukas pun melihat arah pandangan Nina. Ia lalu menepuk jidatnya sendiri.
“Woy ... jangan kepo gitu ah.” Lukas geleng-geleng kepala melihat tingkah Nina.
“Apaan seh bang? Memantau adik kita perlu, kayaknya pemuda itu suka Iva lah, bang. Dan sepertinya dia pemuda yang baik.” Nina setuju dan menyukai Fendi. Ia akan setuju saja jika Iva bersama Fendi ketimbang bersama Hadi yang tak jelas itu.
“Nin ... jodoh kita mana tahu. Semuanya udah ada yang ngatur.”
“Iya. Sayangnya jodohnya abang kayaknya lupa di atur, soalnya belum ada juga.” Nina meledek abangnya.
Lukas mendelik matanya melihat ke arah Nina. Nina malah terkekeh dan kemudian mengambil langkah kaki seribu bayangan, maksudnya kabur dari Lukas, abangnya. Lukas hanya geleng kepalanya melihat tingkah adiknya si Nina.
Lukas kemudian melihat ke arah Iva dan Fendi melalui kaca jendela rumah.
“Semoga kau mendapatkan kebahagian mu segera dek Iva.” Gumam Lukas sendirian. Kemudian dia masuk ke dalam hendak nonton Tv.
“Iva....”
“Iya kak.”
“Sini.”
Iva datang mendekat ke arah Nina. Nina membawa Iva duduk di kursi tamu di dalam rumah. Ia tersenyum ke arah Iva.
“Itu tadi Fendi kan, teman sekolahmu yang kita jumpa tadi siang di pekan.”
“Iya kak.”
“Ngapain dia?”
“Cuma main aja kak.”
“Dia suka kali samamu Iva, dekati mu kayaknya.” Nina menebak. Dan Iva menggeleng.
“Gak mungkin kak. Iva kan sudah punya suami, masak iya, Fendi mau sama istri orang.” Iva tak percaya.
__ADS_1
“Bisa aja. Kakak lihat dia mandangin Iva nampak lain gitu kok.”
“Perasaan kakak saja itu.”
“Kalau iya nanti gimana?”
Iva terdiam sesaat dan berpikir. Ia kembali menggeleng.
“Gak lah kak. Iva sudah bersuami dan lagian Iva sedang hamil gini. Mana mungkin.”
“Ngapain seh masih anggap suamimu yang tak becus itu. Lihat lah, sampai sekarang dia gak datang kemari mencari mu. Sibuk dengan istri keduanya di sana itu. Sadarlah Iva, lupakan Hadi. Ia sudah banyak menoreh luka di hatimu. Dan lagian mertuamu yang tak baik itu juga jahat. Kakak tak menyukai mereka.” Nina semenjak tahu perlakukan Jihan pada Iva dan kelakuan Hadi yang menyakiti Iva membuat Nina tak menyukai keluarga Kesuma Wijaya itu.
Iva menghela nafas panjang.
“Tapi bagaimana pun, dia tetap suami ku kak. Kami tak pernah cerai.”
Iva mulai hendak menangis jika mengingat kembali nasib rumah tangganya, syukurlah Hadijah Putri, ibunya datang mendekat dan bergabung dengan kedua putri kandungnya. Iva segera menghapus air mata yang hendak turun namun belum sempat turun. Ia kemudian berusaha tersenyum.
“Ada apa ini? Lagi bahas apa?” ibunya berkata lembut.
“Gak ada apa-apa buk.” Jawab Iva sama lembutnya.
Hanya Nina terlihat sewot. Bukan sewot pada adiknya atau ibunya. Tapi sewot pada keluarga kesuma wijaya tersebut. Nina memilih diam.
“Nin, calon mu kapan lagi datang. Biar membahas kapan kalian akan menikah?” ibunya melihat ke arah Nina.
“Mungkin tahun depan buk.”
“Lama sekali. Jangan lama-lama loh. Ingat, kamu nya makin tua.” Ujar ibunya.
“Iya buk. Sabar ya. hehehe. Mau menimang cucu ya buk. Itu ada Iva bentar lagi juga brojol. Tinggal menghitung bulan aja buk.”
“Hush. Dasar nakal. Ibuk bilangnya kamu Nin.” Hadijah putri memukul pelan pundak Nina. Nina hanya terkekeh. Iva tersenyum melihat keluarganya.
Beberapa hari kemudian.
Tepat di hari minggu, di pagi hari, Iva mendapatkan pesan chat oleh Fendi. Isi pesannya menanyakan kesediaan Iva hendak di ajak jalan-jalan. Iva sebenarnya lagi malas, namun ia tak enak hati menolak. Akhirnya Iva iyakan. Dan tepat jam 11 siang, Fendi datang menjemput Iva. Iva pun sudah bersiap. Iva pamitan pada Ibunya di rumah. Fendi sekalian pamitan dan mencium tangannya bu Hadijah Putri.
Pergilah keduanya dengan menaiki sebuah sepeda motor supra fit berwarna hitam les hijau bergaris. Fendi pun membonceng Iva menyusuri jalanan kampung mereka. Semakin jauh Fendi membawa Iva. Hingga sampai ke sebuah tempat agak jauh dari kampungnya. Mereka singgah di sebuah cafe yang agak mulai memasuki daerah perbatasan antara kota dan jalan kampung. Ke sanalah Fendi membawa Iva. Ia hendak mengajak makan siang dahulu disana. Fendi memarkirkan sepeda motornya, kemudian Iva dan Fendi masuk ke dalam cafe tersebut. Sebuah sosok melihat ke arah Fendi dan Iva. Sosok tersebut adalah Hadi.
Bersambung....
Wah, pendekatan Fendi di mulai ke Iva. Dan sekarang malah Hadi melihat Iva bersama Fendi. :D
Klik Like, Vote, Favorit dan Komennya ya Kak reader semua.
__ADS_1
Sertakan juga kasi dukungan dan hadiahnya ya. Kasi juga bintang/rate 5 ya kak.
Thanks. Love you all. :) :D No plagiat ya :D